My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Ketakutan



"Sayang kamu dimana? Max mencari Allea yang sedari tadi bermain dengan kucing


" Kayaknya tadi di depan tuan " jawab bibi


"Sayang lagi ngapain disini? " tanya Max ketika melihat Allea duduk di teras depan


"Si poni kasian di kurung terus jadi aku ajak keluar" jawabnya sambil mengelus kucing


"Masuk, nanti masuk angin"


"Temenin jalan jalan bentar yang" Allea berdiri menghampiri Max


"Besok aja sekarang udah malem"


"Jalan kaki aja bentar.. please"


"Ya udah deh aku pergi sendiri aja" Allea pergi tanpa menghiraukan perkataan Max


Mau tidak mau akhirnya Max mengikuti Allea keluar berjalan kaki, Max merasa mereka sedang di awasi tiba tiba saja kucing yang di gendong Allea melompat ke jalan


Allea mengejarnya berniat mengambil kucing tersebut Max melihat sebuah mobil yang awalnya melaju pelan sekarang menambah kecepatan


"Allea.. " Max memeluk dan mendorong tubuh mereka ke pinggir jalan


Brruukk


Mereka terjatuh dengan posisi Max di bawah karena melindungi Allea punggungnya terbentur trotoar, sementara lutut Allea sedikit berdarah dan kucingnya terlempar ke pinggir jalan


"Sshhh... " Max meringis membangunkan Allea


"Sakit" rengek Allea melihat lututnya


"Makanya kalo di bilangin itu nurut, naik" gerutu Max menyuruh Allea naik ke punggungnya


Max mengernyitkan wajah ketika Allea naik ke punggungnya, sesampainya di rumah Max mengobati luka Allea yang duduk di kursi sementara dirinya berjongkok di bawah


"Makanya jadi istri itu harus nurut sama suami" ucap Max seraya menekan luka Allea dengan kapas


"Awww" pekik mereka bersamaan saat Allea juga memukul punggungnya


"Hah.. sakit ya? padahal gak keras kok" ucap Allea


"Kamu mau ngapain? diem ini belum selesai" Max menolak Allea yang hendak membuka bajunya


"Maaf... kamu luka gara gara aku" lirih Allea


"Gak apa apa.. janji jangan ceroboh lagi? " Allea mengangguk lemah karena rasa bersalahnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Dito berjalan mengendap-endap menghampiri Gita yang sedang memasak, tiba tiba saja Dito memeluk Gita membuatnya terkejut


"Astaga" Gita berbalik mencubit perut Dito yang malah terkekeh


"Lagi mikirin apa sih? " tanya Dito


"Gak mikirin apa apa" jawab Gita kembali memasak


"Dirga mana? " tanyanya


"Di bawa jalan jalan sama Dilla " Dilla nama adik Dito


Dito mematikan kompor lalu membalikkan tubuh Gita, wajahnya semakin mendekati Gita dengan tangan yang berada di kedua sisi tubuh istrinya itu, Ibu Dito mengintip anak dan menantunya dari balik pintu


"Jangan gini nanti ada yang datang" ucap Gita mendorong kening Dito dengan jari telunjuknya


"Biarin aja kamu kan istri aku wajar dong kita mesra mesraan dimana aja"


"Gak gitu konsepnya, udah ahh sana jangan gangguin aku lagi masak" Gita kembali berbalik menghidupkan kompor


"Cium sekali" Dito memutar tubuh Gita dan memeluk pinggangnya


"Aww.. " Ketika Dito hendak mencium Gita tiba tiba saja tangannya terkena wajan panas


"Hahahhaa.. rasain" Gita tertawa memegangi perutnya saat Dito meniup tangannya yang terkena wajan


"Mphhhtt" Ibu Dito menahan rasa ingin tertawanya melihat kekonyolan sang anak


"Mama lagi ngapain? " ibu Dito sontak terkejut mendengar Dilla menyapanya, Dito dan Gita yang mendengar pun ikut menoleh


Tanpa menjawab ibu Dito pergi begitu saja meninggalkan mereka yang sedang menatapnya, Dilla tersenyum penuh arti pada Dito sepertinya mereka tahu sebenarnya ibu Dito sudah mulai luluh


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Ya"


"Apa yang buat lo berubah pikiran kuliah disini? " Tanya Danendra


"Karena gue pikir disini juga gak kalah bagus sama di luar negeri dan yang terpenting gue belum puas aja habisin waktu gue sama papa" jawab Cindy


"Ada alasan karena gue gak? " tanya Danendra membuat Cindy tertawa


"Kenapa ketawa? " tanya Danendra


"Sejak kapan lo jadi pintar buat lelucon? '' tanya Cindy dalam tawanya


" Ini bukan lelucon " Cindy menjadi diam setelah mendengar perkataan Danendra


"Ahh.. makanan udah dingin, ayo makan" ucap Cindy mencairkan suasana setelah mereka sempat saling diam


Keduanya makan dengan keadaan canggung entah mengapa Cindy menjadi malu ketika Danendra bertanya begitu, jika dia masih Cindy yang dulu mungkin saja dia akan dengan cepat mengeluarkan jurus genitnya tetapi sekarang berbeda Cindy menjadi lebih pemalu


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Allea melangkahkan kakinya masuk ke kampus Max di ikuti bodyguardnya, ketika bodyguardnya mengikat tali sepatu Allea tiba tiba di tarik seseorang


"Diam.. please gue mau ngomong sesuatu" Ucap Jonathan pada Allea yang berontak karena di bekap mulutnya


"Tenang gue gak akan nyakitin lo" ucap Jonathan setelah melepaskan Allea


"Lo mau apa? kalo ketahuan Max ini akan jadi masalah"


"Dengerin gue, cerai sama Max kalo mau hidup lo aman" ucap Jonathan membuat Allea terkejut


"Maksud lo apa? gue gak akan terpengaruh sama omongan lo" tegas Allea lalu berbalik pergi


"Allea.. lo pikir kecelakaan lo beberapa hari ini karena kebetulan? itu semua udah di rencanakan seseorang" Mendengar perkataan Jonathan langkah Allea terhenti


"Nyonya.. nyonya dimana? " mendengar suara bodyguardnya Jonathan menghilang dalam sekejap ketika Allea menoleh


"Apa dia vampir? " gumam Allea


"Di sini pak" Allea keluar menghampirinya


"Saya panik mencari anda, tuan sudah menunggu di depan"


Allea berjalan mengikuti langkah Bodyguardnya dengan tatapan kosong sampai dia tidak menyadari keberadaan Max di depannya, kening Allea menabrak dada bidang Max membuatnya mundur beberapa langkah


"Sakit gak? Kamu lagi mikirin apa? " tanya Max sambil melihat keningnya


"Gak apa apa, ayo pulang aku capek" Max heran melihat Allea yang sepertinya kurang bersemangat


"Kamu lagi mikirin apa? coba cerita "


"Apa alasan kamu sewa bodyguard karena kamu tahu ada orang yang ngancam aku? " ucap Allea


"Kata siapa? " tanya Max dengan tenang


"Aku benar benar takut sekarang, seseorang bilang orang itu mengancam aku karena aku istri kamu, dia ingin kita berpisah? "


Max tampak sedang berpikir dia menatap ke luar jendela seraya menopang tangannya di pintu mobil memijat keningnya


"Kok diem aja sih" Allea kesal menyikut lengan


Max


"Itu cuma omongan orang iseng sayang gak perlu di dengerin" Ucap Max seraya memeluk Allea


"Tapi kalo bener? "


"Sshhhtt..." Max menaruh telunjuknya di bibir Allea


"Kamu tahu kan rezeki, jodoh, maut udah ada yang ngatur mereka gak berhak ikut campur apa lagi mendahului sangat pencipta" Ucap Max menangkup wajah Allea, mata mereka saling memandang terlihat kekhawatiran di mata Allea


"Kalo kita gak bisa sama sama lagi gimana? "


"Aku akan cari cara agar kita kembali bersama" jawab Max


"Kalo maut yang memisahkan? "


"Aku gak mau dengar kata perpisahan dari mulut kamu, cukup kamu percaya sama aku kita akan selalu bersama, jangan lemah hanya karena ancaman orang Allea" ucap Max dengan kesal memeluk erat kepala Allea di dadanya


"Kalo kamu lemah orang semakin gencar menindas kamu, belajarlah kuat.. aku akan lindungi kalian meskipun nyawa aku taruhannya"


Allea terisak dia benar benar ketakutan hanya mendengar seseorang mengancamnya, Max memikirkan siapa dalang dari semuanya dia harus benar-benar mengusutnya jika dia sudah terang-terangan seperti ini