My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Lebih serius lagi



"Ayah kok tega sih suruh Max kerja gitu? " ujar Allea


"Biarinlah sesekali kerja kasar, Anggap saja bayar sewa menginap satu malam" Jawab Gibran


"Astaga pelit sekali ayahku" cicit Allea


"Sini sini ayah mau tanya " Gibran menarik lembut tangan anaknya untuk duduk di kursi dekat Max sedang mencangkul kebun tanaman hias miliknya


"Kamu pacaran sama dia? " tanya Gibran menunjuk kearah Max


"Eng.. enggak yah" jawab Allea terbata enggan menatap ayahnya


"Jangan bohong, dia sendiri yang bilang katanya mau serius sama kamu"


"Hah?? kapan yah? " pekik Allea


"Gak usah kenceng kenceng juga ngomongnya, Tadi kita sempat ngobrol makanya ayah kasih dia tugas kalo bener dia serius sama kamu dia akan lakuin apa aja buat ayah bukan? lagian gayaknya sok sok'an mau serius orang masih kecil juga" ocehan Gibran


"Kk- kalau bener dia serius ayah gimana? " tanya Allea ragu


"Itu terserah kamunya mau apa enggak? ayah akan dukung kemauan anak ayah selama itu baik" jawab Gibran


"Dengar ayah, kamu boleh melakukan apapun tapi kamu harus punya batasan kamu mengerti maksud ayah kan? " Gibran bicara seraya menggenggam tangan Allea


"Kamu boleh pacaran sama cowok mana pun selama tidak mengganggu masa belajar kamu, dia menyayangi kamu, menghargai kamu, dan menjaga kamu satu lagi dia gak macem macem sama kamu" lanjut Gibran


"Ayah Max bilang dia mau bawa bundanya kesini buat lamar Allea" lirih Allea


"Ternyata anak itu sungguh sungguh, ayah terserah kamu saja asal kamu bahagia" jawab Gibran


"Beneran yah? " Allea terlihat senang


"Benar , Ayah juga sempat berniat menjodohkan Cindy dan Danendra tapi Danendra tidak mau ayah tidak ingin memaksa anak anak ayah tau pun anak Damian kalian yang jalani terserah kalian aja"


"Jadi ayah gak mempermasalahkan kalo Allea tunangan masih sekolah? "


"Enggak, asal jangan macam macam di belakang ayah" Gibran merangkul tubuh Allea yang duduk di sampingnya


Max menoleh sekilas pada Allea dan Gibran yang nampak santai duduk di kursi taman sementara dirinya selesai mencangkul tanah harus menggunting rumput


"Nasib nasib gini amat punya calon mertua" gerutu Max mengusap keringat di keningnya dengan punggung tangan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Di hotel tempat Danendra tinggal sekarang dia meminta video call pada pelayan di rumah Damian, dia merasa rindu dengan bundanya yang sudah beberapa hari tidak dia temui


"Bunda lagi apa coba kameranya balik cari Bunda" titah Danendra


"Baik den" pelayan itu mencari Lydia yang ternyata ada di ayunan belakang rumah


"Jangan di matikan kalo bukan saya yang matikan panggilannya" ucap Danendra


"Baik den, saya simpan handphonenya di pot ya den saya masih harus bekerja" pelayan pura pura membersihkan kaca di dekat Lydia padahal menyimpan handphonenya di tempat tersembunyi


"Ya pergi saja"


Lydia terlihat sedang membaca majalah tiba tiba Max datang dan duduk di samping bundanya, Lydia memeluk Max dan menyandarkan kepala Max di dada Lydia. Max baru saja pulang dari kediaman Gibran


"Nak kenapa kamu terlihat lelah? " tanya Lydia mengusap serta mencium pucuk kepala Max


"Di kerjain sama Calon mertua habis habisan" Jawab Max yang pulang dengan wajah memerah karena kepanasan


"Di suruh ngapain kok sampe kacau begini? " tanya Lydia


"Di suruh nyangkul taman bun gunting rumput bersihin taman" Max mengatakan kegiatannya di rumah Gibran


"Kok kamu mau? "


"Iihh masih kecil juga udah ngomongin calon istri" ledek Lydia


"Ayolah bun datang ke rumah om Gibran lamar Allea buat saya" pinta Max setelah hubungan mereka membaik Max memang kembali dekat dengan Lydia tapi tidak dengan Damian


"Apa kamu yakin? kamu masih sekolah"


"Yakin bun, tadi saya juga udah bilang sama om Gibran dan dia setuju setuju aja"


"Oke bunda akan bicarakan ini sama ayah" Jawab Lydia


"Tapi Sebelum kita lamar Allea saya mau Danendra pulang bun, saya mau keluarga kita utuh kayak dulu" ucap Max


Di sebrang sana Danendra berkaca kaca dia merasa malu sangat malu dengan perlakuannya selama ini pada Max, Max tidak pernah menyimpan dendam padanya dan malah ingin Danendra pulang untuk kembali memperbaiki hubungan keluarga mereka


"Gue benar benar malu" Danendra mematikan sambungan teleponnya


Dia berpikir sejenak apa yang harus dia lakukan sekarang, pulang atau pergi dari keluar dari keluarga Damian seperti Max dulu. saat sedang bergelut dengan pikirannya handphonenya bergetar sebuah pesan masuk membuat matanya yang sedari tadi berkaca kaca kini benar benar menangis


Max


"Danendra dimana pun lo sekarang gue mau lo pulang, kita perbaiki hubungan diantara kita gue sedikitpun gak pernah menyimpan kebencian, gue kangen sodara gue, balik ya bunda selalu kepikiran lo apa lagi ayah"


Selama ini memang Danendra adalah anak kebanggaan Damian dia selalu membanggakan Danendra pada rekan kerjanya apalagi dulu Max selalu bersikap nakal dan tidak pernah menunjukkan sisi positifnya hingga hanya Danendra yang menonjol di keluarga Damian, itu yang membuat Damian tidak mengakui Max sebagai anaknya di hadapan umum


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Malam itu Allea dan Aksa pergi menemui Dito setelah minta izin pada ayahnya, Allea datang langsung kerumah Dito bersama Gita yang dia jemput lebih dulu


"Selamat malam, cari siapa ya? " tanya seorang wanita yang masih muda dengan style modis bisa di tebak ini adalah ibu Dito


"Selamat malam, saya mencari Dito apa ada? saya teman sekolahnya" Jawab Allea


"Silahkan masuk, tunggu saya panggilkan dulu Dito nya" setelah di persilahkan masuk baru lah Gita turun dari mobil dan ikut masuk


"Dito sedang mandi tunggu sebentar, loh kenapa ada kamu? " tanya ibu Dito tidak suka saat melihat Gita


"Tante kedatangan saya kemari juga ingin bertemu anda dan tuan rumah ini" ucap Allea


"Kalau kalian datang kesini untuk membicarakan tentang gadis ini sebaiknya kalian pergi saja" Ibu Dito yang semula ramah menjadi sangat berbeda


"Kami tidak akan pergi sebelum keluarga kalian berkumpul disini" ucap Allea seraya menggenggam tangan Gita memberi kekuatan pada sahabatnya


"Pergi sekarang juga atau saya panggil polisi" ancam ibu Dito


"Silahkan lebih baik memang disini ada polisi agar dapat di pastikan siapa yang bersalah disini" mendengar keributan ayah Dito keluar dari kamar


"Ada apa ini ribut ribut? " tanya nya


"Selamat malam tuan bisa saya bicara sebentar? " tanya Allea


"Pergi kalian kami tidak mau menerima tamu" bentaknya mengusir Allea setelah melihat Gita


"Baiklah saya akan bicara sambil berdiri saja" ucap Allea seraya berdiri


"Allea" Dito baru saja turun dari kamarnya


"Baguslah kalian sudah berkumpul, ada sesuatu yang akan aku sampaikan ini mengenai Gita" wajah Dito sudah pucat pasi mendengar ucapan Allea


"Jangan Lea, perusahaan bokap gue nanti terancam" Gita takut perusahaan ayahnya di buat semakin terpuruk oleh ayah Dito


"Lo tenang aja" Allea menggenggam erat tangan Gita dia ingin permasalahan sahabatnya ini menemukan titik terang


Apa yang akan Allea bicarakan?


Jangan lupa like komen dan vote ya