My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Wanita misterius



"Berhenti mengancam Allea" ucap Jonathan


"Kenapa? apa dia bersedia meninggalkan Max? " tanya Yuki dengan nada menyindir


"Lo bener-bener keterlaluan, dia lagi hamil lo cewek harusnya lo ngerti dia gak bisa hidup di bawah tekanan" bentak Jonathan


"Jadi? apa lo udah bisa buat gue puas supaya gue bisa lepasin dia? "


"Gue akan stop transfer uang ke rekening lo dan lo bayangin apa yang akan terjadi sama mama kalo dia tahu anaknya gak bermoral"


"Silahkan.. gue masih punya papa yang menyambut kedatangan gue, asal lo tau sumber keuangan gue bukan cuma lo " ucap Yuki


"Lo gila Yuki.. berhenti sebelum lo menyesali semuanya"


"Gue gak akan pernah menyesal dengan apa yang udah gue lakuin, kalo lo berani bilang sama orang lain gue gak jamin keselamatan mama"


"Lo gila.. lo gila Yuki" teriak Jonathan frustasi berlalu ke kamarnya


"Sekarang gue harus gimana? dia tekan gue dan ngancam mama" Jonathan memikirkan cara bagaimana dia dan ibunya bisa bebas dari Yuki, Yuki bukan orang yang mudah di kalahkan


Berkat bantuan papanya Yuki selalu bisa bebas dari jerat hukum, bukan hanya sekali namun sudah beberapa kali dia berurusan dengan polisi begitu pun Jonathan namun mereka lolos begitu saja karena bantuan papanya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Malam ini berbeda dari malam sebelumnya dimana ibu Dito ikut makan malam bersama keluarga, Gita merasa canggung dengan adanya ibu Dito disana makan malam yang biasanya ramai dengan gelak tawa Dilla dan Dito kini mereka diam


"Apa mama udah mendingan? " tanya Gita


"Hmm.. udah gak pusing " jawabnya, mendapatkan jawaban yang tidak sinis dari sang mertua Gita merasa begitu senang


"Nah makan sayur ma biar tambah sehat" ucap Gita menuang sayur di mangkuk kecil dan menyerahkannya pada ibu Dito


"Terimakasih" senyum Gita mengembang begitu pun orang di sekelilingnya


Sepertinya lautan api kini perlahan padam oleh tetesan air hujan sedikit demi sedikit, ibu Dito juga akhir akhir ini tidak pernah bicara sinis dan pedas dia lebih banyak diam atau menghabiskan waktu di kamar namun sesekali saat Gita sibuk dengan pekerjaan rumah diam diam ibu Dito selalu membantu menidurkan Dirga yang sempat terbangun


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Ma.. mama dimana? "


"Di rumah sakit, kenapa? "


"Jaga kesehatan ma dan hati hati"


"Kamu kapan mau mengurus perusahaan kita? "


"Mama juga kenapa malah memutuskan jadi dokter? bukannya mama bisa mengelolanya sendiri? "


"Sayang kamu anak laki-laki mama sudah seharusnya kamu yang mengendalikan perusahaan"


"Orang kepercayaan mama juga bisa diandalkan dia jujur gak perlu aku yang harus turun tangan sendiri"


"Sudahlah mama tidak akan memaksa kamu lagi, jaga adik kamu mama berharap kalian mau tinggal sama mama"


"Sulit ma.. dia tidak mau di atur bukannya aku gak mau tinggal sama mama tapi aku harus ngawasin dia"


"Jaga diri kamu jangan sampai bikin masalah mama titip adikmu"


"Ya ma.. aku tutup teleponnya" Ririn menelpon dengan anak sulungnya di hadapan Gibran yang sedang menjemputnya di rumah sakit


"Anak kamu? " tanya Gibran


"Hmm.. " singkat dokter Ririn sambil mengangguk


"Kenapa wajah kamu sepertinya jadi sedih? " tanya Gibran


"Anakku susah di atur mereka persis ayahnya, terkadang aku khawatir mereka akan menyakiti orang lain tempramen mereka buruk" jawabnya lemah


"Mungkin di masa remaja mereka seperti itu tapi siapa tau kan mereka berubah saat sudah dewasa? "


"Aku bukan orang tua yang baik, aku gak bisa mendidik mereka dengan benar mereka selalu melawanku, aku ibu yang buruk selalu tidak berdaya menghadapi anak anakku" lirih Ririn


"Apa kamu tau aku juga bukan ayah yang baik? karena Emile aku menelantarkan istri dan anakku, Allea harus hidup menderita selama belasan tahun bahkan ketika dia sudah dewasa aku tidak bisa menjaganya dengan baik" Gibran juga menceritakan masa lalunya dan Allea


"Tapi Allea berbeda dia anak yang baik dan lembut"


"Dia seperti ibunya" Jawab Gibran


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Aku gak lapar''


" Jangan egois sayang bayi bayi kita butuh nutrisi" Mendengar itu Allea mulai menyuap makanannya


"Habiskan" Allea hanya mengangguk


"Nyonya silahkan susunya" bibi menyerahkan segelas susu untuk ibu hamil


Allea menghabiskan makan dan susunya dengan cepat lalu kembali ke kamar, Saat Max masuk ke dalam kamar Allea tampak berbaring memunggungi pintu Max duduk di belakangnya mengelus kepala Allea


"Apa yang kamu pikirkan? omongan orang iseng itu? dia bohong sayang buktinya beberapa hari ini gak ada kejadian apa apa" ucap Max


"Tapi aku takut... apa semuanya kebetulan atau memang ada yang mengincar aku itu benar benar membuat aku takut" jawab Allea membalik tubuhnya memeluk kaki Max


"Itu cuma kecelakaan sayang jangan di pikirkan kasihan baby kita, ibu hamil harus ceria karena itu berpengaruh buat bayi"


"Kamu sepertinya tahu banyak" ucap Allea


"Aku cari tahu tentang apa yang boleh dan gak boleh buat ibu hamil"


"Sekarang janji sama aku jangan murung lagi, apapun yang terjadi aku akan selalu ada buat kamu gak akan ada yang bisa mengusik kita" lanjut Max seraya ikut berbaring berhadapan dengan Allea


"Aku sayang sama kamu" ucap Allea


"Aku juga sayang sama kalian, kalian adalah harta berharga yang aku punya jangan murung lagi itu buat aku sedih" ucap Max


Cup


Max mengecup bibir Allea mereka saling memeluk satu sama lain, itu membuat Allea merasa senang saat berada di pelukan suaminya


Ketika Allea sudah memejamkan matanya Max duduk di atas balkon dengan sebatang rokok yang menyala di tangannya, Max mencari nama seseorang di kontak handphonenya lalu menelponnya


"Gimana? " Kata pertama yang Max ucapkan


"Orang yang bawa gunting di kampus udah gue temuin tapi dia gak tau siapa yang nyuruh dia"


"Kenapa gitu? "


"Katanya yang nyuruh dia cewek tapi dia gak tau seperti apa wajahnya karena dari ujung kepala sampai ujung kakinya tertutup, tujuan awalnya memang Allea dan dia udah gue bawa ke kantor polisi" ucap Bisma


"Sial... kenapa gak lo abisin aja? " geram Max


"Hei bro lo mau sepupu lo ini di tangkap polisi? biar hukum yang menentukan jangan bertindak gegabah bisa bisa mereka memutar balikkan fakta dan membuat kita yang masuk penjara, pikirin nasib anak istri lo jangan bertindak sembarangan" ucap Bisma


"Ya.. ya.. gue tahu" Max mematikan sambungan teleponnya


"Apa yang di abisin? " tanya Allea membuat Max terlonjak


"Itu.. Bisma"


"Kenapa kak Bisma? " tanya Allea penuh curiga


"Dia di club malam minta wine, aku suruh dia abisin" jawab Max


"Ohh... Kenapa ngerokok lagi? "


"Jenuh aja aku gak bisa tidur, ayo masuk angin malam gak baik buat ibu hamil" Max mematikan rokoknya


"Kamu gak sembunyikan apapun dari aku kan? "


"Gak sayang... aku gak sembunyikan apapun dari kamu, kamu terlalu banyak mikir" Ucap max mengangkat tubuh Allea kembali ke ranjang


Allea mengalungkan sebelah tangannya ketika Max hendak bangun dari atasnya, Max mengangkat sebelah alisnya ketika sebelah tangan Allea masuk ke dalam tshirt yang di pakai Max meraba tubuhnya


"Apa? " tanya Max, Allea hanya menggeleng dengan wajah memerah


"Mau? " tanya Max, Allea mengangguk wajahnya semakin memerah seperti kepiting rebus


Max memulai serangannya yang selalu membuat Allea terbuai, mereka menghabiskan malam yang panas malam itu melupakan sejenak masalah yang terjadi akhir akhir ini


Jangan lupa like komen dan vote ya


Kembang.. kembang taburin yes..