
"Cindy telepon katanya ayah masuk rumah sakit" Allea bergegas memberitahu suster juga si kembar untuk segera bersiap untuk pulang
"Ayah kenapa? " tanya Max
"Gak tahu pokoknya aku pulang hari ini" Allea menjawab seraya tangannya merapihkan baju bajunya ke dalam koper
"Kamu pulang sama aku aja biar anak anak sama suster"
"Bentar aku ambil Michelle dulu"
Max dan Allea berada satu mobil dengan Michelle mengikuti mobil suster dari belakang, setelah mengantar anak anaknya ke rumah Allea dan Max kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit
"Ayah kenapa ma? " Tangis Allea pecah ketika melihat Ririn dan Cindy juga Danendra di luar ruangan
"Ayah operasi jantung sayang, Dia sempat drop saat melihat berita suami kamu" ucap Ririn
"Berita apa? " Ririn memberikan handphonenya
Allea membaca artikel yang ada di handphone Ririn kemudian menatap Max dengan tatapan tajam, Tangannya menampar wajah suaminya sangat kencang
"Gara gara kamu.. " Allea menunjuk wajah Max
"Sayang aku gak.. "
"Diam... Jangan mencari pembelaan apapun"
"Dia di rumah sakit ini" gumam Allea lalu pergi
"Allea mau kemana? " Cindy menyusul Allea begitu pun Max dan Danendra
Allea masuk ke sebuah ruangan dan menyeret Arabella keluar saat Lili tidur, Tanpa babibu Allea menampar wajah Arabella hingga tersungkur dan kembali menampar nya setelah Arabella terduduk di lantai
"Bangun.. bangun lo " Allea menjambak rambut Arabella dan mengangkatnya hingga dia terbangun dari duduknya
"Tolong siapapun tolong" teriak Arabella
"Wah.. itu yang di berita itu kan? "
"Istri sahnya padahal cantik"
"Bagus emang pelakor kudu di gituin"
"Pukul terus mbak" orang orang berlomba merekam kejadian ini
"Allea stop.. jangan terpancing emosi" Cindy berusaha melepaskan cekalan di rambut Arabella
"Lo sama sama wanita, gue harap lo ngerti" mendengar perkataan Allea akhirnya Cindy mundur dia juga menghentikan Max yang berusaha melerai
"Lo wanita berpendidikan dari keluarga terhormat dan dengan bodohnya lo mau punya anak dari pria yang sudah beristri? Lo t*l*l apa bego huh? sebelum kalian lakuin itu apa lo gak mikir gimana nasib anak istrinya di rumah? apa lo gak laku sama pria single?"
"Lo kembali mengulang kesalahan lo di masa lalu, atau kali ini juga sama itu anak orang lain dan lo minta Max bertanggung jawab sama kayak dulu? lo terlalu murah bahkan j*l*ng di luar sana aja di bayar sementara lo? cuma di bayar pake janji manis? Gue kasihan sama lo" Allea terus bicara dengan tangan tidak lepas dari rambut Arabella dan memepetkan tubuh Arabella ke tembok
"Liat itu suaminya? "
"Kayak suami takut istri tapi kelakuannya, ya ampun"
"Dia gak berani belain pelakor"
"Untung ganteng" Max menatap kearah mereka yang mulai kasak kusuk membicarakannya
Melihat tatapan Max seketika mereka diam dan meninggalkan mereka, security datang melerai Allea yang semakin menjadi
Di tangan Allea banyak rambut Arabella yang rontok sementara Arabella memegangi kepalanya yang terasa kulitnya mau lepas, tatapan mata Allea menajam saat keduanya di bawa ke kantor keamanan
"Tolong urus Allea dulu " Ucap Max pada Cindy sementara dia masuk kekamar rawat Lili
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Dimana Allea? " lirih Gibran pelan
"Dia ada di sini aku akan menelponnya" Ririn sudah menelpon Allea namun tidak ada jawaban akhirnya dia menelpon Cindy
Ririn terkejut saat mendengar Allea berada di kantor Keamanan rumah sakit namun dia tidak mengatakan apa apa pada Gibran
"Cindy akan membawa Allea kesini" ucap Ririn
Sementara di pos keamanan setelah semuanya di bereskan oleh Danendra dan Cindy akhirnya Allea bisa pergi dari sana
"Sayang" Max baru saja datang berlari kecil menghampiri Allea
"Semua gara gara lo" Allea berlalu seraya memukul keras dada Max
"Ayah nanyain Allea, sebaiknya lo gak usah kesana nanti ayah drop lagi" ucap Danendra lalu pergi meninggalkannya bersama Cindy
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ayah" Allea masuk mencium tangan ayahnya
"Kamu gak apa apa nak? kasihan sekali kamu sayang" lirih Gibran dengan suara pelan nyaris berbisik
"Gak apa apa yah.. liat Allea baik baik aja, anak ayah telah melewati banyak kepahitan ini bukan apa apa buat Allea" Allea berusaha meyakinkan sang ayah
"Ayah tau bagaimana perasaan kamu, Ayah akan bantu kalo kamu mau pisah sama suami kamu"
"Gak usah pikirin itu yah.. sekarang ayah harus sembuh dulu, Allea udah dewasa dan bisa selesaikan masalah Allea sendiri"
"Kalo kamu butuh sesuatu kasih tau ayah"
"Iya.. sekarang ayah istirahat jangan banyak pikiran ya"
"Ayah akan istirahat.. kamu sebaiknya pulang kamu lagi hamil kasihan juga anak anak di rumah"
"Hmm.. Allea pulang sekarang" Allea mencium kening sang ayah lalu Ririn
"Cindy dan Danendra antar Allea pulang" titah Gibran
"Baik ayah" jawab keduanya, Cindy menuntun Allea keluar dari ruangan
Baru saja mereka keluar Max langsung mengambil tangan Allea hendak membawanya pergi namun Cindy menahannya
"Sorry Max.. ayah udah titipin Allea sama kita" ucap Cindy
"Sayang kamu.. "
"Ayo kita pergi" Allea menarik tangan Cindy tanpa mendengarkan ucapan Max
"Arrrggghhh.. sial" Max mengumpat langkahnya dia percepat untuk mengejar Allea
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Sesampainya di rumah Cindy dan Danendra langsung pulang karena suster menelpon dan mengatakan anak mereka demam, Allea segera masuk ketika melihat Max juga keluar dari mobil
"Allea tunggu.. "
"Maxime... " seseorang dari dalam rumah berteriak, Max memejamkan matanya habislah dia kali ini
Lydia berjalan tergesa berdiri di hadapan Max memandangnya dengan tatapan tajam, ketika Max baru membuka mulutnya untuk bicara Lydia lebih dulu menamparnya
"Bunda gak pernah ngajarin kamu hal buruk, bunda gak rela anak bunda nyakitin istrinya, bunda gak rela anak bunda jadi orang berengsek, kenapa Maxime? kenapa kamu jadi seperti ini? " Lydia bicara sambil terus memukuli anaknya, Max tidak membantah atau pun menyangkal dia hanya diam menerima pukulan sang ibu
"Bunda... "
"Biarkan.. dia akan sadar ketika melihat ibunya menangis, masuklah" Damian menghentikan Allea ketika Damian tahu Allea akan membela Max di hadapan Lydia
"Berapa kali bunda harus bilang? jangan sakiti menantu bunda tapi kenapa? kenapa kamu bahkan memiliki anak dari wanita lain bunda gak rela" Lydia menghentikan pukulannya dia menangis tersedu-sedu
"Bunda dia bukan anak saya, saya bisa buktikan nanti"
"Bukti apa? bukti apa bunda tanya? pantas Allea pergi dari rumah, kamu gak bisa menyangkal" Lidya menepuk dada Max dengan secarik kertas di tangannya
"Ini pasti salah bun"
"Kamu yang salah.. kalo pun hasilnya salah perbuatan kamu juga salah"
"Perbuatan apa lagi bun? saya gak ngerti? "
"Kamu belum lihat berita? pengusaha muda yang sedang mabuk masuk ke kamar seorang wanita yang tidak lain adalah mantan pacarnya, apa kamu pikir itu hebat? kamera CCTV sebagai buktinya" Lydia memberikan handphonenya, dimana di handphone tersebut ada link berita serta cuplikan video CCTV yang menunjukkan Max salah masuk kamar
"Berita ini salah bun, gak gitu kejadiannya"
"Menyangkal terus, apa kamu ingat apa yang kamu lakukan saat mabuk? gak kan? makanya bunda selalu bilang jauhin alkohol Maxime.. bunda gak tau lagi harus ngomong apa sama kamu" Lydia tiba tiba memegangi kepalanya yang terasa berat
"Bunda.. sayang" panggil Max dan Damian bersamaan
"Jangan sentuh, ayah kita pulang aja" Lydia tidak mau Max membantunya dan memanggil Damian
"Sial.. arrrggghhh.. sial" Max mengumpat dan marah marah sendiri hingga melempar semua benda di dekatnya
"Yang kemarin aja belum di ganti sekarang malah di rusak yang lain, lama lama barang di rumah bisa abis" gumam Bibi dengan wajah memelas Karena harus membersihkannya
Jangan lupa like komen vote dan bunganya ya 😉