
Allea baru saja bangun dari tidurnya dia mencari Max yang menghilang dari sampingnya, Allea membuka pintu hening hanya ada Max yang terlihat duduk dengan laptop di pangkuannya
"Udah bangun, sini" Allea berjalan mendekat meraih uluran tangan Max
"Mau makan apa? " Tanya Max menutup laptop dan mendudukkan Allea di pangkuannya
"Terserah, yang lain kemana? " tanya Allea seraya mengucek matanya
"Ke mini market yang di sebrang, mau nitip sesuatu? "
"Telepon Gita dulu deh"
"Ta gue nitip mie instan yang pedes sama minuman dingin ya, iya cemilannya sekalian" ucap Allea pada Gita di sebrang telepon
"Kan belum makan kenapa beli yang pedes? " tanya Max seraya membelai wajah Allea
"Kayaknya seger aja bangun tidur makan pedes, gue cuci muka dulu ya" Allea beranjak namun Max kembali menariknya
"Apa lagi? " tanya Allea
Bukannya menjawab Max malah menyandarkan kepalanya di dada Allea dan memeluknya, Max mendongak menatap wajah Allea dan Allea pun menatap wajah Max seraya mengangkat sebelah alisnya
"Apa? jangan aneh aneh" ucap Allea seolah tahu apa yang tunangannya itu inginkan
Max kembali menyandarkan kepalanya tapi tangannya merayap nakal di punggung Allea
Plak
Allea memukul lengan Max yang membelit tubuhnya "Jangan macem macem" tegas Allea melotot ke arah Max
"Pelit.... " Max mencebikkan bibirnya
"Gak puas apa dari tadi nyosor mulu kayak Bebek" ledek Allea
"Gak ada puasnya kalo deket sama lo" Max menciumi leher, telinga juga wajah Allea
"Max mmhh geli... sshh udah" Lirih Allea memejamkan matanya
Bibir Max semakin menjelajah membuat Allea terhanyut, beberapa saat kemudian Allea terlonjak ketika merasakan sesuatu
"Itu apa Max? " Allea terkejut saat ia merasa menduduki sesuatu, bukannya menjawab Max malah terkekeh menyembunyikan wajahnya di dada Allea
"Haha anaconda" jawab Max seraya tertawa
Sontak saja Allea berdiri dari pangkuan "Kenapa ketawa? " tanya Allea
"Kita nikah yuk" seru Max membuat Allea semakin tidak mengerti
"Enteng banget ngajak nikah kayak ngajak makan" ucap Allea seraya mencubit perut Max
"Kok di cubit sih? gue serius anaconda gue pengen bikin baby" Allea sampai membulatkan matanya dengan mulut menganga mendengar perkataan Max
"Dasar mesum... gue bikin anaconda lo babak belur sekalian" Allea memukuli Max yang malah tertawa
Max menangkap tangan Allea dan menariknya hingga terbaring di sofa dan mengungkungnya dari atas, tiba tiba pintu di buka membuat kelima orang yang berdiri disana menarik nafas panjang
Bruukk
Allea menjatuhkan Max ke samping hingga terjatuh ke bawah sofa, Max meringis mengusap bokongnya yang membentur lantai
"Kalian udah balik" ucap Allea gelagapan
"Belom ini baru bayangannya" celetuk Sandro
"Kalo mau ehem ehem di dalem aja biar jomblo gak ikutan tegang" ujar Bagas
Max menunduk mengusap tengkuknya sementara Allea sudah pergi melesat ke dapur membawa belanjaan Gita, Gita menghampiri Allea yang sedang merebus mie instan
"Allea" panggil Gita membuat dia terkejut sampai menjatuhkan barang barang di dekatnya
"Lo kenapa? " tanya Gita sambil tertawa
"Sumpah sekarang Max bikin gue jantungan setiap waktu, ada aja ulahnya setiap deket sama gue" lirih Allea
"Tapi dia gak macem mecem kan? " tanya Gita
"Enggak sih, cuma bibirnya doang ampun deh banyak ngerjain gue, tadi aja gue.. " Allea menggantung kata katanya
"Gue apa? " tanya Gita
"Untung gak keceplosan kalo gue dudukin anacondanya" batin Allea
"Tolong ambilin sendok dong" Ujar Allea
Gita yang semula ingin mengambil sendok di suruh pergi oleh Max, Allea menadahkan tangannya ke belakang tanpa menoleh. Bukannya sendok yang di berikan namun tangan seseorang menyentuh tangannya
"Eehh" Allea menoleh, pemuda tampan tersenyum lalu memeluknya dari belakang
"Jangan aneh aneh lagi" Allea memperingatkan
"Enggak beneran janji, gue cuma mau nemenin doang" Max mengacungkan dua jarinya
Max menyimpan sendok di tangan Allea tapi dengan cara memeluk Allea dari belakang, bibirnya mengecupi tengkuk dan pipi Allea.
"Max emmhh diem... " Allea menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan
"Lo buat gue panas dingin" bisik Max lalu mengecup telinga Allea
" Dan lo buat gue meriang" sarkas Allea pergi meninggalkan Max yang sedang tertawa
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di rumah Damian kedatangan tamu tak di duga, dia memaksa masuk meskipun Scurity melarangnya bahkan sampai berteriak teriak di depan rumah
"Ada apa pak? " tanya Lydia
"Ini buk ada Selvi maksa masuk" ucap Scurity
Lydia berjalan ke depan gerbang menghampiri Selvi yang sedang memaki Scurity "Kenapa ribut ribut? " tanya Lydia
"Aku ingin bertemu anakku, cepat panggil dia" ucap Selvi
"Dia ada di dalam silahkan masuk tapi jangan memaksanya jika dia tidak mau bertemu" ucap Lydia lalu pergi lebih dulu
"Danendra.. nak.. sini" teriak Lydia
"Apa bun? " Danendra menuruni anak tangga menghampiri Lydia, Danendra tidak melihat Selvi karena terhalang lemari
"Apa bun? " Danendra merangkul gemas bundanya
"Nak" panggil Selvi, Danendra menoleh Selvi segera berdiri menghampirinya
"Mau apa anda kesini? " ketus Danendra
"Sayang mama ini ibu kandungmu, kamu harusnya ikut sama mama nak" Selvi bicara seraya menangis
"Tidak.. ibuku ada disini, dia yang menyayangiku sejak kecil bahkan sampai sebesar ini" jawab Danendra
"Disini bukan tempat kamu, mereka sudah tau anak mereka bukan? kamu bisa saja sewaktu waktu mereka mengusir kamu"
"Anda salah mereka sangat baik, bahkan saudara yang aku hina dan selalu aku kucilkan dia rela mengorbankan haknya, dia tidak mengumumkan pada semua orang bahwa aku adalah anak haram bahkan dia tidak membalasku atas semua yang aku lakukan padanya" tutur Danendra
"Lydia kamu sudah mempengaruhi anakku"
"Selvi sudah aku katakan jika Danendra menolak jangan memaksanya, dia sudah besar dia tahu mana yang baik dan tidak untuk dirinya" ucap Lydia
"Aku tidak rela anakku hidup bersama kalian"
"Aku lebih tidak rela terlahir dari wanita sepertimu" hardik Danendra
"Danendra jaga bicaramu" ucap Lydia
"Memang benar bunda aku lebih baik tidak pernah di lahirkan dari pada memiliki ibu yang tega menukar anaknya dengan anak orang lain"
"Sayang bagaimana pun dia ibumu, ibu yang membesarkanmu" ucap Lydia
"Simpan saja rasa simpatimu itu Lydia, jangan berlagak baik"
"Bunda lihat? wanita seperti apa yang harus aku panggil mama? kalau sudah tidak ada urusan pergilah aku tidak ingin di ganggu" Danendra kembali naik ke kamarnya
"Maaf sepertinya kamu harus pergi, mungkin lain kali kamu bisa bicara baik baik lagi sama Danendra"
"Aku juga akan pergi, siapa yang mau tinggal di rumah yang tanpa cinta di dalamnya.. kasihan sekali kamu Lydia posisi dirimu disini hanya seperti pembantu"
"Tidak apa apa setidaknya aku hanya ingin menjadi istri yang baik, merawat anak anakku dengan baik, mengabdikan sisa hidupku pada suamiku selebihnya aku tidak peduli" ucap Lydia sambil tersenyum
"Anakmu hanya Si berandalan itu, Danendra anakku"
"Keduanya meminum asiku, sama sama di besarkan dengan kasih sayangku wajar jika aku menganggapnya anakku dan dia menganggapku ibunya" jawab Lydia
"Kembalikan anakku atau aku akan kembali membuat keluargamu hancur" Ancam Selvi
"Dia sudah besar Selvi aku tidak perlu mengurusi hal hal yang dia tahu sendiri akan seperti apa menghadapinya, aku cukup mendukungnya sekarang mereka sudah dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri, pergi lah sebelum Maxime pulang kamu tahu sendiri sifatnya seperti apa" ujar Lydia
"Ya anakmu itu, urakan, kasar berandalan apa lagi yang bisa di andalkan dari bocah sepertinya di banding Danendra dia bisa segalanya, kamu tidak memberikannya untukku karena takut anakku menguasi harta kalian bukan? karena tidak mungkin anakmu yang tidak berkompeten itu memimpin perusahaan" hardik selvi
"Berhenti menghina anakku" bentak Lydia kata kata yang semula terdengar lemah lembut sekarang bak singa betina yang sedang terusik
"Tidakkah kamu berkaca pada dirimu sendiri? dasar tidak tahu diri" hardik Lydia
"Siapa yang tidak berkompeten? " tanya Max yang baru saja pulang dengan tatapan dingin
"Hidup punya tujuannya sendiri sendiri nyonya, jika ada seorang anak yang bisanya hanya mengandalkan uang orang tua maka ada juga anak yang bekerja keras tanpa menggunakan nama orang tuanya"
"Jika ada seorang anak yang menunggu hasil warisan maka ada juga anak yang merintis kariernya dari bawah, menurut anda lebih baik yang mana? si lemah yang hanya bersembunyi di ketek orang tuanya atau si tangguh yang berani berdiri dengan kakinya sendiri meskipun sering tejatuh? " ucap Max
"Ibuku wanita yang lembut dia tidak akan berani memakimu, jika saja kau bukan wanita aku sudah merobek mulutmu" ucap Max dengan tatapan tajam yang akan menghunus jantung seseorang bak pedang
"Aku.. aku akan datang lagi nanti, awas saja jika kalian mempengaruhi Danendra" Selvi gelagapan ingin segera kabur dari sana
"Silahkan ambil anak anda jika dia bersedia, jangan menganggu ibuku atau aku akan membuat perhitungan denganmu" Ancam Max membuat Selvi pulang gemetar karena ancaman anak ingusan itu