
Othor mau ingetin nih sebelum lanjut membaca jangan lupa like komen vote dan bunganya ya.. kembalikan semangat othor dengan dukungan kalian
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA TERHIBUR
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Papa aku mau adek bayi" rengek Niko membuat papa dan mamanya geleng-geleng kepala
"Millie punya adek sekalang mau punya adek lagi, Dita aja mau punya adek kenapa aku enggak? "
"Sayang usia mama udah gak muda lagi, Niko bisa anggap adik Millie sebagai adiknya Niko juga" jawab Ririn
"Aku mau tapi takut Millienya galak, aku gak boleh main sama Michelle katanya halus punya adek sendili" lirih Niko
"Masa sih Millie galak? Millie baik kok, kamu kan seneng main sama Millie"
"Baik sih tapi Millie seling malah malah, suka belebut juga gak kayak Dita dan Anggia" Ririn terkekeh mendengar pengaduan sang putra yang selalu di marahi keponakannya sendiri
"Millie itu baik cuma dia agak cerewet aja, buktinya dia suka kasih makanan atau mainan kan sama Niko? "
"Iya sih"
"Kalo Millienya marah marah Niko ingetin aja, kalo marah marah itu gak baik harus selesaikan masalahnya baik baik"
"Iya ma, Jadi adek bayinya gimana? " Gibran tertawa mendengar pertanyaan sang anak
"Sayang papa sama mama udah tua terlalu berisiko buat mama " Jawab Gibran
"Ya udah beli aja" rengek Niko
"Beli kemana nak, bayi itu gak di perjual belikan" ucap Ririn
"Beli aja nanti bayi kakak, dia kan udah banyak anaknya" Gibran dan Ririn bersamaan menggaruk kepalanya mendengar perkataan sang anak
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu gak mau bangun? " Max membisikkan nya di telinga Allea
Allea yang merasa terusik membuka sedikit matanya membalikkan tubuhnya terlentang, Max mengecup perut Allea yang sudah bergerak aktif
"Sayang bangun" Max mencium pipi Allea berulang kali
"Aku udah bangun" Jawab Allea mengerjapkan matanya
"Lepasin dong katanya suruh bangun" Allea berusaha melepaskan diri dari pelukan Max
"Aku cuma nyuruh kamu bangun bukan pergi" Max menarik Allea ke dalam pelukannya
"Kamu masih marah? " tanya Max, Allea hanya menjawab dengan gelengan
"Maafin aku ya.. Aku lagi emosi semalem dengar kamu marah marah gak bermaksud nyakitin kamu"
"Aku tau.. aku juga salah udah marah marah padahal belum tau yang sebenarnya, maafin aku juga ya" Allea mendongak menatap wajah suaminya, Max tersenyum mengeratkan pelukannya mengecup bibir Allea
"Aku mau mandi dulu" Allea menjauhkan kepalanya
"Mau kemana sih buru buru banget, Aku masih kangen " Max kembali mendekap Allea
"Bohong banget.. kangen apanya tiap hari juga ketemu"
"Aku memang selalu kangen sama kamu setiap hari, setiap saat, setiap waktu" Max beralih mengungkungnya
"Tunggu... " Allea menghentikan Max saat sedang mencumbunya
"Kenapa? " tanya Max
"Ini kenapa basah? " gumam Allea
"Kau basah? "
"Bukan bukan itu, bangun dulu" Allea menyingkirkan tubuh Max
"Sayang ini... " Max terkejut melihatnya
"Ketubannya pecah Max" ucap Allea
"Tapi ini masih tujuh bulan" Max langsung berdiri berjalan mondar-mandir entah apa yang dia lakukan
"Apa yang kamu lakukan? bukannya bantuin malah mondar mandir gak jelas" Allea turun sendiri dari ranjang
Max segera menggendong Allea dan membawanya keluar dari kamar, dia sampai tidak sadar jika hanya menggunakan celana kolor tanpa menggunakan baju
"Max apa kamu mau pergi seperti itu? setidaknya pake baju" ucap Allea
Max segera turun dengan tergesa-gesa mengambil bajunya juga tidak lupa menitipkan anak anak pada suster juga bibi, Max panik sendiri sementara Allea santai saja
"Apa ada yang sakit? " tanya Max
"Gak ada.. hati hati bawa mobilnya"
"Kenapa kamu sesantai itu? " Max terheran-heran melihat istrinya
Sesampainya di rumah sakit Allea sudah di tangani dokter setelah mendapat suntik perangsang namun masih belum ada tanda-tanda kontraksi hingga akhirnya harus masuk ke meja operasi
"Kenapa kamu nangis? " tanya Allea pada suaminya
"Gak tau.. aku sedih liat kamu begini" Max bicara seraya mengusap air matanya
"Jangan cengeng, Aku akan baik baik saja, jaga anak anak" hanya itu ucapan terakhir Allea sebelum di bawa ke ruang operasi
Tangis Max semakin terisak setelah Allea masuk membuat kedua orang tuanya yang baru saja datang saling memandang melihat anaknya menangis, Lydia duduk mengelus punggung Max
"Allea baik baik aja dia wanita yang kuat" ucap Lydia
"Saya takut bun.. terakhir saat melahirkan Michelle membuat saya takut melihat Allea melahirkan"
"Takut kok bikin lagi" ucap Gibran membuat kedua orang tuanya serta Ririn menahan tawa
"Kayak yang gak doyan aja" jawab Max seraya mengusap ingusnya
Memang Gibran dan Max selalu tidak mau kalah dalam hal apapun jika sudah di pertemukan, Antara sedih, khawatir dan ingin tertawa mereka rasakan setelah Max dan Gibran saling menyindir
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ellia kenapa? " Tanya Dirga saat melihat Ellia di tenangkan Ello
"Mama masuk rumah sakit" jawab Ello
"Sakit apa emangnya? "
"Kayaknya mau lahiran, papa gak ngomong apa apa keliatannya panik banget"
"Gak apa apa.. mama kamu pasti baik baik aja, jangan nangis" Dirga mengelus kepala Ellia
"Aku kasihan liat mama" lirih Ellia
"Jangan nangis lagi, do'ain aja semoga mama kamu cepat keluar dari rumah sakit dengan keadaan sehat" Kedua anak laki laki itu mengelus kepala Ellia serta menghiburnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Max memegangi tangan Allea yang masih terbaring lemah menutup matanya, terkadang dia mencium tangan juga kening sang istri
"Makan dulu nak.. biar kita jaga Allea disini" ucap Lydia
"Nanti aja bun.. saya mau makan sama Allea"
"Makanlah jangan buat Allea jadi janda muda" Sergah Gibran yang langsung mendapat sikutan dari istrinya
"Aki aki nimbrung mulu" gumam Max melirik Mertuanya dengan ekor mata
"Ngomong apa? " Gibran seperti mendengar Max mengatakan sesuatu
"Gak.. saya mau cari makan, titip Allea" ucap Max seraya berdiri
"Nitip makan sekalian ya" ucap Gibran
" Iya"
Max kembali setelah membeli makanan untuk kedua orang tuanya juga, Ketika sampai di ruangan tempat di rawatnya Allea ternyata sang istri sudah sadar
"Ada yang sakit? kamu mau sesuatu? " tanya Max menghampiri sang istri
"Sakit lah.. perut aku sakit banget" lirih Allea
Max mengecup seluruh wajah Allea membuat kedua orang tua serta mertuanya menggelengkan kepala, Allea mengusap wajahnya yang basah karena ulah sang suami
"Gak tau situasi banget, orang istrinya masih sakit juga" ledek Gibran
"Apa sih ni orang tua satu nimbrung aja" Allea terkekeh melihat suami dan ayahnya selalu berdebat jika bertemu
"Jangan nyosor nyosor mulu anak ayah masih sakit, ya kan sayang? Makan dulu biar cepet pulih" Gibran mengusap kepala Allea seraya mengambil piring makanan yang tadi diantar Suster
"Sini yah saya aja yang suapin" Max meminta piring tersebut
"Ya udah nih.. suapin yang bener" Gibran menyerahkan piringnya
"Aku bisa sendiri, kamu makan aja dari pagi kan belum makan" ucap Allea
"Aku makan nanti kalo kamu udah abisin ini, Aku gak tega liat kamu kesakitan" Lirih Max seraya menyuapi Allea
"Gak apa apa.. udah jadi kodratnya seorang wanita juga kan? aku bahagia bisa melahirkan anak anak kamu"
"Makasih sayang.. Ini yang terakhir, Aku akan melakukan vasektomi aku rasa sudah cukup melihat kamu kesakitan berulang kali" Allea menatap wajah suaminya, sepertinya dia memang serius dengan perkataannya
"Jangan.. Aku bahagia bisa melahirkan anak anak dari pria hebat ini, Kita bisa pakai cara lain lagi pula kalau ada beberapa anak lagi pun gak masalah" ucap Allea lembut seraya mengelus wajah suaminya
"Kamu gak keberatan kalo kebobolan lagi? "
"Gak... kamu adalah suami dan ayah yang bertanggung jawab dan begitu menyayangi keluarganya jadi sebanyak apapun anak kita aku rasa gak masalah" Max mengecup bibir Allea namun allea malah m*l*m*tnya dan menekan tengkuk Max
"Ehheemmm.... inget baru operasi" Hanya Gibran yang berani menegur dia sejoli yang bucin ini sementara yang lain malah tertawa melihat wajah malu Allea dan Max yang lupa jika disana masih ada para orang tua