
"Kecil sekali" Allea menyentuh kotak inkubator yang di dalamnya ada bayi mungil dengan beberapa selang di tubuhnya
"Kasihan.. aku gak tega" Allea mengusap air matanya yang berjatuhan, Max memeluk istrinya sesekali mencium kepala Allea
"Dia jagoan kecil yang kuat" Ucap Max
"Aku pengen bawa dia pulang"
"Aku akan lakukan apapun buat dia, kita akan secepatnya membawanya pulang" Max menenangkan sang istri
"Jangan nangis dong" Max menghapus air mata istrinya, bukannya berhenti menangis dia memeluk Max menyembunyikan wajahnya di dada Max menangis tersedu
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sekarang udah lega? udah liat adik bayi? " Dirga duduk di sebelah Ellia yang sedang makan siang di bawah pohon yang rindang
"Heem.. tapi mama sama adik bayinya kasian, adik bayinya kecil banget dipakein selang di badannya" ucap Ellia dengan mulut penuh
Dirga tersenyum saat melihat bibir Ellia Yang mengerucut karena penuh dengan makanan, Ketika Ellia hendak menyuap makanannya Dirga mengambil tangan Ellia dan memakan makanan dari sendoknya
"Kakak gak makan? catering hari ini enak tau nih cobain, enak kan? " Ellia memberi satu suapan lagi pada Dirga
"Lumayan.. aku sebenarnya udah makan" ucap Dirga
"Terus kenapa makan punya aku? "
"Liat kamu makan aku jadi laper lagi" jawab Dirga Seraya terkekeh
"Apa maksudnya? ngeledekin ya? " Ellia menatap Dirga dengan ujung matanya
"Gak.. Aku mau nyamperin Ello ke kantin" Dirga beranjak meninggalkan Ellia
"Kak tunggu" Ellia menutup kotak bekalnya dan menyusul Dirga
Mereka sudah sampai di kantin mencari keberadaan Ello, Ada sekumpulan anak perempuan di satu meja sudah bisa di pastikan itu adalah tempat Ello berada
"Lihat.. itu pasti kakak kamu" Benar saja Ello berdiri dengan wajah ketusnya menjauhi mereka
"Kak... " Ellia memanggilnya
"Aku mau ke perpustakaan" Jawab Ello seraya berlalu
Ello tidak suka di dekati dengan alasan yang terlalu mengada ngada dan alasannya sering di gunakan lebih tepatnya dia lebih suka ketenangan jika tidak ada kepentingan
Mereka yang ingin dekat dengan Ello selalu pura-pura menanyakan pelajaran dan minta di ajari, awalnya Ello mau mengajari namun itu terjadi setiap hari membuatnya bosan
"Ellia.. titip ini sama Ello ya"
"Aku juga"
"Ini juga" Seberapa anak perempuan memberikan kadonya pada Ellia
"Apa kakaku artis? kenapa mereka selalu kasih hadiah dan yang lebih membuat kesal selalu aku yang membawa semuanya" gerutu Ellia
"Ya udah sini aku bantuin" Niat hati membantu membawakan sebagian namun Ellia memberikan semuanya hingga dekapan Dirga penuh dengan kado
"Ayo" Ellia yang berjalan lebih dulu menghentikan langkahnya kembali berbalik menatap Dirga
Dirga hanya senyum seraya menggelengkan kepalanya melihat Ellia yang seakan tidak merasa bersalah ketika Dirga membawa semua kadonya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Mau buah? atau makan sesuatu? " tanya Dito pada Gita
"Gak mau... Dirga kemana? " tanya Gita saat tidak melihat putranya malam itu
"Kayaknya di kamar deh, dia lebih banyak belajar akhir akhir ini" Jawab Dito
"Hhmm bener.. aku juga gak pernah lihat dia main HP atau PlayStation kalo malem"
"Baguslah.. setidaknya dia punya kemauan belajar sendiri tanpa di suruh suruh" ucap Dito
Pintu sedikit di buka Gita melihat sang putra seperti sedang melakukan sesuatu duduk di lantai tanpa karpet, Gita berjalan masuk lebih dekat kearah Dirga
Dirga rupanya sedang melukis di sebuah kanvas kecil Gita masih memperjelas penglihatannya ketika melihat gambar tersebut
"Gambar apa itu? bagus banget kak" Mendengar suara ibunya Dirga langsung menghalangi lukisannya dengan tubuhnya
"Mama kok gak ketuk pintu dulu? " Gita jadi malu menggaruk tengkuknya sendiri
"Maaf sayang... sejak kapan kamu bisa melukis? mana sini mama lihat"
"Aku ikut seni melukis sama Ello, jangan liat mama, malu ini buat teman"Dirga menghalangi lukisannya agar tidak di lihat sang ibu
" Teman? Gambar siapa itu? mana mama liat? " Gita menggoda sang anak
"Mama.. mama pergi aja"
"Woooww.. Ini bukannya Ellia? " Gita mengambil lukisannya di belakang Dirga
"Bukan.. mama sok tau" Dirga segera merebut kembali lukisannya dari sang ibu
"Hhmm.. kenapa mukanya merah? " Gita sengaja menggoda Dirga
"Mama... "
"Iya.. iya.. mama keluar, cepetan tidur udah malem" ucap Gita seraya pergi
"Iya.. mau beresin ini dulu" jawab Dirga kemudian membereskan alat alat lukisnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
" kamu belum tidur? " Allea terbangun dari tidurnya dan melihat sang suami masih fokus dengan laptopnya
"Aku lagi cek beberapa kerjaan yang di kirim asisten aku, kenapa bangun? mau sesuatu? " tanya Max
"Mau peluk" ucap Allea manja, Max terkekeh melihat kelakuan sang istri
"Baik.. ayo peluk bayi besar ini" Max menutup laptopnya dan berjalan menuju ranjang Allea
Allea sudah merentangkan tangannya sambil tersenyum saat Max duduk di tepi ranjangnya Allea langsung memeluknya, Allea sedikit meringis saat lukanya terkena sikut Max
"Awwww.. "
"Kamu gak apa apa? kamu sih pecicilan banget" Max khawatir dan memeriksa luka Allea
"Gak apa apa, sakit sedikit.. mau peluk" Max memeluk istrinya yang bersikap semakin manja setelah melahirkan
Max memeluk Allea dengan penuh kasih sayang juga mencium kening serta pipi istrinya, Allea mendongak mengerucutkan bibirnya meminta Max menciumnya
"Muaacchh.. muaacchh.. muaacchh.. " Max hanya mengecup bertubi tubi
"Lagi yang lama" rengek Allea membuat Max terkekeh
Tangan Allea masuk ke dalam sweater yang dipakai Max dan menjelajahi tubuh kekar sang suami,
"Sayang.. "
"Aku bantu "
"Astaga... apa yang mereka lakukan? baru aja lahiran gak sabaran banget sih" keluh suster yang menjadi gelisah mendengarnya
"Aku kenyang" ucap Max sambil terkekeh
"Gak usah di bahas " Max malah tertawa melihat wajah malu istrinya
"Enak kan? " goda Max
"Iisshh.. tau ahh" Allea merebahkan dirinya dan menutup mata pura pura tertidur