
"Gimana dok?" tanya Allea
"Sepertinya hanya masuk angin, sebaiknya makan sedikit saja agar asam lambungnya tidak naik dan memperburuk keadaan" Allea berbincang sebentar dengan dokter lalu setelah memberi resep obat dokter pulang
"Makan" Ucap Allea dingin menyerahkan mangkuk berisi bubur
"Aku lemes yang" rengek Max
Allea menarik kasar mangkuknya dan mulai menyuapi Max dengan kasar pula, belum habis satu suapan di mulut Max Allea sudah kembali menyuapkan bubur ke mulut Max hingga penuh
"Emmphh.. " Max menahan tangan Allea karena tidak sanggup membuka mulut lagi
"Makan sendiri" ketus Allea menaruh kasar mangkuknya di tangan Max
"Tega banget sih suami lagi sakit juga" lirih Max
"Kamu bisa kemaren ngomong pedes banget giliran kamu merasa gak bersalah sama sekali, Kamu pikir aku punya kesabaran sebesar apa? " ucap Allea
"Itu gak seperti yang kamu kira, dia tiba tiba.. "
"Iya kemaren juga gak seperti yang kamu kira, kemaren juga tiba tiba aku jatuh terus tiba tiba entah keinginan macam apa yang mendorong aku pengen nyentuh rambutnya yang kayak landak" sergah Allea
"Apa? kamu gak percaya? yaudah" lanjut Allea saat Max menatapnya penuh curiga
"Yang patut di curigai itu orang lagi mabuk di bar sama cewek" ucapnya lalu pergi
"Di bahas lagi " gumam Max menghela nafas panjang
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Dito dan Gita masih ada di kamar dengan keadaan berantakan, Dito tidur di samping Gita yang duduk menyusui bayinya. Wajah Dito menunjukkan kelelahan Gita mengusap kepala Dito dengan sayang
"Sayang.. kamu jangan banyak bangun malam kasihan papa" ucap Gita pada anaknya
Meski sudah memasuki usia hampir dua bulan baby Dirga masih saja sering membuat orang tuanya begadang, Nafsu menyusuinya sangat besar sampai sampai mereka berdua bergantian memberi asi dari dot dan sumbernya langsung apalagi ibu dan ayah Gita belum kembali dari luar Kota
Tok tok tok
"Masuk" ucap Gita saat pintunya di ketuk
"Non di luar ada papanya den Dito" ujar Pelayan di rumah Gita
"Suruh masuk aja bi, aku bangunin Dito dulu"
"Sayang bangun ada papa" Gita mengguncangkan bahu Dito namun sepertinya dia tidak mau bangun
Gita sengaja mendekatkan kaki bayinya ke wajah Dito hingga baby Dirga menendang nendang wajah Dito dengan kaki kecilnya dan itu berhasil membuat Dito terbangun
"Apa sayang huh? kalian sengaja membuat aku tidak bisa tidur? " Dito bangun dan beralih tidur di kaki Gita dekat dengan ****** bayi
Preettt
"Astaga anak ini" Dito menepuk pelan b*k*ng gembul bayi itu membuatnya menangis
"Apa ini huh kamu mengadu? " Dito mengambil bayinya dan menciumnya membuat bayi itu semakin menangis
"Iihh.. tuh kan dia jadi gak bisa tidur" Kesal Gita yang sudah lama menyusui baby Dirga agar dia tidur tapi malah di ganggu papanya
"Dia menggemaskan sayang, Sama seperti kamu" Dito beralih menciumi wajah Gita
"Sayang cepat mandi papa ada di bawah" Gita mendorong pelan dada Dito
"Hah? kenapa gak bilang dari tadi" Dito menggendong bayinya turun dari ranjang
"Kamu gak mau mandi dulu? " tanya Gita
"Gak usah.. kalo kamu mau mandi duluan nanti gantian" ucapnya lalu pergi keluar
"Apa kabar pa? '' tanya Dito yang baru saja turun dari tangga
" Semakin membaik, maaf papa baru bisa kesini karena baru hari ini juga papa masuk ke kantor " jawabnya
"Gak apa apa, Dito dengar papa sehat aja udah seneng apalagi papa sekarang ada disini"
"Kamu belum mandi? " tanya ayah Dito
"Belum pa Dito baru bangun, baby Dirga selalu ngajak begadang jadi aku sama Gita gantian kasih asi apalagi ibu gak ada jadi repot" Jawab Dito
"Sepertinya ibu Gita baik sama kamu? " tanya ayah Dito lagi
"Andai mama kamu bisa seperti ibu Gita" lirihnya
"Ahh.. papa mau gendong baby Dirga? sepertinya dia belum mengenal opanya " ucap Dito dia tidak ingin ayahnya berlarut dalam kesedihan
"Hidungnya seperti Gita, ahh.. dia tersenyum" Raut bahagia terpancar dari wajah ayah Dito meskipun dengan genangan air mata
"Dia sepertinya senang di gendong opanya "
"Papa gak nyangka sekarang udah punya cucu, ganteng pula" Ucap ayah Dito seraya membelai pipi bayi yang mulai chubby itu
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sayang.. sayang kamu baik baik aja? " Ketiga orang tua itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu setelah mendengar Max dan Allea sakit dari dokter pribadinya
"Bunda.. ayah.. " Allea berjalan terpincang-pincang menghampiri mereka
"Sayang kaki kamu kenapa? " Gibran menghampiri Allea dan melihat kakinya
"Kalian kenapa gak bilang sama bunda kalo kalian sakit? "
"Gak apa apa kok ini cuma luka kecil, yang masih sakit Max dia muntah muntah terus" jawab Allea
"Dimana dia sekarang? " tanya Lydia
"Di kamar bun, gak tau lagi minta apa sama bibi"
Ketika mereka tiba di pintu kamar mereka mendengar Max yang kekeh meminta Mangga muda yang masih bergetah namun bibi mengatakan sekarang sedang tidak musim
"Minta apa lagi dia bi? " tanya Allea yang baru masuk bersama orang tuanya
"Mangga muda nyonya tapi yang masih ada getahnya, bibi bingung kan sekarang belum musim mangga" jawab Bibi
"Kamu lagi ngidam apa gimana? " Tanya Lydia seraya mendekat dan memegang kening Max dengan punggung tangannya
"Gak panas, kamu sakit apa sih? "
"Saya cuma mual aja bun, kata dokter cuma masuk angin" jawab Max
"Kalian kalo ada apa apa itu ngomong sama orang tua" ucap Damian
"Kita cuma gak mau ngerepotin yah.. Ayah sama bunda pasti sibuk" jawab Allea
"Sesibuk sibuknya kami pasti selalu ada waktu buat kalian" ucap Gibran sambil mengusap kepala Allea
"Ini kaki kenapa bisa luka? " Gibran masih penasaran dengan luka di kaki Allea
"Gara gara gak nurut sama suami makanya luka" Jawab Max yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Allea
"Yang masuk angin juga gara gara semalem ke bar sama... " Allea keceplosan lalu menutup mulutnya
"Ke bar sama siapa? " Gibran sudah menunjukkan taringnya saat mendengar Allea bicara seperti itu
"Ahh... ayah sama bunda pasti laper kan? ayo kita makan " Allea mengalihkan pembicaraan dengan menarik lembut tangan Lydia keluar dari kamar
"Allea.. "
"Ayah.. " Gibran seolah ingin bertanya namun Allea memberi isyarat tidak ingin menjawab
"Kita makan dulu" ucap Allea
"Maxime gak ikut makan? " tanya Lydia
"Dia cuma makan bubur itu pun belum bisa banyak" jawab Allea
"Lain kali kalo kalian dalam masalah kasih tau kita" ujar Lydia
"Iya bun.. tadinya kami mau mandiri" lirih Allea
"Tapi kami jadi khawatir kalo tau dari orang lain"
"Maaf bunda.. ayah.. lain kali Allea akan kasih tau kalo kami dalam masalah"
"Bagus.. anak pintar, jangan buat kami cemas" Ucap Lydia membelai rambut Allea
Mereka makan bersama sementara Max di kamar masih sering muntah sendirian, menderitanya dia yang sedang sakit sementara istrinya masih merajuk tidak ada yang memanjakannya di saat sakit. Dia hanya bisa pasrah terbaring lemas memejamkan matanya