
Semua murid berbaris satu persatu di absen menaiki bus semua gembira saat dalam perjalanan, Allea duduk dengan Gita dan Max duduk di sebrang mereka sesekali Max melirik Allea yang sedang tertawa dengan teman temannya. Dito dan Bagas sampai duduk terbalik agar bisa berhadapan dengan Allea semetara Sandro dan Desta berdiri di kursi belakang
"Le, Max liatin lo tuh" Gita menyenggol lengan Allea
"Jangan kepedean Gita itu gak mungkin" Allea melirik kearah Max yang sedang memejamkan matanya
"Gue serius tadi dia lirik lo terus"
"Oohh berarti lo dong yang perhatiin dia, ciieee Gita" Allea menggoda Gita menggelitik perutnya
"Hhaha apaan sih geli"
"Si Gita kalo suka bilang aja" celetuk Dito dan langsung mendapat jambakan dari Gita
"Sakit beg* " Dito menoyor kepala Gita
"Udah perjalanan masih jauh kita tidur aja" Allea menengahi
2 jam perjalanan akhirnya bus mereka sampai di tempat tujuan, Allea berjalan masih dengan mengucek matanya tiba tiba dari belakang Cindy berlari menabrak tubuh Allea hingga terjatuh
"Awww" Allea memegangi lututnya celananya sampai robek dan berdarah
"Lo gak apa apa" Danendra membantu Allea berdiri
"Kaki gue" Allea meringis
Kelima temannya datang dan langsung membawa Allea untuk diobati, Gita mengobati Allea sementara teman laki laki mendirikan tenda, satu tenda diisi dua orang
"Udah ayo kita ke tenda kayaknya udah jadi" Gita memapah Allea
.
.
Malam hari mereka menyalakan api unggun
mereka membuat lingkaran mengelilingi api unggun nya, Mereka bernyanyi tertawa bersama. Allea menatap sekeliling disana tidak ada Max dia berdiri mencarinya
"Mau kemana? " tanya Gita menarik kembali tangan Allea agar duduk
"Ada yang mau gue ambil"
"Jangan lama lama " teriak Gita
Allea pergi dari sana mencari Max, di pesisir pantai terlihat seseorang sedang duduk di pasir menatap deburan ombak di laut Allea melangkah mendekatinya
"Max, ngapain disini? " tanya Allea duduk di samping Max
"Ngapain kesini? sana pergi" usir Max
Allea mencebikkan bibirnya seraya duduk di samping Max
Allea menatap Max yang hanya diam menatap lurus kedepan
"Max" panggil Allea
"Hmm" singkat Max
"Mau susu gak? " Allea menyodorkan gelas yang di pegangnya
Max spontan melirik Allea dia tersenyum miring menggoda Allea membuatnya gelagapan, Allea segera menyodorkan gelas yang dia pegang kehadapan Max
"Ini masih hangat" ucapnya dengan cepat
"Gue bukan anak kecil, minum aja sendiri" ucap Max kemudian menyesap rokoknya
"Dari pada ngerokok gak baik buat kesehatan, mending uangnya di tabung satu Tahun bisa beli motor baru tuh" ucap Allea mereguk gelas berisi susu
"Lo gak ngerokok udah kebeli apaan? " Max kembali menyesap rokoknya
" Gak ada heee" Allea menggaruk tengkuknya
Allea masih saja bicara panjang lebar membuat Max kesal, dia ingin sendiri tapi Allea mengacaukannya dengan kesal Max merebut gelas di tangan Allea dan meneguknya sampai habis
"Nih udah abis, sana pergi" Max menyimpan gelasnya kasar ke pangkuan Allea
"Iihh itukan bekas gue"
" Bodo amat, sana " Max mendorong dorong bahu Allea
" Iihh gue mau disini " Allea menolak pergi
" Allea ngapain disini? " Tanya Danendra yang baru saja datang
'' Gak ngapa ngapain, lagi nemenin Max aja, iyakan Max? "
" Ayo balik ke tenda" Danendra mengulurkan tangannya
Mereka kembali ke tenda bergandengan tangan sebagian murid sudah berada di tenda masing masing dan sebagian masih ada di depan tenda, Cindy yang melihat Danendra menggenggam tangan Allea mencengkram gelasnya dengan erat
"Cin liat tuh si Allea udah selangkah di depan lo" bisik temannya Cindy
"Gue gak Terima pokoknya lo berdua harus bantuin gue besok"
.
.
Selvi dan Jeremy sedang makan malam di sebuah restauran Kebetulan Oma juga mengadakan arisan disana, Oma hendak pulang arisan melewati kursi pengunjung lain pandangan mereka bertemu saat Selvi hendak kabur Oma memanggilnya membuatnya mematung
"Selvi kamu di Indonesia? " Oma mendekati Selvi
Selvi berbalik menghadap Oma wajahnya terlihat angkuh namun matanya tidak bisa berbohong ada perasaan bersalah dalam diri Selvi terlihat matanya mulai mengembun tapi dia berusaha menstabilkannya
"Ada apa Nyonya, ada keperluan apa? " tanyanya dengan nada sinis
"Kenapa kamu tidak menemui Max? dia sangat merindukan ibunya" ucap Oma
"Dia sudah punya keluarga baru untuk apa saya memperdulikannya'' ucap Selvi
" Lalu buat apa kamu hadir saat dia sudah bahagia dengan keluarga barunya? apa kamu sengaja ingin menghancurkan kebahagiaan mereka? jangan pikir saya tidak tau semua kelakuan kamu, kalo saya angkat bicara saya jamin anak kandung kamu akan lebih rapuh dari Max" ucap Oma kemudian pergi
Selvi mendudukan dirinya kasar dia memijat keningnya, air matanya tidak bisa di bendung lagi tapi dia berusaha menghapus air matanya
"Apa mungkin dia tahu yang sebenarnya? " tanya Jeremy yang sedari tadi hanya melihat perdebatan mereka
"Aku gak tau, gimana kalo dia sampe bilang yang sebenarnya" Ucap Selvi dalam isak tangisnya
"Udah udah jangan nangis lagi malu di liatin orang, ayo pulang aja" Jeremy memapah Selvi
.
.
Di kediaman Cindy Gibran Daddynya Cindy sedang berada di ruang kerja, dua duduk sambil memegangi sebuah foto dia mengusap foto itu lalu menyimpannya kembali saat pintu terbuka
"Masih ingat perempuan yang sudah berkhianat? " ucap Mommy Cindy
"Dia perempuan yang aku cintai bertahun-tahun bahkan setelah dia melakukan kesalahan, kita juga salah sudah diam diam mengkhianatinya''
" Lalu kenapa kamu mau melakukan itu? apa kamu menyesal sekarang? " bentaknya
Tanpa menjawab pertanyaan Mommy Cindy Gibran pergi begitu saja dia sebenarnya ragu jika mantan istrinya itu berselingkuh tapi dia terus saja di doktrin oleh Mommy Cindy
.
.
Keesokan harinya di perkemahan semua murid sedang di tugaskan mencari kayu bakar Allea, Bagas, Dito dan Gita satu kelompok mereka mencari kayu bakar bersama saat semua sedang memungut kayu Allea pergi ke arah lain, Allea merasa ada yang aneh dengan penanda jalannya tapi dia meneruskan langkahnya
Allea melirik sekitar hutan menjadi sangat lebat dengan pepohonan dan semak semak Allea tidak melihat pijakan nya membuatnya terperosok dan bergelantungan memegangi akar pohon di bawahnya tanah terjal yang cukup tinggi dengan bebatuan
"Tolong... tolongg.. toolooonngg" Allea berteriak sekeras mungkin
Tangannya sudah tidak kuat menggenggam lagi jarinya mulai merenggang Ketika tangannya terlepas sebuah tangan meraihnya
"Tolong Max" Allea terisak meminta pertolongan
Max mengangkat tubuh Allea namun nahas ketika Max sudah menaikan Allea dan merangkulnya kaki Allea tergelincir dan mereka berdua jatuh terguling dengan Max memeluk Allea, Melindunginya wajah Allea dengan memeluknya
"Aakkhhh'' Max meringis kala mereka berhenti
"Max sakkiiittt" Allea menangis tubuhnya terasa sakit dengan luka goresan di siku dan kakinya
"Lo gak apa apa? " Max membangunkan Allea
"Sakit" Allea menangis melihat sikunya
Untung saja Allea memakai jaket jadi lukanya tidak terlalu parah tapi punggung Max banyak terluka karena hanya memakai kaos panjang dan ada luka di dahinya
Max memapah Allea tanpa memperdulikan lukanya yang lebih banyak dari Allea, Allea melirik kebelakang punggung Max dia berhenti berjalan dan memutar ke belakang tubuh Max
"Max lo luka lebih parah" Allea memegang punggung Max
"Aakkkhhh, gak usah di pegang'' ketus Max
"Kita pulangnya gimana? gue takut huaaaa" Mendengar tangis Allea yang keras Max menutup telinganya