
Saat Allea berjalan ke kelas mengambil tasnya Gita menghampiri Allea dia menggenggam tangan Allea dengan tatapan merasa bersalah, Allea hanya tersenyum mengusap lengan Gita
"Gue ngerti gak apa apa semuanya udah beres, nanti kita ketemu gue mau ngomong sama lo" ucap Allea kemudian melangkah menuju pintu
"Masih sekolah udah hamil"
"Orang sekolah bikin karya lah ini bikin anak"
"Siapa bapaknya jangan jangan gak jelas lagi"
"Itu gak bener kan Allea? " Tanya Yuki seraya memegang tangan Allea yang hendak pergi
"Bener gak bener itu bukan urusan kalian" jawab Allea menepis tangan Yuki
"Jangan jangan itu anaknya Max ya? "
"Pantes nempel banget udah di kasih kenikmatan haha" Seisi kelas tertawa
"Kalo pun iya kalo pun enggak gue rasa gak ada hubungannya juga sama kalian, gue yang ngerasain gue yang jalanin gak usah ribet ngurusin hidup orang" ketus Allea
"Hamil di luar nikah aja sombong"
"Pasti lo yang godain Max duluan kan? "
"Iya secara Max gak pernah mau deket sama cewek"
"Kalian gak tau aja sikap Max di belakang kayak gimana, kalo pun gue yang godain dia toh dianya juga mau, kenapa? ada masalah? " Jawab Allea
"Gila.. dasar murah"
"Huuuu hhhh" Allea di teriaki satu kelas
"Nona sebaiknya jangan bicara lagi" Aksa membawa allea pergi sebelum dia membuat kesal teman satu kelasnya
"Kenapa nona tidak jujur saja? " tanya Aksa ketika di dalam mobil
"Sebel aja belum tau kebenarannya mereka udah sewot duluan, biarin mereka malu pas tau kebenarannya"
.
.
Sesampainya di rumah Allea ada mobil lain terparkir di halaman rumahnya, Allea masuk mengucap salam ternyata di ruang tamu sudah ada keluarga Damian
"Sini" Gibran menepuk kursi yang ada di sampingnya
"Ada apa yah? " Allea berbisik pada ayahnya
"Jangan gugup gitu sayang, kedatangan kami kesini cuma mau silaturahmi " Ucap Lydia melihat Allea terus menunduk
"Max sudah menjelaskan semuanya, dan ayah sudah tau permasalahannya" Allea sontak menoleh ke arah ayahnya
"Ayah udah tau kalo Max anak om Damian? " tanya Allea dan di angguki oleh Gibran
"Katanya kamu dan Max cukup dekat? " tanya Damian membuat Allea gugup
Allea menoleh ke arah Max namun yang di tatap membuang wajahnya ke arah lain, Allea kembali menunduk tidak menjawab pertanyaan Damian
"Ayah kamu yang bilang, kemarin di kolam... " belum sempat Meneruskan kata katanya Lydia sudah memotong pembicaraan
"Ayah udah jangan bikin malu anak anak, kasihan tuh muka Allea udah merah gitu" goda Lydia
"Jeng sebaiknya kita makan dulu bibi udah siapin sarapan" Ujar Emile yang menjaga imagenya di hadapan keluarga Damian
"Aduh jadi ngerepotin" Ujar Lydia
Emile menggandeng Lydia menuju meja makan diikuti para suami di belakangnya sementara Allea paling belakang berjalan berdampingan dengan Max
"Kalian ngapain disini? " tanya Allea
"Loh emang gak boleh? "
''Malu sama calon mertua? " goda Max
"Iihh apaan sih siapa juga yang mau nikah, gue masih kecil"
"Emang lo gak mau jadi istri gue di masa depan? " goda Max seraya merangkul bahu Allea
"Gue.. gue.. gak tau ahh" Allea menepis tangan Max dan berjalan lebih dulu seraya memejamkan mata dengan menggelengkan kepalanya
"Kenapa geleng geleng nak? " tanya Lydia yang tanpa sadar Allea berjalan menggeleng sampai meja makan
"Enggak bun" Allea tersenyum lalu duduk di sebelah Ayahnya
Max duduk tepat di hadapan Allea, awalnya mereka makan dengan tenang sampai Max kembali membuat ulah. Max mengelus kaki Allea dari bawah dengan kakinya
Allea melotot kearah Max namun yang di pelototi malah tersenyum nakal seraya menaik turunkan alisnya, Allea berniat menendang kaki Max tapi bukannya kaki yang di tendang malah kayu yang membentang diantara kaki meja yang kena
Brakkk
"Auuwwhh" gumam Allea pelan seraya menundukan wajahnya
"Apa itu? " Emile dan yang lain sampai terlonjak
Max tidak bisa menahan rasa ingin tertawanya dia terkekeh pelan seraya menundukan kepalanya, kedua orang tuanya menatap Allea dan Max bergantian
Keduanya sama-sama menunduk hanya ekspresinya yang berbeda, Allea terlihat mengaduh dan kesal sementara Max terkekeh hingga punggungnya bergetar
"Hhmm bunda tau nih pasti anak ini yang buat ulah" Lydia menjewer telinga Max membuat semua orang tertawa
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Danendra berada di sebuah penginapan dia menenangkan dirinya sendiri, mencerna apa yang terjadi padanya dia benar benar tidak mengerti bagaimana semuanya bisa terjadi
Karena emosinya bahkan dia tidak mendengarkan penjelasan dari Lydia, dia bingung sekarang harus kemana dan bagaimana. Haruskah dia kembali ke keluarga Damian atau menemui ibu kandungnya yang tega membuangnya
"Hidup gue bener-bener kacau" gumamnya
"Gue butuh waktu sementara waktu buat ketemu mereka, gue malu sama Max dia bahkan gak pernah mengolok olok gue meskipun dia tahu kalo gue yang sebenarnya anak haram"
Saat sedang bergumul dengan pikirannya tiba tiba pintu kamarnya di ketuk, Danendra berjalan gontai membukakan pintu
"Siap.. pa? " Danendra sempat menggantung kata-katanya saat melihat siapa yang datang
"Mau apa anda kesini? anda mengikuti saya? " tanya Danendra
"Kamu udah tau semuanya kan? maafkan mama nak" lirih Selvi
"Anda juga memata matai saya? hebat.. " Danendra bertepuk tangan sendiri
"Mama terpaksa melakukan ini, mama cuma mau anak mereka merasakan apa yang akan kamu rasakan jika mereka tidak menerima kamu"
"Anda sudah salah langkah dari awal anda sudah salah harusnya anda membawa saya pergi saat itu dan memberikan saya perhatian dan kasih sayang layaknya seorang ibu mungkin saya tidak akan sesakit sekarang" bentak Danendra
"Mama tau mama salah, maafkan mama nak" lirih Selvi berderai air mata
"Maaf anda sudah terlambat untuk sekarang, saya sudah menyakiti hati Max bertahun tahun padahal yang harusnya di benci adalah saya, saya anak haram dan saya benci di lahirkan kedunia ini, saya tidak ingin dilahirkan dari rahim seorang wanita penggoda " teriak Danendra
Brakkk
Danendra menutup pintu dengan kasar, keduanya bersandar di pintu saling membelakangi duduk dengan tangisan yang menyesakkan dada. Mereka duduk saling membelakangi hanya terhalang pintu saja
"Mama salah nak, mama hanya ingin kamu hidup senang tanpa merasa malu mama ingin menimpakan penderitaan kamu pada anak mereka" gumam Selvi
"Kalo boleh milih gue lebih baik di gugurkan waktu itu dari pada di lahirkan menjadi seorang Danendra yang menyembunyikan identitasnya dari kebaikan hati orang lain, bahkan Max rela gak di anggap anak demi gue padahal gue udah banyak nyakitin perasaan dia" ucap Danendra seraya menunjuk dinding di sebelahnya
Jangan lupa like komen dan vote ya
Kasih dukungan buat author biar mood up setiap hari