My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Sakit



"Lo kemana aja? Gak tau apa orang disini khawatir" Tanya Vero saat Allea sudah kembali


"Kak Vero... Gue seneng ada harapan kalo itu beneran Max"


"Kenapa lo bisa yakin? "


"Dia kecelakaan 5 tahun lalu terus kehilangan ingatan, gue cek obat yang selama ini dia minum ternyata itu yang bikin dia lupa segalanya, kesimpulan gue ada dalang dari semua ini"


"Jangan terlalu yakin dulu, coba lo tes DNA "


"Tenang gue udah ambil rambutnya, nanti gue tes sama rambut Ello"


"Jangan seneng dulu Allea gue gak mau lo sakit hati karena harapan lo" Ucap Vero


"Tapi gak ada orang yang begitu miripkan? Apa lagi mereka gak kembar"


"Terserah deh, gue dukung apa pun yang lo lakuin nanti saat lo sakit hati datang ke gue"


Allea mematung mendengar perkataan Vero memang setelah Max di nyatakan meninggal Allea selalu datang pada Vero setiap ada masalah, meskipun ada temannya yang lain   namun tetap Vero yang selalu mengerti dia


"Kok mukanya kak Vero gak enak di liat" Gumam Allea


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


Setelah satu bulan menjadi relawan akhirnya Allea dan yang lainnya pulang, di dalam pesawat Allea terlihat lemas tidak banyak bicara seperti biasanya


Vero berjalan mendekati Allea dan menukar tempat duduk dengan orang di sebelah Allea


"Kenapa? " Tanya Vero


"Pusing.. Mual juga" Lirih Allea memijat kepalanya


Vero memijat kepala Allea tanpa di minta hingga Allea terlihat lebih nyaman, beberapa menit kemudian Allea menutup mulutnya buru-buru berjalan ke toilet


Vero yang melihat itu segera mengikuti Allea dan membantu memijat tengkuknya, wajah Allea memerah nafasnya seperti orang lelah setelah berlari


"Kamu kenapa? Mau minum obat? " Allea hanya menggeleng


"Udah makan? " 


"Belum.. Dari kemaren makan gak enak, mual pusing cuma sekarang lebih parah" Lirih Allea


Pesawat mendarat Vero membantu Allea membawa barang barangnya karena Allea menolak untuk di gendong meskipun dia lemas


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


Sepanjang jalan Alexander melebarkan senyumnya dia tidak sabar menjemput Allea di bandara, untuk memberi surprise pada Allea dia rela mempercepat urusannya di luar negeri


Sesampainya di bandara Alexander melihat Allea dan Vero yang berjalan menuju toilet, Alexander mengikuti mereka sampai di toilet Vero seperti sedang mencium Allea yang terlihat hanya dari belakang tubuh Vero


"Sialan" Gumam Alexander dia pergi dari sana dan menunggu di parkiran


Allea dan Vero keluar dari bandara menaiki taksi, Alexander mengikuti mereka sampai ke sebuah apartemen


Vero berjalan merangkul bahu Allea masuk ke sebuah apartemen, Alexander tersenyum smirk meninggalkan apartemen tersebut


"Kamu terbiasa dengan banyak laki laki ternyata, aku juga bisa hanya bermain main"


"Aku tidak menyangka bisa begitu percaya dengan wanita seperti ini"


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


"Lo istirahat disini aja dulu sampai baikan nanti gue anterin pulang" Ucap Vero


"Thanks kak, sorry selalu ngerepotin" Allea tidur di ranjang Vero sementara yang punya apartemen tidur di sofa


Setelah tubuh Allea merasa segar dia meminta Vero mengantarnya pulang, dalam perjalanan ternyata Ello menelpon bahwa dia ada di rumah Alexander


"Mama.... " Lagi lagi setiap kepulangannya di nantikan kedua bocah itu


"Aku kangen.. Kenapa mama pulangnya lama? " Tanya Ellia


"Karena kerjaannya belum selesai, kalian gak nakal kan? "


"Enggak dong kita kan anak pintar" Jawab Ello


"Mama buka aja jaketnya, apa gak panas? " tanya Allea


"Iya.. sampe lupa gara-gara kangen kalian"


"Ahh.. iya banyak nyamuk disana" jawab Allea


"Serangga nya nakal ya ma? kenapa bisa sampai situ? emangnya mama tidur gak pake baju ya? mama gak bawa lotion anti nyamuk? " cicit Ellia membuat Allea tersenyum kikuk


"Cih.. Padahal disana pasti godain pria" Batin suster 


"Kamu kapan pulang? " Tanya Alexander yang baru saja datang


"Aku baru sampai.. Bukannya kamu ada urusan 2 minggu? "


"Aku selesaikan cepat, gak kangen sama aku? " Tanya Alexander seraya menarik pinggang Allea dan mengecup bibirnya


Allea mendorong tubuh Alexander wajahnya memerah menatap anak anak serta suster yang membulatkan mata melihat mereka


Suster melihat ada tanda yang sama di leher Alexander juga hampir pudar, dia bisa menyimpulkan ketika Alexander berkata akan menemui Allea sebelum ke luar negeri mereka melakukan sesuatu di sana


"Bawa anak anak masuk Sus" Titah Alexander


Suster membawa anak anak masuk ke kamarnya, dari atas suster melihat Alexander menciumi Allea seraya memeluknya


"Benar saja mereka pasti sudah sering melakukannya, Aku gak pernah lihat tuan seperti itu bahkan dengan nyonya" Suster memotret mereka sebelum masuk kedalam kamar


"Jangan.. Aku belum mandi, lagi pula ini masih siang ada orang di luar" Alexander mencium Allea berjalan membawanya masuk ke dalam kamar tamu


"Kalo gitu jangan bersuara" Alexander menubruk tubuh Allea hingga terlentang di ranjang 


"Nanti anak anak nyariin " Allea menggulingkan tubuh Alexander dari atas tubuhnya, Alexander tidak tahu situasi padahal Allea benar benar lelah setelah perjalanan dia baru saja sampai


"Cih... " Alexander berdecih seraya pergi dari kamar tersebut


"Xander.. " panggil Allea namun pria itu tetap pergi


"Mungkin dia terlalu lelah setelah melayani dokter itu" Batin Alexander


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


"Gita.. Gimana Allea? " Tanya Gibran


"Allea gak ada om, dia jadi relawan bencana alam"


"Apa? Kenapa dia gak bilang dulu, kamu juga kenapa gak bilang? "


"Kata Allea gak boleh bilang kalo om gak nanya"


"Kalian memang super duper best friend" Ucap Gibran 


"Ya.. Mau gimana lagi? "


"Ello mana Ello? "


"Dia di jemput Ellia kemarin sore"


"Baik baik kalian disana, titip Allea sama Ello ya"


"Iya om"


"Om Gibran emang bawel tapi dia perhatian" Gumam Gita lalu meletakkan handphonenya


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


Malam malam Alexander terlihat berjalan menuju kamar Allea, dua orang mengintip di sisi yang berbeda, saat hendak menaiki tangga keduanya terkejut ternyata mereka sama sama mengintip,


"Kamu ngapain disini? " Tanya bibi


"Bibi juga ngapain disini? Kepo juga kan? " 


"Sstt... Kita sama sama kepo, barengan aja" mendengar pintu kamar di kunci mereka segera berjalan pelan menempelkan telinganya di pintu


Sesaat kemudian mata mereka membulat sempurna kesulitan menelan salivanya sendiri, suara Alexander membuat mereka merinding


"Suara tuan seksi banget, aku gak pernah dengar yang beginian ketika tuan bersama nyonya dulu yang ada mereka tiap hari berantem sampe panas kuping" bisik bibi


"Kalo laki ngendap ngendap masuk kamar perempuan harusnya kita udah tahu mau ngapain" 


"Nyesel nguping, jadi panas dingin sendiri" Lanjut bibi


Suster hanya diam entah apa yang dia pikirkan biasanya dia tidak bisa diam menjelekkan Allea, kali ini dia memilih diam lalu pergi dari sana