My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Danendra kecelakaan



"Hahaaa.. ahh lepasin geli" Tawa Allea memenuhi seisi ruangan


"Kamu berani ngatain aku huh? " Max memeluk Allea sambil menggelitiknya


Tok tok tok


Max menghentikan aksinya lalu Allea mendorongnya dan pergi membuka pintu


"Bunda.. maaf bun Allea bangunnya kesiangan" ucap Allea malu malu


"Gak apa apa sayang, mana Maxime? " tanya Lydia


"Ada di dalam bun, silahkan masuk" Allea membuka kan pintu kamarnya


"Kamu masih dengan kebiasaan lama" ucap Lydia ketika melihat Max berbaring hanya memakai celana pendek tanpa baju


"Lebih gampang bun" jawabnya


"Gampang apa? "


"Allea ngelepasnya" jawab Max sambil tertawa


"Dasar gila, gak usah di dengerin bun" kata Allea, Lydia hanya tersenyum sambil menggeleng


"Apa ini foto USG? " Lydia mengambil sebuah foto dengan bingkai di samping ranjang


"Iya bun"


"Kok kayak ada yang beda ya? " pikir Lydia


"Bedalah bun, itu bayinya dua" jawab Max


"Apa? dua? bunda punya cucu dua sekaligus? " pekik Lydia sangat bahagia


"Ya.. bayangkan kalau saya sama Allea punya anak 6x mungkin bunda akan langsung dapat 12 cucu"


"Ihh.. ngasal banget kalo ngomong" Allea memukul lengan Max


"Jaga kesehatan sayang jangan terlalu lelah" ucap Lydia kembali meletakkan foto USG nya


Handphone Lydia berdering di saku belakang celananya, di layar handphone tertera nama Danendra tanpa pikir panjang Lydia segera menjawabnya


"Halo sayang kamu kemana aja? kenapa gak pulang? " tanya Lydia


"Ini Cindy tante, Danendra di rawat di rumah sakit karena kecelakaan"


"Apa? " pekik Lydia


Lydia terhuyung dengan sigap Max segera menangkap tubuhnya, Allea mengambil handphone Lydia yang terjatuh dan menanyakan alamat rumah sakitnya


"Bunda gak apa apa? duduk dulu bun" Allea dan Max memapah Lydia ke ranjang


"Bagaimana keadaan Danendra.. kita harus kesana" ucap Lydia dengan isak tangis


"Ya.. kita ke sana sekarang" karena panik Max hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong sementara Allea masih memakai piyama mereka berdua hanya sikat gigi dan mencuci muka


Sesampainya di rumah sakit Lydia, Max dan Allea diam mematung di depan pintu saat bersamaan dengan munculnya Selvi dan Damian, Max merangkul bundanya tanpa mengatakan apapun dia masuk ke ruangan Danendra di ikuti Allea yang hanya mengangguk hormat pada keduanya


Danendra tergolek tak berdaya di tempat tidur dengan luka di kepala dan tangan sementara Cindy duduk di sofa dengan luka di lengannya, Lydia mendekatinya seraya menangis mengungkapkan semua isi di hatinya


"Lo gak apa apa? " tanya Allea duduk di samping Cindy


"Gak apa apa, cuma lecet dikit" jawab Cindy


"Bangun sayang.. kamu kenapa gak pulang pulang nak, bunda gak marah sama kamu kenapa kalian gak ada yang mau tinggal sama bunda" Tangis Lydia pecah memeluk Max


"Danendra itu kuat bun, dia gak akan kenapa kenapa" Max memeluk Lydia serta mengusap kepalanya


"Bunda janji bunda bujuk ayah nanti apapun yang kamu minta akan bunda penuhi bangun sayang" kini Lydia memeluk Danendra yang terbaring memejamkan mata


"Aku mau bunda benerin mobil aku yang rusak" ucap Danendra membuka matanya


"Aduh.. aduh.. bunda yang di perban jelas itu sakit" Danendra meringis


"Lo buat orang jantungan tau gak? gue kira lo beneran mati" ucap Max


"Jahat banget lo nyangka gue mati"


"Sukurlah kamu baik baik aja" Lydia memeluk Danendra, melihat Max hanya diam Danendra membuka tangannya semakin lebar dan melambaikan tangan menyuruh Max masuk ke dalam pelukannya


Tidak ada gengsi lagi karena sedari dulu sebenarnya ingin memeluk saudaranya itu sedari dulu, mereka bertiga berpelukan sementara Selvi dan Damian hanya diam melihat pemandangan di depan mereka


Selvi memberanikan diri menghampiri Danendra di sebelah ranjang yang satunya, Ketiganya melepaskan pelukan Max kembali memasang wajah datarnya lalu ikut bergabung bersama Allea dan Cindy


"Bunda.. "


"Iya sayang" jawab Lydia


"Bunda mau penuhi semua keinginan aku? " Danendra bertanya untuk memastikan dan Lydia mengangguk


"Tolong maafkan mama Selvi, aku mau kita buka lembaran baru lagi, bunda mau kan? "


"Bunda sudah memaafkannya sedari dulu hanya belum ada permintaan maaf saja jadi kalian tidak tahu itu" jawab Lydia


"Kalian adalah dua wanita yang sangat berharga buat aku, Mama aku mohon jangan menyakiti bunda lagi" lirih Danendra menyatukan tangan keduanya


"Maafkan semua yang pernah aku lakukan, aku sadar semua salahku kamu wanita baik yang rela membesarkan dan menyayangi seorang anak yang bukan darah daging kamu, dengan segenap rasa bersalah aku minta maaf" lirih Selvi dengan perasaan bersalah yang besar


"Aku memaafkan kalian meskipun berat dan bertubi-tubi luka yang kalian berikan tapi bagaimana pun semua sudah berlalu bahkan hari ini kalian datang bersama pun aku memaafkannya" ucap Lydia, Max melangkah mendekati Lydia


"Bunda sudah mengatakan ingin bercerai kalo memang ayah gak ada hati lagi sama bunda jangan mempersulit prosesnya, saya akan bawa bunda" ucap Max


"Jaga bicara kamu, siapa yang ingin bercerai? aku mencintai istriku" jawab Damian


"Cinta? berapa banyak luka dan air mata yang bunda tumpahkan, apa itu bisa di anggap cinta? " Allea segera menghampiri suaminya yang sedang emosi


"Ssttt... udah udah biar bunda dan ayah yang selesaikan urusan mereka" Bisik Allea mengusap lengan Max


"Sebagai anak aku bisa diam walaupun ayah kandungku sendiri tidak mengakui aku, tapi untuk bunda selesaikan semuanya sekarang aku gak mau bunda menangis lagi setelah ini" ucap Max


"Jangan kurang ajar kamu, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang tuamu urus saja rumah tangga kalian yang masih seumur jagung" ucap Damian


"Kita pulang ya.. Aku capek" ucap Allea lembut berharap Max mau mendengar ucapannya


"Aku gak akan pergi sebelum semuanya jelas, tinggalkan bunda atau perbaiki semuanya kalo pun ayah gak mau ngakuin saya sebagai anak gak apa apa setidaknya buat bunda bahagia"


"Tidak sayang.. Kalau kamu tidak dianggap di keluarga kita bunda akan ikut kamu, bagaimana pun kamu anak bunda" ucap Lydia


Damian menghela nafas panjang seraya memijat keningnya, sesaat kemudian dia memeluk Max yang di peluk diam mematung rasanya baru kali ini dia merasakan pelukan seorang ayah


"Maafkan ayah.. ayah sayang sama kamu hanya saja ayah malu mengakui itu gengsi ayah terlalu tinggi mengakui semuanya, jangan pergi.. jangan bawa bundamu pergi" lirih Damian


Lidah Max terasa kelu apa yang dia pikirkan nyatanya sama sekali tidak bisa dia ucapkan bahkan untuk membalas pelukan ayahnya saja rasanya tangan itu terlalu berat


Danendra turun dari tempat berbaringnya di bantu Lydia menghampiri Max dan Damian lalu ikut memeluk mereka


"Bisa kah keluarga kita seperti dulu? aku mau seorang kakak, bisa kah ayah memberikan hak Max, sudah terlalu lama aku dan ibuku merenggut kebahagiaan keluarga kalian" mereka melepaskan pelukannya masing masing


"Gue gak merasa lo mengambil hak gue karena memang ayah sendiri yang gak menginginkan gue sebagai anaknya, lo juga anak ayah lo pantes dapat segalanya" ucap Max


"Maxime... ayah menyesal, maaf" Lirihnya memegang kedua bahu Max


"Ayo lah Max kita keluarga, buka lembaran baru sebagai tuan muda yang sah keluarga Damian" goda Danendra


"Sialan" umpat Max menonjok lengan Danendra


Apa semuanya akan baik baik saja? apa keluarga mereka akan bersatu atau sebaliknya?


Maaf ya upnya telat.. othor nepatin janji buat yang tadi baik hati kasih bunga buat othor