
Cindy dan Danendra baru saja datang mereka di sambut hangat oleh dua keluarga itu mereka awalnya hanya janji untuk makan malam bersama namun setelah makan mereka membicarakan tentang hubungan
"Bagaimana apa kau menyukai Danendra? " tanya Emile pada Cindy
Cindy hanya tersenyum dan mengangguk sementara Danendra belum mengerti kearah mana pembicaraan mereka
"Danendra apa kau menyukai Cindy? " tanya Damian
"Tunggu dulu, yang di maksud menyukai itu bagaimana? " tanya Danendra bingung
"Menyukai dalam artian wanita dan pria dewasa" jawab Damian
"Aku hanya menganggap ny sebagai teman" jawab Danendra tegas
"Tapi kalian akan di jodohkan"
"Apa? kenapa kalian merencanakan perjodohan mereka masih kecil" Lydia tidak setuju dengan pendapat mereka
"Hubungan kita akan semakin erat nyonya jika kedua anak kita bersatu" jawab Emile
"Hubungan akan erat jika diantara kita terjalin silaturahmi yang baik tidak harus dengan menjodoh jodohkan" tegas Lydia
"Aku setuju, maaf om tante lagi pula saya sudah mempunyai kekasih" jawab Danendra
"Kekasih masih bisa putuskan? " ucap Gibran
"Saya menolak dengan tegas, sekali lagi saya minta maaf jika pertemuan ini hanya membahas perjodohan maka saya tidak ada waktu lebih lama lagi.. saya permisi" ucap Danendra lalu berdiri
"Danendra jangan buat kekacauan" geram Damian
"Ayo kita pulang bun aku rasa kita sependapat" Danendra menggenggam tangan bundanya
"Saya permisi" ucap Lydia lalu pergi dengan Danendra
"Maafkan istri dan anakku sepertinya mereka tidak setuju, aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini, permisi" ucap Damian ikut pergi
"Daddy bagaimana aku ingin berjodoh dengan Danendra" rengek Cindy
"Kamu tidak dengar mereka sudah menolak, jadilah wanita yang punya harga diri jangan mengemis cinta" ucap Gibran lalu pergi
"Mommy.... "
"Mommy akan pastikan kamu mendapatkan Danendra"
"Mommy memang paling mengerti" Cindy memeluk Emile
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Allea, Max dan nek Mar menikmati kue yang dia beli tadi berbincang bincang hingga membicarakan masa kecil Allea, Nek Mar tidak berhenti bicara meskipun Allea sudah mengingatkan neneknya
"Sudah nek Allea malu" rengek Allea
"Allea dulu juga jago manjat, nenek pernah cari cari ternyata dia ketiduran di atas pohon belakang rumah" ucap Nek Mar dengan tawa
"Nenek... " geram Allea
"Semua punya masa kecil sayang itu adalah masa masa yang indah" ucap nek Mar
"Indah tapi kalo di bilang sama orang Allea malu" gerutu Allea
"Sudah kalian ngobrol saja berdua nenek masih ada kerjaan buat besok dagang"
"Nek kita jalan jalan dulu bentar ya" teriak Allea
"Mau kemana? "
"Jalan kaki aja sekitar sini"
Allea dan Max jalan jalan menyusuri jalan
Sangat canggung bahkan mereka tidak saling bicara Allea mencuri curi pandang ke arah Max saat pandangan mereka bertemu Allea memalingkan wajahnya ke arah lain
"Kenapa? " tanya Max
"Hah? kenapa apanya? "
"Liat liat gue"
"ehh gak ada"
Hening kembali
1 menit
5 menit
10 menit
"Max" panggil Allea
"Hmm" singkat Max
"Yang lo lakuin di bar"
"Kenapa? mau lagi? "
"Eehh gak bukan gitu, gue cuma gak percaya aja lo lakuin itu" ucap Allea
"Kenapa? gue berandalan lo gak takut sama gue? " ucap Max
"Lo gak seperti itu Max, gue tau lo orang baik"
"Lo gak tau banyak tentang gue kenapa lo berpikir gitu?"
" Semua ada alasannya dan gue tau lo lakuin itu karena ada alasannya, tapi lo gak nyakitin gue sama sekali" ucap Allea
" lo gak takut suatu saat gue lakuin sesuatu sama lo? " ucap Max
"Dan saat itu terjadi gue akan bunuh lo" ucap Allea seraya terkekeh
Max hanya menggelengkan kepalanya
Terdengar suara motor yang gaduh sekelompok geng motor terlihat mendekat
"Woi itu mereka" teriak salah satu dari mereka menunjuk ke arah Max dan Allea
"Max lari" Allea menarik tangan Max berlari secepatnya
"Kenapa disini sepi, lo bawa gue kemana? " tanya Max
"Aduh sorry gue panik jadi asal ambil jalan" jawab Allea
"Ya ampun allea bener bener cari mati"
Mereka terus berlari menembus kegelapan malam Allea tersandung sesuatu membuatnya jatuh tersungkur Max kembali menyuruh Allea naik ke punggungnya
"Allea kita kemana lagi? " tanya Max
Max melihat tebing yang tidak terlalu tinggi dia memutuskan untuk turun kesana dari pada melawan puluhan orang
"Max gimana? gue takut" ucap Allea
"Sini" Max memeluk Allea menuruni jalan tebing itu
Suara motor semakin mendekat membuat Allea ketakutan hingga terpeleset Max meraih tubuh Allea yang akan terjatuh dan memeluknya berusaha menutupi tubuh Allea agar tidak terluka mereka berguling ke bawah hingga ke dasar
"Akkhh" Max meringis saat punggungnya terbentur batu
"Max lo gak apapa? Allea membangunkan Max dan bersembunyi di bawah pohon tepi tebing
" Gak, gue baik" ucap Max menyandarkan tubuhnya
"Kemana mereka?"
"mereka lari ke sana pasti"
"Kita pergi aja buang buang waktu" ucap mereka bersahutan
"Mereka udah pergi" ucap Allea
"Ayo pergi" Max berdiri
"Aww.. kaki gue sakit" pekik Allea
Max menggendong Allea hingga kembali ke rumah
Sesampainya di rumah terlihat jelas luka luka di tubuh Max
"Kalian kenapa? " tanya Nek Mar melihat keduanya pulang dengan keadaan kacau
"Nek kami di kejar orang yang waktu itu ganggu Allea, Max luka karena selamatin Allea lagi" lirih Allea mengurut kakinya
"Nek saya pamit pulang dulu, saya lupa tadi sebelum kesini ada urusan" ucap Max
"Jangan dulu pulang itu harus di obati, Allea obati dulu nenek udah kurang penglihatannya"
"Iya nek" Allea mengambil air dan p3k
Max membuka bajunya membuat Allea menjerit
"Aaa kenapa lo buka baju? " ucap Allea menutup wajahnya dengan tangan
"Punggung gue sakit kalo gak di buka gimana obatin nya"
"Oohh... "
"Otak lo ngeres mulu" ledek Max
Allea mengobati lengan dan punggung Max
allea cukup tercengang melihat lukanya yang cukup banyak
luka gores dan memar di tangan punggung dan kakinya
"Max sorry lagi lagi lo luka karena gue" ucap Allea
"Gak seberapa ini, Lain kali lo harus bisa jaga diri lo sendiri kalo gak ada yang nolongin lo gimana" ucap Max
"Gue sebut aja nama lo tiga kali" goda Allea
"Lo kira gue dedemit"
"Haha mirip" Allea tertawa namun Max hanya diam menatapnya dingin
"Otot lo keras keras banget Max jangan jangan otot bibir juga ikutan keras ya? " ledek Allea
"Maksudnya? " Max tidak mengerti kemana arah pembicaraan Allea
"Otot bibir lo gak bisa di tekuk gitu? "
"Apaan sih"
"Gini nih" Allea menyentuh ujung bibir Max dan menariknya ke atas
Allea melakukannya di kedua sudut bibir Max
"Tahan" ucap Allea lalu memotret Max dengan handphonenya
"Lo lihat lo bisa senyum Max dan lo terlihat ganteng banget" ucap Allea menunjukkan hasil potonya
"Pertahankan ini" ucap Allea kembali menyentuh kedua sudut bibir Max
"Allea" pekik Danendra
"O my god" Allea menjauh dari Max
"Lo ngapain disini? pake baju lo sekarang" geram Danendra
"Ada siapa Lea" ucap nek Mar kembali dari dapur
Max memakai bajunya kembali lalu berpamitan pada nek Mar, Max tidak mendengar panggilan Allea dia pergi begitu saja
"Kenapa dia ada di sini? " tanya Danendra
"Dia dua kali nolongin aku sampe tubuhnya luka luka" jawab Allea
"Kamu pacar aku sekarang, bisa gak sih gak usah deket deket cowok lain"
"Jaga sikap kamu ada nenek" Allea mengingatkan kala Danendra berbicara dengan nada tinggi
"Maaf nek" ucap Danendra
"Max luka gara gara nolongin Allea, nenek gak bisa obati karena penglihatan nenek juga mulai rabun jadi nenek menyuruh Allea" ucap Nek Mar
"Maafin aku ya, aku terlalu cemburu"
"Lain kali jangan asal marah aja dengerin orang ngomong dulu"
"Duduk dulu nak nenek bikin minum dulu" ucap nek Mar pergi ke dapur
"Iya maaf aku terlalu cemburu apa lagi dia gak pake baju di depan kamu"
"Kamu juga pasti pegang badan dia kan? " lanjut Danendra
"Ya peganglah kalo ngobatin gak di pegang gimana ceritanya"
"Badannya kekar proposional Kamu suka badan dia? " tanya Danendra
"Apaan sih, aku gak ngerti" jawab Allea terlihat salah tingkah
"Sikap kamu udah jawab semua pertanyaan aku"
"Terserah aku males ribut" jawab Allea pergi menyimpan p3k bekas Max