My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Anak baru



Jam pelajaran sudah harusnya di mulai namun belum ada guru yang masuk semua murid gaduh di dalam kelas tidak terkecuali Allea CS Sesekali mereka tertawa terbahak entah apa yang mereka bicarakan sementara Max si es batu itu tetap diam membaca buku sesekali melihat Allea yang menyamping menghadap Gita


Mata mereka beradu pandang saat Allea menoleh ke samping Allea tersenyum namun Max tidak membalas senyumnya dan kembali membaca buku Allea mengerucutkan bibirnya membuat temannya yang lain saling sikut


"Allea kecewa guys" celetuk Dito sambil terbahak


"Apaan sih" gerutu Allea


Mereka kembali beradu mulut saling mengejek lalu sama sama tertawa, Allea terlalu asyik bercanda dengan temannya hingga tidak menyadari saat Danendra sudah ada di belakangnya tepatnya di samping mejanya


"Lagi ngomongin apaan? " Danendra mencondongkan tubuhnya di atas meja


"Cie... Allea ciee" ledek Gita


"Gak lucu " ketus Allea


"Hari ini sekolah di bebaskan ada rapat guru" ucap Danendra


"Ohh pantesan" ucap Allea CS serempak


"Mau pergi gak? bosen di sekolah terus" ajak Danendra


"Enggak deh aku mau sama mereka aja" jawab Allea


"Kamu masih marah soal kemarin? " tanya Allea


"Enggak juga" singkat Allea


Danendra menoleh pada Max yang berada di belakang kursi Allea, Max bangun membawa tasnya sudah pasti dia akan pergi


"Max" sapa Danendra namun Max malah menatap tidak suka dan pergi menabrak bahu Danendra


"Nanti malam ada acara? aku mau ngajak kamu nonton" ucap Danendra pada Allea


"Gimana nanti aja ya"


"Kamu masih marah? aku sudah minta maaf"


"Kita bicara nanti aja gak enak diliatin orang" ucap Allea


"Anak anak mohon perhatiannya" seorang guru baru saja masuk


"Kamu bukan anak kelas ini kan? cepat kembali ke kelas kamu" titah guru pada Danendra


"Iya Pak, nanti malam aku jemput" ucap Danendra pada Allea lalu pergi


"Hari ini bapak berikan ulangan agar kalian tidak berisik lagi, nanti kumpulkan di ketua kelas"


"Baik Pak" jawab semua murid


"Dan satu lagi, ini ada anak baru namanya Yuki tolong di bantu jika ada yang dia tidak mengerti,


Yuki duduk di bangku yang kosong" ucap guru lalu pergi


"Baik Pak" Yuki duduk di kursi Max


"Hai gue Allea dan ini temen gue Gita"


"Ohh Hai gue Yuki, nanti kalo ada yang gue gak ngerti gue tanya kalian boleh kan? " ucapnya lembut


"Tentu" jawab Allea


Allea menelpon seseorang setelah mengambil dua kertas soal Gita mengernyitkan alisnya menatap Allea


"Lo nelpon siapa? " tanya Gita


"Max, tapi handphonenya gak aktif" jawab Allea


"Ya ampun segitu perhatiannya lo sama dia"


"Bukan gitu dia baik banget sama gue, selalu bahayain dirinya buat nolongin gue"


"Aduuhh kayaknya bakal ada cinta segi tiga nih" ledek Gita


"Ngaco mulu loh" ucap Allea lalu berdiri


"Mau kemana? " tanya Gita


"Cari Max bentar" jawabnya sambil berlalu


"Lo ngerasa gak sih Allea kayaknya perhatian sama Max? " ucap Dito


"Iya gue juga rasa sebaliknya juga gitu" jawab Gita


"Temen sendiri di ghibahin" seloroh bagas namun Dito dan Gita hanya bisa nyengir


Allea mencari Max ke belakang gudang dia berdoa dalam hatinya semoga tidak bertemu Sam dan gerombolannya, suasana tampak sepi Allea bergegas berjalan ke belakang gudang


"Gak ada orang" gumamnya lalu berbalik


Allea menabrak dada bidang seseorang membuatnya hampir terjungkal ke belakang namun orang itu berhasil menarik tangannya dan menahan pinggangnya sesaat mata mereka bertemu dan saling menatap dalam


"Fyuuhhh, kalo jalan pake mata" Max meniup wajah Allea membuatnya tersadar


"Sorry sorry" Allea menarik diri dari Max


"Ngapain kesini? " tanya Max dingin


"Di kelas ada ulangan dadakan gue cari lo"


Tanpa menjawab Max berjalan mendahului Allea


membuat Allea menggerutu mengekorinya dari belakang 'bilang makasih kek udah di kasih tau' batin Allea menatap punggung Max kesal


Max kembali ke tempat duduknya dan menatap dingin gadis yang duduk disana, gadis itu berdiri dan tersenyum mengulurkan tangannya namun Max berlalu duduk dan menyimpan kasar tas gadis itu di meja


"Pindah" ketus Max, gadis itu menarik tangannya yang terulur


"Lo yang waktu itu nolongin gue kan? btw makasih" ucapnya tersenyum


"Gue gak inget, pindah gue gak mau ada orang lain duduk disini" ketus Max


Wajah gadis itu terlihat kecewa mengambil tasnya mengedarkan pandangan mencari bangku kosong


dia hanya berdiri tidak berani duduk di kursi sebelah orang lain


"Ayo aku anter" ucap Allea


"Ca biar Yuki duduk disini ya" ucap Allea ramah


"Terserah" ketusnya


"Kamu duduk disini aja, kalo udah lama nanti juga terbiasa jangan masukin hati ya" ucap Allea sebelum pergi


"Cuma Allea yang baik disini" batin Yuki


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain Selvi sudah berada di dalam mobil dengan Jeremy dia berniat datang kesekolah Max untuk menemuinya entah apa lagi yang dia rencanakan untuk membuat hancur hidup Max dan keluarganya


"Kamu yakin? " tanya Jeremy


"Aku yakin" jawab selvi


"dia gak bersalah jangan selalu menyakiti perasaannya" Jeremy mengingatkan


"Kita tidak bisa meraih orang tuanya, dan terpaksa kita akan gunakan anaknya" ucap Selvi


"hentikan dendam ini, aku akan menikahi dan bahagiakan kamu" ucap Jeremy


"Tidak semudah itu, aku ingin melihat keluarga mereka hancur"


"Dan saat kau sibuk dengan dendammu mungkin saat itu juga aku sudah bosan menunggu" ucap Jeremy membuat Selvi mendelik


"Pergi dari sekarang kalau kamu mau" ketus Selvi namun Jeremy tidak menanggapi


Sesampainya di sekolah kebetulan semua murid sudah pulang Selvi mencari Max dan menemukannya di parkiran sedang memakai helm


selvi mempercepat langkahnya dan menepuk pundak Max


"Mama" gumam Max tapi tetap tenang


"Apa kabar Max? " tanya Selvi


"Seperti yang terlihat" ketus Max


"Kamu seketus itu pada mamamu? kamu tidak merindukan mama? " tanya Selvi


"Rindu itu sudah terkubur belasan tahun lalu, jika tidak ada yang perlu di bicarakan lagi saya permisi" ucap Max lalu pergi dengan motornya


"Tidak di sangka rencanaku gagal, aku kira anak itu akan dengan mudah kembali padaku" batinnya


Selvi kembali ke dalam mobil membanting pintu dengan kencang


"Arrrggghhh, sial" teriaknya


"Hei ada apa ini? " tanya Jeremy


"Anak sialan itu mengacuhkanku, tidak kusangka dia yang di sebut merindukanku oleh nenek tua itu ternyata keras kepala" gerutunya


"Kamu meninggalkannya terlalu lama mungkin dia juga sudah lupa kalau dia punya mama, aku pantau dia juga dekat dengan bundanya" jawab Jeremy


"Ya perempuan sial itu sama sialannya seperti anaknya"


"Lalu anakmu? bukankah dia sama keras kepala ambisius dan licik sepertimu, aku memantaunya sejak lama"


"Dia anakku sudah sewajarnya kamu memiliki persamaan" jawabnya dengan nafas terengah engah menahan amarah