
Setelah Cindy sembuh dan pulang ke rumah Allea kembali di buat jengah dengan tingkah tingkah Cindy yaang kerap mengganggunya, Allea tidak melakukan apapun dia hanya diam bahkan tidak mengatakan apapun pada sang Ayah
Meskipun kakinya sempat terkilir karena ulah Cindy yang menuang minyak di kamar mandi Allea tetapi allea hanya mengatakan bahwa dia ceroboh pada ayahnya
Hari ini rumah mereka sedang di dekorasi untuk acara ulang tahun pernikahan Gibran dan Emile, Allea juga turut membantu sementara Cindy hanya diam saja bersantai memainkan Handphonenya
"Sudahlah sayang diam saja buat apa ayah bayar mereka kalo kamu ikut sibuk? nanti kaki kamu tambah parah" ucap Gibran
"Allea cuma bantu dikit dikit yah jenuh juga diem terus"
"Lebih baik sini ikut ayah kamu juga harus coba beberapa baju yang ayah pilihkan" Allea akhirnya pergi mengikuti sang ayah
Di sebuah ruangan Cindy dan Emile sudah lebih dulu memilih baju yang mereka inginkan, Gibran mencari sesuatu yang sudah dia siapkan untuk Allea namun tidak ada di sana
"Gaun yang di kotak hitam mana ya? " tanya Gibran
"Yang ini? " Cindy mengangkat kotak yang di maksud
"Iya, tolong bawa kesini"
"Dad aku mau yang ini, daddy beli ini buat aku kan? " ucap Cindy
"Bukan itu gaun Allea, kamu pilih yang lain aja masih banyak" Gibran mengambil kotaknya namun Cindy menarik kotak tersebut
Terjadi saling tarik menarik di antara mereka Cindy yang sudah menyukai gaunnya tiidak mau menyerahkannya apa lagi gaun itu akan di berikan pada Allea
"Ayah udah gak apa apa Allea pake yang lain aja" Allea menengahi mereka
"Allea aja gak masalah ini buat aku aja" Cindy menarik kotaknya dari tangan Gibran
"Ya sudah kamu boleh ambil gaunnya tapi sini kotaknya" Cindy senang bisa menang dari Allea akhirnya memberikan kotak tersebut
Namun setelah kotak itu di buka bagian bawahnya ternyata ada sebuah kalung yang sangat cantik dan bisa di pastikan harganya sangat mahal, Emile dan Cindy sampai di buat menganga dia menyesal memberikan kotak itu
"Kenapa cuma Allea yang di kasih kalung? " Tanya Cindy yang sedang merajuk
"Kalian sudah punya kalung mahal, apa salahnya Allea punya satu" jawab Gibran
"Sekarang ikut ayah kamu bisa pilih gaun yang kamu suka" Gibran membawa Allea pergi membuat Cindy semakin menghentakkan kakinya
.
.
Persiapan malam itu sudah 100% tinggal menunggu jalannya acara, Allea ingin dia di make up di kamarnya sendiri dia tidak ingin kali ini di acara penting ayahnya Cindy membuat ulah padanya
Para tamu undangan sudah datang memenuhi rumah Gibran para kolega juga sedang berbincang dengan Gibran dan Emile juga Emile memperkenalkan Cindy dan membangga banggakannya yang di puji para pengusaha muda
Allea yang baru saja keluar dari kamarnya hanya tersenyum miris melihat ayah dan keluarga barunya yang sangat bahagia, posisi kamar yang ada di belakang para tamu membuat Allea tertutupi kerumunan
Saat Allea hendak pergi ke luar untuk menunggu teman temannya yang dia undang Cindy memanggilnya berniat untuk mempermalukannya, Cindy sudah yakin ayahnya tidak akan mengakui keberadaannya di hadapan koleganya
Allea mengangguk patuh seraya tersenyum menghampiri mereka, Siapa sangka Gibran mengulurkan tangannya menggandeng anak gadisnya yang sangat cantik malam itu
Gaun Allea sebelum di robek, dan make up nya ini setelah di make over sama Gita
Gaun Cindy yang dia rebut dari Allea
"Kamu mirip ibumu" bisik Gibran membawa Allea bergabung dengan mereka
"Dan siapa ini tuan? cantik sekali" puji salah satu dari mereka
"Benar benar kecantikan yang alami"
"Sepertinya dia masih sekolah ya tuan? "
"Apa dia saudara anda? " lebih banyak pertanyaan yang mereka lontarkan karena penasaran dengan sosok gadis cantik yang di gandeng Gibran hingga keberadaan Emile dan Cindy tidak di hiraukan
"Perkenalkan anak gadisku" Ucap Gibran membuat Emile dan Cindy di buat kembali menganga
Mereka tidak percaya Gibran akan memperkenalkan Allea pada mereka apa lagi ada media yang menyoroti kabar tersebut
"Para hadirin sekalian saya perkenalkan anak tertua dari Almh istri pertama saya Allea Anastasya Wilson, jangan bertanya sekarang karena malam ini kita harus menikmati pesta yang saya khusus buatkan untuk menyambut kembalinya anak saya" ucap Gibran dengan lantang menambahkan namanya di belakang nama Allea, suara tepuk tangan riuh terdengar dengan berbagai ucapan
Allea berkaca kaca dia menatap ayahnya dengan tatapan sendu, Gibran tersenyum memeluk putrinya sementara dua orang di belakang sudah keluar tanduk saking kesalnya
"Selamat datang kembali putriku, jangan sungkan anggap aku seperti ibumu" Emile berakting memeluk Allea untuk mendapat perhatian orang orang, Allea tentu saja tersenyum kikuk dengan perlakuan Emile yang berubah 180°
Saat berjalannya acara pesta Allea memilih keluar dia benar benar tidak nyaman berada di sana apa lagi para pengusaha muda mau pun duda tua kerap mendekatinya membuat Allea risih
"Mana sih mereka" Allea menunggu teman temannya di luar
Sebuah mobil baru saja terparkir keluar keluarga Damian tanpa Max disana, dia tahu kenapa kemarin Max begitu murung dan terlihat putus asa mungkin karena orang tuanya tidak juga mengatakan kebenarannya pada Danendra
"Allea lo juga disini? " tanya Danendra kegirangan melihat allea yang sudah beberapa minggu tidak di temuinya
"Gadis ini tamu juga? " ucap Damian memandang Allea dengan aneh
"Sayang kenapa gak masuk? " tanya Lidya
"Lagi nunggu temen bun, silahkan masuk" Allea hanya menjawab pertanyaan Lydia
"Allea lo temenin gue ya" ucap Danendra
"Gak usah macam macam Danendra Cindy bisa marah nanti, ayo masuk" Damian menarik tangan Danendra dan Lydia untuk masuk meninggalkan Allea sendiri
"Lo dengarkan om Damian lebih suka gue dari pada lo, jadi jangan sok cari perhatian sama Danendra" ucap Cindy yang tiba tiba muncul dari samping rumah bersama dua temannya
Belum sempat Allea bicara mereka menyeret Allea ke samping rumah yang sepi dengan dua temannya memegangi tangan Allea
"Lo gak pantes ada di keluarga gue, kalo dasarnya emang kampung ya kampung aja" Cindy mengambil tissu basah dan mengucapkannya ke wajah Allea
Juga mengambil gunting merobek gaun bagian depan Allea, gadis itu meronta namun tidak ada siapapun yang membantu sampai satu dari teman Cindy mengaduh saat rambutnya di jambak seseorang hingga berantakan
"Macem macem lo ya sini biar gue bikin muka lo rata sama kepala lo botak sekalian" Gita menjambak rambutnya hingga tubuh gadis itu duduk di tanah lalu melakukan hal yang sama yang di lakukan Cindy pada Allea
"Lawan kenapa sih lo lemah banget? lo harus bisa lindungin diri lo sendiri " ucap Max membuat Allea kesal menarik tangannya yang di pegang Max
"Marah dia bro" ucap Dito seraya menepuk punggung Max melihat Allea membawa Gita pergi dari sana
"Aneh kenapa marah sama gue? " gumam Max
Hanya Dito Gita dan Max yang pergi tanpa bersama orang tuanya sementara temannya yang lain datang bersama orang tuanya setelah mereka, Max dan Dito menyusul Allea ke kamarnya yang untungnya ada di belakang pesta
"Gimana nih.. gue takut ayah marah" Allea frustasi melihat gaunnya robek
"Lo ganti yang lain aja" jawab Gita
"Itu masalahnya Gita gue gak punya gaun lagi" ucap Allea seraya menutupi wajahnya
"Buka baju lo" ucap Max
"No, are you crazy? " pekik Allea
"Buka di kamar Mandi gue gak nyuruh lo buka disini" Ucap Max membuat Allea gelagapan Gita dan Dito menahan rasa ingin tertawanya melihat wajah Allea yang sedang malu
"Ya udah lo urus bajunya gue bantu benerin Make up di kamar mandi aja" Ujar Gita seraya mengambil peralatan Make up Allea
Max mulai menggelar baju tersebut di atas ranjang dia memikirkan cara bagaimana agar baju tersebut bisa di perbaiki tanpa di jahit karena robekannya sangat fatal tidak bisa di perbaiki
Max mengambil gunting dan menggunting bagian depan baju Allea membuang sisa robekannya, terserlah nanti Allea akan marah padanya hanya itu yang bisa dia lakukan, Dito hanya diam memperhatikan Max tanpa membantu karena takut nanti di salahkan jika Allea marah
"Udah selesai "Max mengulurkan tangannya ke kamar mandi dengan pintu yang sedikit terbuka
" Whaaaat? " pekik Allea dari kamar Mandi saat menggunakan gaunnya
"Max apa ini" Allea memperlihatkan gaun yang depannya pendek dengan bagian belakang tetap panjang
"Robekannya gak bisa di perbaiki Allea cuma ini jalan satu satunya"
"Tapi ini pendek banget" rengek Allea
"Tapi menurut gue bagus Kok" Gita memutar tubuh Allea dengan gaun yang depannya sudah pendek satu jengkal dari lutut
"Iya sih tapi pendek" lirih Allea
"Udahlah lo cantik pake apapun, ayo keluar" Max menggandeng tangan Allea keluar dari kamarnya diikuti Gita dan Dito
Semua mata tertuju pada mereka begitu orang tua Max dan Gibran , Gibran sempat syok melihat Make up Allea yang tadinya natural jadi lebih berani dengan gaun yang berubah pendek
"Kenapa ini? " ucap Gibran pelan saat mereka mendekat
"Anak om yang lakuin ini, sampe sampe kita harus ulang dandanin Allea" bisik Gita membuat mata Gibran menatap tajam pada Cindy
"Kenapa gadis ini ada disini? " tanya Damian
"Dia anakku dari istri pertamaku" jawab Gibran
"Dia anak Naina?" tanya Lydia dengan mata berkaca kaca menghampiri Allea
"Kenapa gak bilang sama bunda nak? " tanya Lidya yang semula memegang kedua bahu Allea kini memeluknya
Lidya adalah teman baik Naina sejak kuliah namun saat masing masing memiliki keluarga mereka jadi jarang bertemu apalagi dulu Damian dan dirinya tinggal di luar kota
"Allea baru tahu akhir akhir ini Bun" kenyataan itu membuat Damian merasa malu dia merendahkan orang lain tanpa tahu seperti apa kehidupan orang tersebut
"Allea gue boleh dansa sama lo kan? " tanya Danendra yang melihat Gita dan Dito sudah lebih dulu ikut bergabung bersama banyak orang
"Sorry gue gak bisa, semuanya saya permisi" pamit Allea dengan sopan hendak mencari Max yang sedari tadi menghilang saat melihat kedua orang tuanya
"Lagi ngapain? " tanya Allea melihat Max duduk sendiri memegang gelas wine
"Jangan mabuk disini please" pinta Allea mengambil gelas tersebut dan meletakkannya
"Apa lo merasa gak nyaman disini? kita bisa pergi " lanjut Allea seraya duduk di samping Max dengan menggenggam tangannya
"Gak, ini pesta lo jangan pergi kemana pun" ucap Max
"Gue mau dansa sama lo" Allea menarik tangan Max yang masih duduk tidak bergerak sedikit pun
"Gue gak bisa"
"Anggap aja sebagai permintaan maaf karena lo udah potong pendek gaun gue"
"Ish itu gue bantuin lo, seharusnya gue yang dapet imbalan"
"Kalo gitu anggap aja dansa sama gue sebagai imbalan" Allea tidak mau kalah membuat Max menggeleng gelengkan kepalanya
"Cepet atau gue dansa sama om om" ancam Allea seraya menangkup kedua sisi wajah Max dengan wajah mereka sangat dekat
"Silahkan" singkat Max membuat Allea lemas
"Oke" Allea hendak mendekati om om dengan perut buncit namun Max menarik tangan Allea hingga punggungnya membentur dada bidang Max
Allea dan Max kini berada di lantai dansa berbaur dengan yang lain, Allea terlihat kadang tertawa sampai menempelkan keningnya di dada Max sambil tertawa namun Max hanya dengan ekspresinya yang datar
"Max lo liat orang botak yang disana, palanya ampe bersinar ke sorot lampu" ucap Allea memberi kode dengan lidahnya yang menyembul di pipi seraya terkikik geli sendiri
"Julid banget sih" Max memencet hidung Allea gemas
"Abisnya lo gak ada ekspresinya sama sekali gue coba cari hiburan sendiri"
Max melingkarkan tangannya di pinggang Allea sementara gadis itu menarik setiap sudut bibir Max menciptakan lengkungan
"Senyum.. kalo gitu kan ganteng, uluuhh gumush" Allea mencubit kedua pipi Max
"Geli, jijik tau gak" kini Max benar benar hampir tertawa melihat tingkah Allea yang bicara seperti anak kecil
Danendra terus memperhatikan Max dan Allea hingga tidak fokus pada dansanya dengan Cindy, Danendra sering menginjak kaki Cindy membuat gadis itu kesal
Berulang kali memalingkan wajah Danendra namun lagi lagi dia menoleh menatap ke arah Allea yang sedang terkekeh dengan Max
Jangan lupa like komen dan vote ya