My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Malu sama mertua



Selvi sengaja menunggu Danendra di persimpangan menuju rumahnya, ketika melihat mobil Danendra Selvi langsung mencegatnya dari depan untung saja Danendra mengemudi dengan baik hingga dapat menginjak rem tepat waktu


"Anda mau mati? " ucap Danendra menyembulkan kepalanya dari jendela mobil


"Mama mau bicara nak" lirih Selvi


Entah karena perkataan Cindy waktu itu atau memang dia lelah terus menghindar dari ibu kandungnya, Danendra membukakan pintu tanpa turun dari mobilnya


"Masuk" ucap Danendra


Selvi tersenyum karena sekarang Danendra tidak terlalu kasar padanya meskipun nada bicaranya masih dingin, Tanpa membuang waktu Selvi segera masuk ke dalam mobil


"Apa kabar nak? lama kita tidak bertemu" tanya Selvi


"Seperti yang anda lihat aku baik" Jawabnya


"Mama mau ajak kamu makan, gimana mau? " Danendra hanya mengangguk seraya menjalankan mobilnya


Tepat di sebuah restauran Selvi menatap Danendra yang sedang memesan menu bicara pada pelayan sampai sampai dia tidak sadar Danendra bertanya padanya


"Anda mau pesan apa? " tanyanya kembali dengan agak kencang


"Ohh.. samakan saja" Jawab Selvi


β€œSayang.. mama benar benar minta maaf sama kamu, jangan jauhi mama seperti ini "


"Maaf? "


"Iya sampai kapan kamu akan membenci mamamu? bagaimana pun kamu membenci mama kenyataan tidak akan bisa di pungkiri nak, Mama memang bukan ibu yang baik tapi kali ini mama akan berusaha menjadi ibu yang baik buat kamu" Mendengar kata kata itu seperti dejavu untuk Danendra


"Mungkin aku bisa memaafkanmu, tapi aku belum bisa sepenuhnya menerimamu biarkan semuanya mengalir jangan terlalu menekanku dengan kemunculanmu yang membuatku terganggu"


"Terimakasih sayang, mama janji kalau mama mau bertemu mama akan menelponmu" Danendra memberikan nomor ponselnya lalu pamit pergi


"Mungkin ini yang terbaik, Cindy benar bagaimana pun gue gak bisa hilangkan darah yang mengalir di tubuh gue" gumam Danendra menjalankan mobilnya menuju rumah Damian


...πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯...


Allea di tinggal sore itu karena Max harus ke bengkel bersama empat sekawan, setelah belajar dia hanya rebahan memainkan handphone atau menonton televisi di temani cemilan cemilannya sampai dia bosan dan tertidur


Tidurnya sangat pulas bahkan ketika Max pulang pukul 20:00 Allea masih terlelap, Max menepuk pipi Allea untuk membangunkannya


"Hei.. sayang bangun aku bawa makanan" merasa tidurnya terusik Allea mengerjapkan matanya


"Kamu pergi lama banget" tuturnya manja berpindah duduk di pangkuan Max


"Maaf.. tadi aku ajak katanya gak mau ikut" jawab Max membelai wajah Allea menyingkirkan anak rambut di wajahnya


"Laper gak? aku bawa makanan, kita makan ya" Allea mengangguk, dengan manjanya dia mengalungkan tangan meminta Max menggendongnya ke meja makan


Max mendudukan Allea dan menyiapkan makan serta minum untuk istrinya itu, Allea beruntung mendapatkan suami yang menyayanginya dan mau menuruti keinginannya meskipun otaknya mesum gak ketulungan


Setelah makan Allea dan Max pindah ke kamar, kini keduanya duduk bersandar di kepala ranjang Max menatap layar laptopnya sementara Allea masih memainkan handphonenya


Drrrtt drrrtt drrtt


"Hallo siapa? " tanya Max saat menjawab teleponnya


"Hallo.. Max kenapa lo blokir nomor gue? " tanya Arabella


"Itu Allea yang blokir" mendengar kata kata itu Allea sudah tau siapa yang menelpon


Allea mengambil handphone dari tangan Max dan menekan tombol loudspeaker, Arabella selalu bertanya dan bicara kesana kemari namun Max hanya menjawab kadang ya dan hmm saja


"Max apa kita akan masuk ke Universitas yang sama seperti janji kita dulu? " tanya Arabella


"Lo jangan percaya diri dulu... Max sampai gak bisa Terima cewek lain selama gue tinggalin apa lo begitu yakin lo bisa hapus gue dari ingatannya? "


"Tentu bisa.. Lo juga percaya diri banget, lo lupa setiap kali lo deketin Max dia selalu nolak dan bahkan marah? dasar gak tau malu masih aja ganggu cowok orang" hardik Allea


"Lo yang gak tau malu masih pacaran udah tinggal satu rumah, udah lakuin hubungan suami istri lo murahan, kalo aja tante Lydia gak ngelarang gue bocorin hal ini gue pasti udah bikin lo malu di sekolah"


"Terserah gue gak peduli... lakuin apa yang mau lo lakuin gue gak takut sedikit pun" tantang Allea


"Dasar sial.. dasar... "


"Lo murahan... punya pacar tapi tidur sama cowok lain" sergah Allea sebelum Arabella meneruskan kata katanya lalu menutup teleponnya


Max yang malas meladeni Arabella hanya fokus dengan laptopnya di samping Allea, Allea yang geram melempar handphone Max sampai mengenai kaca laptop yang ada di pangkuan Max


Max terlonjak saat handphonenya membentur layar Laptop sampai kacanya retak, Max menatap Allea yang sedang marah marah


"Apa liat liat? bukannya belain istrinya di bilang murahan malah diem aja, suka banget istrinya di tindas orang" gerutu Allea saat Max memandangnya


"Kamu cari penyakit sendiri ngapain di ladenin? mana marah marahnya sama aku lagi, nih liat laptopnya retak" Max juga menggerutu karena layar laptopnya retak


"Kamu marahin aku? jadi layar laptop lebih penting dari pada aku? oke terserah hidup aja sama laptop kamu yang berharga itu" pungkas Allea lalu tidur menutup seluruh tubuhnya sampai kepala dengan Selimut


"Kenapa jadi kamu yang marah marah? " Max terheran teran


Drrtt drrrtt ddrrtt


Handphone Max kembali bergetar Allea mendengarkan Percakapan Max dengan seseorang di sebrang telepon, Allea mengira Max sedang menelpon dengan Arabella


"Halo.. Emang apa lagi? "


"iya besok aja pulang sekolah"


"Ohh.. iya nanti di bantuin"


"Akhh.. sayang pelan pelan akkhh.. " Allea sengaja bersuara mend*s*h seakan mereka sedang anu anu sambil menatap wajah Max dengan rasa puasnya telah mengerjai Max dan Arabella pikirnya


"Maxime... kamu.. terlalu" ucap seseorang di sebrang telepon


Mata Max membulat sambil menunjukkan layar handphonenya yang tertulis nama si pemanggil pada Allea, wajah Allea memerah seketika kembali bersembunyi di balik selimut


Allea sangat malu karena yang menelpon suaminya Adalah ayah mertuanya sendiri, Max mematung setelah panggilannya di akhiri apa yang akan dia katakan ketika bertemu dengan ayahnya nanti


"Kamu akan malu sendiri nanti kalo ketemu ayah" ucap Max


Allea tidak menjawab dia menggigit ujung kukunya merutuki kebodohannya, tiba tiba saja selimutnya di singkap membuat Allea terkejut


"Apa? " tanya Allea dengan ekspresi pura pura marah


"Kamu buat aku malu depan ayah, atau jangan jangan kamu emang mau? " goda Max mendekat seraya menaik turunkan alisnya


"Ma.. mmamau apa? " tanya Allea tergagap


"Kamu mau aku buat mend*s*h semalaman huh? " Max semakin mendekat dan kini mencengkram tangan Allea


"Ahhaa.. aku kira tadi Arabella" ucap Allea tertawa kikuk


"Aku gak peduli.. aku mau kamu malam ini" Ucap Max mengendus leher Allea


"Aaaaaaaaaa... besok aku harus bangun pagi, sampai ketemu besok" Allea menepis tangan Max lalu mendorongnya


Dia berlari secepat kilat ke kamar lain lalu menguncinya "Bisa abis gue malem ini kalo gak kabur" gumam Allea yang bersandar di pintu