
"Papa gak ke kelja? " tanya Millie
"Lagi mau di rumah aja, kenapa gak boleh papa libur? "
"Emm.. jangan lama lama libulnya nanti aku sama adek gak bisa beli susu" cicit Millie
"Haha.. siapa yang bilang? " Max tertawa mendengar kekhawatiran sang putri jika ayahnya sudah tidak bekerja
"Kata sustel.. waktu aku gak bolehin papa kelja sustel bilang kalo papa gak kelja aku dan adek gak bisa beli susu " Jawabnya dengan menggemaskan
"Apa papa harus stok susu buat Millie dan adek biar papa bisa liburnya lama? " tanya Max, Millie tampaknya sedang berpikir dia tidak menanggapi gurauan Max
"Millie kenapa diem? " tanya Max
"Papa inget Lili gak? " tiba tiba saja Millie teringat Lili
"Ingat.. kenapa? bukannya Millie paling gak suka dia di rumah? " wajahnya tiba tiba murung
"Dia udah sembuh belum ya pa? "
"Dia udah baik baik aja, emang kenapa tiba tiba nanyain kabar Lili? " tanya Max
"Sukul deh, kasian pa gala gala maminya mau jatuhin mama jadi Lili yang jatuh, aku mau bilang tapi aku kasihan liat Lili, dia suluh aku jangan bilang siapa siapa.. maminya Lili jahat" cerocos Millie
"Jadi yang tumpahin minyak di tangga itu maminya Lili? "
"Iya kok papa tau? " mendengar hal itu wajah Max memerah seketika, Max mengantar Millie agar bermain dengan suster dan Michelle
Allea baru saja keluar dari dapur dia melihat raut wajah suaminya tidak bersahabat, rahangnya mengeras mengepalkan tangannya kuat kuat hingga urat di tangannya menonjol, Allea mengikuti Max yang masuk ke ruang kerjanya
"Saya minta besok sudah ada"
"Kirim ke asisten saya saja di kantor" lanjut Max, Max kembali menelpon seseorang ketika panggilan sebelumnya sudah dia matikan
"Siapkan panti asuhan buat anaknya"
"Kriminal? gue gak peduli, dia udah berniat membahayakan Allea"
"Siapapun gak akan gue sebut kalau pun ada yang tahu masalah ini" ucapan terakhir Max lalu memutuskan sambungan teleponnya
Allea mendengarkan sang suami yang sedang menelpon seseorang namun dia tidak tahu apa yang di minta Max pada orang tersebut dan untuk siapa panti asuhan tersebut
"Arabella.. habis lo sekarang" Teriak Max
Allea terkejut sampai menyenggol vas bunga di dekat pintu, mendengar suara barang pecah Max segera keluar, Allea jongkok di bawah memungut vas bunga yang pecah di lantai
"Sayang udah biarin nanti biar bibi aja" Max mengambil tangan Allea yang hendak mengambil pecahan vasnya
"Kamu gak apa apa? " Max mengecek tangan serta kaki Allea
"Gak apa apa kok.. maaf kamu jadi ke ganggu ya? " lirih Allea
"Gak apa apa, gak usah minta maaf justru aku khawatir kamu kenapa napa" Max memeluk serta mencium kepala Allea
"Nanti malem aku mau pergi sebentar, boleh ya? " Max membujuk Allea membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya
"Mau apa? mau kemana? pergi sama siapa" Tanya Allea serius memegangi baju bagian depan Max
"Masalah kerjaan sayang.. kalo gak percaya tanya aja asisten aku"
"Ya udah.. jangan bohong"
"Iya.. ini baby udah kelihatan belum jenis kelaminnya? " tanya Max seraya mengusap perut sang istri
"Belum.. kayaknya bulan depan deh, kalo mau tau nanti ikut ke rumah sakit aja"
"Kalo giliran kamu periksa aku kosongin jadwal meeting"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Om.. om.. Lili mau ketemu mami" Lili mengguncang tangan Bisma
"Maminya lagi sibuk dulu, main dulu sama bibi om mau berangkat kerja dulu"
"Kapan kami boleh pulang? "
"Besok ya.. Lili besok boleh pulang kita nunggu papi dulu"
"Jadi Lili pulang kerumah papi lagi? " Mata lili berbinar mendengarnya
"Emm.. om harus pergi, jadi anak baik ya" Bisma mengusap kepala Lili sebelum pergi
"Kok gue jadi gak tega ya" gumam Bisma kembali menoleh pada Lili setelah meninggalkanya cukup jauh
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Allea melihat Max sudah rapih dengan pakaian serba hitam, dia mendekati Max dan memeluknya dari belakang berusaha mengulur waktu agar suaminya tidak jadi pergi
"Aku kangen.. jangan pergi ya, temenin aku disini" ucap Allea
"Aku gak bisa, aku janji ini hari terakhir aku keluar malem"
"Tapi.. "
"Gak lama kok.. abis itu aku temenin kamu main sampe pagi" bisik Max menggoda Allea
"Kalo kamu pergi aku marah" Allea merajuk membelakangi Max seraya menyilangkan tangannya di dada
"Marahnya jangan lama lama ya.. " Max memeluk Allea lalu menciumnya dan pergi begitu saja
Mobil Max masuk ke rumah asistennya tidak berselang lama dia kembali keluar dan melajukan kembali mobilnya, Allea mengikuti mobil Max sampai berhenti di sebuah rumah besar
"Rumah kak Bisma? ngapain dia kesini? " Allea masih melihat Max mengobrol dengan Bisma di ambang pintu
"Lo pikirin lagi deh.. Dia masih punya anak kecil kasian gak sih kalo anak sekecil itu kehilangan ibunya? "
"Apa dia mikir waktu mau celakain Allea? dia tumpahin minyak supaya Allea jatuh dari tangga, anak gue banyak masih kecil apa dia juga mikirin anak anak gue? " Jawab Max
"Terserah lo deh, tapi anak itu lebih baik di kasih sama bapak kandungnya"
"Lo tau kan cowok itu gak mau tanggung jawab? dia akan lebih aman di panti asuhan, tenang aja gue yang tanggung semua kebutuhan dia" Max masuk meninggalkan Bisma sendiri
"Lo juga Arabella yang sengaja mancing kemarahan Max, gue gak nyangka dia berubah jadi sekejam ini" gumam Bisma seraya masuk
Allea menyelinap sangat kebetulan pintu rumahnya tidak di kunci, Allea melihat kemana Bisma masuk saat sedang bersembunyi tiba-tiba saja ada yang menarik bajunya
"Ibu.. ibu lagi ngapain? "
"Ssttt.. diam ya.. ibu lagi main petak umpet" gadis itu mengangguk seraya merapatkan tubuhnya dengan Allea seolah takut ketahuan
"Mami kamu dimana? " tanya Allea
"Di kamar itu, tapi mami gak pernah kelual om itu bilang besok kita bisa pulang setelah papi kesini"
"Lili pergi main dulu sama bibi ya.. " Allea mengantar Lili pada pelayan Bisma lalu kembali ke kamar yang di tunjuk Lili
"Jangan Max gue mohon.. gue masih punya anak kecil" Arabella menangis tersedu
"Apa lo pernah mikir juga gue dan Allea punya anak kecil? lo gak pernah mikir kan? apalagi Allea lagi Hamil"
"Gue nyesel Max sumpah gue akan pergi jauh, gue gak akan pernah muncul di hadapan kalian lagi"
"Gue lebih suka lo menderita, lo tau Satu suntikan aja lo hanya mampu bertahan hidup beberapa hari dengan kesakitan"
"Jangan Max jangan... gue mohon" Arabella berteriak dan meronta ketika Max mendekat, Bisma hanya membelakangi mereka tanpa mengatakan apapun dia tahu sepupunya sangat keras kepala apalagi semenjak dia menjadi Alexander kekejaman serta sifatnya masih melekat di dirinya
"Berhenti Alexander" pintu terbuka, Max seketika menoleh mendengar suara seseorang
"Sayang kenapa kamu kesini? " Max segera menghampiri Allea
"Lupain semua kemarahan kamu, aku cuma mau kita hidup Damai dan bahagia jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal seumur hidup" lirih Allea
"Apa yang kamu katakan? aku melakukan apa? "
"Aku tahu semuanya, Yuki dan suster aku tahu kamu yang melakukannya sekarang lepaskan Arabella dia masih mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan anaknya"
"Kamu tahu semuanya? "
"Aku denger sendiri kamu ngomong di telepon dan aku berusaha cari tahu, aku mohon ikut aku pulang" Allea mengulurkan tangannya, Max tidak menerima uluran tangan Allea karena dia menyembunyikan sesuatu di belakangnya
Allea melangkah mendekat memeluk Max seraya mengambil sesuatu yang dia sembunyikan, Allea memecahkan botol kecil tersebut lalu kembali mendekati Max dan membelai wajahnya
"Kamu Maxime bukan lagi Alexander, jangan melakukan hal hal yang di lakukan Alexander lagi.. aku tidak suka itu, kembalilah menjadi Max yang seutuhnya, kamu pria baik"
Max seperti anak kecil yang di nasehati oleh sang ibu dia hanya diam mendengarkan Allea, Allea membawa Max duduk seraya mengusap dada sang suami dia tahu Max sedang di kuasai amarah saat ini
"Lepasin Arabella ya.. biarkan dia pergi jauh" bujuk Allea lembut
"Aku gak bisa"
"Max.. "
"Apa jaminannya kalo dia gak akan celakain kamu lagi? atau bahkan anak anak kita? " Max bicara dengan tinggi
"Aku gak suka kamu yang seperti ini" lirih Allea dengan wajah sendu berdiri hendak pergi namun Max menahan tangannya
"Allea tunggu.. Oke aku lepasin dia tapi aku akan kirim dia jauh dari sini dibawah pengawasan anak buah ku, apa kamu puas? " Allea berbalik dengan senyuman manis mengecup bibir Max
"Bahagia sih bahagia gak usah cium cium bikin panas lo" Gerutu Bisma
"Gue nitip dia disini malam ini, besok gue kirim dia pergi jauh" ucap Max
"Bukannya dia disini udah beberapa hari?" sarkas Bisma
"Ya.. ya.. maksud gue jagain lagi dia malam ini"
"Apa imbalannya? "
"Terserah lo, nanti minta asisten gue aja" Jawab Max
"Gue mau istri lo, boleh? " Bisma sengaja menggoda Max
"Mau tangan kanan apa tangan kiri? " Max berbalik seraya menggulung lengan bajunya
"Hehe.. gue becanda, muka lo serem banget" Bisma tersenyum kikuk menggaruk tengkuknya
"Jangan macam macam" Allea hanya menggeleng, Max memeluk Allea membawanya pergi
"Gue mau mobil sport keluaran baru" teriak Bisma
"Terserah.. " Max menjawab dengan berteriak juga seraya melambaikan tangannya tanpa berbalik
"Lo liat? itu yang gak bisa di lakuin cewek lain, Meredam amarah si singa" Ucap Bisma pada Arabella
"Hei mau kemana? lepasin dulu ikatan gue" Arabella berteriak ketika Bisma keluar sementara dia masih terikat di kursi