My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Anak kandung



"Aku mau pulang" rengek Allea saat mobil yang di kendarai Max bukan menuju arah pulang ke rumah


"Ya udah aku turun disini kalo kamu gak anterin aku pulang" cicit Allea


"Turun.. " ucap Max dingin menghentikan mobilnya


Allea membuka pintu mobil namun perkataan Max membuat Allea mengurungkan niatnya untuk keluar


"Paling di ganggu preman disini, sana kalo berani turun aja" Allea memberangus kesal kembali menutup pintu mobilnya


Max menyunggingkan sebelah sudut Bibirnya dia tahu Allea tidak akan berani turun disana, Max kembali melajukan kendaraannya sampai di tempat yang dia tuju


"Turun.. bukannya kamu mau kesini? "


Allea turun dengan wajah berbinar langsung memeluk Max, sesaat kemudian Allea tersadar bahwa dia masih marah dengan suaminya itu seketika dia langsung menjauh menyembunyikan wajah senangnya


"Gak mau kesini? ya udah ayo pulang" Max berbalik hendak pergi namun Allea menarik ujung bajunya


"Apa? "


"Mau masuk" lirihnya sambil mengerucutkan bibir


"Peluk dulu" pinta Max, Allea hanya diam saja Max yang lama menunggu hendak pergi namun Allea buru buru memeluknya


"Cium"


"Malu banyak orang" ucap Allea


"Kalo gitu aku yang cium" Max menekan tengkuk Allea mencium bibirnya dengan lembut


Setelah puas baru Max melepaskannya jangan di tanya bagaimana malunya Allea karena banyak orang berlalu lalang, wajah Allea tak henti hentinya mengembangkan senyum saat Max membawanya masuk


"Aku mau naik itu" tunjuk Allea pada bianglala yang bersinar di malam hari



"Ayo naik" Allea berlarian menarik tangan Max, saat naik disana Allea tak henti hentinya tersenyum menatap ke bawah


"Sayang" panggil Max


"Hhmm" Allea menatap Max yang memeluknya dari samping


"Sampai kapan kamu gak bisa percaya sama aku? jangan dulu menuduh aku karena omongan orang, bisa gak kamu omongin dulu sama aku jangan asal menyimpulkannya sendiri"


"Tapi kamu juga ada kemungkinan bohong kan? aku gak mau kamu ngomong panjang lebar padahal akhirnya kamu bohong sama aku" jawab Allea


"Tapi aku gak pernah bohong sama kamu"


"Hhmm.. iya kamu gak pernah bohong" ucap Allea dengan nada menyindir


"Iya aku pernah bohong tapi itu juga demi kebaikan" ralat Max


"Berbohong tetap saja berbohong tidak ada kebohongan yang baik, kalo berbuat bohong untuk kebaikan kejujuran tidak di perlukan lagi" jawab Allea


"Istri aku pinter banget sih ngomongnya" goda Max menciumi pipi Allea


"Iihh.. jangan cium cium aku masih kesel sama kamu" Allea mendorong kepala Max menjauh


"Gimana cara ngilangin keselnya huh? " Max menangkup wajah Allea mendaratkan kecupan berkali kali


"Kamu belum minta maaf" ketus Allea melepas tangan Max dari wajahnya


"Maafin aku kalo gitu, mulai sekarang aku turutin semua yang kamu mau" ucap Max


"Bener? "


"Iya.. sekarang udah gak kesel lagi? " tanya Max


"Masih ada sedikit"


"Menggemaskan sekali... " Max mengeratkan pelukannya mencium wajah Allea berkali kali, mereka menghabiskan malam untuk bermain di pasar malam


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang sayangku lagi apa? " Sapa Dito yang baru saja pulang


"Hai papa.. aku baru selesai mandi" Jawab Gita menirukan suara anak kecil


"Kabar bagus apa? "


"Allea dan Max akan punya bayi kembar" jawab Dito


"Serius? mereka pasti seneng banget" Gita ikut merasa bahagia dengan kabar ini


"Kamu kayaknya seneng banget, apa kamu juga mau bayi kembar? " Dito meraih pinggang Gita merebahkan tubuhnya di tengah kedua jagoannya


"Dirga masih kecil, aku belum mau membagi kasih sayang buat dia" jawab Gita


"Dia gak akan kekurangan kasih sayang" ucap Dito


"Kita kasih adik kalo dia udah agak besar ya.. " ucap Gita


"Tapi kalo prosesnya boleh sekarang dong" goda Dito kini beralih di atas Gita dan mencium bibirnya dengan lembut


Dirga hanya menatap orang tua yang berada di sampingnya sambil mengacungkan kakinya ke atas, Gita mendorong Dito saat melihat Dirga sedang menatap mereka yang sedang bermesraan


"Kenapa? " tanya Dito, Gita memberi kode dengan ekor matanya menunjuk Dirga


"Emang kenapa dia gak ngerti juga" ucap Dito


"Malulah dia liatin gitu, nanti aja ya kalo udah tidur" bujuk Gita


"Ya tanggung padahal udah kayak gini"


"Hiisshh... dasar" Gita memukul bahu Dito


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Lo udah sadar? " tanya Jonathan pada Yuki


Yuki memalingkan wajahnya enggan menatap Jonathan, Jonathan menghela nafas sebelum bertanya pada Yuki


"Jangan hancurin hidup lo cuma gara gara cowok, lo cantik cowok mana pun pasti bisa lo dapetin" ucap Jonathan


"Iya gue tau, tapi dia enggak tertarik sama gue itu yang buat gue pengen milikin dia"


"Itu bukan cinta itu cuma rasa penasaran lo aja, lupain dia demi kebaikan lo" ucap Jonathan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Mau kemana? " tanya Damian pada Lydia yang baru saja turun


"Aku mau menemui anak kandungku, sejak hari aku belum menemuinya" Lydia sengaja menekankan kata anak kandung


Lydia pergi begitu saja meninggalkan Damian yang menatap kepergian Lydia, Sebenarnya Damian ingin menemui Max namun entah kenapa rasanya dia malu terlalu banyak dia melukai anak kandungnya


Lydia sampai di rumah Max tetapi bibi mengatakan mereka belum pulang dari sore, Lydia memutuskan menunggu mereka hingga tertidur di sofa


Tengah malam Max baru pulang dengan Allea yang tidur di gendongannya, Max terkejut saat melihat Lydia tidur meringkuk di sofa setelah menidurkan Allea di kamar Max kembali dia duduk di dekat Lydia menatap wajah sendu ibu kandungnya


"Ahh.. kalian sudah pulang" Lydia terbangun saat Max mengusap kepalanya


"Maaf bun, saya ganggu tidur bunda" ucap Max


"Gak apa apa nak, bunda kesini mau ketemu sama kamu"


"Ada apa bun? apa ayah masih marah sama Danendra? " tanya Max


"Entahlah kami tidak saling bicara setelah kejadian itu, bunda gak habis pikir kenapa ayah kamu begitu menyayangi Danendra dan mengacuhkan kamu"


"Sebenarnya bunda udah gak kuat liat kamu selalu menjadi orang asing di rumah orang tuamu sendiri, bunda berpikir akhir akhir ini dan bunda memutuskan untuk berpisah dari ayah kamu, Mungkin dia lebih menyayangi Danendra karena dia anak dari Selvi, bunda gak bisa hidup satu atap sama laki laki yang hatinya untuk wanita lain" Max menatap lekat mata bundanya lalu meraih tangan bundanya menggenggamnya erat


"Saya gak apa apa bun, jangan lepaskan apa yang sudah bunda genggam percaya hati ayah cuma buat bunda, kalo ayah mencintai wanita lain sudah dari dulu ayah menikahinya"


"Saya rasa ayah lebih mencintai Danendra karena mereka dekat sedari kecil apalagi Danendra yang sakit sakitan membuat kekhawatiran ayah terbawa sampai sekarang, bunda tau saya kuat sedari kecil jadi ayah tidak perlu khawatir dengan keadaan saya" lanjut Max


"Maxime apa yang harus bunda katakan sama kamu, Maafin bunda nak hidup kamu sulit sejak kecil tapi kami tidak pernah ada buat kamu" Lydia meraih tubuh Max dan memeluknya erat


"Dari kecil bunda dan Oma yang paling peduli dengan saya, saya tidak pernah berpikir bunda mencampakkan saya, sudah jangan menangis lagi" Max mengusap punggung Lydia untuk menenangkannya


"Bunda tidur di sini aja malam ini, bibi udah siapin kamar" ucap Max


"Iya.. kamu juga istirahat ya" Mereka sama sama menuju kamar