My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Menyindir dengan gaya



"Maxime.. "


"Iya bun" jawab Max


"Kamu ambil jurusan apa? "


"Bisnis bun, Tadinya saya mau ambil jurusan kedokteran sama Allea tapi saya pikir lebih baik bisnis" jawabnya


"Lalu Allea? " tanya Lydia


"Allea akan kuliah setelah melahirkan, dia tetap akan mengambil jurusan kedokteran"


"Kamu mau pimpin perusahaan? " tanya Lydia ragu-ragu


"Ayah Gibran mau suatu hari nanti saya bisa gantikan posisinya jadi saya pilih bisnis buat bantu ayah mertua" jawabnya sambil tersenyum


"Kamu gak mau pimpin perusahaan kita? "


"Bunda tahu persis bukan siapa yang akan menjadi pimpinan disana? saya akan mengelola perusahaan ayah Gibran dia meminta saya beberapa kali untuk mempertimbangkannya" ucap Max dengan senyum miris


"Ya.. lagi pula hanya Allea anakku satu satunya jadi aku pikir anak ini bisa di andalkan" ucap Gibran yang baru saja datang bergabung menepuk pundak Max


"Bunda pikir kamu tidak tertarik dengan perusahaan"


"Saya hanya ingin membantu ayah mertua" jawab Max


"Bohong... dia bisa belajar dengan cepat jadi bohong sekali kalo dia bilang hanya membantu, aku yakin dia sebenarnya sudah siap memimpin perusahaan sejak dini tapi.. " Gibran menggantung perkataannya


"Ayah mertua sok tau" cicit Max


"Kamu malu mengakuinya kan? aku tau hubunganmu dan Damian kurang akrab mungkin karena itu Max tidak bisa menunjukkan kemampuannya pada Damian karena rasa canggung nya tapi aku sudah pernah mengujinya dan hasilnya memuaskan, aku kira suatu saat dia akan jadi presdir yang hebat"


"Apa itu ejekan ayah mertua? " Max menganggap perkataan mertuanya hanya candaan


"Tidak.. tidak.. aku serius, aku beruntung anakku menikah dengan pemuda pintar sepertimu, ya walaupun kelakuanmu tengil"


"Menyindir dengan gaya" Ucap Max membuat Gibran terkekeh


Lydia hanya memandang mereka yang duduk berdampingan, seorang mertua dan menantu bisa terlihat dekat meskipun mereka sering berdebat tapi dengan ayahnya kenapa Max selalu merasa canggung


"Kalau bunda mempertahankan posisi kamu di perusahaan kita bagaimana pendapat kamu? " tanya Lydia


"Bunda pasti udah tau kan ayah lebih pilih Danendra makanya bunda nanya gitu, Biarkan semuanya berjalan dengan semestinya bun saya gak perlu posisi di perusahaan ayah lagi pula kalau pun saya gak kerja di perusahaan saya masih punya usaha yang lain, tidak bekerja di perusahaan tidak akan membuat Allea menderita saya akan jamin kebahagiaannya" jawab Max seolah tau dengan maksud Lydia


"Tapi.. "


"Saya sudah biasa hidup semaunya sendiri, saya sudah belajar mengurus hidup saya sendiri sedari kecil bunda gak perlu menghawatirkan apapun, Saya permisi dulu sepertinya Allea belum minum obat" ucap Max berlalu ke kamarnya


"Sampai kapan Damian akan menyembunyikan fakta? dia anak kandung kalian, aku saja yang kesal karena perbuatan dia sama Allea bisa menerimanya dengan mudah apa lagi kalian Max tidak pernah melakukan kesalahan bukan? menurutku kalian terlalu egois" ujar Gibran


"Om bukan begitu.. " Ucap Danendra yang baru saja kembali dari toilet


"Aku bukan mau ikut campur urusan kalian tapi menurutku kalian terlalu mengabaikan menantuku hingga dia terpaksa dewasa di usia yang tidak seharusnya dan lihat dia sekarang dia bisa berdiri dengan kakinya sendiri membangun usahanya apa itu belum menunjukkan kalo dia akan sangat berkompeten di perusahaan? aku akan mengambilnya lebih dulu jika kalian tidak membutuhkanmu" ucap Gibran


Lydia terdiam dia mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan yang terbaik untuk putranya, dia bersikap berat sebelah padahal Danendra bukan anak kandungnya sementara Max anak kandung yang berjuang di luar sendirian


"Aku pamit pulang, sampaikan pada Allea dan Max aku tidak mau menganggu istirahatnya" lirih Lydia seraya menenteng tasnya berjalan gontai


"Bunda memikirkan perkataan om Gibran? " tanya Danendra ketika berada di dalam mobil


"Entahlah tapi yang di katakanya benar, aku ibu yang paling buruk untuk anakku" gumam Lydia


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Keesokan harinya Allea kembali kembali ke kampus Max dia diantar wawan kesana lalu pulang bersama Max, kali ini agak lama Allea menunggu Duduk di halaman Kampus


"Nunggu siapa dek? " tanya seseorang lalu Allea menoleh


"Oh.. lagi nunggu orang kak" jawab Allea karena dirinya di sebut adik dia berpikir wanita di hadapannya adalah senior disana


"Nunggu siapa? " ucapnya sambil duduk di samping Allea


"Nunggu Maxime " jawab Allea tersenyum kikuk


"Fakultas? "


"Ohh.. kebetulan kita satu kelas, mau aku antar sepertinya dia sedang main basket" ucapanya


''Boleh kak.. maaf merepotkan " ucap Allea


"Enggak sama sekali, kamu sekolah di SMA mana? " tanyanya membuat Allea sedikit terkejut


"Aku.. "


"Allea.. ngapain disini? " sapa Cindy sebelum Allea menjawab pertanyaan Miranda


"Mau ketemu Max"


"Oh.. ikut gue" ucap Cindy seraya menarik lembut tangan Allea


"Kak terimakasih sebelumnya, aku ikut temen dulu" Allea sedikit membungkuk lalu pergi


"Cantik dan menggemaskan" gumamnya


Allea melihat Max sedang bermain basket bersama Dito, Bagas, Danendra, Sandro dan Desta dengan tim lain


"Lo ambil jurusan apa? " tanya Allea


"Gue ambil kedokteran, awalnya daddy udah kasih kuliah di luar negeri tapi gue milih disini" Jawab Cindy


"Gak apa apa dimana pun yang penting kita niat belajar, gue juga pengen kuliah tapi Max gak bolehin sebelum anak gue lahir" lirih Allea


"Hei.. dia itu terlalu sayang sama kalian, nanti setelah lahiran juga bisa kan? "


"Hemm.. Ayo masuk" Cindy membawa Allea masuk karena arena basket berada di dalam gor


"Sayang.. maaf aku gak tau kamu udah disini" Max berhenti sejenak menghampiri Allea


"Aku nungguin tau" ucap Allea manja memeluk Max


"Jangan gini nanti badan kamu kotor kena keringet" Ucap Max sambil menjauhkan Allea


"Kamu malu? " tanya Allea dengan raut wajah sedih


"Enggak sayang.. ya udah kalo gak keberatan kena keringet..sini" Max kembali memeluk Allea mengecup puncak kepala Allea


"Huh.. kebiasaan, tidak menghargai perasaan jombloers" sindir Sandro membuat yang lain tertawa


"Siapa ini? " tanya teman satu ruangan Max yang menjadi tim lawannya


"Dia.. " belum sempat Max bicara Allea sudah menyergah ucapan Max


"Pacar.. iya pacar" ucap Allea


"Kenapa gak bilang yang sebenarnya? " bisik Max


"Aku gak mau kamu malu, baru lulus sekolah udah nikah" jawab Allea saling berbisik


"Pengertian sekali" bisiknya lalu mencium pipi Allea


"Hei.. " Allea membulatkan matanya memukul lengan Max karena mereka jadi bahan tontonan


"Cabut guys.. " teriak Sandro membuat mereka semua bubar mengikuti Sandro menyisakan Allea dan Max


Max mengambil air dari tangan Allea lalu meminumnya, jakunnya terlihat naik turun dengan keringat yang membuatnya terlihat seksi dimana Allea. Allea menatap leher Max tak berkedip sampai Max bicara pun dia hanya diam saja


"Hei.. ayo pulang kenapa melamun" Allea segera menggelengkan kepalanya menerima uluran tangan Max


Sesampainya di rumah Max baru saja selesai mandi dengan di lilit handuk dan tubuhnya yang basah karena tetesan air dari rambutnya, Max mengambil handphonenya di dekat Allea yang duduk di ranjang membuat tubuhnya harus condong ke arah Allea


Matanya kembali menatap jakun Max uang terkena tetesan air, Allea ikut menelan ludah saat jakunnya naik turun Max menyadari Allea melamun menatap sesuatu yang ada padanya


"Kamu liatin apa? " tanya Max namun Allea tidak menjawab dia berdiri di tepi ranjang menghadap Max


Jari jemarinya meraba lehernya dan mengecup jakun yang sedari tadi menggodanya, Max awalnya terkejut namun dia menikmati permainan istrinya tangannya membelit pinggang Allea serat memejamkan matanya


Like komen dan vote ya


Jangan lupa sajen kembang tujuh rupa