My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Banyak wanita di sekelilingmu



Di rumah Ririn kelihatan murung dia lebih banyak melamun, Gibran sering mengajaknya bicara namun Ririn hanya bicara seperlunya sajaRirin lebih suka menyendiri, suaminya sudah meminta Ririn untuk tidak memikirkan apapun namun tetap saja Ririn merasa terganggu dengan ucapan orang orang apalagi di sosial media banyak orang yang menyalahkan pola asuh orang tua Yuki


"Aku udah bilang gak usah tanggapi omongan orang orang" Gibran mengambil handphone Ririn ketika ketahuan sedang membaca komentar negatif tentang Yuki di salah satu akun gosip


"Apa memang aku tidak pantas menjadi ibu? Apa caraku mendidik anak anak sudah salah sejak awal? " 


"Tidak.. Kamu ibu yang baik buktinya Allea sangat menyayangi kamu, kamu tidak pernah gagal menjadi seorang ibu" Ucap Gibran seraya memeluk Ririn


"Apa yang harus aku katakan nanti jika bertemu Allea dan Max" Lirihnya


"Mereka tidak akan menyalahkanmu, ini tidak ada hubungannya denganmu" Ucap Gibran"


Aku hanya takut"


"Kenapa harus takut? Bukan kamu yang melakukan kesalahan lagi pula dia sudah bukan anak anak lagi dia sudah punya pemikiran sendiri" Gibran menatap lekat lekat wajah istrinya


"Kamu beberapa hari ini hanya memikirkan ini? Sampai tidak enak makan, kamu terlihat pucat" Ucap Gibran


"Aku tidak apa apa, hanya sedikit pusing"


"Kamu terlalu banyak berpikir, istirahat saja aku akan bawakan makanan" 


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Allea dan Max sedang berada di sebuah restauran sementara anak anak mereka bersama bibi di rumah, awalnya Allea terlihat lahap saat makan namun nafsu makannya menjadi berkurang saat seorang wanita mendatangi mereka


"Aku tidak menyangka kamu ternyata seorang bos besar" Wanita itu tiba tiba duduk di sebelah Max


Allea menyandarkan tubuhnya melipat tangannya di dada menunggu reaksi Max yang belum menjawab apa apa, Max melirik ke arah Allea yang sudah memasang wajah masam


"Kenapa kamu gak mau mengatakan yang sebenarnya sejak awal? Apa kamu gak mau di kenal orang? " Tanya wanita tersebut


"Ahh.. Sepertinya istriku sudah bosan disini kami harus pergi" Ucap Max


"Apa anda bosan nyonya? " Tanya wanita tersebut


"Tidak lanjutkan saja" Jawab Allea


"Lain kali jangan sungkan lagi padaku, mainlah ke villa ku di dekat sini barang kali kita bisa menjalin bisnis? " Ucap wanita itu terlihat sensual mengusap lengan Max


Allea menyipitkan matanya melihat pemandangan seperti itu di hadapannya, suaminya malah diam saja tahu tangannya di elus


"Hai.. " Allea melambaikan tangannya berdiri menghampiri seseorang


Mereka terlihat melakukan tos lalu duduk di kursi agak jauh dari Max, melihat itu Max menggertakkan giginya melempar sendok yang di pegangnya ke meja


"Hei mau kemana? Biarkan istrimu kita bisa mengobrol di villa" Ucap wanita itu dengan nada menggoda namun Max menepis tangannya berjalan menghampiri Allea


"Hai.. Perkenalkan aku suaminya Allea" Ucap Max tiba tiba mengulurkan tangannya


"David.. Kamu udah nikah? "


"Udah" Allea tersenyum manis pada pria bernama David ini membuat Max semakin terbakar cemburu


"Kalau tidak ada yang harus di bicarakan lagi kami harus pamit, anak anak menunggu di rumah" Max menekankan kata anak anak


Setelah di dalam mobil Allea tersenyum senyum sendiri sambil bersenandung bercermin dengan menggunakan handphone membenarkan rambutnya, sementara di sebelahnya seseorang sedang cemberut seraya menyetir


"Kenapa dia bisa seganteng ini sekarang, menyesal aku gak Terima dia dulu" Gumam Allea dengan gaya centilnya sambil berkaca


"Ehem.. " Max berdehem mengingatkan Allea bahwa dia ada disana


"Ahh.. Dia mengirim pesan, aku harus balas apa ya? "


"Aku juga masih pengen ngobrol, kita lanjut lain kali" Allea sengaja membaca pesan yang dia tulis


Max merampas handphone Allea dan melemparkannya ke belakang, Allea terkejut dia membulatkan matanya dengan mulut menganga


"Itu gak sopan" Ujar Allea tubuhnya berbalik hendak mengambil handphonenya yang ada di belakang


"Itu bahaya" Max menghentikan mobilnya saat Allea berusaha meraih handphonenya sampai harus menungging di kursi tempat dia duduk


"Kamu gak tau itu bahaya? Kalo kamu terjungkal gimana? Cuma demi balas pesan dari pria lain kamu sampai seperti itu? " Max terlihat sangat marah wajahnya jadi menyeramkan


Max kembali merampas handphone dari tangan Allea dan benar benar membanting nya dengan keras ke belakang, Allea melihat handphonenya mati dengan kondisi tidak baik


Allea memalingkan wajahnya seraya menggaruk tengkuknya, dia melakukan kesalahan dan telah membuat suaminya marah


Allea menyesal melakukannya dia hanya ingin membuat suaminya cemburu ternyata dugaannya lebih dari itu, Allea mengepalkan tangannya di atas paha menggoyangkan kakinya agar tidak terlihat gemetar


Allea melirik wajah suaminya yang masih menatapnya tajam lalu kembali memandang ke arah jendela berpura-pura menulis sesuatu di kaca, Max masih tidak bicara dia juga tidak melanjutkan perjalanannya


"Bisa kita pulang? Aku sedikit pusing" Lirih Allea melirik Max sebentar lalu kembali menunduk memainkan kukunya


"Maaf" Lirih Allea mengikuti langkah Max ke dapur, namun Max tak bergeming


"Aku minta maaf" Allea terus mengikuti langkah suaminya


"Aku gak balas pesan dia" Max masih mendiamkan Allea, dia berjalan menuju kamarnya


"Sayang maaf" Allea merengek menarik ujung baju Max


Max pergi begitu saja tidak menghiraukan Allea bahkan ketika dia masuk kekamar dia langsung menutup pintu tepat di hadapan Allea, Allea terlonjak mengerjapkan matanya hampir saja hidungnya terkena pintu


Allea masuk ke dalam kamar dia melihat asap dari balkon sudah dapat di pastikan suaminya sedang merokok, benar saja Max sedang melihat anak anaknya bermain bola dengan bibi di bawah


Allea tiba tiba datang memeluk Max dari belakang mengusap kepalanya di punggung suaminya, namun Max melepaskan tangan Allea dan menyuruhnya pergi


"Pergi" 


"Aku gak mau" Allea kembali memeluk Max


"Aku bilang pergi, menjauh dari sini" 


"Maafin aku.. Aku gak akan pergi" Allea semakin mengeratkan pelukannya


"Pergi Allea, kalo kamu disini.. " Belum selesai Max bicara Allea sudah memotong pembicaraan


"Kamu ngusir istri kamu sementara tadi kamu di elus tangannya gak ngomong apa apa, selalu ada wanita di sekeliling kamu, aku ngerasa kamu bukan Max yang dulu lagi"


"Pergi dulu Allea, aku lagi... "


"Kamu ngusir aku berulang kali aku gak akan pergi"


"Allea aku lagi.."


"Kamu lebih suka di peluk cewek lain dari pada istri kamu sendiri? "


"Bukan gitu.. "


"Kalo kamu udah gak sayang lagi sama aku kenapa kamu gak bilang? Kamu bisa kembaliin aku sama ayah baik baik"


"Allea.. Pergi" Bentak Max membuat Allea terlonjak tangannya langsung terlepas dari tubuh Max


Max berbalik menatap wajah Allea bibirnya bergetar matanya mulai mengembun, Max mematikan rokok di tangannya lalu menyentuh lengan Allea namun Allea menepis nya


Allea berlari ke ranjang menelungkupkan tubuhnya wajahnya dia sembunyikan di bantal, Max menghampiri Allea lalu memeluknya berusaha membalikkan posisi tidur Allea


"Jangan begini kamu lagi hamil" Allea tidur terngkurap membuat Max khawatir


"Kamu gak usah sok peduli lagi, kamu udah gak sayang sama aku kamu gak mau di peluk sama aku kamu lebih suka di pegang pegang cewek lain" Allea menangis terisak , Max membalikkan tubuh Allea namun wajahnya tetap dia tutup dengan bantal


"Bukan gitu sayang kamu selalu menyela.. " Lagi lagi Allea menyela ucapan Max


"Apa? Kamu suruh aku pergi? Aku pulang sama anak anak nanti ke rumah ayah kamu gak usah khawatir"


"Apa karena aku udah punya banyak anak kamu jadi gak tertarik lagi sama aku? Apa aku udah gak enak lagi buat kamu" Hampir saja Max tertawa mendengar kata gak enak lagi yang di ucapkan Allea


"Gak enak apanya? " Tanya Max menahan tawanya, Allea hanya diam dia merutuki kata katanya


"Kamu selalu enak dalam keadaan apapun dengan gaya apapun, kapanpun dan dimana pun" Allea jadi malu sendiri, wajahnya sudah semerah tomat sekarang


"Pergi sana aku mau tidur" Usir Allea, max malah semakin merapatkan tubuhnya


"Kamu mau yang enak enak gak? " Goda Max


"Gak.. Kamu udah gak sayang lagi sama aku, padahal aku selalu sayang sama kamu, aku setia lima tahun nunggu kamu meskipun awalnya aku pikir gak mungkin tapi aku gak bisa jalani hidup aku tanpa kamu, aku gak bisa Terima pria lain di hati aku" Max menarik paksa bantal dari wajah Allea lalu memeluknya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Max


"Aku juga sayang sama kamu, aku gak nyuruh kamu pergi dari hidup aku, aku cuma nyuruh kamu pergi karena aku lagi merokok itu gak bagus buat ibu hamil kamu kan dokter masa gak paham? " Ucap Max


"Kenapa harus bentak bentak? Kamu juga hancurin HP aku"


"Aku kesel cuma gara gara HP kamu hampir bahayain diri kamu sendiri, aku bentak kamu karena kamu terus menyela omongan aku jadi salah paham kan? " 


"Kamu belum  minta maaf " Ucap Allea


"Maaf sayang aku gak niat bentak kamu, nanti kita beli HP baru ya? " Bujuk Max


"Beneran? " Allea mendongakkan wajahnya menatap wajah Max


"Kamu bebas pilih nanti, sekarang peluk aku kita tidur" Max mengecup singkat bibir Allea dan meraih tangan Allea lalu menaruhnya di atas pinggangnya


Mereka tertidur saling memeluk ketika anak anaknya masuk, Ello dan Ellia ikut tidur di belakang keduaya, mereka memeluk papa mamanya lalu ikut memejamkan mata