My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Kejadian bodoh



"Kenapa diam"? Tanya Alexander karena sedari makan siang dia tidak bicara


" Kamu lagi sariawan? " Allea masih tidak menjawab


"Kamu mau ngapain? " Allea menahan dada Alexander saat mencondongkan tubuhnya ke hadapan Allea dengan jarak dekat


"Pakai sabuk pengaman" Setelah membantu Allea memasangnya Alexander kembali duduk


"Apa aku punya salah? " Tanya Alexander


"Gak ada" Singkat Allea


"Apa kamu cemburu karena wanita tadi? " Goda Alexander


"Buat apa cemburu kita gak ada hubungan apapun, kamu bebas bersama wanita mana pun kenapa juga aku harus cemburu" Gerutu Allea dengan cepat


"Itu udah membuktikan bahwa kamu cemburu" Sergah Alexander


"Jujur aku gak tau siapa namanya, aku bukan pengingat yang baik" Lanjut Alexander


"Terserah aku gak peduli" Sinis Allea


"Apa mama gak cemburu papa deket sama wanita lain? " Goda Alexander


"Cih.. Menyebalkan" Allea senyum smirk menanggapi candaan Alexander


"Sudah sampai... Kemarikan tangan kananmu" Ucap Alexander sebelum Allea turun


Allea memberikan tangan kanannya lalu Alexander menjabat tangan Allea dan mencium kan tangannya ke hidung Allea, Allea mematung menatap wajah Alexander


"Kenapa kamu melakukan itu? " Tanya Allea matanya berkaca kaca


"Allea.. Aku cuma becanda, apa kamu marah? "


"Enggak, pergilah aku masih punya jadwal operasi setelah ini" Allea turun dari mobil dia berjalan menjauh, Alexander melihat Allea mengusap kedua matanya


"Dia nangis gara gara itu, apa aku melukai perasaannya? " Gumam Alexander


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kamu menyukai wanita bernama Allea? "  Nola pada Vero


"Siapa kamu? Apa yang kamu tahu tentang dia? "


"Percuma kamu nunggu dia disini karena dia lagi makan siang bersama pria lain" Ucap Nola seraya menunjukan sebuah foto Allea bersama Alexander 


Vero menunggu Allea di kantin rumah sakit sementara Allea tidak juga kembali,  foto yang di lihat Vero hanya terlihat Allea sementara pria tersebut hanya tampak punggungnya saja


"Kita tidak saling mengenal jadi aku tidak akan mempercayai apapun yang keluar dari mulutmu" Ucap Vero


"Terserah padamu.. Tapi cepat atau lambat kamu akan tahu wanita seperti apa dia" Nola pergi dari sana setelah mengatakan semuanya


"Apapun yang Allea lakukan aku gak peduli yang penting dia bahagia" Gumam Vero


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Dokter Allea tunggu" Dokter kepala menghentikan langkah Allea


"Kenapa? "


"Ini nanti tolong berikan kepada ketua, jangan sampai lupa ini dokumen penting"


"Kenapa harus saya? "


"Kata dokter Sarah kalian cukup dekat lagi pula tidak ada yang mau memberikannya, ini alamatnya"


Allea menggeram ini sudah pasti ulah dokter Sarah, pukul 8 malam Allea baru selesai bertugas sebelum pulang Allea menemui Vero terlebih dahulu


"Kak.. Gue minta maaf tadi gak jadi makan siang bareng" 


"Gak apa apa.. Emang tadi kemana? "


"Papa Ellia tiba tiba jemput kesini, gue gak enak juga mau nolak"


"Ya.. Gak apa apa, udah mau pulang ya? "


"Iya.. Mau pulang  bareng gak? " Tanya Allea


"Gue lembur, hati hati di jalan"


"Oke"


Setelah itu Allea pergi ke alamat yang di berikan dokter kepala, taksi berhenti di sebuah hotel membuat Allea semakin takut


Allea menanyakan kamar atas nama ketua setelah mendapatkannya dia mengetuk pintu kamar tersebut


"Masuk.. " Ajak ketua dengan ramah


"Tidak usah ketua.. Saya kesini hanya menyerahkan ini"


"Ada yang ingin aku bicarakan, aku minta maaf soal kejadian di club malam"


"Tidak apa apa ketua saya sudah memaafkannya"


"Masuklah dulu, di dalam juga ada ibu saya" Seorang wanita lebih tua dari ketua muncul dari belakang


"Anak manis masuk.. Ibu sudah masak banyak" Melihat wanita tua Allea jadi tidak tega menolak lalu ikut masuk


Allea di ajak makan setelah semuanya selesai tiba tiba wanita tua itu pergi Allea menyadarinya setelah dari kamar mandi


"Ibu udah pergi, kita punya waktu berdua untuk menyelesaikan hal yang tertunda saat di club malam" Tiba tiba ketua ingin memeluknya namun dia menghindar


"Jangan macam macam, aku akan melaporkanmu pada polisi" Ancam 


"Benarkah? Apa kamu tidak merasakan sesuatu? " Sebenarnya sedari tadi Allea sudah merasa makanannya di campur obat 


"Aku harus pergi" Allea menabrak tubuh ketua berusaha meraih gagang pintu namun ketua memeluk pinggangnya


Allea meraih pot bunga dan memukulkan nya ke kepala ketua, ketua meringis kesakitan memegangi kepalanya sementara Allea keluar berjalan sempoyongan


Allea menabrak tubuh seseorang dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, Allea memegangi pundak pria tersebut seraya menunjuk ke belakang


"Tolong aku.. Orang jahat" Allea menunjuk kamar yang di tempati ketua


"Tangkap orang yang ada di dalam, sepertinya Allea dalam pengaruh obat" Alexander mengangkat tubuh Allea


Daniel melihat bagaimana agresif nya Allea yang kerap mencium Alexander bahkan tangannya menjelajahi tubuhnya


"Dia yang enak gue yang repot" Gumam Daniel


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Mama sama papa gak pulang lagi? " Tanya Ellia


"Harusnya sih mama pulang tapi kok udah malem belum pulang ya"


"Mungkin mama kamu lagi cari papa baru" Sahut suster


"Huss.. Gak pantes kamu bilang gitu sama anak anak" Ujar bibi


"Kita ke kamar aja" Ellia menuntun tangan Ello ke kamarnya


"Ellia tunggu.. " Cegah suster


"Ellia sekarang udah punya mama, suster gak usah urus aku lagi, suster juga gak boleh jahat sama mama dan Ello" Ucap Ellia sebelum pergi membawa Ello


"Mereka udah ngerti sekarang jangan bicara sembarangan lagi" Ucap bibi lalu pergi


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Allea mengerjapkan matanya kala sebuah tangan mengusap perutnya, hampir saja Allea berteriak saat melihat Alexander memeluknya dengan tubuh sama sama polos


"Bodoh.. Lo bodoh Allea" Allea memaki dirinya sendiri


"Kenapa kejadian bodoh kayak gini terulang lagi"


Pelan pelan dia menyingkirkan tangan Alexander dari tubuhnya lalu memunguti pakaiannya, Allea berjalan terburu buru sampai menabrak seseorang di pintu keluar


"Anda baik baik saja? "


"Tuan Daniel, saya Baik permisi" Allea kembali berjalan tergesa-gesa


"Kayaknya dia kabur" Gumam Daniel


Daniel masuk ke dalam kamar yang di tempati Alexander ternyata benar Allea pergi diam diam karena Alexander masih tertidur pulas, Daniel tidur di sebelah Alexander seraya menjahilinya


"Diam Allea.. Tidur lagi" Racau Alexander tangannya memeluk Daniel seraya mengusap punggungnya


"Kenapa jadi beda? " Gumam Alexander, saat membuka matanya betapa terkejutnya dia saat melihat Daniel tersenyum padanya


"Wooaahh... Sialan" Alexander langsung terduduk


"Sampe jam berapa semalam? " Goda Daniel


"Apaan sih lo pergi sana ahh.. " 


"Punya lo gede juga" Daniel malah menarik selimut yang menutupi bagian bawah Alexander


"Sialan lo.. Bener-bener gak takut di pecat ya? " Gerutu Alexander


"Gitu aja marah, gue yang lihat marah marah Allea aja semalem nyobain gak lo marahin"


"Sembarangan kalo ngomong" Alexander memukul kepala Daniel dengan guling


"Emang bener, nih bekas apa? Ini juga bekas apaan " Daniel menunjuk tanda merah di leher Alexander


"Allea kemana? " Alexander mengalihkan pembicaraan


"Tadi gue liat dia buru buru pergi, dia pasti kaget"


"Lo mau kemana? " Tanya Daniel saat melihat Alexander terburu-buru memakai pakainya


"Pulang"


"Lo gak pake pengaman? " tanya Daniel


"Gue.. gue lupa"


"Kalo anak orang bunting gimana? terlalu gegabah lo"


"Gak mungkinlah cuma sekali doang"


"Lo yakin cuma sekali? "


"Gak juga sih" Daniel hanya menggeleng mendengar jawaban Alexander