My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Kenyataan pahit



Sesampainya di kediaman Gibran, Max dan Aksa sedang berada di ruang kerja Gibran. dia langsung pulang dari kantor saat mendengar Allea ganggu beberapa orang


"Apa om udah laporin masalah Allea? " tanya Max


"Ya polisi sudah menyelidiki dan memanggil ketua geng motor itu, dia bilang ini tidak ada sangkut pautnya dengan geng motor itu dan dia juga berjanji akan membantu mencari kedua orangnya"


"Tapi kenapa Allea bisa kembali mendapatkan teror? " pikir Max


"Itu dia, saya tidak mengerti siapa dalang di balik semua ini" jawab Gibran


"Kenapa Allea gak belajar di rumah om? sepertinya di luar tidak aman sebelum kita tau siapa yang berniat mencelakai Allea berulang ulang" usul Max


"Sudah tapi Allea tidak mau, dia tetap memaksa ingin sekolah makanya om utus Aksa menjaga Allea"


"Tapi om dia sepertinya tahu Allea di dampingi bodyguard makanya dia menambah orang "


"Saya rasa begitu tuan, sepertinya keadaan di luar tidak aman untuk sementara waktu" Aksa ikut menambahkan


"Saya akan melakukan yang terbaik untuk nona tapi saya tidak menjamin ketika orang orang itu semakin banyak" lanjut Aksa


"Saya yang akan bujuk Allea untuk tetap di rumah om" ucap Max


"Apa Allea punya musuh? " tanya Gibran


"Tidak om dia gadis baik tidak pernah macam macam" jawab Max


"Lalu siapa yang tega ingin mencelakainya? "


"Sepertinya kasus ini serius om, semakin di biarkan maka Allea akan semakin tidak aman. orang ini sepertinya sangat menargetkan Allea"


"Ayah" terdengar suara Allea mengetuk pintu


"Masuk sayang"


"Ayah lagi bahas apa sih? "


"Ayah sudah memutuskan kamu sekolah di rumah aja sayang, nanti biar guru kamu yang datang kesini" ucap Gibran


"Allea gak mau yah, Allea kesepian kalo di rumah terus"


"Ini demi kebaikan kamu sayang "


"Kan kita punya bodyguard yah, tadi aja dia bisa lawan banyak orang"


"Kita gak bisa jamin orang itu akan datang lagi dengan jumlah yang semakin banyak, apa kamu punya musuh? " tanya Gibran


"Allea gak ada musuh tapi Allea gak tau mungkin ada yang gak suka sama Allea, Allea juga bingung karena apa"


"Om boleh saya bicara sebentar sama Allea? " tanya Max


"Ya.. inget jangan terlalu dekat"


"Iya, dasar posesif" gumam Max


"Kamu ngomong apa? " tanya Gibran yang seperti mendengar Max sedang bergumam


"Ahh tidak om " jawab Max dengan cengir kudanya


"Itu tangannya lepasin, ngapain gandengan kayak mau nyebrang aja" tegur Gibran saat Max menuntun tangan Allea


"Sorry om lupa" jawab Max menggaruk tengkuknya


.


.


Max dan Allea sedang berada di pinggir kolam, Allea memasukkan kakinya kedalam air dan memainkan air dengan tangannya


"Lo masih gak mau belajar di rumah? " tanya Max


"Suntuk lah kalo belajar sendiri" jawab Allea


"Keselamatan lo lebih penting Allea"


"Gue udah ada bodyguard dan.... " Allea menggantung ucapannya


"Dan apa? " tanya Max


"Dan lo hehe" Jawab Allea dengan tersenyum lebar


"Kita gak tau apa yang akan terjadi nanti, lo gak selamanya bisa bergantung sama orang lain"


"Gue juga gak bisa selamanya sembunyi Max" Allea tidak mau sembunyi dari orang yang ingin berniat jahat padanya, justru dia harus mencari tau apa dan siapa yang orang yang berniat mencelakainya


"Bukan sembunyi Allea, Gue cuma takut gue gak bisa lindungin lo selamanya? "


"Apa itu artinya lo akan pergi ninggalin gue? " lirih Allea menatap dalam wajah Max


"Kita gak tau kedepannya hidup kita seperti apa, bisa aja gue mati lebih dulu atau terjadi sesuatu sama gue dan saat itu gue gak bisa jagain lo lagi"


"Sstt... kenapa lo ngomong gitu? jangan tinggalin gue Max"


"Gue selamanya gak akan ninggalin lo kecuali keadaan yang memaksa kita harus berpisah"


"Saat gue gak ada lagi di samping lo gue mau lo jadi orang yang mandiri, jaga diri lo sendiri jangan bergantung sama orang lain" Max mengelus wajah Allea dengan jari telunjuknya


"Kenapa sepertinya nona Allea ini tidak bisa jauh dari Maxime " goda Max yang langsung mendapat pukulan di lengannya


"Jangan jauhin gue dengan alasan apapun, gue gak bisa rasanya kalo lo jauhin gue" tanpa disangka Allea memeluk Max yang ada disampingnya sedang menghadap ke arahnya


"Hei.. lo mau di nikahin mendadak kalo om Gibran liat? " kali ini giliran Max yang bicara seperti itu


"Janji, walaupun lo punya pacar jangan tinggalin gue" Allea semakin mengeratkan pelukannya saat Max mendorong pelan tubuh Allea


"Jangan jangan lo suka ya sama gue? " Allea hanya diam menyandarkan tubuhnya di dada Max


"Benerkan? " goda Max


"Ehem... gak punya malu banget sih mesra mesraan di tempat terbuka" sindir Cindy


"Ganggu aja, Lo cuma iri karena Danendra gak mau mesra mesraan sama lo" ucap Max saat Allea menjauh dari tubuhnya


"Kalo di liat liat ternyata Max lebih maco dari Danendra, ganteng badannya kekar tapi dia bukan apa apa di banding Danendra yang anak orang kaya" batin Cindy seraya menatap Max dengan tatapan yang sulit diartikan


"Mata lo kayak kucing liat ikan" ledek Allea seraya menyuruh Max membelakangi Cindy dengan menggeser lutut Max agar kembali memasukkan kakinya ke dalam air


"Siapa juga yang minat sama trouble maker kayak dia, lo lebih cocok sama dia sama sama gak bermutu" hardik Cindy


"Dasar nenek lampir" teriak Allea ketika Cindy berlalu


"Gak rela ya gue di liatin cewek lain" tanya Max


"Lo juga suka banget di liatin cewek gitu, iisshh" Allea menggedikkan bahunya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Di rumah Damian kembali terdengar keributan saat Danendra baru saja pulang dari sekolah, Danendra mendengar orang tuanya kembali bertengkar menyebut nama Max


"Bunda mau kemana? " tanya Danendra ketika melihat bundanya keluar dari kamar


"Bunda ada urusan sayang, makanan udah ada di meja makan" ucap Lydia seperti terburu buru


"Bunda mau ketemu Max? " tanya Danendra kembali


Namun Lydia tidak menjawab pertanyaannya dia pergi begitu saja, Danendra melempar sembarang tasnya dan mengikuti kemana bundanya pergi


Danendra berhenti mengikuti dari kejauhan saat melihat bundanya turun dari taksi di halaman rumah Oma, tidak lama setelah itu motor Max juga masuk


Lama dia menunggu dan akhirnya dia sudah tidak sabar lagi, Danendra masuk ke halaman tanpa mobilnya dia melihat di balik pintu yang sedang terbuka Lydia sampai memohon di bawah kaki Max yang hendak melangkah pergi


"Maafkan bunda nak" Lydia bersimpuh di bawah kaki Max


"Bunda pulang saja lagi pula ada atau tidaknya saya di kehidupan kalian sama saja" ujar Max, mendengar itu tangis Lydia semakin memilukan


"Bunda sudah berulang kali bicara sama ayah agar memberi tahukan Danendra tapi ayah tidak mau dia tidak ingin kembali menyakiti hati anaknya seperti dia menyakiti kamu sayang" tangis pilu Lydia membuat Max luluh


"Bangun bun, Biar saya yang mengalah anggap selamanya saya adalah anak haram agar Danendra tetap bersama kalian" Max memegangi kedua bahu Lydia membantunya berdiri


"Saya tidak akan menuntut apapun lagi dari kalian, saya sudah bersyukur memiliki Oma di kehidupan saya dan saya tidak butuh sosok orang tua karena Oma sudah cukup bagi saya" Ucap Max hendak melangkah pergi setelah Lydia berdiri


"Max kamu itu anak kandung bunda nak bagaimana bisa menggantikan kamu dengan anak orang lain"


"Bisa bunda bisa.. seperti sekarang biarkan semuanya seperti sekarang, biarkan orang orang tau Danendra adalah anak kandung kalian dan saya seorang anak yang di buang ibunya dan tidak memiliki ayah" Max sudah berusaha menahan tangisnya dan kini air mata itu luruh juga pertahanannya selama ini runtuh dia ambruk menangis dalam duduknya


Tangis tanpa suara hanya terlihat bahunya yang bergetar, Oma yang sedari tadi duduk menghampiri Max dan memeluknya Lydia juga ikut memeluknya


Brakkkk


Danendra membuka kasar pintu itu air matanya tidak kalah deras berdiri menatap mereka bertiga yang sedang berpelukan, Lydia mendongak dia begitu terkejut melihat kehadiran Danendra disana


"Katakan itu bohong bun, katakan aku anak bunda" teriak Danendra namun Lydia hanya diam seolah membenarkan hal tersebut


"Oma jawab oma, Danendra anak kandung Ayah dan bunda kan? " Oma juga diam mengarahkan pandangannya kearah lain


"Kenapa kalian tidak mau menjawab? Lo pasti memainkan drama iya kan ? lo ngasih bukti palsu biar lo dianggap anak kandung sama bunda kan? " Danendra menuduh Max seraya menunjuk nunjuknya


"Lo emang sama kayak nyokap lo, penuh drama, penipu, anak haram, lo anak wanita gak tau diri, anak J*l*ng" hardik Danendra


Max berdiri dari duduknya dengan kilatan kemarahan di wajahnya, dia menepis bunda dan Omanya yang memeganginya memegang kerah baju Danendra


"Jaga bicara lo, nyokap gue adalah wanita yang udah besarin kita bertahun tahun, dia wanita hebat, dia wanita terhormat, balik kata kata lo buat lo sendiri.. mulia sekarang penghargaan anak haram gue kasih sama lo" Ucap Max dengan senyum jahatnya


"Anj*ng lo, penipu, keparat" Danendra memukul wajah Max


Max bahkan tidak melawan dia merentangkan tangannya seolah sedang menantang Danendra


"Pukul.. pukul.. ayo pukul" ledek Max


Bunda dan Oma mengengahi ketika Max di pukuli oleh Danendra, Max hanya tertawa meskipun darah segar keluar dari sudut bibirnya


"Gue harap setelah lo puas lo bisa menerima kenyataan Danendra, Lo tetap masih anak dah keluarga Damian gue gak akan bikin lo di permalukan kayak gue" ujar Max sambil berlalu ke kamarnya


Danendra mematung menatap kepergian Max dia bergelut dengan pikirannya sendiri, Lydia menghampiri hendak memeluknya namun belum mendekat Danendra sudah pergi berlari ke dalam mobilnya


"Arrrggghhh gue anak haram, jadi selama ini gue adalah anak haram hahahaa.. jadi selama ini Max tau tapi dia gak ngasih tau gue, dia gak olok olok gue.. gue malu gue bener bener malu" Danendra membenamkan wajahnya di lipatan tangan diatas kemudi


Dia tertawa kemudian menangis dia masih tidak percaya tentang kenyataan ini, hatinya hancur sekarang dia tidak tahu harus pergi kemana


Jangan lupa like komen dan vote ya