
"Bunda" Panggil Max, Lydia yang sedang menanam bunga menoleh kebelakang
Lydia melepaskan sarung tangannya dia beberapa kali mengucek matanya, Max berjalan menghampiri Lydia
"Bunda" Max melambaikan tangannya di hadapan wajah Lydia
Air mata Lydia berderai Max mengusapnya lalu memeluk sang ibu, Lydia hanya diam dia masih mengamati wajah Max
Perlahan tangannya terulur menyentuh wajah Max lalu pundaknya dan lengan serta jemarinya, tangisnya pecah memeluk anak yang selama ini dia rindukan
"Kamu kemana aja? Kamu masih hidup kenapa gak pulang?" Pertanyaan demi pertanyaan Lydia lontarkan
"Setau saya bunda gak secengeng ini, apa bunda terlalu merindukan saya? " Ucap Max seraya terkekeh
"Kamu anak nakal, dari dulu kamu yang selalu bikin bunda khawatir, kamu yang selalu bermasalah, kamu yang selalu pulang dengan tubuh luka, kamu.. Kamu jahat ninggalin bunda selama ini" Isak tangis Lydia di pelukan Max
"Maaf bunda.. Selama lima tahun ini saya tidak mengingat apapun tapi takdir selalu mempertemukan saya dengan Allea dan akhirnya saya kembali mengingat segalanya"
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kamu lupa istri kamu, lupa anak kamu, lupa bunda, lupa keluarga kamu? " Lydia memukul pelan lengan Max
"Siapa orang baik yang merawat kamu selama ini? " Lanjut Lydia, Max hanya tersenyum lalu mencium kedua tangan bundanya
"Bunda gak usah pikirin itu, sekarang yang penting saya udah pulang dengan keadaan baik" Jawab Max
Allea hanya tersenyum memandangi keduanya sambil bersandar di pintu, Lydia memanggil Allea dan memeluk serta mencium pipi dan keningnya juga sungguh kebahagiaan yang tidak bisa di ukur dengan apapun
"Kamu sudah tau selama ini Max masih hidup? " Tanya Lydia
"Awalnya gak tau bun, dia papa Ellia anak yang pernah aku bawa kesini" Jawab Allea
"Apa? Kamu udah nikah lagi? " Lydia kelihatannya terkejut
"Panjang ceritanya bunda, yang penting aku udah pulang dan ada kabar gembira lain"
"Apa? "
"Allea sedang hamil dan Ellia adalah Millie yang sudah lama hilang" Lydia semakin terkejut mendengar semuanya
"Bunda masih gak ngerti"
"Udah bun jangan di pikirin yang terpenting kita bisa berkumpul kembali"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Bagaimana sekarang? Hidup kita sudah hancur kenapa banyak berita buruk tentang kita" Ucap Yuki
"Sepertinya seseorang berniat menjatuhkan kita" Jawab Yamada
"Apa itu Alexander? "
"Gak.. Itu gak mungkin Alexander papa, suster bilang dia tidak melakukan apapun selama disana mereka hanya berkumpul bersama keluarganya"
"Lalu siapa? "
"Kita harus segera mengambil alih perusahaan Alexander, kita bisa melakukan apapun setelah kita mendapatkan perusahaan itu"
"Papa benar kita bisa menyuap para media dan mengganti rugi dan membungkam mereka, hidup kita perlahan akan kembali normal" Jawab Yuki
"Papa punya ide" Yamada membisikkan sesuatu pada Yuki
"Benar.. Tapi bagaimana kita terbang kesana tanpa di ketahui? " Tanya Yuki
"Papa akan urus semuanya" Mereka merencanakan penerbangan menuju Jakarta
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Max menyuruh keluarganya menyembunyikan fakta bahwa ingatannya telah kembali, karena kehilangan jejak Yuki akhirnya Max memerintah seseorang untuk mengikuti suster kemana pun dia pergi
"Kemana dia pergi? "
"Hanya menjemput anak anak? Baiklah" Setelah memutuskan sambungan telepon dia pergi ke dapur mencari sang istri
Allea sedang berdiri di samping meja makan entah sedang membuat apa, Max memeluknya dari belakang seraya menciumi tengkuk, leher dan pipi Allea
"Bisa diem gak sih? " Ketus Allea
"Sayang kenapa kamu masih marah? Aku harus gimana biar kamu gak marah lagi? " Tanya Max seraya menopang kan dagunya di bahu Allea
"Tau ah.. Awas minggir" Allea hendak pergi membawa secangkir teh namun Max merebut teh tersebut lalu meminumnya
"Kamu.. Aku belum meminumnya" Gerutu Allea
Max menarik tengkuk Allea dan memindahkan teh dari mulutnya ke mulut Allea, mata Allea membulat sempurna ketika Max tiba tiba melakukan hal itu
"Kamu ngapain? Gimana kalo ada orang yang datang? " Gerutu Allea
"Manis kan? Aku mau lagi" Ucap Max kembali menarik tengkuk Allea
Tatapan sinisnya mengarah pada Allea bukannya melepaskan Allea namun Max semakin berbuat nakal
"Xander hentikan" Allea menahan suaminya yang semakin gila
Menyadari kehadiran suster bukannya berhenti Max malah semakin menjadi, meskipun Allea sudah mengatakannya untuk berhenti namun dia tidak menghiraukannya
"Apa yang kamu lakukan? Suster tadi ada disini"
"Aku memang sengaja, aku mau main sama anak anak dulu" Max pergi menghampiri anak anak yang baru saja pulang sekolah
"Dia gak tau malu atau gimana? " Gumam Allea
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ada kabar apa? "
"Tuan masih belum ada perkembangan apapun dia masih disini tidak kemana mana, mereka semakin menunjukkan kemesraan bahkan terkesan tidak tahu tempat"
"Bukan kah dia sedang hamil? "
"Iya."
"Buat dia kehilangan bayinya, aku akan kesana dan bersiap aku butuh bantuanmu untuk membawa anak anak itu" Ucap Yuki
"Baik nyonya" Mereka tidak tahu saja bahwa handphone suster sudah di sadap dan sekarang Max sedang mendengarkan pembicaraan mereka
"Baiklah kalian ingin bermain? Aku pun bisa" Gumam Max
"Siapkan barang yang aku pesan"
"Bagaimana cara kerjanya? "
"Tidak langsung mati? Beberapa hari efeknya sebelum mereka mati?
" Baiklah" Max memutuskan sambung teleponnya
"Mati terlalu mudah untuk kalian, selamat bersenang-senang" Gumam Max dengan senyum smirk nya
.
.
Max sudah memasang CCTV di rumahnya dia masih berada di depan monitor mengawasi suster yang sedang memasukkan sesuatu pada dessert yang di taruh di kursi Allea, Max kembali ke meja makan dan mengeluarkan semua dessert yang sama dari kulkas dan menyimpannya masing masing satu di meja makan
"Bibi.. Suster.. Kita makan bersama" Teriak Max
Mereka mengikuti perintah sang majikan setelah makan makan mereka menikmati dessert yang tersedia di meja
"Tuan ini kan stok dessert nyonya kenapa di keluarin semuanya? " Tanya Bibi
"Gak apa apa bi, nanti bisa beli lagi " Jawab Max
"Lagian yang ini udah bosen, aku mau yang lain" Ucap Allea
"Kamu bisa beli apapun, berapa pun selama kamu suka"
"Aku mau beli tas baru, sepatu baru, mobil baru, boleh? " Allea sengaja ingin menghabiskan uang Max
"Tentu.. Aku antar kamu nanti" Allea memicingkan matanya, tidak disangka suaminya akan mengiyakan permintaannya
Beberapa jam setelah makan suster terdengar muntah muntah, bibi berlari tergopoh gopoh mengetuk pintu kamar Allea
"Tuan.. Nyonya.. "
"Ada apa bi? "
"Itu.. Suster muntah muntah gimana ya? " Tanya bibi
"Kita bawa ke rumah sakit aja" Ucap Allea
Suster di bawa ke rumah sakit oleh Allea dan Max, setelah berbagai pemeriksaan dokter mengatakan diagnosanya
" Sepertinya dia meminum obat yang mengandung misoprostol dengan dosis tinggi, misoprostol merupakan analog prostaglandin yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi tukak lambung, terutama akibat pemakaian obat anti inflamasi non steroid (AINS), dan juga menurunkan kemungkinan perdarahan karena tukak lambung... "
"Bagaimana jika obat ini di konsumsi ibu hamil? " Tanya Max
"Jelas akan mengalami kontraksi dan mengakibatkan keguguran, tapi anda tenang saja nona ini tidak hamil efek sampingnya hanya diare muntah dan bisa saja terjadi pendarahan di lambung, untung saja anda membawanya tepat waktu jadi meminimalisir efek nya" Jawab dokter
"Kenapa suster minum obat itu? " Tanya Allea setelah dokter pergi
"Gak usah di pikirin, mulai sekarang kamu harus perhatikan makanan dan minuman yang akan kamu makan" Allea sedikit heran dengan apa yang di katakan suaminya, apa berkaitan dengan sakitnya suster
"Jangan bicarakan diagnosis dokter dengannya" Ucap Max pada Allea
"Ini masih permulaan, beruntung istriku orang baik kalau tidak aku bisa membiarkanmu lebih parah" batin Max