My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Seperti sihir



Setelah beberapa hari merenung Oma akhirnya sudah yakin dengan niatnya, Malam ini Oma mengumpulkan keluarga Damian termasuk Max di kediamannya.


"Dimana Danendra? " tanya Oma


"Dia menolak untuk ikut" Jawab Damian


"Bi panggil Max"


Tidak butuh waktu lama akhirnya Max turun dari kamarnya dan menyapa bunda dan Oma nya, hubungannya dengan Damian memang terkesan buruk karena ayahnya itu bersikap dingin padanya


"Oma sebelumnya mau minta maaf sama kalian, Oma sadar Oma bersalah selama belasan tahun dan itu cukup mengganggu pikiran Oma"


"Ada apa ini? " tanya Damian


"Jangan ada yang memotong pembicaraan sebelum Oma selesai bicara" tegas Oma


"Berawal saat Max dan Danendra bayi"


Flashback on


Lydia di bawa kerumah sakit oleh Damian karena kontraksi, sementara Selvi yang sudah lama keluar dari rumah itu karena ketahuan selingkuh dengan Damian kembali dengan perut besar.


Di rumah hanya ada Oma dan beberapa pelayan maksud kedatangan Selvi membuat jantung Oma seakan di paksa berhenti, Nafas Oma tersengal saat mendengar Selvi mengandung anak Damian. dengan kesal Oma memaki Selvi dia adalah pelayan kesayangan Oma namun dia malah menghianatinya


Meskipun Oma bersikap dingin pada Lydia karena di jodohkan oleh suaminya sebelum meninggal dengan Damian namun dia mulai menyayangi wanita lemah lembut nan penyayang itu, tidak disangka saat Oma mulai menerimanya Lydia harus merasakan sakit hati yang bertubi dari suaminya


"Kau tidak berpikir saat melakukannya dulu? apa kau bodoh? meskipun aku menganggapmu seorang anak tapi mana mungkin aku menjadikanmu menantuku" hardik Oma


"Aku terlalu baik padamu hingga kau berani melewati batasanmu" lanjutnya


"Saya tau saya salah nyonya tolong maafkan saya tapi bayi ini butuh ayah"


"Persetan dengan anakmu, aku akan memiliki cucu dari wanita yang baik dan anak itu diakui secara hukum dan agama aku tidak mau mengakui cucu haram ini"


Jedeeeerrr


Bak tersambar petir di siang bolong Selvi mematung dengan air mata yang berlinang, majikan yang selama ini memanjakannya dan selalu berkata baik tentangnya hari ini benar benar membuat hatinya sakit


"Tapi nyonya ini cucu anda, darah daging anak anda sendiri" ucapnya


"Aku tidak pernah memintamu menghadirkan anak itu, sekarang pergi dari sini dan jangan ganggu rumah tangga anakku"


"Ambil ini aku rasa cukup untuk merawat anakmu hingga dia bisa di tinggal bekerja" Oma melempar satu koper uang kecil


"Aku tidak menginginkan uang itu nyonya, aku ingin anak ini mendapat pengakuan" lirihnya


"Aku tidak bisa mengakuinya, pergi ambil uang ini" Selvi yang tertekan dan frustasi merasakan perutnya sangat sakit tiba tiba saja ketubannya pecah membuat Oma panik


Oma membawa Selvi ke rumah sakit yang sama dengan Lydia, sudah beberapa jam menunggu akhirnya bayi Selvi lahir dengan keadaan prematur dan butuh penanganan serius Oma sempat melihat bayi tersebut. di samping itu Lydia yang lebih dulu ke rumah sakit malah melahirkan setelah Selvi


Awalnya setelah merasa baikkan Selvi hendak melihat bayinya di ruangan inkubator, dia berjalan sendiri karena Oma pergi mengurus administrasi. melihat nama tertera di box bayi sebelahnya hati Selvi yang di selimuti dendam menukar bayi tersebut


Oma membayar semua biaya rumah sakit Selvi hingga dia dinyatakan bisa pulang, tapi anehnya bayi Selvi yang lahir sebelum waktunya bisa pulang lebih cepat dari bayi Lydia menimbulkan pertanyaan di benak Oma..


Saat Oma dan Damian menjemput istri serta anaknya di depan rumah sudah tergeletak seorang bayi dengan surat di dalamnya yang sedang di kerubuni pelayan


"Ada apa ini? " tanya Oma


"Ada yang menaruh bayi tampan ini disini" jawab seorang pelayan menggendongnya


"Ada suratnya nyonya" salah satu pelayan menyerahkannya


"Selvi.. ini anak kamu Damian" Ucap Oma datar membuat semua orang termasuk Lydia terkejut


"A.. apa? ini tidak mungkin" Lydia yang shok jatuh pingsan beruntung Damian dapat menahannya dan bayinya diambil alih oleh pelayan


Saat Oma menggendong bayi Max kakinya menendang nendang dan itu membuat perhatian Oma tertuju pada kakinya, Oma memeriksa kaki Max tidak ada tahi lalat seperti sebelumnya dia menjadi curiga dan memeriksa bayi Danendra dan benar saja mereka di tukar


Saat Oma hendak memberitahu tentang kabar ini dia mengurungkan niatnya karena mendengar bayi Danendra memiliki penyakit bawaan yang cukup serius, Oma takut jika mereka tau bayi Danendra tidak akan di obati dengan baik akhirnya Oma memilih bungkam. sering Oma ingin mengatakan ini di masa lalu namun selalu gagal


Flashback off


Damian menyandarkan punggungnya dengan kasar serta memijat pelipisnya berbeda dengan Lydia yang sudah menangis sesegukan, Max masih mencerna omongan Oma nya dengan bingung


"Maafkan Oma Max" lirih Oma seraya menangis


"Ini gak adil Oma ini gak adil, saya di hina anak haram, saya tersiksa saat wanita itu datang dan mengatakan bahwa dia ibunya, tapi kenapa Oma tidak menyangkalnya? " protes Max


"Maxime jaga nada bicaramu nak" ucap Lydia lembut


"Dan untuk tuan Damian yang terhormat saya harap setelah ini tidak boleh anda membedakan anak anak anda, karena saya yakin anak kesayangan anda tidak akan sekuat saya" ucap Max lalu pergi


"Max tungu" Damian mengejar Max untuk meminta maaf namun Max sudah pergi dengan motornya


"Anakku Maxime" gumam Lydia


"Maafkan mama Sayang" Oma memeluk Lydia yang juga memeluknya


"Sudah ma aku sudah memaafkan mama" Jawab Lydia


"Kontak terakhir" gumamnya melihat kontak tanpa nama


"*Hallo" ucap seseorang di sebrang telepon


"Hallo ini dengan siapa!? " tanya Lydia


"Ini Allea, bunda kenapa telepon pakai handphone Max? " tanya Allea


"Max kesitu gak nak? "


"Enggak ada bund"


"Ya ampun kemana anak itu" gumam bunda yang dapat di dengar Allea


"Ada apa sama Max? "


"Dia pergi dari rumah, ya sudah bunda tutup dulu teleponnya ya"


"Iya bund, nanti kalo ada Max kesini Allea kasih tahu"


"Iya sayang, makasih ya*"


Allea mulai cemas mendengar suara bunda yang terdengar panik, pasti ada masalah hingga Max pergi dari rumah. Allea bergegas pergi meskipun sudah dini hari tidak pamit pada nek Mar dia hanya meninggalkan surat di meja, berniat mendatangi bengkel Max tapi bengkelnya tutup dia menggedornya dan seorang pria keluar


"Kenapa neng berisik banget" orang itu mengucek matanya


"Ini bengkel Max? ada Maxnya gak? " tanya Allea terlihat panik


"Udah pulang dari sore di telepon Oma, ada perlu apa neng? "


"Biasanya dia ada dimana ya? di rumah Oma gak ada"


"Coba club malam xxx" Allea seperti mengingat club itu


"Astaga" pekik Allea dia mengingat club itu pernah membuatnya bermasalah dengan Max dua kali


"Aduuuhh jangan jangan tuh cewek tekdung sama bos lagi" gumamnya saat melihat Allea langsung lari setelah mendapatkan alamatnya


Sesampainya disana menggunakan ojek online Allea mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Max, terlihat seseorang sedang menundukan wajahnya di meja Baru dengan botol minuman Allea menghampirinya memberanikan diri kembali masuk ketempat itu


"Max" Allea menyentuh bahu Max


"Bos sudah minum beberapa botol dan menolak untuk di bawa istirahat" ucap pegawainya


"Max" Allea mengguncang keras bahu Max hingga dia terganggu


"Apa sih lo berani, mau gue pecat" Max melotot kearah Allea dengan mata yang merah


"Max" lirih Allea menelan salivanya melihat kilatan amarah di wajah Max


"Pergi" usir Max


"Bunda nyariin lo Max" ucap Allea ragu


"Udah tinggalin gue sendiri gue biasa sendiri dari kecil gak udah sok pada perhatian" racaunya


"Lo harus pu.. emppph" tiba tiba Max mencium Allea membuatnya melotot sempurna


"Bang, mas, aduhh panggil apa ya" gumam Allea pada penjaga yang berbadan tinggi besar


"Bawa dia ke kamar mandi" titah Allea


"Maaf nona dia bos kita gak berani" jawabnya


"Aku yang tanggung jawab" penjaga itu mengingat wajah Allea pernah di bawa ke kamar pribadi Max lalu mengikuti perkataannya menyangkanya pacar Max


"Taruh di kamar mandi" penjaga itu saling pandang ragu melakukannya


"Cepet.. gue.. gue.. pacarnya awas aja kalo gak nurut nanti gue suruh dia pecat kalian" ancam Allea


"Jangan" ucapnya lalu mendudukan Max di lantai dan pergi meninggalkan mereka


Byuuurrr


Allea menyiram Max hingga dia tersentak membuka matanya, kesadaran Max mulai sedikit dia kuasai melihat bayang bayang wajah Allea di hadapannya


"Itu balesan buat lo karena udah berani cium gue"


Bukannya menjawab Max meraih tangan Allea hingga jatuh di pelukannya, Max menatap lekat wajah itu begitu pun Allea keduanya terhanyut saling pandang masih dalam posisi itu. Max menekan tengkuk Allea dan menciumnya semakin dalam Allea yang awalnya terhanyut dan membalas ciuman Max tersadar dan mendorong tubuh Max


"Dasar sial" Allea menabok wajah Max namun Max malah tersenyum lalu kembali tidur


"Hei... bangun Max dasar beg* kenapa tidur lagi "


Max tak kunjung bangun akhirnya Allea membawakan selimut dan menyelimuti Max di kamar mandi sementara dia tidur di ranjang Max tanpa rasa takut sedikitpun, dia begitu percaya dengan Max