My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Gak tahu malu



Kini mereka berkumpul di cafe Gita and the geng, suasana tampak canggung pasalnya Danendra yang biasanya ramah dan baik wajahnya mendadak tidak bersahabat menatap Max penuh selidik....... sementara yang di tatap cuek saja seraya berbincang dengan santai bersama keempat cowok lainnya


"Gue sama Gita ke toilet dulu" ucap Allea


Kelima cowok itu banyak membahas tentang kelanjutan pendidikan dan peluang bisnis...... hanya Danendra yang terlihat diam tak bersuara hanya tatapan matanya yang mengisyaratkan seperti ingin menelan Max hidup hidup


"Lo punya usaha juga Max? " tanya Dito


"Ya bengkel kecil kecilan" jawab Max


"Bengkel mobil atau motor? " ucap Sandro


"Keduanya, kalo kalian punya keluhan tentang kendaraan bisa langsung datang ke sana"


"Alamatnya? "


"Blok M deket sama SMP pelita"


"Woowww" ucap mereka berempat serempak


"Itu bukan kecil kecilan Max, itu bengkel gede terkenal juga gue gak nyangka itu punya lo" ucap Dito


"Itu peninggalan atau lo rintis sendiri? " tanya Bagas


"Gue rintis sendiri, gue minjem modal dari Oma, gue bukan penikmat harta orang tua" ucap Max menatap Danendra


Merasa di ledek Danendra berdiri dari duduknya, dia pergi menyusul Allea dan Gita ke toilet...... sementara Max tersenyum melihat wajah kesal Danendra ternyata menghadapinya dengan tenang itu lebih mudah


"Gue berniat buka cabang kalian boleh ikut gabung kalo mau" ajak Max


"Gue dari dulu pengen gabung sama bengkel lo tapi dulu gue gak pernah tau pemiliknya, gue coba tanya karyawannya tapi mereka gak tau nama lo mereka cuma bilang bos, gak tau lebih banyak" ujar Dito anak termapan diantara kelima temannya


"Gue gak pernah kasih tau informasi tentang gue, mereka cukup kerja dengan baik selebihnya mereka gak usah tau tentang gue" jawab Max


" Gue pengen ikut gabung tapi usahakan jangan terlalu gede modalnya " ujar Sandro sambil cengengesan


"Itu gampang nanti kita bicarakan lagi soal ini, ngomong ngomong kalian punya motor gak? " tanya Max


"Ada" semua menjawab


" Terus kenapa ikut sama Dito terus? "


"Hhehe sekalian kan searah rumah Dito lewat rumah kita" jawab Bagas


"Ohh... gimana kalo lain kali kita touring gitu pas libur sekolah? " ajak Max


"Ide bagus"


"Gimana abis ujian semester ini? "


"Boleh juga"


"Ngomongin apaan sih? " tanya Allea yang baru saja kembali dari toilet dengan Gita diikuti Danendra


"Gak ada, kita cuma ngomongin bengkel" jawab Max dengan cepat dan di angguki yang lain


"Guys gue harus pulang kayaknya hawa disini mulai gak enak, nomor gue ada di Allea nanti kita bahas kerjasama kita" ucap Max seraya mengambil tas dan kunci motornya


"Oke, thanks udah mau mampir kesini" ucap Dito seraya bersalaman ala laki laki diikuti yang lain


Max mengulurkan tangan pada Danendra namun dia hanya mematung, Allea mendongak menatap wajah Danendra di sampingnya.... merasa jabat tangannya tidak di balas Max menarik kembali tangannya lalu menepuk pundak Danendra


"Sampai bertemu brother " ucap Max menekankan kata brother lalu melenggang pergi


"Kita pulang" ucap Danendra menarik tangan Allea


"Guys gue balik duluan" teriak Allea dan teman-temannya melambaikan tangan


"Gue kira Max sekaku itu tapi ternyata dia menyenangkan buat temen ngobrol" ucap Dito


"Sebenarnya dia menarik dirinya sendiri dari orang lain mungkin karena rumor yang beredar"


"Tapi Allea berhasil menarik Max kembali dari masa suramnya" ucap Gita dan temannya bersahutan


"Nanti malam aku jemput" ucap Danendra saat Allea akan turun


"Tapi.. "


"Gak ada alasan aku memaksa bye" Danendra melajukan mobilnya membuat Allea mendengus kesal


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Malam malam Danendra sudah bersiap dengan pakaian rapih untuk makan malam dengan Allea, namun tiba tiba teman temannya menelpon untuk menggantikan salah seorang temannya yang cedera untuk bermain basket


Terpaksa Danendra mengganti pakaiannya dan siap berangkat menjemput Allea untuk di bawanya melihat pertandingan basket, baru saja menutup pintu kamar Lydia sudah berada di hadapannya


"Ya ampun bunda ngagetin aja" ujar Danendra


"Sayang ada Cindy di depan" bisik Lydia


"Kenapa gak di usir aja sih bun? aku mau pergi sama Allea"


"Gak enak sayang malah dia lagi ngobrol sama ayah"


"Heh mau apa sih dia, jadi cewek gak ada rasa malunya sama sekali" gerutu Danendra sembari menuruni anak tangga


"Gak tahu malu jadi cewek, gak pantes anak cewek gelendotan sama cowok" gerutu Danendra


"Danendra jaga sikap kamu" bentak Damian


"Yang harusnya jaga sikap tuh dia ayah, lepas gue mau pergi" ujar Danendra kembali menepis tangan Cindy yang memeluknya erat


"Mau kemana? aku mau ikut ya" pintanya manja


"Gak ngapain sih ikut ikut, sikap lo bikin ilfil tau gak"


"Danendra bawa dia sama kamu atau semua fasilitas kamu ayah ambil" bentak Damian


"Gue terpaksa bawa lo pergi, kalo bukan karena ayah gak sudi gue bawa lo" ketus Danendra saat melajukan mobilnya


"Gue gak bisa bawa Allea sama dia, apa gue batalin aja ya janji sama Allea? " batin Danendra


"Yang aku gak bisa jemput kita jalan lain kali aja ya" isi pesan yang di kirim Danendra


Allea yang sudah rapih menunggu di depan rumah mendapatkan pesan seperti itu menjadi tidak bersemangat, Danendra yang janji mau membawanya jalan jalan tidak datang janji dengan Max pun sudah dia batalkan


"Ya gak jadi dua duanya" lirih Allea


Seorang gadis tetangga rumahnya menghampiri Allea dan berbincang, Allea memang gampang bergaul dengan siapa pun dia sosok menyenangkan bisa di ajak bicara tentang banyak hal


"Gimana sekolah kamu? enak gak sekolah di sekolah Elite?" tanyanya


"Enaknya fasilitas sekolah bagus, pelajarannya juga tapi orang disana ya gitu susah berbaur circlenya orang kaya beda" jawab Allea


"Kamu gak ada temen dong? "


"Ada lah kurang dari 10 orang" jawabnya


"Mereka orang kaya semua? "


"Iya makanya aku suka minder sama mereka" jawab Allea


Saat sedang asyik berbincang tiba tiba sebuah motor sport berhenti di depan rumah Allea, gadis itu melongo melihat orang itu membuka helm dan tersenyum ke arah mereka...


"Itu siapa Allea? " tanyanya tidak lepas menatap Max


"Salah satu temen gue"


"Wooaa gue pengen pindah sekolah juga" cicitnya membuat Allea menggeleng


"Allea jadi ikut gak? " tanya Max


"Lo gak baca pesan dari gue? "


"Gak handphone udah gue masukin tas"


"Yaudah ayo kita pergi, Sri gue pergi dulu ya" Sri hanya melongo hampir saja air liurnya menetes


"Bye" Max melambaikan tangannya lalu memakai helm


Mendapatkan kata bye dari Max membuat Sri merasa lemas, tubuhnya bagai tak bertulang bak puding langsung melorot ke lantai di depan rumah Allea dengan senyum bodohnya


Max baru saja sampai di tempat pertandingan basket


dia tidak tau lawan mainnya siapa karena dia hanya tau main tidak berhubungan dengan baik dengan sesama pemain


"Hai guys" Max menyapa teman mainnya


"Hai Max" ucap mereka serempak


Mereka heran melihat perubahan Max lalu menatap gadis yang mengekorinya yang tidak lain adalah teman sekelas mereka, Allea hanya tersenyum ramah dan mereka membalas senyumannya


"Jadi siapa lawan kita sekarang? " tanya Max membuka celana panjang dan sweaternya membuat wajah Allea memerah dan secara langsung memalingkan wajahnya


"Lo berbeda sekarang Max dan kita senang akan hal itu" ucap salah satu dari mereka merangkul Max, mereka bergantian merangkul bahu Max


"Ternyata benar apa kata Allea" batin Max mengembangkan senyumnya


"Hei kenapa ngadep situ? " tanya salah satu dari mereka melihat Allea membelakangi mereka


"Gue salah masuk kesini harusnya gue tunggu di luar" jawab Allea, merasa panas sendiri melihat para laki laki itu melepas pakaiannya


"Dia masih polos guys" goda Max


"Apa dia alasannya? " tanya temannya ambigu


"Maybe"


"Hati hati bro dia punya orang"


"Gue tau, hubungan gue sama dia gak lebih dari sekedar teman" jawab Max


"Gak ada yang murni berteman bro antara cowok sama cewek" ledek yang lain namun Max hanya tersenyum


"Dan siapa lawan kita? " tanya Max mengalihkan pembicaraan


"Pacar dia" tunjuk mereka pada Allea yang masih berdiri membelakangi mereka