My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Maling cantik



"Kamu lagi ngapain? " 


"Ahh.. Kamu ngagetin aja deh" Allea terlonjak mendengar suara Alexander yang baru keluar dari kamar mandi


"Aku tanya kamu lagi apa? " Alexander mengulang pertanyaannya pada Allea


Saat keluar dari kamar mandi Alexander melihat Allea sedang membuka tasnya, di tegur oleh pemilik tas membuat Allea terkejut seperti ketahuan sedang mencuri


"Kamu ngambil apa? "


"Gak ada, aku cuma beresin barang barang kamu aja" 


"Yang bener? "


"Nih lihat aja sendiri kalo gak percaya, emangnya aku kelihatan kayak maling apa" Ketus Allea melemparkan tasnya pada Alexander


"Mama mau kemana? " Kedua anak yang sedang bermain mengikuti Allea keluar kamar hotel


"Kalian tunggu aja sama papa, mama ada urusan" Allea kembali memasukkan anak anaknya lalu pergi dari sana


"Mama kalian kemana? " Tanya Alexander


"Gak tau.. Katanya ada urusan" Jawab Ello kembali menuntun Ellia ke ranjang untuk bermain ponsel


"Apa dia benar-benar marah? " Gumam Alexander


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang jadi pergi hari ini? " Tanya Ririn


"Iya ma, aku masih ada kerjaan ini aja di gantiin kak Vero aku jadi gak enak" Jawab Allea seraya mengemas sedikit barangnya


"Ayah sama mama anter ke bandara ya? "


"Gak usah ma.. Kemarin pasti lelah karena pesta pernikahan Cindy kalian istirahat aja"


"Gak mau diantar karena takut kami lelah atau ada yang lain? " Goda Gibran


"Ayah apaan sih, mulai deh"


"Anak anak kemana? "


"Mereka sama papanya" Jawab Allea


"Ohh.. Papanya" Seru Ririn dengan nada menggoda


"Iihh.. Mama juga kalian suka banget sih godain anaknya" Rengek Allea


"Karena wajah malu anak mama gemesin banget" Ucap Ririn seraya mencubit kedua pipi Allea


"Selesai, Allea berangkat ya.. Kapan kapan ayah sama mama tengokin Allea disana" Ucap Allea kemudian mencium pipi ibu sambungnya kiri dan kanan begitupun ayahnya


"Ya.. Semoga saja saat kita kesana kamu sudah punya pengganti, entah itu Vero atau papanya anak anak"goda Ririn saat menyebut kata papanya anak anak


"Ishh.. Mulai deh, Allea berangkat ya" Allea melangkahkan kakinya beberapa langkah


"Tapi masih kangen" Allea kembali memeluk kedua orang tuanya, Ririn dan Gibran mencium pipi Allea bersamaan


"Semoga kalian selamat sampai tujuan" Ucap Gibran


"Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian sayang, sering sering kabari kami" Ucap Ririn seraya mengelus kepala Allea


"Iya.. Allea sayang kalian" Allea pergi setelah melepaskan rindunya pada Gibran dan Ririn


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Bosan ya.. " Ellia dan Ello tidur terlentang sementara Alexander menatap ke luar jendela dia khawatir Allea marah padanya


"Mama kemana sih? "


"Gak tau.. Telepon coba" Ucap Ello


Ellia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi nomor ponsel Allea


"Gak di angkat"


Pintu kamar tiba tiba terbuka sosok Allea muncul membawa tas kecil, anak anak berhambur memeluk Allea


"Kita kembali sayang, mama masih banyak kerjaan" Ucap Allea


"Kamu mau kembali? Kenapa gak bilang? " Allea mengacuhkan pertanyaan Alexander


"Ellia mau ikut mama apa pulang sama papa? " Tanya Allea


"Kita pulang hari ini juga ya pa" Pinta Ellia


"Iya.. Papa ambil dulu tas" Karena barang barang Alexander sudah di rapihkan Allea jadi tidak perlu berkemas lagi


Allea menuntun kedua bocah itu keluar meninggalkan Alexander, rasanya tidak enak saat Allea bersikap acuh padanya


Langkah Allea hampir sampai ke taksi tiba tiba seseorang berbaju serba hitam berjalan mendekat ke arah Allea


Alexander melihat pisau lipat di tangan pria yang berjalan mengarah kepada Allea, Alexander berlari menghampirinya kecepatan Alexander lebih dulu menepis pisau tersebut hingga punggung tangannya yang terkena sayatan pisau


"Aww.. " Pekik Allea saat Alexander sempat mendorongnya ke mobil


Melihat tangan Alexander berlumuran darah pria tersebut segera kabur, orang orang juga melihat itu dan segera mengejarnya


Ketika Alexander hendak mengejarnya juga dia mendengar suara anak anak ketakutan memeluk Allea, Alexander mengurungkan niatnya lalu kembali menghampirinya


"Kamu gak apa apa? " Tanya Alexander


"Papa tangannya berdarah" Ello menunjuk tangan Alexander


"Gak apa apa cuma luka kecil, ayo pergi nanti kita ketinggalan pesawat" Alexander tidak memperdulikan lukanya meskipun darahnya menetes


"Pak ke rumah sakit dulu" Ucap Allea ketika mereka masuk kedalam taksi


Sesampainya di rumah sakit Alexander kembali berulah dia harus mendapatkan jahitan di tangannya karena lukanya cukup dalam namun dia menolak dokter yang bertugas dia ingin Allea yang menjahit lukanya, meskipun kesal Allea tetap mengobatinya sebagai balas budi karena Alexander telah menyelamatkannya


"Kita impas, aku udah jahit lukanya aku gak berhutang budi sama kamu" Ucap Allea


"Tergantung sikap kamu mengobatinya" Jawab Alexander 


Allea dengan hati hati mengobatinya namun Alexander terus meringis membuatnya kesal, dia tahu Alexander hanya berpura-pura kesakitan


"Hutang belum lunas, kamu tidak tulus mengobatinya" Ucap Alexander seraya pergi


"Menyebalkan" Gumam Allea seraya ikut keluar


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke bandara, wajah Allea selalu cemberut sementara Alexander sesekali meliriknya dengan seringai


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Apa? Gagal? Bagaimana bisa? " Pekik Nola


"Pria itu menggagalkannya"


"Pria siapa? "


"Yang bersama wanita itu"


"Dasar bodoh.. Apa dia terluka? "


"Hanya sedikit tergores"


"Brengsek.. Kamu melukai suamiku? " Nola menampar pria tersebut


"Kalian.. Bawa orang ini dan jangan biarkan dia hidup" Teriaknya pada dua pria tinggi besar yang berjaga di pintu


"Baik Nona" Pria bertubuh kekar tersebut menyeret pria itu keluar, tidak menghiraukan teriakannya memohon ampun


"Bagaimana Alexanderku.. Aku harus menelponnya" Nola menyambar handphonenya dari atas meja


Nomor Alexander tidak bisa di hubungi membuat Nola frustasi dan membanting handphonenya, dia bergegas ke hotel tempat Alexander menginap namun resepsionis mengatakan Alexander sudah pergi beberapa jam yang lalu


"Dia pasti sudah kembali" Nola segera pergi menyusul Alexander


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Mama ikut pulang ke rumah kan? " Tanya Ellia


"Enggak sayang.. Mama sama Ello pulang ke rumah kita"


"Mama ikut pulang ya, aku gak mau jauh dari Ello" Rengek Ellia memeluk tangan Ello


"Mama masih marah hmm? " Alexander menarik pinggang Allea merapatkan tu buh Allea ke tubuhnya


"Apa yang kamu lakukan? Ini gak pantas di lihat anak anak" Allea melihat Ellia dan Ello tertawa cekikikan


"Jadi kita bisa melakukannya kalo cuma berdua? " Bisik Alexander


"Gak" Bentak Allea


"Masih marah sayang? Tadi aku cuma becanda, mana ada maling secantik ini" Goda Alexander


"Ciieee... " Ledek anak anaknya


"Haishh.. Lepas, ini memalukan" Allea mendorong tubuh Alexander menjauh


"Ayo kita pulang mama, papa udah gak sabar mau tidur" Mendengar perkataan Alexander Allea menjadi salah paham dan menabok punggungnya


"Apa? Apa ada yang salah? Aku cuma mau tidur apa itu gak boleh? " Tanya Alexander membuat wajah Allea memerah


"Ayo anak anak.. Mama kalian sepertinya sedang flu lihat wajahnya memerah" Alexander menggiring anak anaknya jalan lebih dulu lalu menarik tangan Allea


Allea menatap tangannya yang di genggam Alexander dengan senyum yang berusaha dia sembunyikan