
Hari Minggu yang cerah Allea sedang menyiram tanaman di halaman rumah, Allea adalah gadis yang ramah dan bisa berbaur dengan siapa saja
"Rajin amat neng" ujar pak Mamat tukang sayur
"Iya nih pak mumpung libur, gimana pak dagangan laris?" tanya Allea
"Alhamdulillah neng tinggal ini aja" pak Mamat menunjuk dagangannya yang menggantung
"Alhamdulillah, semoga laris tiap hari ya pak"
"Amin amin neng saya duluan ya"
"Iya pak"
Nek mar baru saja datang dengan wajah lesunya Allea menyambutnya dengan memapah Nek mar
membantunya duduk dan memberinya segelas air
"Kenapa Nek?" tanya Allea
"Gak apa apa nenek cuma capek"
"Jangan bohong nenek kenapa?" tanya Allea khawatir
"Nyonya pecat nenek" jawabnya sambil membuang nafas
"Kok bisa kenapa?"
"Nenek gak tau, gimana nasib kita sehari hari kalo nenek gak kerja" lirih Nek mar dengan sedih
"Nek mar jangan sedih dong kan ada Allea, Allea yang bakal kerja tenang aja kita masih bisa makan walaupun gak kerja disana" Allea mengusap punggung wanita renta itu
"Nenek gak mau kamu jadi gak fokus sekolah gara gara cari uang, sayang beasiswa kamu" ucap Nek mar
"Nek mar tenang aja Allea bisa bagi waktu kok"
"Terus nenek harus apa supaya bisa bantu kamu?" tanya Nek mar
"Bantu doa aja hehe"
"Nenek serius"
"Nenek masih ada simpanan uang?" tanya Allea
"Masih"
"Kita buat warung kecil atau jual makanan gitu Nek mar kan pinter masak" usul Allea
"Biar sekalian Allea iklanin di sosmed siapa tau banyak yang mau beli "
"Nenek gak yakin" Nek mar tidak semangat
"Ayolah Nek jangan kalah sebelum perang"
"Alah bahasamu itu "
"Hehehe kan biar Nek mar semangat, ayo sekarang Allea anter belanja ke pasar beli keperluannya" Allea merangkul bahu Nek mar berjalan mencari kendaraan umum
Tiba tiba sebuah kendaraan berhenti tepat di depan mereka, Danendra membuka jendela mobilnya menawarkan diri untuk mengantar Allea
"Ayo masuk mau kemana gue anterin?"
"Gak usah gue gak mau ngerepotin" jawab Allea
"Gak sama sekali, gue seneng bisa nganter Lo" ucap Danendra
"Siapa Lea?" bisik Nek mar
"Temen sekolah"
"Walah temenmu ganteng ganteng" mereka saling berbisik membuat Danendra mengernyitkan dahi
"Ayo mau gak?"
"Boleh nak kalo gak keberatan" ucap Nek mar mendapat sikutan dari Allea
"Gak sama sekali Nek saya senang bisa membantu" Danendra turun membukakan pintu untuk Allea dan neneknya
"Mau kemana?"
"Ke pasar" mereka pergi ke pasar diantar Danendra
.
.
"Bi... Bi mar ambilin jus bi" teriak Cindy yang baru saja pulang setelah lari pagi
Seorang wanita muda muncul dengan baju daster yang bisa di bilang cukup seksi Cindy menatap wanita tersebut dengan menautkan alisnya
"Siapa kamu bi mar mana?" tanya Cindy
"Dia pembantu baru di rumah ini bi mar sudah mommy pecat" ucap mommy Cindy yang berjalan menuruni tangga
"Kenapa mom? dia salah apa?" tanya Cindy merasa sudah terbiasa dengan bi mar yang sudah bekerja selama sepuluh tahun
"Dia udah tua sakit sakitan jarang masuk kerja juga kan jadi mommy sekalian aja pecat" ucapnya
''Kok gitu si mom, aku udah biasa sama bi mar" protes Cindy
"Jangan membantah, dia ini lebih muda lebih gesit kerjanya juga bagus"
"Mommy gak takut kalo dia godain Daddy?" bisik Cindy
"Kamu ini ngomong apa sih, udah sana mandi bau keringat " ucap mommy Cindy
'Mommy sengaja pecat dia karena dia besarin anak wanita itu, bisa bisa posisi kita tergeser olehnya ' batin mommy Cindy
Ya dia sudah mengetahui jika Allea adalah anak suaminya dari istri sebelumnya sangat mudah baginya mencari informasi tentang anak tirinya itu dia mengancam bi mar agar tidak memberitahukan hal ini pada suaminya kerena takut posisinya akan tergantikan oleh Allea
.
.
Di tempat lain seorang pria sedang berolahraga hanya menggunakan singlet dan celana pendek di tambah keringat yang bercucuran menambah kesan maskulinnya
Dia menghentikan kegiatannya dan duduk meminum setengah botol air dia melihat handphonenya membuka salah satu jejaring sosial disana ada Poto Allea dan neneknya di dalam mobil dengan caption.
Danendra mencuri kesempatan memotret Allea
Max yang melihat itu tersenyum sinis lalu menaruh handphonenya secara kasar
"Si sialan itu sepertinya suka sama Allea"
"Hah apa peduli gue kok gue malah mikirin mereka" ucapnya
"Max anterin Oma " ucap Omanya
"Kemana?"
"Ke pasar" ucap Omanya
"Ampun deh kan ada bibi ada supir juga suruh aja mereka" bantah Max
"Bibi pulang kampung dan supir belum datang, kamu bisanya bantah mulu" omel Oma
"Cepet Mandi Max " bentak Oma
"Iya omaku yang bawel" Max mencubit kedua pipi Omanya dengan gemas
.
.
Max hanya menunggu Omanya di parkiran bersandar di samping mobilnya sambil memainkan ponselnya, tiba tiba seorang anak yang membawa banyak plastik belanjaan terjatuh di hadapannya
Spontan Max membantu memungutinya dan membantu membawanya sampai tempat yang di tuju anak itu, hal itu di lihat Allea yang sedang memilih sayuran di dekat sana
Allea pun pergi mengikuti Max
"Ini upah kamu" seorang ibu ibu memberi uang untuk Max dan Anak itu
Belum sempat Max berbicara ibu itu pergi dengan mobilnya, Max menggeleng seraya menaruh uangnya ketangan anak itu lalu pergi begitu saja
"Kak" panggil anak itu
"Makasih udah mau bantuin, tapi ini uang kakak" anak itu mengulurkan uang yang di bawa Max
"Buat kamu aja, bentar jangan kemana mana" Max membeli dua roti juga dan uang beberapa ratus ribu lalu memasukkannya ke dalam kantong kresek dan itu di lihat oleh Allea
"Ini bawa pulang" ucap Max memberikan kreseknya
"Tapi kak"
"Udah bawa aja saya mau pulang"
"Makasih kak" ucap anak itu
"Sama sama" Max kembali ke mobilnya begitu pun Allea
"Ternyata di balik Max yang emosian, suka main tangan dan di cap pembuat onar sebenarnya adalah orang baik, mungkin dia memiliki alasan sendiri mengapa dia bersikap demikian" gumam Allea
"Allea kemana aja?" tanya Nek mar yang membeli sayuran di temani Danendra
"Kan kata Nek mar tadi suruh beli ini" Allea memberikan kantong belanjaannya
"Maksud nenek kenapa lama, kita nungguin disini dari tadi" ucap Danendra
" Maaf tadi ada urusan bentar"
"Dra ngapain kamu di pasar" ucap seseorang di belakang mereka
"Oma.. Oma juga ngapain disini?" tanya Danendra
"Oma belanja bibi pulang kampung, Allea disini juga?" Allea langsung menyalami Oma
"Iya Oma belanja sama nenek kebetulan di
. mmhhjalan Danendra ngajak bareng" ucap Allea
Oma dan Nek mar berkenalan
"Oma kesini sama siapa?" tanya Danendra
"Max" teriak Oma melambaikan tangannya
Max berjalan dengan malas menghampiri mereka
Max menyalami Nek mar dan sedikit berbincang
"Hai max" sapa Allea
"Hai" singkat Max
"Oma kita harus pergi" ucap Max
"Baiklah, saya duluan permisi Bu " ucap Oma
"Iya iya Bu "
Allea menatap wajah Max dan Danendra keduanya sama sama menunjukkan wajah yang tidak ramah satu sama lain Danendra menuntun tangan Allea tapi Allea menepisnya
"Ohh maaf" ucap Danendra
"Gak apa apa, sorry juga tadi gue refleks" ucap Allea
Di dalam mobil hening tidak ada suara Allea menatap ke arah jendela, sedangkan Danendra fokus mengemudi dan Nek mar tidur di kursi belakang
"Lo saudara sama Max?" tanya Allea
"Iya, tapi gue gak terlalu akrab"
"Kenapa?" tanya Allea lagi
"Dia.. dia.. pokoknya Lo jangan terlalu Deket sama dia, dia cuma pengaruh buruk buat Lo" ucap Danendra
"Dari mana Lo tau ? sedangkan Lo sendiri gak mengenal Max dengan baik" ucap Allea
"Keluarga gue jadi korban dia dan ibunya, gara gara mereka keluarga gue jadi hancur" ucap Danendra nada bicaranya sedikit meninggi
"Kenapa bisa?"
"Gak usah bahas dia"