
Guys aku mau cerita..
Jadi tadi aku hapus chance noveltoon jadi akunnya keluar terus pas aku login gak bisa, aku panik dong
Udah aku otak atik tapi tetep gak bisa sedih banget aku tuh.. tapi setelah berjam jam aku akalin ternyata bisa aku seneng banget
Susah banget buat aku sampai jadi author silver tapi di buat patah hati dalam satu hari, tapi untung gak jadi patah hati karena udah balik lagi akunnya 😁
Udah ceritanya segitu aja saking aku senengnya hihihi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Nyonya di depan ada tamu" ucap bibi
"Siapa? mau cari tuan atau aku? " tanya Allea
"Mencari nyonya" Allea berjalan menuju keluar
"Ayah.. mama.. " Allea memeluk keduanya
"Mana Max? " tanya Gibran
"Ke kantor katanya ada yang harus dia urus sama asistennya"
"Ini rumah kalian? mana anak anak? " tanya Ririn
"Mereka ada di kamar, rencananya kita mau pulang lusa ternyata kalian kesini"
"Jadi kalian mau tinggal di jakarta apa disini? masa anak anak sekolahnya pindah pindah terus? " ucap Gibran
"Mau di jakarta yah, paling Max sesekali kesini kalo ada yang penting penting aja"
"Ayah mau ke kamar anak anak dulu" Gibran berjalan menuju kamar cucunya dan di sambut hangat kedua cucunya
Ririn menuntun tangan Allea lembut menuju sofa dan duduk seraya menggenggam tangan Allea, wajah Ririn tampak sendu menatap wajah Allea
"Kenapa ma? ada apa? " tanya Allea
"Maafin mama.. " lirih Ririn
''Untuk apa? mama gak ada salah sama Allea "
"Mama bukan orang tua yang baik, mama gak bisa didik Yuki dengan baik, dia sudah membuat kamu dan anak anakmu menderita mama merasa bersalah untuk itu"
"Ma.. Allea gak pernah salahin mama, dia udah dewasa tindakannya bisa dia pertanggung jawabkan sendiri, jangan merasa mama ikut bersalah"
"Allea yakin mama mendidiknya dengan benar, mama adalah ibu yang baik bukan salah mama jika Yuki melakukan kesalahan jadi Allea mohon jangan pernah merasa bersalah"
"Buat mama suatu kesalahan karena membesarkan anak seperti dia, kamu anak yang baik mama merasa beruntung menjadi ibu sambung kamu"
"Allea yang beruntung punya mama, tolong jaga ayah karena kebahagiaan ayah kebahagiaan Allea juga" Ririn memeluk Allea rasanya lega dapat mengungkapkan keresahannya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Dimana mereka?"
"Silahkan ikut tuan" polisi menunjukkan jalan menuju tempat Yuki dan ayahnya
Max duduk di samping ranjang dimana Yuki dan Yamada berbaring bersebelahan, senyum jahatnya membuat keduanya takut akan kehadirannya
"Tenang.. Bapak bisa pergi" Max menenangkan Yuki yang mulai berusaha mengusir Max, dan Max juga menyuruh polisi yang berjaga pergi
"Apa kabar? ahh.. aku lupa kabar kalian sangat buruk bukan? " Max meledek keduanya
"Sssttt... jangan banyak bergerak nanti tangannya lecet" Yuki menggerakkan tubuhnya agar menjauh dari Max namun tidak bisa karena kedua tangannya di borgol
"Gimana rasanya? sakit? itu balasan untuk kalian berdua karena sudah membuat anak dan istriku menderita, mati lebih mudah untuk kalian jadi selamat menikmati hari hari dengan keadaan mengerikan seperti ini dan selamat jalan menuju neraka" cicit Max
"Jadi kamu yang melakukan ini pada kami? " geram Yamada
"Aku tidak mengerti apa yang anda bicarakan, apa penyakit menjijikkan ini bisa di sebabkan olehku? yang benar saja"
"Jangan berkelit, kamu yang baru saja mengatakan balasan untuk kami bukankah kamu yang merencanakan semua ini? "
"Semoga penyakit kalian segera sembuh dan semoga panjang umur" kata kata Max memang mendoakan namun sepertinya itu kebalikannya
Yuki tidak berani bicara dia takut Max melakukan hal gila lainnya, dia sadar Max yang melakukan semua ini padanya dia mengingat Max pernah menyuntikkan sesuatu pada dirinya dan ayahnya
Hanya air mata yang bercucuran dia berpikir betapa kejamnya Max padanya, namun hatinya tidak pernah sadar dia menyalahkan semua yang terjadi karena Allea
"Aku pasti sembuh.. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri Allea" batin Yuki
Kondisi Yuki dan ayahnya memprihatinkan hanya bisa terbaring dengan kulit yang melepuh serta kepala yang hampir botak, mengenaskan, rasa perih pada bagian tubuh mereka sering membuat keduanya berteriak kesakitan
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sayang.. " bisik Max memeluk Allea yang sedang tidur
"Kamu udah pulang? "
"Kamu kenapa tidur sore sore begini? " tanya Max, Allea membalikkan tubuhnya menghadap suaminya
"Gak apa apa aku cuma sedikit lemes" Allea berbalik memeluk Max
"Kamu mau ngapain? " tanya Max saat Allea membuka kancing kemejanya
"Sayang aku belum mandi" Allea menempelkan hidungnya menghirup aroma tubuh Max
"Gak apa apa, kamu wangi"
"Kalo gitu buka aja semuanya aku gerah" Allea menuruti kata kata suaminya dia melepas kemeja Max lalu kembali memeluknya
Lama Allea memeluk Max sampai terdengar suara perut suaminya baru dia melepaskannya, Allea mendongak menatap wajah suaminya yang hanya tersenyum
"Kamu lapar? kenapa gak bilang? "
"Kamu terlihat nyaman aku gak mau ganggu" Allea bangun dari tidurnya lalu menarik tangan Max
"Kamu mau aku buatin apa? " tanya Allea
"Gak usah biar bibi aja, kamu istirahat aja"
"Sayang jangan bikin mamanya capek kasihan mama, kenapa kamu gak seperti kakak-kakakmu dulu yang bikin papa aja yang ngerasain ngidam" Max mengusap perut Allea seolah berbicara dengan bayinya
"Iya.. aku ingat dulu kamu sangat menderita saat aku hamil Ello dan Ellia"
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu lalu allea berjalan untuk membukanya, Ririn menanyakan keberadaan Max dia meminta untuk bicara sebentar
Setelah mandi Max menghampiri Ririn dan Gibran yang duduk di ruang tamu sementara Allea memasak di bantu bibi
"Mama mau tanya kabar Yuki apa kamu tau? " tanya Ririn
"Aku tadi baru saja di beritahukan oleh polisi bahwa keadaannya tidak baik baik saja, aku sudah lihat sendiri keadaannya sangat.. saya bingung menjelaskannya"
"Dia sakit apa? " tanya Ririn
"Besok aku ajak kalian kesana, kalian bisa lihat sendiri tapi jangan terkejut melihat keadaannya" mendengar perkataan Max sebenarnya Ririn merasa khawatir bagaimana pun kelakuan Yuki tetap saja dia masih menyimpan kasih sayangnya meskipun hanya sedikit
"Sudahlah tidak usah di pikirkan, dia akan baik baik saja" ucap Gibran saat mereka di kamar
"Kenapa hidupnya jadi seperti ini? aku berharap dia hidup bahagia dan bisa membuatku bangga" lirih Ririn
"Dia sudah memilih jalannya sendiri, dia bukan anak kecil lagi kamu sebagai orang tua sudah sangat baik merawat dan mendidik anak anakmu hanya memang mereka saja yang salah memilih jalan"
"Aku tidak bisa melahirkan seorang anak aku juga gagal mendidik anak anak angkat ku, apa aku masih bisa di sebut ibu yang baik?
" Jangan bicara seperti itu.. kamu hanya lebih sulit untuk mengandung dari wanita lain bukan tidak bisa mengandung kita percayakan saja pada Tuhan "
"Apa mungkin di usia kita yang sudah tua bisa memiliki bayi? aku rasa itu akan semakin sulit dan beresiko" Ririn tetap tidak percaya pada dirinya sendiri
"Meski pun sudah tua kita masih tetap energik, mungkin kita bisa membuat seorang anak" ucap Gibran dengan wajah genitnya
"Wajahmu menyebalkan" ucap Ririn seraya terkekeh