
"Ehh.. Gita bawa bayi siapa? " Gita mematung saat di tanya teman teman sekelasnya dulu
"Jangan jangan lo bilang pindah sekolah itu karena.. " mereka menggantung perkataannya menebak kemungkinan jika Gita hamil
Gita hanya diam kini anaknya mulai rewel dia bingung harus bagaimana, Teman temannya terus saja menanyainya dengan kata kata memojokkan
"Ehh.. thanks ya ta udah jagain keponakan gue" Bagas mengambil Dirga dari gendongan Gita
"Rewel ya.. sekali lagi thanks ya gue mau nyamperin ibunya dulu, bye" Gita memandang punggung Bagas yang perlahan menjauh
"Pergi yok.. duluan ya git" ucapnya tanpa rasa bersalah atau meminta maaf
Baru saja Gita hendak melangkahkan kakinya seseorang menahan pundaknya, Gita berbalik menatap Dito yang ada di belakangnya
"Mana Dirga? " tanya Dito
"Di bawa Bagas" jawab Gita
"Kenapa di bawa Bagas? kamu benar-benar malu bawa dia? "
"Bu.. bukan gitu" Tanpa mendengarkan Gita Dito pergi sambil menelpon Bagas
Bagas menunggu di parkiran dalam mobilnya dia senang mengajak bicara baby Dirga yang hanya senyum senyum sambil memainkan tangannya
"Kenapa Dirga bisa sama lo? " tanya Dito
"Lo gak tau tadi Gita ketemu temen sekelas kita mereka ngomongnya gak enak banget makanya gue bawa Dirga, gue bilang aja dia keponakan gue" Dito termenung mendengar perkataan Bagas
"Permisi" Gita menyingkirkan Dito yang menghalangi pintu mobil Bagas lalu mengambil baby Dirga
"Thanks ya, gue duluan" ucap Gita kembali ke mobilnya untuk memberi asi
"Thanks gas, gue duluan" Dito menyusul Gita
"Sayang maafin... "
"Aku udah maafin kamu" Sergah Gita dingin
"Kamu pasti marah" Dito mendekat ikut merangkul Dirga yang sedang minum dengan lahapnya
"Bisa jauhan dikit gak? aku gerah" ucap Gita ketika Dito memeluknya
"Aku tau kamu marah sama aku.. aku tadi cuma kesel aja kamu tanya malu apa enggak bawa Dirga"
"Aku cuma gak mau kamu malu ketahuan punya anak, biar aku aja yang mereka gunjing aku gak mau kamu ikut ikutan di jadi gunjingan mereka, kamu masih harus sekolah sementara aku semenjak Dirga lahir aku udah gak mikirin hal lain selain kebahagiaan dan kesehatan Dirga" ucap Gita menatap dalam mata Dito
Dito benar-benar merasa bersalah dia berpikiran salah tentang Gita, mereka saling menatap Dito salah mengira pada wanita yang sudah banyak berkorban untuknya
"Maaf sayang" Dito mengecup kening Gita lama lalu mengecup pipi bayinya
"Gak apa apa, dalam hubungan bukannya wajar kalo ada perselisihan dan kesalah pahaman? " ucap Gita
"Kamu benar benar lebih dewasa dari aku, aku malu sebagai kepala keluarga aku belum bisa bersikap dewasa"
"Gak apa apa, manusia tempatnya salah mungkin dari kesalahan kita bisa belajar agar tidak melakukan hal yang sama kedepannya" Ujar Gita
Dito memeluk Gita mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi kening serta bibirnya, baby Dirga hanya menatap mereka dari bawah membuat kedua orang tuanya malu
"Kamu membuat papamu malu" cicit Gita sambil mengelus pipi gembul Dirga
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Ketika di sekolah Allea dan Max baru saja masuk ke kelas samar samar terdengar teman sekelasnya membicarakan Gita, Allea masih menyimak perkataan mereka
"Kemaren gue ketemu Gita bawa bayi"
"Hmm.. bener bayinya mirip sama dia tapi Bagas bilang itu keponakannya"
"Waktu di tanya Gita kayak syok gitu dia diem aja"
"Masa sih? bukannya dia pindah sekolah dan tinggal sama neneknya? "
"Ya.. kita kan gak tau dia bohong atau enggak" sahut yang lain
"Ada bestienya belain nih" sindir mereka
"Apa jangan jangan bener Gita udah punya bayi? "
"Atau lo juga bentar lagi nyusul? abis lengket banget.. hahah" mereka menyindir Allea dengan sadis, mereka lupa seseorang yang duduk di samping Allea adalah Max
Braaakk
Semua orang terdiam mereka baru menyadari Max juga ada disana, suasana terasa canggung yang lain satu persatu mulai keluar ruangan menyisakan para penggosip itu yang tidak berani bergerak mereka hanya saling menyenggol dengan siku
"Katakan sekali lagi? " bentak Max
"Hei.. hei.. udah jangan buat keributan" Allea menarik tangan Max agar kembali duduk
"Kenapa? kamu mau mereka ngomong seenak jidat sama orang lain? mulut mulut kayak gitu harus di robek biar gak ngomongin kehidupan orang lain"
"Kita pulang aja ya, tanda tangan sama fotonya juga udah selesai" ucap Allea, mereka kesekolah untuk menyelesaikan tanda tangan ijazah dan foto
"Gak sebelum mereka di kasih pelajaran"
"Ada apa ini? kenapa semua orang di luar? " tanya Arabella yang baru saja masuk melihat teman temannya di luar kelas semua
"Emphhtt.. " Max menutup mulutnya saat Arabella datang membuat semua yang melihatnya keheranan
Max berlari ke kamar mandi di ikuti Allea, dia memuntahkan isi perutnya ketika Arabella datang dengan telaten Allea memijat tengkuk Max dan mengusap keringat di wajahnya setelah dia selesai
"Kamu kenapa? " tanya Allea
"Gak tau dia datang tiba tiba mual aja" Jawab Max dengan nafas terengah
"Aneh.. kamu sebenarnya kena penyakit apa sih? "
"Gak tau.. pulang aja aku gak bisa disini lagi"
"Heem.. ayo" Allea menggandeng Max keluar dari kamar Mandi
Ketika melewati kelas Arabella berlari kecil menghampiri Max, dengan cepat Allea menghadang Arabella karena takut Max akan kembali mual
"Sorry jangan deket deket nanti Max mual lagi" ucap Allea
"Heh siapa lo, kurang ajar banget lo pikir gue apaan bisa bikin orang mual? " gerutu Arabella
"Gue gak ada waktu ladenin lo" Allea menarik Max yang hanya diam saja menahan rasa mualnya
Sesampainya di mobil Max memeluk Allea dan seperti biasa membenamkan wajahnya di belahan dada Allea, Allea hanya membelai rambutnya sambil sesekali mencium wangi rambutnya
"Udah bisa pulang? " tanya Allea
Max mempererat pelukannya mencium dalam dalam wangi tubuh Allea sebelum melepaskannya, Lalu mulai menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari halaman sekolah
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Nak mama boleh datang ke kelulusan sekolah kamu gak? " pesan masuk ke handphone Danendra
"Liat nanti aja, soalnya bunda juga datang"
"Mama harap bisa liat kamu lulus nanti"
"Datang aja tapi jangan terlalu dekat aku jaga perasaan bunda" melihat pesan yang di tulis sang anak hati Selvi merasa pilu
Anaknya lebih memilih menjaga perasaan ibu sambungnya dari pada ibu kandungnya sendiri, Selvi tidak membalas pesan Danendra lagi
Air matanya tak terasa membasahi pipinya, Jeremy mengusap air mata Selvi dengan ibu jarinya
"Danendra lagi? " tanya Jeremy, Selvi hanya mengangguk
"Mungkin lukanya terlalu dalam, biarkan dulu seperti ini setidaknya sudah ada perubahan dia tidak menolak saat di ajak bertemu" ucap Jeremy
"Ya benar, setidaknya dia tidak terlalu mengabaikanku" Jawab Selvi mengusap bersih sisa air matanya