
Tok tok tok
"Sayang makan malam dulu" Lydia mengetuk pintu kamar Max
"Emmhhh.. bangun Max " Allea menepuk nepuk pipi suaminya yang masih terlelap
"Bangun.. bunda dari tadi ngetuk pintu" dengan kesal Allea mencubit dada Max
"Akhh.. sakit apaan sih"
"Bunda di depan tuh" mendengar itu Max segera memakai bajunya untuk membuka pintu
"Makan malam dulu semua orang udah ada di meja makan" ucap Lydia saat Max membuka pintunya, Lydia mengintip ke dalam melihat mencari keberadaan Allea
"Kalian ketiduran? " tanya Lydia
"Ah bunda kepo.. Nanti saya turun" wajah Max memerah di goda Lydia
"Pake pengaman ya, jangan dulu.. " Max mengingat sesuatu dia tidak menyiapkan hal itu
"Hmm.. oke" singkat Max lalu menutup pintu setelah Lydia pergi
"Loh kamu udah mandi? " tanya Max saat Allea keluar dari kamar mandi
"Iya.. tadi kamu ngomong sama bunda aku mandi aja"
"Yah.. tadinya aku mau mandi bareng"
"Udah sana mandi aku ke bawah duluan" Setelah berganti pakaian Allea turun bergabung bersama yang lain
Allea terkejut melihat keberadaan Cindy disana ternyata dia belum pulang dan malah ikut makan malam "Lo kok ada disini? " tanya Cindy
"Allea di titipin disini" jawab Lydia
"Emang salah Allea apa tan sampai kemarin di kurung? " tanya Cindy
"Udah udah kita makan sekarang aja biar nanti Max nyusul" Lydia menengahi
Baru saja mereka akan mulai makan Max sudah datang dan ikut bergabung, tatapan matanya tidak bisa di bohongi dia menatap tajam Danendra bahkan dengan sudut matanya sekalipun
"Kalian gak dingin mandi malem malem? " pertanyaan Cindy sontak membuat Max, Allea dan Danendra tersedak makanan sedangkan Lydia dan Damian mengulum senyumnya
"Gue ketiduran dari pulang sekolah belum mandi" jawab Max dingin
Setelah makan malam selesai Allea berniat menemui Damian di ruang kerjanya, saat ingin mengetuk pintu dia mendengar Damian sedang bicara dengan Cindy mengenai ibunya
Allea mematung mendengar penuturan Damian ternyata ayahnya saat ini cukup stress karena keluarganya, Allea meremas baju di bagian dadanya seraya meneteskan air mata. Saat berbalik ingin pergi dia menabrak seseorang
Bugh
"Sorry, lo gak apa apa? " tanya Danendra Allea hanya mengangguk, dia hendak pergi namun Danendra menahannya
"Ada masalah apa? kenapa lo nangis?"
"Gak apa apa gue ke kamar dulu" jawab Allea
" Tunggu Allea, kalo ada masalah ngomong aja"
"Ini gak ada urusannya sama sekali sama lo, jangan halangi jalan gue nanti Max lihat bisa salah paham" Allea pergi melewati Danendra yang mematung menatap kepergiannya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Gita terlihat lesu dia berbaring di ranjang memainkan handphonenya, Dito yang melihat itu ikut tidur di sampingnya dan memeluknya
"Kenapa sayang kok murung gitu? " tanya
"Aku khawatir beberapa hari kok Allea gak ada kabar ya? aku telpon gak di angkat sekarang hpnya mati" lirih Gita
"Kenapa gak telepon Max aja? kalo ada apa apa pasti Max tau"
"Aku gak berani telepon dia"
"Aku telepon dia, jangan murung gitu dong nanti cantiknya ilang" goda Dito
"Kalo aku gak cantik, gendut apa kamu masih mau sama aku? " tanya Gita
"Hei.. kamu tetap wanita tercantik di mata aku seperti apapun bentuk kamu nanti" ucap Dito
"Gombal.. jangan percaya" ucap seseorang dari sebrang telepon, Ternyata Max sudah menjawab telepon dan di loudspeaker oleh Dito
"Dihh ikut nimbrung aja, kenapa lo cemburu? " ucap Dito
"Wleekk najis" jawab Max membuat Dito dan Gita tertawa
"Gita nyariin Allea, lo tau gak dia dimana? " tanya Dito
"Dia ada di sini baik baik aja, bentar gue cariin dulu" Max berjalan mencari Allea
"Ngapain disini? " Suara Max terdengar bertanya pada seseorang
"Akhh.. jangan gini malu diliat orang"
"Max geli.. akhh kamu nakal jangan pegang pegang"
"Eemmptt"... hening tidak ada suara Gita dan Dito saling pandang
Setelah beberapa saat baru Max bicara " nih Gita mau ngomong "
"Astaga jadi dari tadi dia telepon? "
"Hallo Gita"
"Lo kemana aja gue teleponin gak di angkat sekarang HP lo mati, lo gak apa apa kan? " tanya Gita
"Gue baik baik aja kok, HP gue ketinggalan di apartemen Max, beberapa hari ini ada masalah tapi udah selesai besok gue main kerumah lo"
"Bener ya? gue tunggu"
"Oke, jaga keponakan gue ya"
"Pasti, gue tutup teleponnya jaga diri baik baik"
"Iya.. lo juga" Gita menutup teleponnya dia lega setelah mendengar Allea baik baik saja
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Cindy yang baru saja selesai bicara dengan Damian ingin mendinginkan otaknya dia pergi ke belakang rumah Damian untuk menghirup udara segar , di dekat kolam terlihat dua orang sedang bermesraan bahkan si wanita duduk di pangkuan pria mengalungkan tangan di lehernya
Siapa lagi kalau bukan Allea dan Max yang baru saja selesai menelpon Gita, Cindy kembali di buat tercengang saat melihat mereka saling memagut dengan tangan Max bergerak liar di tubuh Allea
Bahkan Allea tidak menolak dia membiarkan apa yang di lakukan Max, sebenarnya bukan hanya Cindy namun di sudut lain Danendra juga melihat itu
"Gue pikir lo sepolos itu tapi ternyata gue salah" Gumam Danendra dengan senyum meledek
Pergerakan Max berhenti saat Allea menjauhkan dirinya, terlihat mereka berjalan bergandengan membuat kedua orang ini segera menyingkir sebelum keduanya ketahuan
"Aku tidur di kamar lain ya malem ini? " ucap Allea
"Gak bisa"
"Disini ada Cindy nanti dia tahu bisa gawat"
"Kalo gitu jangan kunci pintunya" ucap Max
"Kenapa? "
"Biar aku bisa masuk tengah malam" jawab Max menaik turunkan alisnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Hampa sekali sekarang hidup Gibran dia merenung di rumahnya yang begitu sepi, bayangan keluarganya selalu melintas seperti dia kembali ke masa dulu
Cindy yang berlari dan kadang berteriak di rumah, Emile yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri dan Allea yang beberapa bulan ini tinggal dirumah terbayang berjalan keluar kamar dengan senyum manisnya, kadang dia manja, merajuk, humoris betapa rindu Gibran pada mereka
Meskipun mereka tidak pernah akur di rumah itu tapi kesepian seperti ini membuatnya lebih memilih rumah itu bising dengan cekcok anak anak gadisnya
"Apa Allea mau memaafkanku? " lirihnya
"Aku menyakitinya lagi Karena kekesalan Emile, kenapa aku bisa melampiaskan kekesalanku pada Allea" Sesal Gibran yang mendalam membuatnya tidak nafsu makan dan lebih banyak melamun
Bibi di rumah menjadi khawatir namun tidak bisa melakukan apapun menelpon Allea juga tidak di angkat, menelpon Damian dia merasa canggung bibi hanya bisa melihat tuannya murung
"Tuan di luar ada tamu" bibi menghampiri Gibran yang terlihat sedang mengusap lelehan bening di matanya
"Siapa? " tanya Gibran
"Gak tahu tuan, katanya teman tuan" Gibran berjalan keluar menemui tamu itu
"Ririn, ada apa tumben kamu kesini? " tanya Gibran
"Aku baru sempet kesini di rumah sakit sibuk, aku kesini mau ngasih ini" Ririn memberikan handphone Emile yang tertinggal
"Pantesan aku cari gak ada ketinggalan tenyata, thanks ya" Gibran mengambil handphonenya
"Aku turut perihatin atas apa yang terjadi di keluarga kamu" ucap Ririn
"Hmm.. makasih kamu udah mau bantu, aku gak nyangka istriku sekejam itu pada putriku"
"Seseorang bisa berubah semoga saja istrimu menjadi lebih baik, aku permisi pulang dulu" pamit Ririn
"Gak mau mampir dulu? "
"Gak usah udah malem juga gak enak sama orang kalo liat, apalagi istri kamu gak ada di rumah takut jadi fitnah"
"Kamu bener juga"
"Aku pamit pulang"
"Mau aku antar? " tanya Gibran
"Gak usah aku bawa mobil sendiri"
"Bener gak apa apa? ini udah malem"
''Gak, tenang aja aku udah biasa sendiri"
"Ya udah, hati hati"
"Hmm... " Ririn mengangguk sambil tersenyum manis