
Danendra baru saja sampai di rumahnya, awalnya dia mendengar ayah dan bundanya berdebat namun setelah kedatangannya mereka tiba tiba diam
"Ayah sama bunda kenapa? " tanya Danendra
"Bunda istirahat dulu" Jawab Lydia dengan tatapan sendunya
Wanita yang dia kenal lemah lembut itu sepertinya habis menangis terlihat dari matanya yang sembab, Danendra duduk di hadapan ayahnya seraya menarik kedua tangannya di meja
"Bunda kenapa? " tanya Danendra
"Kamu gak usah pikirin mungkin bunda lagi sensi aja, Ayah keruang kerja dulu" Danendra hanya tinggal seorang diri di kursi itu
"Kenapa akhir akhir ini mereka aneh? apa mereka sembunyiin sesuatu? " pikir Danendra
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Besok adalah hari ulang tahun Allea dan hari ini Gibran sudah merencanakan pesta ulang tahun namun Allea membubarkan orang orang yang hendak mendeklarasi rumah mereka
Mendengar penuturan Allea hati Gibran menjadi terenyuh, dia tidak menginginkan pesta mewah meskipun di siapkan langsung oleh ayahnya tanpa dia minta
"Allea cuma mau waktu berdua sama ayah, bisa kan? " lirih Allea
"Tapi kalo gak bisa juga gak apa apa" ucap Allea langsung saat ayahnya tampak berpikir
"Kalo begitu ayah akan pinjam villa teman ayah kita akan menginap disana beberapa hari"
"Ayah serius? " Wajah Allea tampak berbinar dengan senyum yang lebar
"Demi tuan putri apapun akan ayah lakukan" Allea langsung masuk kedalam pelukan ayahnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Putrimu yang mana? "
"Allea? "
"Baiklah, terserah kau mau menggunakannya berapa lama"
"Ya bersenang senanglah"
Lydia mendengarkan Damian sedang berbicara di telepon menyebut nama Allea, jiwa kepo emak emaknya tiba tiba muncul
"Siapa yang telepon? " tanyanya dengan ketus karena masih marah dengan Damian
"Gibran dia pinjam villa untuk merayakan ulang tahun putrinya"
"Siapa saja yang ikut? "
"Kenapa kamu berisik sekali" mendengar ucapan Damian Lydia pergi begitu saja ke kamarnya
Bunda
"Hari ini Allea berangkat ke villa ayah merayakan ulang tahunnya di sana"
Lydia mengirimkan pesan pada Max, dia sengaja memberi tahu Max agar anaknya ikut pergi Lydia sangat tahu bahwa sejak awal mereka berdua punya ketertarikan yang sama namun entah apa yang membuat mereka masih tidak saling menyatakannya
"Kenapa bunda ngasih tau gue? " batin Max sedang bingung
Meskipun sedang bingung tapi akhirnya Max berangkat juga, apapun yang berhubungan dengan Allea Max akan bergerak cepat
Max sampai lebih dulu karena dia pergi menggunakan motor, Max menyewa sebuah villa yang letaknya agak berdekatan dengan villa ayahnya
Max sampai rela menunggu kedatangan Allea di tempat persembunyiannya, sampai sebuah mobil datang dan melihat Allea keluar membawa tas kecil baru lah Max kembali ke villanya
.
.
Keesokan paginya Allea sedang lari pagi bersama ayahnya melewati Villa yang di tempati Max Tiba tiba Max keluar dari sebuah villa pura pura terkejut melihat kedatangan Allea dan Gibran
"Loh Allea lo juga liburan disini? " tanya Max
"Iya kebetulan banget kita ketemu disini" Jawab Allea
"Ya udah larinya lanjut sama Max aja ya, ayah udah capek mau balik ke villa" ucap Gibran yang sudah ngos-ngosan
"Ayah hati hati ya" ucap Allea yang hanya di acungi jempol oleh ayahnya
"Lo sama siapa kesini? " tanya Allea
"Sendiri, gue mana ada temen" jawab Max sambil mereka berlari kecil
"Gue nginep di villa bokap lo, kenapa lo gak sekalian aja nginep disana? "
"Lo gak bisa jauh dari gue? atau lo mau liat gue setiap bangun tidur? " goda Max
"Gak.. gak gitu" jawab Allea gelagapan
"Hei kenapa gue di tinggal? " teriak Max saat Allea meninggalkan Max dan jalan lebih dulu
Sepanjang perjalanan Max menggoda Allea hingga Allea terlihat kesal memukuli lengan Max dan saling mengejar, sesampainya di villa Damian senyum Max memudar seketika saat melihat Danendra di depan villa
"Hai Allea, Hai Max" sapa Danendra
"Kok lo bisa kesini? " tanya Allea
"Gue denger waktu bokap telepon jadi gue kesini deh"
"Jangan ganggu momen gue sama ayah gue, sebaiknya lo pulang" ucap Allea
"Kita gak sengaja ketemu dan dia juga gak tinggal disini, Kalian pulang aja gue mau istirahat" Ucap Allea meninggalkan keduanya
"Lo pasti sengaja kan ngikutin Allea? " tanya Danendra dengan sinis
"Kalo iya kenapa? Allea malah nyuruh gue tinggal di villa ini" jawab Max berbangga diri
"Lo bohong"
"Terserah kalo lo gak percaya emang itu kenyataannya" setelah mengatakan itu Max berbalik pergi
"Kemarin nyokap lo bilang kangen sama anaknya, kenapa lo gak ikut sama dia dari pada tinggal sama dia? "
"Bukan urusan lo, gak usah ikut campur" Max seketika menghentikan langkahnya
"Anak haram kayak lo gak pantes bersikap sombong" mendengar penuturan Danendra max kembali berbalik berjalan mendekatinya
"Gue bangga jadi diri gue sendiri karena kalo lo ada di posisi gue belum tentu lo mampu, gue harap saat lo rasain jadi gue jangan putus asa lo bisa datang curhat sama gue" ucap Max penuh sindiran seraya menepuk bahu Danendra
"Apa maksud lo? Max" teriak Danendra namun Max sudah pergi meninggalkan villa
"Apa maksudnya gue jadi dia? " gumam Danendra terheran heran
Malam hari Allea sedang duduk di depan villa bersama Gibran menikmati secangkir teh seraya berbincang bincang
"Sayang siapa yang kamu suka? Max atau Danendra? " tanya Gibran
"Ma.. maksud ayah? "
"Ayah lihat kedua pemuda itu sepertinya suka sama kamu"
"Danendra itu mantan Allea sementara Max dia teman baik Allea, ayah tau? Max selalu jadi penolong Allea di saat Allea dalam bahaya dimana pun" ucap Allea
"Kok bisa? "
"Allea juga gak tau, Waktu camping di pantai juga ada orang jahat yang buang Allea ketengah laut pake rakit dan Max berenang sampe ke tengah buat bawa Allea ketepian pantai" cicit Allea yang keceplosan saking semangatnya menceritakan tentang Max
"Kamu kenapa gak bilang sama ayah? " Nada bicara Gibran meninggi mendengar Allea bisa bisa Mati hari itu juga
"A.. aa.. ayah Allea juga udah gak apa apa" jawab Allea terbata bata
"Lain kali ayah gak izinin kamu pergi tanpa pengawasan ayah"
"Yah gak harus gitu juga, Allea juga udah gak apa apa"
"Gimana kalo waktu itu kamu gak selamat? gimana kedepannya ada orang yang berniat jahat sama Kamu? " Gibran terlihat sangat Khawatir
"Allea panggil Max aja dia pasti datang" jawab Allea dengan candaan
"Jangan bercanda Allea dia bukan Super Hero yang kamu panggil terus dia datang"
"Itu beberapa kali berhasil yah"
"Itu cuma kebetulan sayang, ayah akan menyiapkan bodyguard buat kamu"
"Ayah gak perlu, Allea gak mau kebebasan Allea di batasi"
"Nurut sama ayah, ayah cuma gak mau kamu kenapa napa ayah gak mau kehilangan kamu" mendengar kekhawatiran ayahnya Allea hanya bisa pasrah
"Baiklah terserah ayah aja"
Seorang pekerja di villa itu menghampiri mereka dan memberikan sebuah kado, Allea dan Gibran saling menatap
"Ini dari siapa? " Tanya Allea
"Tuan Damian nona" jawabnya
Allea membuka kado tersebut di dalamnya ada sebuah Gaun cantik, saat Allea mengangkatnya sebuah surat jatuh di lantai lantas Allea mengambilnya
"**Maaf**" tulis Damian di surat itu
"Kenapa maaf? bukan ucapan selamat ulang tahun? " tanya Gibran
"Ada sedikit kesalah pahaman aja yah" Jawab Allea
"Sikap Max ternyata turun dari ayahnya" batin Allea tersenyum senyum sendiri
"Ayo masuk udah malem, besok ayah akan temani kamu kemanapun kamu mau" Mereka akhirnya Masuk
Seseorang tampaknya sedang mengintip di luar sana, dia mengawasi gerak gerik Allea lalu menelpon seseorang
"Ternyata bener dia ada disini" ucapnya pada seseorang di sebrang
"Ikuti terus kalo ada kesempatan lo boleh lakuin apa aja sama dia"
"Oke oke.. dia cantik juga sayang kalo di sia siain" batinnya
***Siapa kira kira yang sedang di telepon orang tersebut?
1.Yuki
2.Arabella
3.Cindy
Bisakah Max kembali menolong Allea?
Jangan lupa like komen dan Vote 😍😍***