My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Kemarahan yang luluh karena rayuan



"Alhamdulillah.. neng baik baik aja" ucap seorang warga yang baru saja datang memakai kursi roda


"Maksud bapak? " Allea terlihat bingung dengan ucapannya


"Neng yang waktu itu ngejar kucing pinggir danau kan? saya lihat Mila mendorong neng jatuh saya ingin menolong tapi saya lumpuh lalu saya pergi memanggil orang tapi saat saya datang dengan Yanto neng udah enggak ada, Yanto berenang muter muter danau juga gak ada"


"Iya neng saya sampe nyelem nyariin gak ketemu, sampe panik kita"


"Kamu" Max bangun dari duduknya dengan tatapan tajam dan wajah yang sangar


"Max.. kita pulang ya aku ngantuk" ucap Allea lembut menggandeng tangan suaminya


"Jangan halangi aku" Max juga menatap tajam pada Allea


"Sayang.. aku udah gak apa apa, jangan di perpanjangan" Allea mengusap dada Max agar emosinya mereda


"Saya membiarkan kamu selama kamu tidak menyentuh Allea, apa kamu tau istri saya hampir mati kemarin? " Teriak Max membuat semuanya tersentak


"Waduh.. ini bener bener duplikat tuan Damian" gumam mereka yang bekerja di perkebunan teh milik Damian


"Wan... " Allea memberi kode pada Wawan agar membantunya membawa Max, namun Wawan menggeleng ketakutan


"Bu.. " Mila ketakutan menggenggam tangan ibunya


"Hadapi masalahmu sendiri" ucap Ibu Mila menarik tangannya yang di genggam Mila


"Aww.. " Allea terpekik memegangi perutnya


"Kamu kenapa? " kemarahan Max buyar mendengar Allea kesakitan


"Perut aku sakit banget" lirih Allea


Tanpa pikir panjang Max mengangkat tubuh Allea melupakan luapan emosinya, Sesampainya di villa Max menurunkan Allea di sofa lalu pergi ke dapur mengambil p3k


"Mana yang sakit sayang? " Tanya Max berlutut di hadapan Allea panik hendak memijat


"Sini.. " Allea menepuk sofa di sampingnya dan Max hanya menurut saja


"Aku gak jadi sakit" cicitnya sambil beralih duduk di pangkuan Max


"Kamu bohongin aku? " tanya Max dengan tatapan tajam, Allea hanya tersenyum lebar seraya menulis abstrak di dada bidang Max


"Sayang.. aku gak mau memperpanjang masalah ini, aku udah gak apa apa kasihan bibi" ucap Allea manja mengalunkan tangannya ke leher Max


"Aku mau mandi" Max melepaskan tangan Allea dan memindahkannya duduk di sofa lalu berdiri


"Sayang.. jangan marah" Allea Berjinjit di hadapan Max kembali mengalungkan tangannya


"Aku mau.. " Ucap Allea manja menyusuri wajah dan leher Max dengan bibirnya


Hanya ini jalan satu satunya saat suaminya itu sedang marah padanya, Dia pasti tidak dapat menolak saat Allea bersikap manja


Benar saja rahang Max yang awalnya mengeras menahan amarah kini melunak matanya sayu menatap Allea dengan tangan yang membelit pinggangnya


"Kamu akan kesulitan berjalan lagi setelah ini" ucap Max menyeringai mengangkat Allea ke kamarnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Gita di perbolehkan pulang hari ini Dito melayani Gita selama di rumah sakit dengan baik bahkan tidak meninggalkannya sebentar saja, Dito amat ketakutan jika ibunya kembali membuat Gita celaka


"Sudah siap? " tanya Dito seraya mengembangkan senyumnya Gita hanya menjawab dengan anggukan


"Anak papa lagi apa? seneng gak sekarang pulang? kita ketemu oma lagi.. yeayy" ucap Dito pada perut Gita, mereka berhenti sejenak ketika sedang berjalan


Dito mengecup perut Gita dengan lembutnya Gita mengelus kepala Dito keduanya terlihat bahagia, baru beberapa langkah mereka kembali berjalan ibu Dito kebetulan lewat hendak menuju ruangan ayah Dito


Ibu Dito tertegun melihat anaknya bersenda gurau dengan sang istri, Dito seperti tidak melihatnya dia berjalan lurus bahkan menarik wajah Gita dengan tangannya ketika Gita menatap ibu Dito


"Sayang.. " Gita merasa tidak enak hati dengan sikap Dito pada ibunya, Dito hanya menggeleng dia semakin mengeratkan rangkulan di pundak Gita melewati ibunya begitu saja


"Dia benar benar marah" gumam ibu Dito dengan wajah yang di tekuk


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Enggh" Allea menggeliat ketika merasakan wajahnya di belai seseorang


"Mau pulang gak? " bisik Max


"Badan aku sakit semua" rengek Allea membalikkan tubuhnya menghadap Max


"Siapa suruh kamu godain aku? Aku udah bilang kalo kamu mancing mancing kamu akan kesusahan berjalan" jawab Max, hidung mereka saling bersentuhan


"Emm.. ayo bangun sekarang mandi" Max membangunkan Allea mengangkat ketiaknya


"Kenapa di tutupin? " tanya Max saat Allea menutup tubuh polosnya dengan selimut


"Malu.. kamu liatnya gitu banget" jawab Allea, memang benar Max tak lepas memandang tubuhnya


Max terkekeh sambil mengangkat Allea duduk di pangkuannya,


"Emang kenapa? ini punya aku, ini juga, ini, ini, semuanya punya aku jadi aku bebas lakuin apa aja mau di pandang, di pegang, di makan juga boleh" ucap Max


"Seperti ini"


"Akkhh.. " pekik Allea


Pergulatan mereka kembali terjadi pagi itu diakhiri dengan keduanya mandi bersama lalu bersiap untuk pulang, Bibi dengan wajah sendunya menata makanan di atas meja Wawan yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri bibi


"Jangan sedih.. tuan tidak akan melakukan apapun karena non Allea yang sudah menanggung semua kesalahan anakmu" ucap Wawan


"Maksudnya? " tanya ibu Mila dengan suara gemetar


"Saya gak perlu jelasin" jawab Wawan, tentu saja dia mendengar pergulatan Allea semalam saat dia keluar dari kamar hendak ke dapur


Sampai hampir subuh pun saat Wawan hendak mengambil air suara laknat mereka masih terdengar, Mau tidak mau Wawan mendengarnya membuat kepalanya berkedut namun entah kepala yang mana wkwkwk


"Masih sakit? pulangnya besok aja ya? " Tanya Max pada Allea saat berjalan ke meja makan


"Cuma sedikit gak enak aja kalo jalan" Jawab Allea


Perkataan mereka terdengar oleh Wawan dan ibu Mila membuat wajah mereka memerah seketika, tidak perlu menunggu jawaban lebih detail mereka tau apa yang sedang di bicarakan dua pasangan muda ini


"Ehh.. Mereka dengar gak ya " gumam wajah Allea semerah tomat saat melihat kehadiran dua orang itu di meja makan


Ibu Mila menghampiri mereka dan berlutut di hadapan Max dia menangis menyesali perbuatan anaknya sekaligus ingin mengundurkan diri


"Pekerjaanmu itu urusan ayah saya tidak berhak atas itu, kamu masih boleh bekerja disini karena saya tidak menyampaikan kejadian tidak menyenangkan ini pada ayah"


"Bi.. Allea udah bilang ini bukan salah bibi, bekerja dengan baik disini jangan pikirkan apapun" ucap Allea


"Sekarang bangun kita sarapan bersama" ucap Allea seraya tersenyum


Mereka makan di dapur meski Allea mengajak Wawan dan ibu Mila makan bersama namun mereka sungkan saat melihat Max dan akhirnya dengan berbagai alasan mereka menolak dan lebih memilih makan di dapur


Setelah makan mereka benar benar pulang Allea melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan pada ibu Mila, Saat di dalam mobil sepertinya wajah Allea benar benar kelelahan dia beberapa kali menguap dan tidak secerewet biasanya


"Tidur aja perjalanan masih jauh" ucap Max menarik pinggang Allea agar mendekat dan meletakkan kepala Allea di bahunya


"Bos.. " panggil Wawan ragu


"Hmm, " hanya itu respon yang Max berikan


"Waktu saya berangkat kesini seperti mobil cewek yang suka banget di servis ngikutin saya" ucap Wawan


"Terus? "


"Saya kecoh aja sampe dia salah jalan lalu saya ngebut, bos hebat ya banyak di kejar cewek"


"Itu buat gue pusing, mereka sering berbuat ulah dan kadang gue susah jelasinnya sama Allea sampai sampai dia sering marah sama gue" jawab Max seraya membelai kepala belakang Allea yang sudah tertidur


"Non Allea baik banget bos dia berhati lembut "


"Lo lagi muji istri gue apa gimana? " tanya Max


"Ahh.. jangan marah bos, saya hanya mengatakan yang sebenarnya"


Sepanjang perjalanan Allea dan Max tertidur sementara Wawan fokus menyetir tanpa di temani ngobrol dia merasa sangat jenuh


"Nasib nasib.. " gumam Wawan


Tidur Allea terganggu saat sebuah tangan menggerayangi punggungnya seperti sedang mencari sesuatu, ternyata tangan itu mencari pengait Br* setelah mendapatkannya tangan itu berputar beralih kedepan


"Emmhh.. " gumam Allea saat


"Sayang.. Wawan nanti liat" bisik Allea baru saja membuka matanya


"Liat" Allea tercengang ketika di hadapannya sudah ada gorden yang menjadi pembatas antara mereka dan wawan


"Kamu sengaja menyiapkan ini? " tanya Allea


"Aku bosan kalo cuma tidur " Jawab Max


Suara ketika Max menarik dan melepaskan kulumannya secara bergantian, Wawan tidak ingin gila mendengar suara suara mereka lalu menyalakan musik begitu kencang


"Akkhh.. Max kamu gak tau tempat" ujar Allea yang di tarik ke pangkuannya


"Engghh.. kamu semakin hebat" bisik Max


"Siapa dulu gurunya" Jawab Allea


Wawan sampai memakai earphone juga agar tidak mendengar keduanya yang lagi lagi tidak menjaga perasaannya


"Tuhan... aku ingin menangis" gumam Wawan mengusap wajahnya kasar


Woi.. woi.. jangan lupa kasih author hadiah ya


author mengsedih yang baca banyak tapi gak pencet like.. pencet lah gak akan menyakiti tangan cantik mu kok 😁


Buat yang selalu dukung like komen vote juga berbagai dukungan untuk author.. aku padamu 😍😍😘😘


Semoga rezekinya lancar dan hari harimu menyenangkan 🥰