
Malam itu Max baru saja pulang dari bengkel menuju rumah Oma nya dari kejauhan dia melihat seorang wanita yang di ganggu beberapa pria Max menghentikan laju motornya dan menolong wanita tersebut
"Kalian sama cewek aja beraninya keroyokan" hardik Max
"Siapa lo mau sok jadi pahlawan? "
"Hajar" mereka mulai mengeroyok Max
Max menangkis serangan mereka dan mulai menghajar mereka berturut turut Lima orang tumbang meskipun Max juga mendapat beberapa luka di wajahnya
"Cepet pulang" ucap Max lalu wanita itu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya diikuti motor Max
"Thanks udah nolongin" ucap wanita itu ketika sampai di depan rumahnya
"Ya, gue duluan" ucap Max dingin lalu pergi
"Yah gue lupa belum kenalan" gumam wanita itu
Sesampainya di rumah Oma Max menjatuhkan dirinya di sofa Menyentuh luka di ujung bibirnya yang terasa berdenyut
"Max kamu baru pulang? " tanya Oma yang baru keluar dari kamar
"Iya, Oma kenapa belum tidur ini udah malem? " tanya Max seraya menyalami Oma nya
"Oma tadi denger suara pintu terbuka takut ada maling" jawab Oma
"Ini muka kenapa lagi? " Oma membolak balik muka Max
"Gak apa apa tadi ada masalah dikit"
"Kamu ini punya masalah dikit dikit memar, dikit dikit luka" Oma mengobati luka di wajah Max
"Argghh pelan pelan Oma" dengan kesal Oma menekan luka Max
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Allea sedang senyum senyum sendiri di depan rumahnya Nek mar sedari tadi memperhatikan sambil melayani pembeli sepertinya ada aroma aroma cinta begitulah pikir Nek mar
"Heh kenapa senyum senyum sendiri? " nek mar datang menyenggol bahu Allea
"Apa sih nek? siapa juga yang senyum senyum? " ucap Allea
"Ngeles aja, lagi kasmaran ya??? " goda nek mar
"Iihh nenek apaan sih" Allea tersipu malu
"Siapa? Max? atau yang satu lagi? "
"Gak tau ahh"
"Pacaran boleh tapi harus hati hati, pesan nenek jangan mudah termakan rayuan laki laki" nasihat nek mar
"iya Allea juga tau batasan nek"
"Nek apa Allea juga hasil kecelakaan? " tanya Allea membuat kening nek mar mengkerut
"Maksudnya kecelakaan gimana? " nek mar bingung
"Nenek selalu mewanti wanti Allea agar tidak tergoda laki laki, apa ayah Allea juga menggoda ibu sampai ada Allea dan dia ninggalin kita? " pertanyaan Allea membuat hatinya sakit
Mungkin karena terlalu lama nek mar selalu menutupi tentang ayahnya, Allea jadi berpikir bahwa dirinya adalah anak haram nek mar membelai rambut Allea dan memeluk bahunya
"Cucu nenek bukan hasil hubungan terlarang kamu anak sah hanya saja kamu dan ibumu harus tersingkir oleh wanita serakah"
"Mungkin sudah waktunya kamu tahu, Allea bukan cucu nenek" lirih nek mar
"Ma.. mak sudnya? nenek bercanda ah gak lucu " Allea tidak percaya
"Dengar sayang Nenek harap kamu hanya cukup tau setelah itu jangan mau di anggap atau mencoba masuk ke keluarga ayahmu"
"Kenapa? apa Allea gak boleh merasakan kasih sayangnya? " tanya Allea
"Bukan itu, istrinya yang sekarang dia akan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan posisinya sekarang nenek takut kamu di celakai karena kamu akan menggeser posisinya"
"Lalu siapa ayah Allea nek? " tanya Allea
"Tuan Gibran"
Deg
"Apaaa? " pekik Allea
"Benar dia ayahmu, dulu... "
Flashback on
Setelah Gibran dan Naina menikah mereka menjalani hidup bahagia hingga pada pernikahan mereka menginjak 5 bulan Naina hamil seperti kehamilan pada umumnya Gibran begitu memanjakan Naina
Kebahagiaan itu hilang seketika saat Emile datang di kehidupan mereka, Emile adalah mantan pacar Gibran yang mengaku hamil oleh Gibran
Gibran tidak percaya dan mengusirnya tapi kebaikan hati Naina mengizinkannya tinggal sampai anaknya lahir
Gibran masih selalu menaruh perhatian pada Naina namun dia mendiamkan Emile Seolah tidak pernah menganggapnya ada meskipun kecewa tapi Naina tidak menunjukkan rasa kecewanya sedikitpun
Nek mar adalah saksi hidup bagaimana kehidupan ibu Allea, suatu saat datang laki laki yang mengaku kekasih Naina dan mengakui jika anak yang di kandung Naina adalah anaknya beserta foto foto dia memeluk Naina
Naina dengan tegas menyangkal hal tersebut karena anak yang di kandung Naina adalah anak Gibran, Gibran yang kadung di kuasai amarah dan selalu di kompori Emile akhirnya mengusir Naina
Naina yang kehilangan arah bingung harus kemana akhirnya dia hanya luntang lantung di jalan sampai beberapa bulan nek mar baru menemukannya di sebuah pasar mereka berpelukan menangis tersedu sedu nek mar mengusap wajah Naina yang sudah kusam dan kotor dan merapihkan rambutnya
Naina yang hamil muda hanya makan dari belas kasihan orang setelah uang yang dia pegang habis
nek mar akhirnya izin pulang kampung pada Gibran untuk menyembunyikan Naina disana, Naina di rumah nek mar di kampung sementara nek mar bekerja di rumah Gibran dan mengirim uang setiap bulan untuk Naina meskipun tidak banyak
Disana Naina juga berjualan kue untuk menyambung hidupnya sampai lahiran dia sendiri di rumah nek mar, Naina melahirkan sendiri tanpa bantuan siapa pun karena memang rumah nek mar berada di antara sawah berjauhan dengan rumah tetangga tetapi Naina tidak pernah mengeluh pada nek mar karena menurutnya sudah cukup dia merepotkan wanita tua itu
Flashback off
"Naina wanita yang sabar dia tangguh dalam setiap keadaan" ucap nek mar dengan berlinang air mata
"Nek begitu banyak Allea merepotkan nenek, bagaimana Allea harus membalas semua kebaikan nenek? " Allea menangis tersedu sedu di pelukan nek mar
"Tidak sayang, nenek tulus menyayangi kamu dan ibumu jangan berpikir kamu membuat hidup nenek susah, nenek bahagia mempunyai kamu bahkan kamu adalah hidup nenek tua ini" nek mar mengecup pucuk kepala Allea berkali kali
"Berat hidup yang ibu jalani nek, Allea gak bisa bayangin betapa terpuruknya ibu saat itu"
"Sayang lihat nenek meskipun kamu sudah tau ayah kandung kamu nenek mohon menjauh dari keluarga mereka" nek mar menangkup wajah Allea menatap bola mata indah Allea
"Baik nek Allea mengerti" jawab Allea kemudian nek mar mencium keningnya dan memeluknya kembali
Malam semakin larut Allea tidak bisa memejamkan matanya karena masih memikirkan semua kehidupannya dia menggantung kalung yang di berikan nek mar di atas wajahnya yang sedang berbaring, kalung itu adalah kalung naina yang di belikan khusus oleh Gibran tidak ada yang mempunyai kalung persis seperti itu karena itu adalah rancangannya sendiri
"Ayah begitu rapuhnya cintamu pada ibu bahkan kau tidak mempercayainya"
"Aku tidak akan masuk ke keluarga mereka sesuai pesan ibu, aku harap mereka menyesal suatu saat nanti" gumam Allea lalu memeluk kalung itu