My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Di balas telak



"Bunda gak apa-apa? " Max menyentuh lengan Lydia


"Gak apa apa sayang, kamu udah makan? " tanya Lydia


"Belum tapi saya masih kenyang, Saya kesini bawa makanan kesukaan bunda.. tunggu saya ambil dulu" Max kembali ke mobilnya membawa makanan yang dia beli setelah mengantar Allea pulang


"Temani bunda makan ya" Lydia memohon pada anaknya itu, Lydia ingin Max tinggal bersamanya namun sepertinya Max tidak pernah ingin tinggal disana


"Baiklah" Max merangkul bahu Lydia membawanya ke meja makan


"Coba ini nak" Lydia menyuapi Max yang sedang bermain handphone


"Enakkan? " tanya Lydia


"Iya enak bund" jawab Max lalu kembali ke layar handphonenya


Lydia merapihkan rambut Max menatap wajahnya yang terlihat semakin tampan, rahang yang tegas hidung mancung semakin dewasa Max semakin terlihat berkharisma


"Berapa banyak wanita yang suka sama kamu? " Tanya Lydia


"Bunda apa sih nanya nya gitu? "


"Anak bunda sangat sangat tampan masa gak ada wanita yang suka sama kamu? " ucap Lydia seraya terkekeh kecil


"Gak tau bun, yang jelas Saya cuma punya satu wanita saya gak peduli sama wanita yang lain" jawab Max


"Anak bunda kayaknya udah kesemsem sama anaknya Gibran" goda Lydia seraya mengusak pucuk kepala Max


"Bener bun, Allea wanita yang berbeda "


"Tapi inget jangan di apa apain dulu" Lydia menatap intens anaknya itu


"Iya kalo gak khilaf" jawab Max seraya tertawa


Lydia memukul gemas bahu Max dia tidak menyangka anaknya ini bisa bergurau, Lydia amat senang dapat melihat senyum di wajah anaknya Max terlalu banyak tertekan dia hampir tidak pernah menunjukan senyumnya dulu, hanya Ada Max yang dingin dan datar


"Kamu bahagia sama Allea? " tanya Lydia


Max mengangguk " Allea sumber kebahagiaan saya " Jawabnya dengan yakin


"Anak bunda udah dewasa bunda yakin kamu bisa jaga Allea" ucap Lydia memeluk tubuh kekar Max


"Pasti bun, Saya harus pergi bun katanya di bengkel ada costumer yang mau di benerin mobilnya langsung sama saya" ucap Max, sedari tadi pegawainya menghubungi Max karena customer ini kekeh ingin mobilnya di perbaiki oleh Max


"Ya sudah hati hati.. sering sering kesini ya salam buat Oma"


"Iya bun, bunda baik baik ya" sebelum pergi Max mencium kedua pipi Lydia


Danendra sedari tadi melihat interaksi Lydia dan Max ada perasaan sakit melihat Max, saudaranya itu tidak menaruh dendam apapun bahkan setelah mengetahui semuanya Max tidak lantas menyudutkan Danendra atau berniat menggeser posisinya


Max masih orang yang sama tinggal di luar meski pun sekarang dia tahu orang tua kandungnya, Max bahkan tidak meminta uang sepeserpun dari orang tuanya dia membiayai hidupnya sendiri, membeli segala keperluan dan keinginannya sendiri berbeda dengan Danendra yang bergantung pada pemberian orang tuanya


"Gue harus minta maaf secara langsung" gumam Danendra


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Pagi pagi sebelum berangkat sekolah Allea memakai sepatunya di depan rumah, Cindy tiba tiba saja berdiri di samping Allea dan bicara merendahkan Allea


"Jadi cewek kok gampangan banget" sindir Cindy


"Maksudnya? " tanya Allea seraya mendongak


"Ehh kesindir ya.. hhaha ya ampun" Allea hanya memincingkan matanya mendengar perkataan Cindy


"Eehh Allea lo tau gak? sebenarnya Max mau sama lo setelah tau lo tu anak Daddy" ucap Cindy


"Terus apa urusannya sama lo? " sinis Allea


"Ya lo tau kan gimana sikap Max sama cewek? dia cuma mau sama cewek yang jelas asal usulnya belum tentu dia mau sama lo kalo lo bukan anak daddy"


"Ohh ya?? jadi maksud lo gimana ya? "


"Maksud gue kalo lo beneran cucu pembantu itu Max gak akan pernah mau deket sama lo dan dia pasti akan tunangan sama gue" ucap Cindy dengan pedenya membuat Allea nyaris tertawa


"Jadi setelah tau Max anak kandung om Damian lo jadi berpaling gitu? lantas siapa yang murahan? " Allea tertawa sendiri mendengar pernyataan Cindy yang di buat buat


"Bisa di lihat juga kan om Damian baik sama lo karena dia tahu lo anak daddy gue yakin Max juga sama"


"Itu orangnya dateng kita tanya" kebetulan Max baru saja datang dengan motor sportnya


"Sayang... " Allea manja memeluk lengan Max membuatnya terheran kenapa Allea jadi semanja ini


"Ada yang bilang sama gue katanya lo mau sama gue cuma karena gue anak orang kaya, bener gitu? " tanya Allea


"Bodoh banget kalo lo percaya, gue sayang lo apapun keadaanya gak peduli fisik lo gimana, status lo gimana, dari keluarga seperti apa lo lahir yang jelas gue cuma sayang sama Allea Anastasya gak perduli apapun selain itu" Jawab Max seraya mencubit gemas hidung Allea


Mendengar itu Cindy mendecih kesal dia menghentakkan kakinya masuk ke dalam mobil, Allea lantas memeluk Max dan menjulurkan lidahnya pada Cindy yang sedang menatapnya dengan tatapan permusuhan


"Gue akan bikin perhitungan sama lo" batin Cindy


"Ayo berangkat sekarang" Allea menjauh dari tubuh Max


"Hei itu tadi apa? cuma manas manasin orang doang? " tanya Max


"Hehe.. abis kesel dia ngomongnya macem macem" Jawab Allea seraya memakai helm


"Kamu ikutin pake mobil aja aku mau naik motor" titah Allea pada Aksa


Sesampainya di sekolah Allea turun dari motor Max dan berjalan lebih dulu tidak menunggu Max yang sedang memarkirkan motornya


"Gitu ya habis manis sepah di buang" Max mengejar Allea dan merangkulnya


"Jangan gini nanti di liat orang" Allea menjauhkan tangan Max dari pundaknya


"Biarin aja mereka liat mereka kan punya mata" ucap Max


Max memaksa Allea berjalan bergandengan meskipun Allea menolak dia mengenggam erat tangan Allea, siswa satu sekolah menatap mereka dengan tatapan yang berbeda Allea hanya menunduk berbeda dengan Max yang tampak tenang dan tampan


"Ada yang go public nih" ledek Dito


"Diem gak" ketus Allea


"Kalian pacaran? " tanya Yuki yang kini duduk di sebelah Allea menggantikan Gita


Semula Allea menggeleng hendak berkata tidak namun Max lebih dulu bicara "Ya Allea pacar gue" pernyataan Max membuat siswi perempuan di kelas Allea patah hati masal


"Wooww... " keempat teman laki laki Allea bertepuk tangan, Allea menghela nafas kasar dia tidak bisa menutupinya lagi


"Lo beneran? " Yuki bertanya dengan mimik wajah tidak biasa


"Sorry ki gue gak bisa buat lo deket sama Max" lirih Allea


"Itu karena lo goda dia kan? gue salah minta tolong sama lo" bisik Yuki dengan nada kesal lalu pergi meninggalkan Allea membawa tasnya


"Yuki tunggu" Allea hendak mengejar Yuki namun tangannya di tahan oleh Max


"Kenapa? " tanya Max


"Yuki marah " lirih Allea nyaris tidak terdengar oleh orang lain


"Udahlah biarin aja" Max membawa Allea duduk


Max dan Allea saling berhadapan meletakkan kepalanya di atas meja beralaskan tangan, Mereka bicara seperti saling berbisik membuat para siswi cemburu dengan Allea. Mereka berusaha mendekati Max sering mencari perhatian tapi malah tidak pernah sedikitpun Max melirik mereka


Namun dengan Allea dia sangat dekat bahkan bisa saling berhadapan dengan jarak sedekat itu membuat iri mereka, Arabella berdiri di samping Max dan menyentuh tangan Max yang terulur sebagai bantal


"Apa apa sih" ketua Max menarik tangannya


"Gue mau ngomong sama lo" ucap Arabella


"Gak ada yang perlu di omongin lagi, kita udah punya kehidupan masing masing" Jawab Max


" Max seenggaknya lo hargain usaha gue buat kembali lagi kesini" pinta Arabella seperti mengemis pada Max


"Lo ngomong apa sih? gue gak pernah minta lo kembali karena sejak lo pergi kita udah selesai" jawab Max yang sontak membuat Arabella menjadi bulan bulanan anak anak satu kelas


"Hhuuuhhhhh" suara siswa satu kelas menyoraki Arabella


Arabella berlari keluar kelas sepertinya dia sedang menangis " Max lo nyakitin perasaan Arabella" ucap Allea


"Gue gak peduli" singkat Max menyilangkan tangannya di dada seraya menyandarkan tubuhnya


"Lagian mereka kenapa sih, gue gak pernah ngasih harapan sama mereka tapi mereka bertingkah seolah di selingkuhi.. aneh" gerutu Max


"Ini yang gue takutin, pacaran sama lo menyakiti hati banyak orang" ucap Allea


"Gue lebih gak rela kalo hati lo yang sakit" goda Max seraya mencolek lengan Allea


Ekspresi Allea seperti ingin muntah mendengar celotehan Max, Max yang gemas mencubit hidung Allea seraya memeluknya