My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Sakit perut



Buat kalian semua othor mau ingetin lagi nih.. jangan lupa dukung karya othor dengan cara like komen vote dan bunganya ya


Gak ada yang lain like aja sebanyak-banyaknya, karena like itu gratis


"Mama nanti Cindy mau main ke sini katanya" ucap Allea


"Wah.. dia lagi libur? bantuin mama masak kalo gitu, kita akan makan besar"


"Oke... Sus titip Exel ya" Allea memberikan bayinya pada suster lalu mengikuti Ririn ke dapur


Setelah semua makanan siap beberapa saat kemudian pintu di ketuk dari luar, Allea yang membukakan pintu kembali bersama Cindy


Pandangan Ririn tertuju pada wanita di belakang mereka yang menggendong Anggia, Ririn tersenyum menyambut kedatangannya


"Lama gak ketemu Cindy kangen" Cindy memeluk Ririn


"Ini mommy aku, kenalan dong" ucap Cindy memperkenalkan Emile


"Ririn" Ririn mengulurkan tangannya, Emile awalnya mematung lalu kemudian menerima uluran tangan Ririn


"Emile" Mereka berbincang sambil menikmati makanan yang di masak Allea dan Ririn


Allea dan Cindy membawa Millie yang baru saja pulang sekolah bermain bersama Anggia, mereka sengaja membiarkan Emile dan Ririn untuk bicara agar lebih akrab


"Kamu dokter yang waktu itu? "


"Ya.. maaf aku gak bantu kamu waktu itu" ucap Ririn


"Bagaimana kamu bisa menikah sama Gibran? " Ririn menoleh ke arah Emile


"Dia mengejarku setelah kalian bercerai, awalnya sulit menerimanya tapi karena Allea aku berusaha membuka hatiku menerimanya"


"Kenapa Allea? " tanya Emile


"Aku gak punya anak, anak angkatku baru saja meninggal saat itu.. aku berpikir Allea anak yang baik dia juga membujuk agar aku mau menerima lamaran Gibran" Ririn menceritakannya


"Itu anak kalian? " Tanya Emile ketika melihat Niko lewat


"Ya.. usianya sama dengan Millie hanya berbeda beberapa bulan, sulit bagi kami bisa mempunyai anak"


"Kamu masih marah? " kini Ririn yang bertanya pada Emile


"Tidak.. terimakasih sudah menyayangi Cindy, dia selalu menceritakan tentang dirimu begitupun Anggia.. aku rasa kamu wanita yang tepat untuk Gibran" ucap Emile sambil tersenyum


"Aku minta maaf untuk waktu itu.. aku tidak mungkin melanggar sumpahku untuk tidak berbohong "


"Gak apa apa.. kalo hari itu kamu gak jujur mungkin hari ini aku masih Emile yang jahat, aku harusnya berterima kasih sama kamu" Emile sadar jika dia masih takut kehilangan Gibran maka dia akan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan orang orang yang dekat dengannya


Berkat kejadian itu membuat Emile menjadi lebih berlapang dada menghadapi segala sesuatu yang menerpa hidupnya, Mereka menghampiri anak dan cucu mereka yang sedang bermain


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Kini Bisma mulai mendekati Celine dengan cara menjemput serta mengantar Celine kemana pun, Seperti biasa sepulang dari kantor Bisma sudah menunggu di parkiran


Celine berjalan keluar dari kantor menuju tempat biasa Bisma menunggu, Celine melihat Bisma di peluk seorang wanita jelas saja dia merasa kenal dengan wanita itu rupanya itu adalah wanita yang menangis di minimarket tempo hari


Tanpa menoleh Celine berjalan melewati mereka begitu saja, Bisma mendorong wanita itu dan berusaha mengejar Celine


"Celine tunggu.. aku nungguin kamu dari tadi, mau kemana? " Bisma menahan tangan Celine


"Gak usah nungguin aku lagi, kamu kan orang sibuk.. Aku pergi ya" Celine melepas tangan Bisma di lengannya


Ketika Bisma hendak mengejar wanita itu tiba-tiba menahan tangan Bisma, Bisma ingin mengejar namun terlambat Celine sudah masuk ke dalam taksi


"Apaan sih lo? gue udah bilang jangan ganggu gue lagi" bentak Bisma


"Aku mau kamu tanggung jawab, Bisma jangan kejar wanita itu.. ada aku yang sayang sama kamu, please"


"Gue gak bodoh.. gue bukan yang pertama buat lo, jangan pikir gue gak tau gimana kelakuan lo" Bisma pergi dengan kesal masuk kedalam mobilnya


"Kamu gak boleh pergi, aku mau kamu " Wanita itu merentangkan tangannya di depan mobil Bisma


"Minggir.. lo mau mati? " teriak Bisma


"Aku gak akan pergi sebelum kamu setuju"


"Oke.. kalo gitu pergi ke neraka" ucap Bisma seraya menancap gas


Sedikit lagi mobil Bisma mengenai wanita itu, keberaniannya yang tadi menantang Bisma kini runtuh dia berlari ke samping saat Bisma menancap gasnya


"Mau mati kok nanggung" Gumam Bisma


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Sesampainya di rumah mobil Bisma sudah terparkir di halaman rumah, Celine tidak langsung pergi ke kamar dia memilih pergi ke belakang mengambil bajunya yang di jemur dan mandi di kamar tamu


"Celine udah pulang belum bi? " tanya Bisma


"Udah tuan.. tadi ngambil jemuran tapi gak tau kemana perginya" jawab Bibi


"Mama kemana? tumben gak keliatan"


"Nyonya besar udah pulang tuan, katanya misinya selesai" Bisma mengernyitkan keningnya


"Misi? misi apaan? "


"Gak tau tuan.. nyonya besar gak pernah bilang" Bisma pergi mencari Celine ke setiap ruangan


Kamar terakhir Bisma buka ternyata Celine sedang tidur disana, Bisma ikut tidur berhadapan dengan Celine menatap wajah wanita galak di hadapannya


Bisma merapihkan rambut Celine ke belakang telinganya , Ragu ragu Bisma mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Celine


Sekali.. dua kali.. tiga kali.. Celine tidak bereaksi sama sekali, keempat kali Bisma kembali mendekatkan wajahnya namun Celine sudah membuka matanya


"Mau ngapain sih? pergi sana ah.. " Celine mendorong wajah Bisma lalu kembali tidur membelakanginya, Bisma memberanikan diri mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Celine lalu memeluknya


"Diem... gue lagi gak mau debat" Celine menyingkirkan tangan Bisma dari tubuhnya


"Tangan lo dingin banget, lo kenapa? " Bisma membalikkan tubuh Celine


"Lo sakit? gue kira lo pucat karena gak make-up" Bisma menyentuh wajah Celine


"Gak usah deket deket deh.. inget batasan, kita cuma nikah kontrak"


"Gue udah bilang batalin kontrak itu, gue sayang sama lo" Celine hanya tersenyum smirk


"Jangan permainkan perasaan orang, Gue gak akan pernah percaya sama lo, lo cuma penasaran kan? lo cuma penasaran sampe coba cewek satu persatu" Celine turun dari ranjang dan pergi memegangi perutnya


"Celine tunggu.. lo salah " Bisma mengejar Celine dan menghalangi jalannya


"Minggir Bisma.. gue gak punya tenaga buat debat sama lo" Celine berusaha menghindar dari Bisma namun tidak bisa


Bisma mengangkat tubuh Celine hendak membawanya ke kamar, Celine berontak menggigit tangan Bisma hingga dia menurunkannya di ruang tamu


"Bibi.. tolong bi.. " Bibi membantu Celine berjalan


"Biar gue aja Celine, gue juga bisa kalo cuma nganter lo kekamar" Bisma menepis tangan bibi dan memapah Celine namun Celine menolak hingga akhirnya mereka saling menepis


"Gue gak mau.. lepasin gak? kenapa lo gak pergi aja sama cewek tadi? kenapa lo harus repot repot bantuin gue? " teriak Celine


"Waahh... kayaknya tuan ketauan selingkuh nih, harus lapor nyonya besar" batin bibi, segera pergi menghindari pertengkaran pasangan muda ini untuk menelpon ibu Bisma


"Kenapa lo nangis? gue gak ada hubungan sama cewek itu, lo gak perlu cemburu"


"Cemburu.. cemburu mata lo picek, gue sakit perut mau sampai kapan lo ngoceh " Celine memegangi perutnya


"Lo kenapa? lo salah makan? kita ke dokter" Bisma kembali mengangkat tubuh Celine


"Turunin gue.." Celine memukul dada Bisma


"Pertama gue gak perlu ke dokter karena gue gak sakit, kedua jangan ganggu gue "


"Tapi lo sakit perut, gue panggil aja dokternya kesini" Bisma mengambil handphone di saku belakangnya


"Jangaaannn... gue malu, gue sakit perut karena... " Celine membisikkan sesuatu pada Bisma


"Datang bulan? " Celine mengangguk


"Terus sampe kapan lo nahan sakit? "


"Gue cuma butuh obat pereda nyeri dan... " Celine menggantung kata katanya


"Dan apa? "


"pembalut" lirih Celine, Bisma berpikir sejenak


Dia teringat film yang pernah dia lihat seorang pria membelikan istri kontraknya pembalut lalu kemudian cinta diantara mereka bersemi, Bisma tersenyum senyum sendiri membuat Celine merinding


"Lo tunggu di kamar nanti pembalut nya gue beliin" ucap Bisma seraya tersenyum


"Lo yakin? lo gak malu? "


"Pokoknya lo tinggal diem baik baik di kamar gue bawain nanti " Bisma pergi begitu saja