
"Aku udah gak kuat, udahan ahh hah hah" Allea terbaring bercucuran keringat
"Ayolah sekali lagi"
"Aku udah lemes" pekik Allea berangsur menjauh dari Max
Max menarik kaki Allea hingga kembali berbaring dengan terpaksa Allea melakukan semua yang di perintahkan Max
"Ya lakukan seperti itu" ucap Max
"Aku udah gak kuat, kayaknya aku harus pingsan" Allea memejamkan matanya sambil berbaring
Max membangunkan Allea namun dia tidak kunjung membuka matanya, Allea merasa sesuatu menyentuh bibirnya membuatnya membuka mata secara langsung
Karena Allea tidak melanjutkan sit-upnya akhirnya Max yang pushup di atas tubuh Allea, ketika tubuhnya turun ke bawah dia mencium bibir Allea begitu seterusnya
"Max.. berhenti.. nanti.. ada..yang.. liat" Kalimat Allea terpotong potong karena Max mengecup bibirnya sambil pushup
Max tidak mendengarkan Allea dia melanjutkan pushupnya di atas tubuh Allea sambil mengecupi bibirnya
"Ehemm... " satu suara mengagetkan Max membuatnya terjatuh menimpa tubuh Allea
"Hempptt, kamu berat" pekik pekik Allea tertahan
Max memeluk Allea menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan sport br* "Apaan sih lo ganggu mulu" gerutu Max pada Danendra
"Lo alesan doang mau olahraga padahal modus" ledek Danendra
"Siapa yang modus? udah sono sono jangan lama lama liatin istri orang"
"Cih.. istri apaan sebelum janur kuning melengkung masih bisa di tikung iya ga Lea? " goda Danendra menaik turunkan alisnya
"Janur kuning janur kuning, gue kasih elu bendera kuning" kesal Max
"Udah sono pergi ngapain masih disini"
''Ya udah sih ngapain di pelukin terus, pelit lu" hardik Danendra
"Ehh anak tuyul, bini gue cuma pake B H jangan jangan elu yang modus kesini pengen liat"
"Tau aja hahahah" Danendra tertawa mendengar Max takut Allea di lihat orang tapi malah sengaja memberinya sport br* seperti itu
"Pergi gak, jangan sampe gue kejar dan bikin pincang tuh kaki satu lagi"
"Iya.. iya gue pergi, huh pelit" Danendra meninggalkan mereka berdua berjalan terpincang-pincang menggunakan tongkat
"Ya udah Danendranya udah pergi ngapain masih peluk peluk? " tanya Allea
"Udah nyaman" singkatnya seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allea
"Max geli, jorok banget iihh aku kan keringetan"
"Keringet kamu wangi" Jawab Max, hembusan nafas Max terasa hangat di ceruk leher Allea membuatnya meremang
"Max bunda udah pulang" teriak Danendra memberi kode siapa tahu Max sedang macam macam dengan Allea
"Heh bocah itu ngerjain lagi" ucap Max
"Kalo bunda beneran pulang gimana? cepet bangun aku malu" Allea dengan sekuat tenaga membuat Max bangun namun percuma tubuhnya terlalu berat
Max masih menikmati aroma keringat Allea dia enggan menjauhkan wajahnya dari leher Allea "Max bangun.. lepasin aku" pekik Allea
"Maxime.. apa yang kamu lakukan" suara seseorang yang sangat familiar membuat Max langsung menjauh dari tubuh Allea
"Bu.. bbunda"
"Apa hah? kamu nakal ya hmm, kamu apain anak gadis orang sampe teriak hah?" Lydia dengan geram menjewer telinga anaknya itu
"Aduhh bun sakit" rengek Max
"Sayang kamu mandi dulu ya biar anak nakal ini bunda yang urus" Allea mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya dan melesat pergi ke kamarnya
"Ngapain tadi? " tanya Lydia
"Olahraga bunda apa lagi" jawabnya santai
"Olahraga apaan sampe anak orang teriak teriak, kamu masih kecil juga udah peluk peluk anak orang" gerutu Lydia
"Apa lagi kalo bikin bunting abis kali gue" gumam Max hampir tidak terdengar
"Hehehe gak ada bun, nikahin saya sama Allea dong bun" rengek Max duduk seraya menarik narik baju bawah Lydia seperti anak kecil meminta mainan
"Nikah nikah.. cara mintanya aja masih kayak anak kecil mau minta nikahin anak orang" ledek Lydia
"Saya serius bun"
"Bunda tanya ngapain kamu mau nikah? umur kalian aja masih kecil nanti juga ada waktunya " jawab Lydia dia merasa Max hanya terlalu nyaman bersama Allea tidak bersungguh-sungguh dengan niatnya
"Mau" Max memperagakan dengan menguncupkan tangan dan mengadukan tangannya
"Astaga anak ini, tau ahh bunda pusing ngadepin kamu yang sekarang.. kalo berani ngomong aja sama ayah" Lydia benar benar tidak habis pikir dengan kelakuan Max sejak bersama Allea
"Oke.. nanti Saya izin sama ayah" Jawab Max santai
"Ya ampun ini anak satu kenapa bikin sakit kepala" gumam Lydia tidak bisa berkata kata lagi meninggalkan anaknya yang lagi korslet
.
.
Setelah makan malam untuk pertama kalinya keluarga Damian utuh berkumpul di ruang keluarga, meskipun terasa canggung tidak ada yang bicara pada awalnya mereka hanya fokus pada televisi dan handphone masing masing
Allea menoleh kiri kanan dia merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini, Lydia menyadari Allea yang gelisah mulai bertanya
"Kenapa sayang? " tanya Lydia membuat semua orang menatap padanya
"Ehh.. eng.. enggak kok bun"
"Kamu mau sesuatu? " tanya Max
"Enggak"
"Udah izin sama ayah nginep disini? " tanya Lydia
"Bun.. " panggil Max spontan Lydia langsung menoleh
Max memberi kode pada Lydia agar tidak menanyakan tentang Gibran, Lydia hanya mengangguk seolah tau Allea dan Gibran sedang ada problem
Lydia merangkul Allea yang duduk di sampingnya "Gak papa kamu tinggal disini selama yang kamu mau bunda seneng ada yang nemenin, manusia disini semuanya suka ninggalin bunda sendiri di rumah kalo ada kamu kan ada teman"
"Makasih bun" lirih Allea, Lydia membawa Allea kedalam dekapannya
Allea merasa nyaman berada di dekapan Lydia, dekapan hangat seorang ibu yang sudah lama dia inginkan.. Sejenak Allea merasa Damai sebelum Max bicara membuat tenggorokannya terasa tercekat
"Yah saya mau nikahin Allea" ucap Max tiba-tiba membuat semua menatapnya tak percaya bahkan Danendra yang sedang minum sampai tersedak
"Apa? nikah? " tanya Danendra
"Iya nikah" jawab Max menoleh pada Allea yang sedang melotot dan menggelengkan kepalanya
"Nikah setelah kalian dewasa ayah gak akan larangan, kenapa di bahas sekarang" Damian berpikir Max meminta izin menikahi Allea di masa depan
"Bukan nanti yah saya maunya dalam waktu dekat biar Allea gak bisa cari laki laki lain" ucap Max membuat semua orang menggeleng tak percaya termasuk Allea
"Kamu masih kecil pikiran juga masih labil ayah gak mau kamu suatu saat menyakiti hati Allea, nikah itu bukan perkara mudah" ucap Damian
"Tapi saya udah yakin, saya bisa menjaga komitmen, saya bisa cari uang" jawab Max
"Bukan hanya masalah itu Maxime, kehidupan setelah menikah tidak seindah yang kamu bayangkan orang tua Allea juga belum tentu setuju" ucap Damian
"Aku juga gak setuju, aku mau belajar dulu merintis karier aku belum siap" sergah Allea
"Dari pada pake cara pintas" ucap Max
"Cara pintas? " orang orang yang ada di dekat Max bergumam serentak
Max memperagakan tangannya di perut mengisyaratkan orang hamil, hal itu sontak membuat Damian dan Danendra melotot, Allea memukul lengan Max dan Lydia yang ada disamping Allea meraih telinga putranya dan menariknya
"Jangan macam macam kamu nanti bunda bikin putus telinga kamu" ancam Lydia
"Sayang kenapa kamu gak dukung aku, gak ada yang dukung aku" rengek Max pada Allea
Orang tuanya menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan sikap Max yang dulu dingin dan datar sekarang menjadi aneh seperti ini Danendra sampai berekspresi seperti sedang muntah mendengar rengekan Max
Wajah Allea jangan di tanya lagi dia sudah memerah menahan malu, rasanya ingin menghilang saja dari hadapan mereka.. Allea yang kesal sampai berpikir ingin menenggelamkan Max di laut pemuda itu sekarang benar-benar tidak punya malu sekarang