
"Nek Allea pergi dulu" ucap Allea terburu buru
"Mau kemana lagi ini udah sore"
"Ada urusan penting nek"
"Jangan pulang malem "
"Iya nenekku yang cerewet" ucap Allea lalu mengecup pipi neneknya sebelum pergi
Gibran yang baru saja turun melihat betapa manisnya anaknya ini, ketika Allea keluar dia mematung melihat keberadaan Gibran di sana
"Mau apa lagi tuan saya sedang buru buru, dan kembalikan sisir saya" ucap Allea
Gibran mengulurkan sisirnya dengan cepat Allea mengambilnya tapi Gibran menahan tangan Allea dan menarik kedalam pelukannya
"Hei lepaskan dasar laki laki cabul" pekik Allea meronta
"Maafkan ayah sayang maafkan ayah" ucapnya seraya menangis di pelukan Allea
"Ohh jadi anda sudah tau" jawab Allea dingin
"Kamu.. kamu sudah tau sejak awal? " tanya Gibran melepaskan pelukannya
"Yap" singkat Allea
"Kenapa kamu tidak memberi tahu ku? "
"Untuk apa? untuk mendapat hinaan untuk mendapat penolakan? Saya cukup tahu diri bahkan saya di buang sejak masih dalam kandungan" jawab Allea tegas tanpa air mata
"Maafkan ayah nak, ayah tahu tidak segampang itu memafkan ayahmu ini setidaknya jangan menolak aku sebagai ayahmu"
"Maaf tuan saya tidak punya banyak waktu saya harus pergi" Allea menepis tangan Gibran yang mengenggam tangannya pergi begitu saja dengan ojek onlinenya
Gibran menangis meratapi kepergian anaknya punggungnya bergetar sepertinya rasa bersalahnya amat sangat besar pada Allea
"Rasa bersalah sudah tidak berlaku lagi tuan, dia terlalu banyak mengalami penderitaan selama ini" ucap nek Mar
"Kau selama ini menyembunyikan anakku" tunjuk Gibran
"Jangan menunjukku tuan, dia anak Naina cucuku kau tidak menginginkannya sejak lama jangan ganggu kami lagi karena itu mengancam keselamatan Allea" ucap nek Mar
"Apa maksudmu? ''
" Jika anda menyayangi Allea maka menjauhlah jangan biarkan Allea dalam masalah " ucap Nek Mar masuk kedalam rumah mengunci pintunya
"Bi ada apa sebenarnya bi jelaskan padaku" Gibran menggedor pintu cukup lama namun nek Mar tidak juga membukakan pintu
Dia memilih pergi dulu dari sana karena tetangga Allea sudah mulai berkumpul melihat keributan yang sedang terjadi, dia harus berjuang lebih keras agar Allea mau memaafkannya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Allea sudah sampai di depan bengkel Max disana sudah ada mobil Lydia, Lydia keluar memeluk Allea seraya menangis Allea mengusap punggung Lydia menenangkan wanita itu. Allea menyalami bunda namun ragu ragu mengulurkan tangannya pada Damian yang terlihat dingin meskipun akhirnya Damian mengulurkan tangannya
"Ada apa bun? " tanya Allea
"Maxime dia.... tolong bujuk dia agar berhenti menghancurkan barang barang di bengkelnya, dan berikan ini setelah dia membaik" Lydia menyerahkan rantangnya
"Bunda mau kemana? " tanya Allea
"Bunda pulang dulu, Maxime tidak mau bertemu dengan kami"
"Baiklah, bunda hati hati di jalan nanti Allea kasih kabar lagi"
"Terimakasih sayang" sekali lagi Lydia memeluk Allea
"Apa gadis itu pacar Max? " tanya Damian
"Bukan, mereka berteman baik tapi amarah Maxime bisa reda olehnya aku juga heran kenapa bisa seperti itu" jawab Lydia
Tok tok tok
"Max ini gue Allea"
"Pergi gue gak mau ketemu siapapun" teriak Max dari dalam
"Max gue jauh jauh kesini masa lo gak mau nemuin gue" rengeknya
"Gue gak nyuruh lo kesini, sekarang pergi"
"Gue gak akan pergi sebelum lo buka pintunya" tegas Allea
"Aduuhh neng jangan bikin bos marah lagi" ucap pekerjanya
"Tenang aja saya bisa atasi semuanya" bisik Allea, karyawan Max hanya menggeleng dia tidak tau apa yang akan terjadi jika bosnya itu semakin marah
"Gue gak nyuruh lo nunggu disitu" ketus Max
"Udah neng pergi aja" ucap pegawainya
"Enggak mau.. lepasin iihh lepasin gak" pegawainya sampai bengong melihat Allea yang menempel di pintu
"Saya gak ngapa ngapain neng" ujarnya mengangkat tangan
"Lepasin gak jangan pegang pegang" pekik Allea
Allea membuka pintu secara tiba tiba membuat Allea yang menempel di pintu tidak bisa menahan diri dan jatuh menimpa tubuh Max, mata Max menatap tajam namun Allea malah tersenyum lebar menampilkan deretan giginya
Max berbalik menatap pegawainya tajam membuatnya langsung panik dan menutup pintu membiarkan Max dan Allea di dalam
"Sumpah bos saya gak ngapa ngapain dia" teriaknya seraya berlari
Bukannya berdiri Allea malah meletakkan kepalanya di dada bidang Max, Max berusaha mendorong tubuh Allea namun dia tidak menyingkir
"Baiklah" Max menggulingkan tubuh Allea kini Allea berada di bawah Max
"Hehe gue cuma becanda" Allea tersenyum kikuk mendorong tubuh Max
Bukannya menyingkir Max malah menekan tubuh Allea hingga dia meronta
"Berat Max lo gila gue bisa mati" pekik Allea
"Lo yang ngajak main main duluan" ucap Max mengangkat sebelah alisnya
"Gue gak lagi lagi beneran gue kapok"
Mata mereka beradu pandang dengan jarak wajah yang dekat, detak jantung mereka sampai terdengar keluar berdetak dengan kencang. Sesaat kemudian Allea tersadar dan menggulingkan Max ke samping
"Hehe sini gue bantu" ucap Allea setelah berdiri mengulurkan tangannya
"Gak usah" ketus Max menepis tangan Allea
"O my god... ini kayak abis kena ****** beliung" Allea tercengang menatap sekeliling
"Haish.. lo kenapa sih harus marah marah rusakin barang unfaedah bangett tau gak" ucap Allea membangunkan rak dan memunguti benda benda yang berserakan
"Lo gak mau bantuin gitu? " lanjut Allea
Tanpa bicara Max ikut memunguti semua kekacauan yang dia buat, saat Allea hendak melangkah tiba tiba Max memeluk perut Allea dan menariknya membuat mereka duduk dengan posisi allea berada di pangkuan Max, Allea terkejut
"Astaga.. lepasin lo apa apaan sih" Allea berdiri dari pangkuan Max
"Lo gak liat disana ada pecahan kaca" Max menunjuk ke arah tadi saat Allea hendak melangkah
"Ohh.. gue kirain" gumam Allea
"Gue gak se brengsek itu" Allea hanya tersenyum lebar menanggapi ketusnya Max
Setelah merapihkan semua kekacauan di ruangan itu Allea menarik tangan Max untuk duduk di sofa dan membuka rantang dari Lydia
"Makan dulu ya" ucap Allea
"Lo makan aja sendiri" ketus Max
"Lo kok jadi marah marah sama gue" cicit Allea
"Mending lo pulang aja deh" Max mengusir Allea
"Lo ngusir gue? ya ampun gak tau Terimakasih banget "
Dengan kesal Allea mencengkram wajah Max dan memaksanya membuka mulut memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya, Max hendak berkata namun Allea menutup mulutnya dengan memeluk kepalanya
"Kunyah" titah Allea
Mau tidak mau Max mengunyah makanannya, saat Allea lengah Max menarik Allea hingga tidur di sofa lalu menindihnya
"Sekarang giliran lo yang makan" Max memaksa Allea dengan cara yang sama
Setelah sama sama makan dengan cara di paksa mereka duduk membenarkan pakaianya yang kacau, Allea memukul bahu Max dia hanya mengulum senyum melihat rambut Allea sudah seperti rambut singa
Max membenarkan rambut Allea dia hanya diam memperhatikan wajah Max dari dekat, tangan Allea terulur memegang pipi Max hingga mereka saling memegang pipi
"Kalo lagi marah, kecewa, sedih, kesel jangan lampiaskan dengan merusak barang barang apa lagi sampe celakain diri lo sendiri" ucap Allea seraya mengelus pipi Max
"Ada gue, lo bisa ceritain semuanya sama gue kalaupun lo gak mau cerita gue bisa sekedar temenin lo sampe semua perasaan itu hilang dan lo merasa baik baik aja" Allea berbicara sendiri tanpa Max menjawabnya
Max hanya tersenyum mengelus pipi Allea lalu menarik gadis itu ke pelukannya Allea membalas pelukan Max sejujurnya saat ini dia juga butuh pelukan seseorang yang memenangkannya