
Pagi pagi sekali Allea bangun karena belum menemukan asisten rumah tangga, dia mulai mencuci dan memasak untuk sarapan
Allea sedang berkutat di dapur dengan segala peralatan dapurnya, Allea terkejut saat tiba tiba seseorang meremas b*k*ngnya, siapa lagi yang bisa berbuat hal semacam itu kalau bukan suaminya
Saat Max baru saja bangun tidur dia mendengar suara di dapur, Max melangkahkan kakinya seraya mengucek matanya yang masih belum terbuka lebar
Setelah terbuka malah pemandangan indah yang dia temukan, istrinya sedang memasak hanya menggunakan dress tidur berwarna merah yang sangat pendek dengan tali spagetti membuat tubuh putihnya sangat kontras dengan baju yang dia kenakan
Pagi pagi hasratnya sudah tinggi apa lagi melihat rambut sang istri yang di gulung keatas menampilkan leher jenjang yang mulus
"Aaaaa" teriak Allea sambil terlonjak
"Kenapa kamu teriak? aku mau nagih hutang kamu yang semalam" bisiknya membuat bulu kuduk Allea meremang
Klik
Allea mematikan kompornya lalu berbalik menghadap Max, Allea mengusap dadanya dengan wajah yang di buat semakin menggemaskan
"Sayang jangan sekarang ya, kerjaan aku masih banyak nanti sekolah kesiangan" bujuk Allea
"Semakin kamu seperti itu aku semakin ingin" kali ini Max mengendus leher Allea
"Lalu aku harus bagaimana? harus marah marah? aku tidak punya waktu sekarang" kini nada bicara Allea tidak selembut tadi Allea bicara dengan omelan omelan khasnya
"Udah sana bantuin juga enggak ngerecokin aja" tuturnya sambil mendorong pelan Max agar menjauh
Namun bukannya menjauh Max malah menekan tengkuk Allea dan menciumnya secara brutal, Allea berontak dan Max semakin menjadi
"Ini lebih menantang sayang" ujar Max tangannya sudah melepas tali di pundak Allea
"Max.. aku bisa kesiangan nanti" kesalnya
Max tidak mendengar perkataan Allea dia benar di tutupi kabut g*ir*h, Max menekan pinggang Allea lalu mengangkatnya kemeja makan, Allea tidak bisa menolak lagi dia membiarkan suaminya melakukan apapun sesukanya
.
.
Max yang sedang menjemur pakaian tersenyum senyum sendiri saat pandangan matanya bertemu dengan Allea yang kini sedang berjalan melewatinya dengan wajah cemberut
Allea jadi kesal karena ulah Max yang membuatnya kesiangan alhasil mereka membagi tugas Max mencuci dan menjemur pakaian sementara Allea meneruskan memasak setelah selesai sarapan mencuci piring
"Masih cemberut aja padahal gak kesiangan loh.. aku kan udah bantuin" ujar Max yang sedang memakai sepatu hendak berangkat sekolah
"Aku kesel aja kamu selalu lama, ngomongnya cuma bentar tapi bentar kamu tuh bisa jadi satu jam" gerutu Allea
"Coba kalo semalam kamu gak kabur" Jawab Max
"Kamu pasti akan buat aku begadang semalaman" sergah Allea membuat Max tertawa
"Ayo... " Max mengulurkan tangannya
Allea membuka gerbang dan Max mengeluarkan mobil mereka, saat Allea hendak masuk tetangga yang kebetulan lewat joging menyapa mereka
"Selamat pagi.. " ucapnya tersenyum ramah
"Selamat pagi.. " jawab Allea
"Tetangga baru ya? kalian kakak beradik? " tanyanya, Allea dan Max saling pandang lalu tersenyum
"Ahh.. kita jadi tetangga sekarang jangan sungkan untuk meminta bantuan" ucapnya
"Tentu saja, senang bertetangga dengan anda"
"Sampaikan salam saya pada orang tua kalian" ucapnya sebelum pergi
"Emang orang orang kaya mau bertetangga? " gumam Allea sambil masuk ke dalam mobilnya
"Tidak semua orang kaya menutup diri ada juga yang ramah mau bertetangga, sering ngobrol kalo ketemu di depan rumah atau main ke rumah satu sama lain" jawab Max
"Masa? bukannya orang kaya sibuk dan tidak peduli dengan tetangga? "
"Itu pemikiran dari mana? aneh banget, bunda aja sering kumpul di salah satu rumah tetangga atau gantian di rumah kita ngadain arisan atau sekedar minum teh"
"Ohh... "
"Kenapa Ohh doang? " tanya Max
"Tapi ayah gak pernah main ke rumah tetangga atau ada yang main ke rumah kita"
"Itu karena ayah kamu judes dan galak"
Bughh
"Mertua sendiri di katain" Jawab Allea
"Bukan ngatain itu kenyataan" gumam Max
Rumah baru Allea sama Max
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di rumah Gita sekarang Dito sedang ketar ketir istrinya kembali mengalami kontraksi dai bingung harus tetap tinggal atau pergi kesekolah karena masih ujian, meskipun ibu Gita sudah menyuruhnya agar pergi ke sekolah namun Dito masih enggan beranjak dari sisi istrinya
"Nak.. kamu sekolah aja, di rumah ada ibu kamu gak usah khawatir" ucap Ibu Gita
"Kalo Gita lahiran gimana bu? Dito mau di samping Gita saat Gita lahiran"
"Paling hanya kontraksi palsu, usia kandungannya masih belum genap 9 bulan" jawab Dito
"Kalo ada apa apa telepon Dito ya bu"
"Iya.."
"Sayang aku akan cepat pulang" ucap Dito mengecup pipi Gita
"Gak apa apa selesaikan pekerjaan kamu aku baik baik aja" jawab Gita
Dito nampak gelisah dia tidak konsentrasi sama sekali itu dapat di tangkap oleh Bagas yang satu ruangan dengannya, Mereka pulang sekolah pukul satu siang Dito hendak buru buru pulang namun ketiga temannya menahannya
"Lo kenapa sih? tanya Bagas
" Gita dari pagi kontraksi, gue harus cepet pulang" jawab Dito
Baru saja Dito melangkahkan kakinya handphonenya berdering dia mengangkat teleponnya tubuhnya seakan lemas tak bertulang untung saja ketiga temannya menahannya dari belakang
"To.. kenapa to? " tanya mereka ikut panik
"Gita mau lahiran dia di bawa ke rumah sakit" jawab Dito dengan tatapan kosong
"Masuk biar gue yang nyetir" Desta mengambil kunci dari tangan Dito
“Bisa lebih cepat gak Des? " gerutu Dito
"Ini udah cepet lo mau masuk rumah sakit sebagai pasien? " jawab Desta
"Woi.. anj**g bisa nyetir gak, dasar b"g*'' Hardik Dito pada setiap kendaraan yang menghalangi jalannya
" Semua orang lo marahin" cetus Sandro
Sesampainya di rumah sakit Dito langsung masuk menemani Gita, melihat istrinya meringis mengernyitkan wajahnya sesekali meremas pinggiran brangkar membuat hatinya seperti teriris
"Kenapa kamu yang nangis? " tanya Gita di sela sela mengejannya saat Dito menggenggam tangan Gita di sampingnya
"Aku khawatir sama kamu" liriknya sambil mengusap air mata
"Cengeng" ucapnya lalu kembali mengejan
Saat Allea baru sampai menyusul mereka terdengar suara tangisan bayi membuat orang orang yang menunggu di luar bernafas lega, Mereka di persilahkan masuk setelah bayi selesai di bersihkan
Saat pertama kali Allea masuk dia melihat Gita yang di peluk Dito dengan bayi di tengah tengah mereka, wajah Allea berubah murung teman temannya saling menatap satu sama lain
"Selamat ya Gita Dito, semoga anak kalian menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya" ucap Allea
"Lo mau gendong? " tanya Gita namun Allea menggeleng
"Gue takut celakain bayi lo, gue aja gak bisa jaga anak gue sendiri" lirihnya, bagai di hujam ribuan jarum Max merasakan sakit saat Allea berkata begitu pilu
"Gue permisi" Ucap Allea dia berbalik semua orang tau Allea menangis terlihat dari gestur tubuh Allea yang sedang mengusap matanya
"Sayang.. " Max mengejarnya
"Sumpah gue ikut sakit hati waktu liat Allea" ucap Desta
"Gue juga" ucap Bagas, Dito, dan Gita bersamaan
"Pengen banget gue tonjok muka si Max" cicit Sandro
"Kenapa gak lo lakuin? " tanya Desta
"Ya kali.. dia lebih jago berantem bisa bonyok muka gue" selorohnya membuat teman temannya hanya bisa menggeleng