My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Ambisi Yuki



"Oek.. oek.. " Allea mengerjapkan matanya kalau pagi itu mendengar suara Max dari kamar mandi


Dia segera bangun dan menghampiri sang suami yang terduduk lemas di memegangi pinggiran toilet, Allea memijat tengkuk Max agar memuntahkan isi perutnya


"Kamu gak jijik? " tanya Max seraya mengusap peluhnya, Allea menggeleng


"Udah baikan? " tanya Allea, kemudian membantu Max berdiri


"Kita ke dokter aja ya" lanjut Max


"Kenapa? kamu khawatir? " lirihnya


"Aku gak tega liat kamu, kenapa gak sembuh juga padahal obatnya hampir habis" pikir Allea


"Aku gak tau.. Aku lemes" Kali ini Allea membiarkan saja Max tidur memeluknya menyembunyikan wajah di dada Allea


"Masih mual? " tanya Allea hanya di jawab gelengan oleh Max


"Ini nyaman, aku merasa gak mual lagi"


"Kamu modus ya? "


"nggak yang serius mualnya ilang" jawab Max mengangkat sedikit kepalanya namun hidungnya tetap menempel di dada Allea


"Haishhh.. ya sudah begini aja dulu" ucap Allea


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Mau kemana setelah ini? Tanya Danendra pada Cindy yang bertemu di tempat Gym


" Kayaknya langsung pulang deh" Jawab Cindy


"Gimana kalo temenin gue makan bentar? "


"Boleh" tanpa di sadari Danendra menarik tangan Cindy dan menggenggamnya


Cindy menatap tangannya yang di genggam oleh Danendra, ini pertama kalinya Danendra menyentuhnya tanpa amarah jantungnya berdebar ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata


"Kenapa gak masuk? " tanya Danendra saat melihat Cindy mematung padahal pintu mobil sudah terbuka


"Ahh.. sorry" Cindy segera masuk kedalam mobil di susul Danendra


"Lagi mikirin apa? " tanya Danendra membuat Cindy terkesiap


"Hah?? eh.. gimana? "


"Lo lagi mikirin apa? " Danendra mengulang pertanyaannya


"Gak ada.. gue gak mikirin apa apa"


"Masa? lo lagi mikirin gue ya? " goda Danendra


"Ehh.. " wajah Cindy memerah


"Kalo mukanya merah berarti iya" godanya lagi membuat Cindy semakin tersipu malu


"Gue suka lo yang kayak gini, di banding yang kemarin lo yang sekarang jauh lebih baik" Cindy tidak bisa menjawab apapun dia hanya diam sambil menundukkan kepalanya


"Nah.. udah sampe" Danendra turun lalu membukakan pintu untuk Cindy


"Sumpah Demi apapun kenapa gak dari dulu gue kayak gini" batin Cindy ketika Danendra lagi menggenggam tangannya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kenapa lagi bi? " tanya Allea ketika baru saja masuk ke dalam rumah


"Kamu dari mana? aku nyariin" ucap Max manja memeluk sambil Allea


"Ya ampun di tinggal bentar doang "


"Kamu dari mana?"


"Lihat aku bawa apa, taraaaaaa" Allea mengangkat kantong plastik yang dia bawa


"Kamu dapat dari mana? " tanya Max dengan mata berbinar


"Aku tadi jalan sekitar sini ada pohon mangga berbuah tapi cuma satu aku minta sama orangnya untung yang punya baik dia nyangka aku lagi ngidam" Allea nyerocos sendiri karena Max sudah pergi ke dapur membawa mangga mudanya


"Hei.. habis manis sepah di buang" cicit Allea mengikuti Max


Bibi hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah keduanya, sesampainya di dapur Max memakannya dengan sambal yang di buat bibi


Allea dan bibi ngilu sendiri melihat Max makan mangga muda itu tanpa ekspresi apapun, Allea sampai mengernyit kala mendengar suara nyaring Max mengunyah


"Mau? " Max menawari Allea


"Gak.. gigi aku liat aja udah ngilu" Jawab Allea


"Kamu sebenarnya kenapa sih? " tanya Allea


"Enak banget ya makan gituan? "


"Coba aja, aaaa" Max menyuapi Allea, ragu ragu Allea membuka mulutnya


"Arrrggghhh.. fyuh.. fyuh.. " Allea menyemburkan semua yang ada di mulutnya


Max tertawa melihat ekspresi wajah Allea sambil kembali menyuap mangga mudanya


.


.


Sore hari Allea baru terbangun dari tidurnya dia menuruni anak tangga sambil mengucek matanya, pandangannya terkunci pada seseorang yang sedang menonton televisi sambil memakan cemilan


"Kamu udah gak apa apa? " tanya Allea sambil duduk di sebelah Max


"aku udah baikan, makasih sayang ini karena mangga muda dari kamu" ucap Max lalu memeluk Allea


"Aneh banget obat gak mempan tapi mangga muda bisa jadi obat"


"Gak apa apa yang penting kan aku udah sembuh" ujar Max


"Hmm... " gumam Allea


"Ehh.. mau apa nih? " tanya Allea ketika Max mendekatkan wajahnya memeluk erat Allea


"Mau.. " Max tidak melanjutkan perkataannya dia mencium Allea dan merebahkan nya di sofa dengan tangan yang menjelajah di bali tshirt nya


Allea awalnya menerima perlakuan Max sampai dia teringat bahwa sekarang di rumah itu juga ada bibi, Allea berusaha menjauhkan Max namun suaminya itu malah semakin menggila


"Awww.. " Max meringis kala Allea mencubit pahanya


"Kenapa di cubit? " gerutu Max


"Ada bibi" bisik Allea


"Gak apa apa, emang kenapa? "


"Gak tau malu"


"Kalo gitu kita pindah" Max berdiri menarik tangan Allea


"Gak ahh.. masih sore"


"Emang kenapa? udah sah ini"


"Malu lah kayak gak ada waktu lain aja" mereka saling berbisik


"Ahh lama" Max mengangkat Allea seperti karung beras di pundaknya menaiki tangga menuju kamar


"Dasar anak muda dikit dikit berantem dikit dikit romantis romantisan bikin iri aja" gumam bibi yang sedari tadi melihat kelakuan keduanya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Lo udah tau kan Allea sekarang tinggal dimana? " tanya Yuki pada Jonathan


"Gak tau, ngapain juga gue nyari tau" jawab Jonathan


"Lo jangan bohong, gue tau lo ketemu dia kemarin"


"Jangan kira gue juga gak tau lo celakain dia di villa" sergah Jonathan


"Lo suka sama dia? " tanya Yuki penuh ledekan


"Bukan urusan lo, yang jelas entah Allea atau siapa pun gue gak dukung kalo lo pake cara kotor" jawab Jonathan


"Lo pikir lo sesuci apa? "


"Gue emang manusia kotor tapi gue gak pernah celakain siapapun dengan cara licik, gue selalu menghadapi mereka dengan jantan"


"Jangan banyak bicara, gue akan lakuin apapun demi tujuan gue dan lo atau siapa pun gak akan bisa halangi gue" ucap Yuki


"Lo adik gue satu satunya, keluarga kita udah bercerai berai gue gak mau kehilangan lo cuma karena keegoisan lo"


"Itu cuma alibi lo, pada kenyataannya lo gak pernah ada buat gue, lo selalu sibuk sama komunitas lo yang gak penting itu" bentak Yuki


"Kapan gue pernah mengabaikan lo? kapan gue pernah gak peduli sama lo, soal komunitas cuma sama mereka yang gue punya" jawab Jonathan


"Kalo lo peduli sama gue jangan halangi rencana gue"


"Kalo itu menyangkut nyawa orang lain sorry gue gak mau adik gue jadi kriminal"


"Oke.. kalo gitu coba aja kalo lo bisa halangi gue, kita musuh sekarang" ucap Yuki seraya pergi


"Yuki... jangan salah jalan ki.. " teriak Jonathan


"Arrrggghhh... kenapa lagi lagi karena satu cowok itu adik gue jadi kacau" teriak Jonathan melemparkan semua barang barang yang ada di dekatnya