My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Balas dendam



Hari demi hari dijalani dengan tenang, Allea membujuk ayahnya agar dia kembali tinggal bersama Max meskipun awalnya Gibran melarang keras namun dia akhirnya mengalah demi kebahagiaan putrinya walaupun dia masih ketus pada Max


Allea juga mengantar Cindy yang pulang dari rumah sakit ke rumah Frans dan membantu mengantarkan barang barang Cindy ke rumah barunya itu


Sementara Dito harus bertemu dengan Ayahnya secara diam diam datang ke rumah sakit, meskipun ayahnya belum juga sadar namun Dito selalu datang menceritakan tentang rumah tangganya, keadaan anaknya, juga keluh kesahnya pada sang ayah


Seperti hari ini Dito merasa bersalah karena dia tidak selalu di samping ayahnya disaat ayahnya terbaring sakit, Dia juga merasa lelah dengan sikap ibunya yang belum juga bisa menerima Gita dan anaknya


"Dito gak tau harus gimana lagi menghadapi mama, apa salah kalo Dito bertanggung jawab? Dito sayang sama mama tapi Dito juga sayang sama istri dan anak Dito pa" Suara Dito bergetar air matanya mulai menetes


Dito menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan di atas ranjang ayahnya, perlahan Dia merasa kepalanya seperti di elus seseorang saat dia mendongak papanya sedang menatap dia sambil tersenyum


"Papa.. sebentar Dito panggil dokter dulu" Setelah memanggil dokter Papa Dito mulai di periksa


"Syukurlah keadaannya semakin membaik, mungkin beberapa hari lagi anda bisa pulang tuan" ucap dokter, setelah pemeriksaan dokter kembali pergi


"Istri kamu gimana kabarnya? " tanya Ayah Dito masih lemah


"Baik pa, kandungannya juga sehat"


"Sampaikan maaf papa padanya"


"Hmm.. papa liat ini anak Dito pa" senyum lebar terlukis di wajah Dito dengan bahagia dia menyerahkan poto hasil USG bayinya


"Bayinya laki laki, dia sehat satu bulan lagi dia akan lahir" Dito menjelaskannya dengan bahagia sambil mengusap air matanya


Papa Dito mengambil hasil USG itu air matanya mulai berlinang, dia merasakan sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata


"Boleh nanti papa liat saat dia lahir? " tanya papa Dito dengan lirih


"Tentu.. Gita pasti senang pa"


"Hmm.. berbahagialah papa merestui kalian" kali ini Dito memeluk papanya, ada bahagia yang tidak bisa di utarakan


"Laki laki jangan menunjukkan sisi lemahnya, kamu harus tangguh karena suatu saat jika ada hal tak terduga terjadi kamu bisa mengatasinya dengan baik, bahu kamu harus lebih kuat setelah menjadi kepala keluarga" Nasihat papanya sambil menepuk punggung Dito


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Max tersenyum saat dia baru keluar dari kamar mandi melihat Allea yang masih meringkuk seperti bayi, Kemudian dia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang


"Sayang bangun.. sampai kapan kamu mau tidur? " ucap Max seraya menyingkirkan anak rambu di wajah Allea


Merasa dingin saat tangan Max menyentuhnya Allea semakin meringkuk dan menutup tubuhnya dengan selimut, Max menarik selimut yang menutupi tubuh Allea sampai teronggok di lantai


"Dingin" rengek Allea, tangannya mencari selimut dengan mata yang masih tertutup


"Sekarang gak dingin lagi kan? " tanya Max memeluk Allea hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya


Allea mengangguk menyembunyikan wajahnya di dada bidang Max, tangan Max menepuk nepuk ****** Allea dia tidak merasa sesuatu menghalangi seperti biasa disana lalu dia merabanya


"Ohh.. jadi gak mau kasih tau" batin Max, dia sekarang mengetahui bahwa Allea sudah melewati masa n*f*snya namun tidak memberitahu Max


"Sayang.. aku rencananya mau pergi liburan, mau ikut gak? " tanya Max


"Mmhh.. di kasih libur sekolah itu buat belajar kita ujian akhir " jawab Allea dengan suara parau


"Paling cuma dua hari sisanya kita bisa belajar"


"Terserah kamu aja deh"


"Kita berangkat hari ini juga" ucap Max membuat Allea membuka matanya


"Kok mendadak? kita belum siap siap" protes Allea


"Aku akan siapkan semuanya, kamu mandi dulu sana" titah Max


"Bentar lagi ya.. aku masih ngantuk"


Tanpa Basa basi Max mengangkat tubuh Allea ke kamar mandi dan menceburkannya ke bathtub yang diisi air dingin


"Aaaaaaaaaa" Allea berteriak karena terkejut


"Dingin tau" Max tidak mendengar protes Allea dia pergi begitu saja


"Tumben dia gak minta macem macem" gumam Allea


Allea sudah selesai mandi dan memakai baju lengkap tapi Max masih sibuk menelpon seseorang di balkon, Saat dia melihat Allea berjalan mendekat Max segera menutup teleponnya


"Kamu telpon siapa? " tanya Allea


"Ahh.. ini Wawan aku suruh dia nganter kita"


"Kenapa gak bawa mobil sendiri? kamu gak boong kan? " tanya Allea


"Enggak, kamu udah siap? aku pake baju dulu" Max melewati Allea yang masih menatapnya curiga


"Wan berhenti di depan" Ucap Max turun di depan rumah besar


"Kamu mau kemana? " tanya Allea


"Tunggu sebentar aku ketemu dokter dulu" ucap Max lalu pergi


"Wan dia ada ngomong sesuatu gak? " tanya Allea


"Gak ada non, bos cuma mau saya nganter doang tapi gak ngasih tau kemana tempatnya"


"Kamu ngapain ketemu dokter? "tanya Allea


" Minta obat, siapa tau nanti kita butuh"


Perjalan berlanjut Allea tertidur selama perjalanan Max menatapnya dengan senyum smirk, sesampainya di tempat Max tidak membangunkan Allea dia menggendongnya masuk ke villa


"Pulang hati hati wan kalo ngantuk istirahat dulu, uang gue transfer ya gak ada cash" ucap Max pada Wawan saat ikut turun mengantar koper


Malam malam Allea terbangun karena tangan usil Max yang membuka mata Allea, Baru saja Allea membuka matanya tangan Max sudah menyusuri perut, dada, dan berhenti di lehernya


"Max kamu mau ngapain? " tanya Allea, bukannya menjawab Max memagut bibir Allea dengan kasar


"Apa dia udah tau ya? " batin Allea, Allea ingin memberitahu hal ini setelah ujian tapi sekarang Allea tau sepertinya Max lebih dulu mengetahuinya


"Aku lapar " ucap Allea mendorong tubuh Max menjauh


"Oke.. ganti baju kita makan di kolam" ucap Max lalu mengambil paper bag dan memberikannya


Allea mengambil paper bag tersebut lalu membawanya kekamar mandi, Allea mengira itu hanya baju renang nyatanya Allea di buat terkejut kenapa Max memberinya baju seperti itu


"Apa dia gila? bisa masuk angin gue pake baju gini" gumam Allea melihat baju transparan dengan tali spageti yang kalau di pake memperlihatkan d*l*m*nnya


"Ganti semuanya sama yang ada di dalam atau aku yang akan paksa kamu ganti" ucap Max dari balik pintu


"Max bisa gak... " belum sempat Allea menyelesaikan perkataannya Max sudah mencela


"Jangan membantah ganti semuanya"


Allea menggerutu sendiri dalam hatinya dia mengumpat suaminya, dia mematut dirinya di depan cermin membuatnya malu sendiri


"Gue udah kayak kupu kupu malam aja" gumamnya memutar tubuhnya


Allea menyembulkan kepalanya sebelum keluar ternyata kamarnya kosong, sebuah pesan masuk ke handphonenya dari Max


Max


"Ke kolam sekarang"


Wife


"Aku malu takut ada orang"


Max


"Gak ada, semua pelayan aku suruh libur"


Allea mendengar seseorang memanggilnya ternyata kolam itu berdampingan dengan kolam dia hanya tinggal membuka pintu kaca nya, Allea mendekat perlahan dia benar benar malu tatapan itu seperti hendak menel*nj*ngi Allea


"Sini" ucap Max namun Allea mematung di pinggir kolam menyilangkan tubuhnya di dada


"Kenapa? " tanya Max


"Ini udah malem.. aku kedinginan" jawab Allea


"Kamu akan kepanasan setelah ini" ucap Max menarik tangan Allea agar turun


Awalnya mereka makan dengan makanan yang terapung di kolam, Allea tidak banyak bicara dia menghabiskan makanannya. setelah habis Max menaikan sisa makanannya ke pinggir kolam


Max mendekati Allea sekarang dia tahu kenapa Max melakukan ini, sepertinya Max benar benar sudah mengetahuinya


"Kita masuk aja ya disini dingin" ucap Allea


"Kenapa kamu gak kasih tau aku? " tanya Max membelai wajah Allea dengan jari telunjuknya


Allea terdiam menundukan kepalanya sekarang dia di buat lebih terkejut ternyata Max tidak menggunakan apapun terlihat senjata itu sepertinya sudah siap menyerang


Hayo... kira-kira jadi gak tuh?


Jangan lupa like komen dan vote ya


Jadikan favorit juga, dukungan apapun dari kalian sangat berharga buat author