
Tok tok tok
"Max bangun" tidak ada jawaban dari Max
Allea masuk untuk membangunkan Max setelah masuk Allea langsung menjerit dan menutup matanya melihat Max bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek
"Aaaaaaaaa"
"Aaaaaaaaa" Max malah bersahutan berteriak
"Max ada yang masuk di celana Lo" Max yang menutupi dadanya melihat kebawah celananya sudah menggunung
"Tadi disana ada yang gerak Max" teriak Allea masih menutup matanya
"Pergi pergi" Max yang malu mengusir Allea
Max malu bukan kepalang kenapa Allea sembarangan masuk kamar yang di huni laki laki, Jika berkaca dia akan melihat wajahnya memerah menahan malu. Setelah keluar Allea menarik pintunya dan bersandar disana dengan nafas terengah-engah memegangi dadanya
"Apa itu tadi?" Allea teringat sesuatu dia memukul kepalanya
Dia benar benar bodoh kenapa dia tidak mengingatnya sejak awal, Allea masih bersandar di pintu tanpa disadari Max membukanya tiba tiba hingga Allea terjengkang kebelakang menimpa tubuh Max hingga jatuh kelantai
"Awwwhh" mereka mengaduh bersamaan
Allea menoleh kesamping dimana tepat wajahnya berhadapan dengan Max dengan begitu dekat Allea menelan ludah saat melihat Max menatap tajam padanya
"So.. ssorry" Allea segera bangkit
"Kenapa Lo pake handuk gue?" tanya Allea melihat Max memakai handuk pink yang melingkar di pinggangnya
"Emang di kamar ada handuk lain?" ucap max dingin
"Kalo gak butuh gak Sudi juga gue pake, minggir" dengan ketusnya Max menyingkirkan Allea yang menghalangi jalannya
"Diihh gak dimana mana marah Mulu, heran" gumam Allea
Nek mar baru saja pulang dari pasar dia melihat Allea sedang memasak di dapur Dia meletakkan sayuran ke kulkas dan membantu Allea memasak
"Temanmu udah bangun" tanya Nek mar
"Lagi di kamar mandi Nek" jawab Allea
Tidak lama Max keluar dengan handuk yang di lilit di pinggangnya mengekspose bagian atas tubuhnya meskipun masih SMA tubuhnya terbilang bagus dengan otot otot yang sudah terbentuk
Allea dan Nek mar menengok ke arah suara pintu terbuka Karena kamar mandinya hanya satu yaitu di dapur otomotis Max harus melewati dua perempuan ini
Max mengacak rambutnya yang basah dia belum menyadari ada Nek mar dan Allea di dapur, Nek mar melirik Max dan Allea bergantian lalu mengusap bibir Allea
"Ampe ngeces gitu neng" goda Nek mar
Sontak Allea langsung mengelap bibirnya dengan tangan menyadari kebodohannya Allea menatap Nek mar dengan kesal
"Ehh maaf Nek saya gak bawa baju tadi" ucap Max
"Gak apa apa, kita sarapan sama sama ya" ucap Nek mar lalu Max pergi berganti baju
"Badannya bagus ya, coba aja kalo nenek masih muda" ucap Nek mar dengan centilnya
"Astaghfirullah Nek mar genit banget sih" Ucap Allea dengan membulatkan matanya
"Hehe nenek cuma becanda, kamu tadi juga liatinnya sampe gak berkedip gitu" mendengar ucapan Nek mar Allea langsung membuang muka mengalihkan pembicaraan
"Mau mandi dulu ahh" ucap Allea pergi begitu saja
"Kalo malu gitu tuh maen kabur Mulu"
Saat sedang makan Max terlihat lahap
Nek mar dan Allea saling pandang lalu mengangkat bahunya
"Siapa yang masak Nek?" tanya Max
"Allea" seolah tidak percaya dengan ucapan Nek mar Max Langsung menatap Allea
"Apa?" tanya Allea
"Gak" Max kembali melanjutkan makannya
Sebelum berangkat Max berpamitan pada Nek mar dan berterima kasih sudah mengizinkannya menginap, di perjalanan hening tidak ada yang bicara. Allea kembali terbayang saat Max baru keluar kamar mandi
Dia menggeleng gelengkan kepalanya dengan cepat Max melihatnya dari kaca spion saat lampu merah Melihat Max memperhatikannya dia membuang muka ke sembarang arah
Sesampainya di sekolah mereka kembali menjadi perbincangan, Max tidak berbicara apapun dan langsung meninggalkan Allea begitu saja membawa beberapa buku tebal
Cindy memanfaatkan itu untuk kembali mengerjai Allea, dia berjalan ke arah Allea dan menjegal langkah Allea hingga jatuh dan bukunya berserakan
"Uupppsss " Cindy menutup mulutnya lalu pergi dengan senyum mengejek
Seseorang memunguti buku Allea dan mengulurkan tangannya dia juga membantu Allea berdiri
"Lo gak apa apa?" tanya Danendra
Danendra mengantar Allea ke kelas membantu membawa bukunya, Entah kenapa Max selalu menatap Danendra dengan tatapan tidak suka
.
.
Saat istirahat terjadi kegaduhan di belakang sekolah
Max kembali membuat gara gara dia memukuli seseorang, Gita menjadi salah satu penontonnya
tidak ada yang berani memisahkan, Gita menelpon Allea dan keempat teman laki-lakinya tapi tidak ada yang menjawab karena mereka sedang di kantin Gita berlari ke kantin memberitahu Allea
"Le.. le.. Max le hah hah" Gita ngos-ngosan
"Minum dulu" Allea memberi Gita minum
"Max dia hajar orang gak ada yang berani misahin guru gak ada pada gak ada ke acara nikahan Bu Dewi " Gita berbicara tanpa titik koma
Allea berlari menuju tempat Max berada, Gita sekarang sedang di omeli ke empat temannya karena memberi tahu Allea mereka takut Allea kena amarah Max mereka berlima mengejar Allea
"Maaaxx" teriak Allea saat melihat Max mengayunkan kepalan tangannya
Satu pukulan mengenai wajah Danendra, Allea berlari menggangi lengan Max yang mencengkram kuat kerah baju Danendra
"Stop Max stop, jangan buat ulah lagi" ucap Allea dan itu membuat Max berbalik menatapnya
"Lo pikir gue mau di cap pembuat onar? Apa Lo akan diam aja waktu Lo dan orang tua Lo dihina? apa Lo pernah ngerasain di bully satu sekolah? gue berbuat kayak gini biar mereka gak semena mena lagi sama gue" ucap Max mencengkram bahu Allea
Nafas Allea naik turun dengan cepat dia mengatupkan bibirnya dengan mata yang membulat, dia sepertinya mulai takut dengan amarah Max yang meledak. melihat mata Allea mulai berkaca kaca Max menghempaskannya kasar hingga Allea mundur beberapa langkah lalu Max pergi meninggalkannya
"Lo gak apa apa?" tanya Allea pada Danendra yang terduduk memegangi dagunya
"Gue bantu" Allea membawa Danendra ke UKS untuk mengobati lukanya
Allea kembali ke kelas Max tidak ada disana Allea bertanya pada teman temannya tapi mereka tidak melihat Max setelah kejadian tadi, waktu hendak mencari Max salah satu guru masuk dan membebaskan murid-murid untuk pulang
Allea mengambil tasnya dan tas Max lalu pergi ke belakang gudang dan benar ternyata Max ada disana
"Max" ucap Allea ragu, Max hanya melirik sekilas
"Kita pulang" ucap Allea menyodorkan tas Max, Max masih tidak bergeming
"Mau cerita?" tanya Allea duduk di sebelah Max
"Percuma Lo juga gak akan percaya" mendengar itu Allea membuang nafas kasar
"Lo tau Max? emosi gak pernah bisa selesaikan masalah yang ada masalah akan bertambah"
"Lo bilang gitu karena Lo gak pernah ngerasain jadi gue" ucap Max dingin
"Lo salah Max, gue selalu menjadi bulan bulanan Cindy tapi gue gak pernah bales dia walaupun dia udah keterlaluan ninggalin gue si club' malam itu" Max melirik ke arah Allea berada
"Dan banyak hal lagi yang dia lakuin sama gue dan menurut gue itu jahat, tapi gue gak mau ribut yang akhirnya akan memperpanjang masalah, Lo harus pura pura buta tuli dan bisu jangan terpancing" Max tidak menjawab tapi sepertinya dia mendengarkan ucapan Allea
"Apa Lo punya masalah lain?" tanya Allea
"Apa Lo perlu tau? " ketusnya
"Gue mau curhat tentang hidup gue, apa Lo mau denger?"
"Terserah" singkatnya, Allea menggeleng dengan sikap Max
"Gue bingung mulainya dari mana'' Allea mengawali ceritanya
"Yang jelas gue gak pernah ketemu bokap gue dari lahir sampai saat ini, mama bilang dia udah meninggal tapi waktu gue tanya makamnya mama gak pernah nunjukin"
"Gue selalu berpikir apa gue anak di luar nikah atau papa gue pergi sama cewek lain, dan malah waktu umur gue 7 tahun mama meninggal" Allea meneteskan air mata saat membahas mamanya
Max tidak berbicara apapun dia hanya mengulurkan sapu tangannya Allea mengambil mengelap air matanya
"Sorry gue suka cengeng kalo bahas mama"
"Kita pulang" ucap Max berdiri menghadap Allea
Allea mengikuti Max dari belakang sampai di parkiran mereka bertemu dengan Gita dan gengnya
"Gimana kerja kelompok jadi?" tanya Dito
"Jadi " singkat Max lalu naik motornya
Dia menyodorkan helm tanpa berbalik ke arah Allea, Allea memandang teman temannya yang hanya mengangguk Seolah menyuruh Allea menemani Max
"Bener bener Allea jadi pawangnya Max" ucap sandro menggeleng
"Emang dulu Max bersikap normal kan, Karena rumor itu aja dia jadi tertutup dan tempramen, malah kemaren dia jenguk adek gue sama Allea gue bisa liat rasa simpati di wajahnya" ucap Bagas
"Iya Max cuma butuh seseorang yang menyadarkannya" ucap Desta
.