
"Max tunggu" Miranda menghentikan Max yang hendak masuk ke dalam mobil
"Kemaren ada tas gue gak ketinggalan disini? " Max tidak menjawab dia menyerahkan tasnya lalu masuk ke dalam mobil dan pergi
"Kok dia gak ngomong sama gue? " gumam Miranda
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di rumah Allea sedang memakan buah yang sudah di potong oleh bibi, dia duduk sendirian di mini bar yang terletak di dapurnya
"Lagi ngapain? "
"Ehh.. kapan kesini? " ucap Allea pada Danendra yang baru saja masuk
"Gue kesini mau ajak lo sama Max pergi ke suatu tempat, gue udah siapin bajunya dan kalian harus pergi sore ini juga sama gue" ucap Danendra
"Kemana? lo pergi sama dia aja gue lagi males" Mendengar itu Danendra duduk di samping Allea
"Kalian lagi berantem? " tanya Danendra, Allea hanya menggedikkan bahunya
"Ayolah.. ini juga buat kalian"
"Gak mau" jawab Allea menggelengkan kepalanya
"Ayolah kakak ipar kan baik" Danendra menggoyangkan tangan Allea
"Ehem.. lagi ngapain kalian? " Max yang baru saja datang mengejutkan Danendra yang duduk dengan jarak dekat dan menyentuh lengan Allea
"Oke.. gue ikut, gue siap siap dulu" ucap Allea meninggalkan mereka berdua
"Kalian lagi ngapain? " tanya Max dingin
"Gue mau ajak kalian ke suatu tempat, please jangan nolak sekarang pake ini dan kita berangkat" Danendra menaruh paper bag ke dada Max dan mendorongnya agar cepat berganti baju
Saat Max masuk Allea sedang berada di kamar mandi dia menyelinap masuk kedalam kamar mandi, Allea sedang berdiri di bawah guyuran shower Max mendekapnya dari belakang
"Mandiin aku" bisiknya membuat Bulu kuduk Allea meremang
"Awas" Allea melepaskan tangan Max lalu berjalan melewatinya begitu saja tanpa handuk
Max menatap tubuh belakang Allea yang berlenggok sangat menggoda, dia terlonjak kaget saat Allea menutup pintu dengan kencang
"Haishhh... rasanya pengen ngarungin aja" gumam Max
Keduanya selesai mandi dan menuruni anak tangga, Danendra bertepuk tangan melihat keduanya yang tampak serasi namun wajah keduanya menunjukkan bahwa mereka sedang tidak baik baik saja
"Kalian sangat serasi" ucap Danendra
"Jangan banyak bicara, pergi atau tidak? " ketus Max
"Oke.. oke.. sabar"
Ketika sedang berada di dalam mobil Allea duduk di depan bersama Danendra dan Max sendiri di belakang, Danendra menatap keduanya dengan tatapan aneh
"Lo berdua kenapa sih? " tanya Danendra
"Gak kenapa napa" jawab keduanya serentak
"Apapun yang terjadi sama kalian jangan sampai mempengaruhi suasana disana nanti, ngerti? " Danendra memperingatkan
"Emang kita mau kemana? " tanya Allea
"Suatu tempat, gue kasih tau disana nanti pokoknya disana harus tampak serasi dan harmonis kalo kalian berantem keluarga kita akan malu"
"Maksudnya kita akan bertemu keluarga besar? " tanya Allea
Sesampainya di depan perusahaan Damian Max dan Allea terheran-heran kenapa Danendra membawa mereka kemari, Danendra menarik tangan Max dan Allea dan membuat keduanya berjalan bergandengan
"Cepet jalan" Danendra mendorong punggung keduanya
Damian dan Lydia duduk di depan dengan banyak microphone dan di hadapkan awak media, kedatangan Max dan Allea membuat wartawan menyoroti mereka yang berjalan mendekat di ikuti Danendra
"Duduk disini, gue akan perjuangkan hak lo" ucap Danendra lalu bergabung bersama Damian dan Lydia
"Apa maksudnya? " gumam Max
Damian mulai dengan kata pembukaan, kata demi kata dia ucapkan sampai pada puncaknya
"Dengan adanya konferensi pers ini saya mengangkat anak saya yang bernama Danendra alynskie sebagai penerus perusahaan ini, Danendra memang masih belajar dan baru saja masuk ke Universitas namun tidak dapat di ragukan lagi kemampuannya, dengan ini saya mengumumkan Danendra penerus yang sah. mohon para staf bisa bekerja sama dan membantu Danendra bila dia masih melakukan kesalahan" ucap Damian panjang lebar
Allea menatap Max yang ada di sampingnya meskipun terlihat tegar namun Allea juga tahu ada rasa sakit di hati Max, Allea menggenggam tangan suaminya matanya berkaca kaca begitu pula Lydia yang melihat anaknya tampak begitu tegar
"Jangan kasihani aku" ucap Max sambil tersenyum seraya mengusap air mata Allea yang mulai berjatuhan
"Aku mau pulang" lirih Allea
Entah kenapa malah Allea yang menangis padahal suaminya yang di perlakukan tidak adil, Max tersenyum berdiri menuntun tangan Allea
"Tunggu.. " suara Danendra menghentikan langkah Max
"Yang harusnya ada disini, yang harusnya mendapatkan posisi ini, yang harusnya kalian kenal sebagai anak sah keluarga Damian bukan saya" ucap Danendra dengan lantang
"Danendra hentikan" perintah Damian
"Saya berdiri disini untuk menyuarakan hak saudara saya yang tidak lain adalah anak kandung ayah saya dan bunda Lydia, kalian lihat pasangan serasi di sebelah sana? " para wartawan melihat kearah Max dan Allea
"Hentikan Danendra" Damian berusaha meraih Microphone dari Danendra namun Danendra menghindar
"Ya.. itu adalah Maxime Alexandria anak kandung sekaligus orang yang seharusnya menjadi penerus perusahaan ayah, saya hanya anak haram yang hadir mengacau di tengah tengah keluarga kalian. saya tidak ingin selamanya menjadi pengecut dengan menolak kenyataan bahwa saya yang anak haram bukan maxime" semuanya terdiam menunggu kelanjutannya
"Saya dulu mengolok olok dia karena saya menganggap dia penyebab hancurnya kehidupan ayah dan bunda saya, tapi saat kami tahu semuanya terutama saya tidak mengungkapkan yang sebenarnya karena saya takut, saya tidak mau di posisi Maxime dulu tapi seseorang menyadarkan saya bahwa bagaimana pahitnya kenyataan saya tidak akan pernah bisa lari" ucap Danendra seraya mengingat kata kata Cindy sambil tersenyum
"Sekarang saya siap di hujat saya siap berada di posisi Maxime yang dulu, Sepertinya hanya itu yang bisa saya sampaikan selebihnya kalian bisa tanyakan pada ayah saya" ucapnya
"Danendra... " teriak Damian yang sedari tadi menahan sakit di kepalanya mendengar ocehan Danendra
"Maaf ayah, aku udah gak sanggup menanggung rasa bersalah sama Max.. jangan benci aku" ucapnya seraya turun menghampiri Max
"Sekarang identitas lo jelas, anggap aja ini kado buat baby kalian" bisik Danendra diakhir kalimat saat memeluk Max
"Danendra tunggu" Max dan Allea mengejar Danendra
"Kita bicara lagi nanti, gue buru buru" Danendra meninggalkan Allea dan Max pergi dengan mobilnya
Sepanjang perjalanan Danendra menangis bukan karena menyesal mengakui dirinya di depan umum tapi menangisi takdirnya sesak rasanya mengingat dia bahkan tidak di inginkan lahir kedunia, Danendra meng avhentikan mobilnya menenggelamkan wajahnya di stir tubuhnya bergetar dia menangis meluapkan semua yang dia rasakan
"Aarrggghhh... brengsek.. sialan.. kenapa kalian gak bunuh gue dari kecil.. aarrggghhh" teriak Danendra memukul mukul kemudi
Di tengah teriakkannya pintu mobilnya di ketuk seseorang, Danendra menoleh menghapus sisa air matanya
"Lo nangis? " ucap Cindy sambil masuk kedalam mobil
"Ahh.. enggak cuma kelilipan" Jawabnya seraya mengusap wajahnya
Cindy merentangkan tangannya tanpa pikir panjang Danendra masuk kedalam pelukan Cindy, bahu Cindy basah menandakan Danendra sedang menangis tidak ada kata kata yang keluar dari keduanya Cindy hanya menepuk punggung Danendra
Cindy yang kebetulan lewat melihat Allea dan Max di depan gedung perusahaan Damian turun dari taksi, Allea menyuruh Cindy naik kembali ke taksi untuk mengejar Danendra tanpa menanyakan apapun lagi Cindy pergi mencari Danendra yang ternyata mobilnya terparkir di di pinggir jalan