
Cindy baru saja terbangun dari tidurnya pertama yang dia lihat adalah suaminya yang tersenyum manis padanya, Cindy begitu malu di pandangi seperti itu dia bersembunyi di balik selimut namun di bawah sana dia lebih malu melihat tubuh keduanya yang sama sama polos
"Astaga" Cindy segera menyembulkan kepalanya, Danendra terkekeh menarik pinggang Cindy agar tubuhnya mendekat
"Sayang.. Lihat apa tadi? " Goda Danendra
"Aku gak liat apa apa" Jawabnya bohong
"Kenapa mukanya merah gitu? " Cindy tidak bisa menjawab kata kata Danendra lagi
"Masih sakit? " Tanya Danendra, Cindy hanya mengangguk
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Emmhh.. Ada apa? "
"Maaf.. Kamu ke ganggu ya? "
"Butuh sesuatu? " Tanya Allea
Alexander membelai kepala serta wajah Allea yang sedang tidur membuatnya terbangun
"Tidak.. Sekarang udah gak mimpi buruk lagi? " Tanya Alexander
"Mimpi buruk? "
"Dua hari aku lihat kamu tidur tidak mengigau lagi, minum obat atau sudah konsultasi? " Allea tersenyum seraya bangun dari tidurnya, duduk bersandar di kepala ranjang
"Aku gak tau kenapa, tapi sepertinya akhir akhir ini aku agak tenang"
"Karena aku atau hal lain? " Ucap Alexander menggeser tubuhnya tidur di pangkuan Allea
"Kamu terlalu percaya diri" Allea tersenyum smirk
"Elus kepalaku" Titah Alexander
"Kenapa harus mengelus kepalamu? " Tanya Allea
"Jangan cerewet, lakukan saja" Alexander menaruh tangan Allea ke atas kepalanya
Allea mengelus kepala Alexander semakin lama Allea merasa semakin merasa sesak di dadanya, tak terasa air matanya menetas jatuh di rambut Alexander
Menyadari ada tetesan air yang jatuh Alexander mendongakkan kepalanya menatap Allea namun yang di tatap memalingkan wajahnya
"Kamu nangis lagi? "
"Enggak" Allea menggeleng
"Lihat aku.. Kamu kenapa? Kenapa tiap kamu sama aku pasti kamu nangis? "
"Aku gak apa apa" Setelah mengusap air matanya Allea menatap Alexander mengatakan bahwa dia baik baik saja
"Mata kamu sembab, hidung kamu ingusan" Alexander menunjuk wajah Allea
Allea terkekeh menundukan kepalanya dia juga ingat bagaimana dulu Max menertawakannya saat dia menangis karena hidung Allea ingusan
"Kamu tertawa atau menangis? " Alexander mengintip Allea dari rambutnya yang terurai
Allea tiba tiba saja memeluknya dengan tangis pilu, Alexander mematung dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini dia hanya membalas pelukan Allea tanpa mengatakan apapun
"Kamu tahu? Aku menderita selama ini suamiku meninggal saat aku melahirkan, anak anakku lahir tanpa ayah dan setelah beberapa bulan bayi perempuanku hilang entah dosa apa yang aku perbuat sampai takdir begitu kejam padaku"
"Sekarang.. Sekarang aku bertemu denganmu, kamu terlalu mirip dengannya bahkan kebiasaan kalian sama seolah aku mendapatkan kesempatan kembali bersama suamiku tapi.. Tapi kamu bukan dia itu yang selalu buat aku sedih saat bersamamu"
Alexander terdiam dia benar benar tidak bisa berkata apapun, Allea selalu mengatakan dia mirip suaminya tapi bagaimana mungkin dia berpikir hal yang sama dengan Allea sementara selama ini memiliki istri bahkan anak
"Kamu tahu Allea? Aku kecelakaan saat itu kata mantan istriku aku terjatuh dari lantai 3 aku koma beberapa bulan dan saat aku sadar aku tidak bisa mengingat apapun karena operasi kecil saat itu membuatku kehilangan ingatan, kata dokter ini hanya bersifat sementara namun sudah 5 tahun aku tetap tidak bisa mengingat apapun"
"Aku juga kehilangan hasratku entah kenapa mungkin itu karena efek kecelakaan atau pengobatan, aku juga tidak merasakan cinta pada istriku dan tidak pernah menyentuhnya setelah terbangun dari koma"
"Kecelakaan yang aku alami karena perbuatan musuhku dalam bisnis jadi sekarang aku tidak mengungkap identitasku, aku bekerja sebagai staf biasa di kantorku sendiri"
"Aku berpikir tidak ada lagi yang harus di pertahanankan bahkan dia tega berbuat seperti itu pada darah dagingnya sendiri, aku bercerai sudah 2 tahun aku selalu mencari wanita untuk menjadi ibu dari anakku tapi selalu gagal karena juniorku tidak mau bangun" Alexander terkekeh saat membahas juniornya
"Apa kita sedang bertukar cerita? " Tanya Allea
"Bisa jadi.. Tapi harus kamu tahu juniorku hanya bangun saat aku bersamamu"
"Isshh.. Aku jadi takut sekarang"
"Apa kamu mau mencobanya? " Allea sontak berdiri hingga kepala Alexander jatuh dari pangkuannya
"Aku takut sekarang bersamamu disini" Ucap Allea seraya turun dari ranjang
"Kamu takut? Kamu gak bisa kabur aku akan mendapatkanmu" Alexander mengejar Allea mereka berlarian di dalam kamar hotel, sampai Alexander mendapatkan Allea dan membantingnya ke ranjang tertawa bersama
"Aku lelah" Allea berbaring terlentang mengusap keringat di wajahnya
"Jadi bagaimana ? Mau mencobanya? " Alexander berguling menindih Allea
"Jangan macam macam, menyingkir dari sana" Allea memukuli tubuh Alexander
"Aku akan membuatmu kelelahan" Alexander menggelitik tubuh Allea membuatnya tertawa terbahak berusaha melarikan diri
Tok tok tok
"Ada orang" Allea menggulingkan tubuh Alexander lalu merapihkan rambutnya berjalan membuka pintu
"Mama... " Pekik dua anak yang ada di hadapannya
"Sama siapa kesini? " Tanya Allea sambil celingukan mencari orang yang mengantar mereka
"Cuma diantar pak supir" Jawab Ello seraya menerobos masuk
"Ini baju buat mama" Ellia mengikuti Ello masuk
"Wow.. Papa tubuhmu keren" Ucap Ello takjub melihat Alexander berbaring tanpa baju
"Papa.. Kenapa di tubuh papa banyak gambarnya? Ellia gak suka.. Gak suka" Ellia malah sebaliknya dia menggosok tubuh Alexander dengan telapak tangannya untuk menghilangkan tatto
"Sayang ini gak bisa hilang" Ucap Alexander
"Buang ini.. Aku gak mau papa belang" Ellia menangis melihat tubuh papanya, selama ini Alexander selalu memakai baju panjang di rumahnya Ellia sama sekali tidak tahu bahwa tubuh ayahnya di penuhi tatto
"Sayang.. Gak apa apa kan papa masih bisa tutup badannya pake baju panjang, gambar ini gak bisa di hapus" Ucap Allea lembut seraya membelai kepala Ellia
"Papa gak pernah kasih tau aku kalo papa mau gambar" Lirihnya
"Hah.. Maaf sayang, jangan nangis lagi nanti papa beliin mainan kesukaan Ellia"
"Aku gak mau kalo Ello gak di beliin juga"
"Iya.. Nanti beli sama Ello apapun yang kalian mau"
"Horeee " Anak anak bersorak kegirangan
"Tunggu.. Kamarnya cuma satu? Kalian tidur satu ranjang? " Pertanyaan Ello membuat kedua orang tuanya gugup
"Ya satu ranjang lah Ello, mereka juga pernah tidur berdua di sofa peluk pelukan" Cicit Ellia membuat Alexander dan Allea semakin kalang kabut
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sudah kalian dapatkan? Bagus, kalian boleh melakukan apapun pada perempuan itu jangan apa apakan pria yang bersamanya"
"Oke.. Aku tunggu kabar dari kalian"
"Kenapa sejauh mana pun aku membawa Alexanderku lo masih bisa nemuin dia Allea, kali ini gue gak akan biarin kalian bersama lagi"
"Kalo gue gak bisa dapetin lo maka gak akan ada wanita lain di samping lo Alexander"
Yuki berhasil menemukan keberadaan Alexander dan Allea bahkan kabar dari anak buahnya mereka tinggal di kamar hotel yang sama malam ini, Yuki berusaha menelpon Alexander namun tidak di jawab sama sekali Yuki mengira Alexander dan Allea menghabiskan malam bersama seperti seorang kekasih