
Pagi itu semua orang sudah beraktivitas seperti biasa, Allea dan Aksa juga sudah bersiap ke sekolah. Gibran tidak bisa melarang Allea yang bersikeras menolak belajar di rumah
"Kamu yakin sayang? " tanya Gibran
"Yakin ayah, Allea pamit yah" Allea mencium tangan ayah dan ibu tirinya
"Lebay banget kesekolah aja di awasi bodyguard" ledek Cindy saat hendak masuk ke mobilnya
"Iri bilang sayang, gue jadi princess sekarang dan lo masih tetep segitu segitu aja gak berkembang" Allea membalas ledekan Cindy seraya masuk ke mobil yang sudah di bukakan pintunya
"Bye" Allea melambaikan tangannya dengan manja sebelum mobil itu melesat keluar halaman rumah Gibran
"Sialan, daddy lebih sayang dia sekarang" Cindy mengepalkan erat tangannya
Sesampainya di sekolah Allea duduk dengan Aksa berdiri disampingnya, Allea melirik sekeliling tapi tidak menemukan Gita, Dito dan Max
"Gita kemana? " tanya Allea pada Bagas
"Tadi dianter ke UKS sama Dito mukanya pucet banget" jawab Bagas
"Mau kemana? " lanjut Bagas
"Cari mereka apa cari Max? " goda Bagas
"Kepo lo" sahut Allea
Allea pergi ke UKS untuk menemui Gita dan Dito saat baru saja membuka pintu Gita dan Dito tampak sedang beradu mulut, entah apa yang mereka ributkan hingga melihat kedatangan Allea keduanya terdiam
"Kalian berantem? " tanya Allea
"Gak.. Gita cuma gak mau minum obat" jawab Dito
"Lo sakit apa ta? gue bawa kerumah sakit ya? " ucap Allea
"Gak Le gak apa apa gak usah"
"Lo sembunyiin apa di belakang? " tanya Allea melihat tangan Gita di sembunyikan ke belakang tubuhnya
"Gak ada kok"
"Coba gue lihat" Allea dan Gita saling menarik tangan
Sampai Gita benar benar kesal dan mendorong tubuh Allea keras, untung saja Aksa sigap menangkap tubuh Allea hingga dia tidak jatuh ke lantai
"Lo kok kasar? " tanya Allea
"So.. sorry Le gue gak sengaja" ucap Gita merasa bersalah
"Gak apapa lo gak mau cerita sekarang tapi gue harap lo jangan sembunyiin masalah lo dari kita, kalo kita sama sama kita lebih kuat" ucap Allea
Gita kemudian memeluk Allea dan meminta maaf setelah memasukkan sesuatu yang dia sembunyikan ke sakunya
"Gue mau cari Max dulu ya " Allea pergi meninggalkan Gita dan Dito di UKS
Seolah sudah tahu tempat favorit Max Allea langsung pergi ke belakang gudang, ternyata benar Max sedang duduk disana dengan sebatang rokok yang masih menyala
"Max" sapa Allea kemudian duduk di sampingnya
"Jangan ganggu gue dulu" ucap Max dingin
"Kamu bisa pergi dulu gak? aku yakin disini tidak akan ada orang jahat" pinta Allea pada bodyguardnya
"Tapi.. "
"Ayolah tunggu di kelas 10 menit lagi aku kesana"
"Baiklah" Aksa menuruti perkataan Allea dia menunggu di depan kelas
"Max lo kenapa? " Allea menarik dagu Max agar menoleh ke arahnya, terlihat wajah Max yang memar dengan luka yang sudah mengering
"Gak apa apa" Max menepis tangan Allea di dagunya
"Lo berantem sama siapa? " tanya Allea lembut
"Jangan ganggu gue.. pergi" ketus Max
"Lo kenapa? gue punya salah? kalo lo punya masalah jangan di pendam sendiri bukannya kita selalu tahu masalah satu sama lain, kenapa sekarang lo gak mau berbagi" Allea berdialog sendiri seraya menangkup wajah Max menjadikan jarak mereka begitu dekat
"Danendra udah tau semuanya dan dia pergi dari rumah" lirih Max
"Dari mana dia tau? " Allea bicara dengan lembut
"Kemaren bunda kerumah gue sama bunda berantem masalah ini dan Danendra ternyata ada di sana, gue merasa bersalah udah bicara buruk sama dia"
Allea membuang rokok di tangan Max dan membawa pemuda itu ke dalam pelukannya, membiarkan Max sedikit merasa tenang. Allea tahu sebenarnya Max mempunyai sisi lembut dia tidak ingin menyakiti orang lain
Setibanya di kelas guru masuk dan mengatakan hal mencengangkan, hari ini pemeriksaan di lakukan tanpa sepengetahuan semua siswa dari mulai tas, handphone hingga tubuh mereka sendiri
Semua murid di bariskan setelah menyimpan handphone dan tasnya kedepan meja guru, Satu persatu selesai di periksa hingga tas berikutnya adalah tas Max
"Maxime kamu merokok? " tanya guru mengacungkan satu Bungkus rokok dari dalam tasnya
"Iya bu, itu punya saya" Jawab Max jujur
"Kamu tunggu di ruangan saya sekarang" Max pergi dari kelas menuju ruangan guru
"Dan ini tas siapa? " teriak guru dengan lantang
"Saya bu" Allea mengangkat tangannya
"Kamu punya pacar? " tanya guru
"Enggak bu, emang kenapa? " Allea merasa bingung sendiri dengan pertanyaan guru
"Lalu siapa yang menghamili kamu? "
Deg
Para siswa berbisik bisik mendengar hal tersebut bahkan Allea sangat terkejut, Allea melirik ke sekitarnya semua orang menatapnya sinis kecuali keempat temannya karena Gita tidak mau memandang Allea secara langsung
"Jawab ibu" bentak gurunya
"Sumpah bu saya gak hamil, saya gak tau itu punya siapa"
Drrtt drrtt drrtt
Semua handphone berbunyi bersamaan guru mengurungkan niatnya hendak membawa Allea karena membaca pesan terlebih dahulu
"Ini apa Allea? kamu pacaran di sekolah sama Max? " bentak gurunya
"Gak bu, bukan gitu"
"Ikut keruangan saya sekarang" guru itu menarik lengan Allea
"Tidak perlu di seret bu, saya akan membawanya " Aksa melepas tangan guru itu dari lengan Allea
Aksa berjalan di samping Allea mengikuti gurunya, sesekali Allea menoleh ke arah Aksa yang memiliki wajah tegas, datar dan tampan
"Masuk, saya akan panggil orang tua kalian berdua" ujar guru
"Lo juga di hukum? " tanya Max
"Ada yang masukin tes kehamilan ke tas gue dan hasilnya positif, juga ada yang nyebarin poto kita tadi pagi" Allea dan Max saling berbisik
"Kenapa kalian bisik bisik? jangan jangan benar Max kamu yang menghamili Allea? " ucap gurunya penuh selidik
"Jangan asal nuduh bu, emang ibu tau kita pernah tidur bareng? " jawab Max
"Maxime... " bentak sang guru membuat Max dan Allea benar benar diam
Tidak lama setelah itu wali dari Allea dan Max datang, Gibran menatap Allea yang hanya menundukkan kepalanya
"Jadi begitu pak, mereka kekeh tidak mengakui"
"Bukan tidak mengakui bu saya memang tidak hamil, dan poto itu memang tadi pagi saya peluk Max hanya ingin menenangkan dia saja" Allea sudah beberapa kali mengucapkan hal yang sama
"Bu apa ibu sudah tes ulang? saya percaya pada anak saya bila perlu ibu sendiri yang mendampingi atau kita langsung pergi ke dokter" usul Gibran
"Saya memang belum tes ulang pak, tapi siapa yang berniat memfitnah Allea hingga saya menemukan tes itu di tasnya"
"Akhir akhir ini anak saya di teror orang bu bahkan kemarin saja dia hampir celaka itu alasan kenapa saya menyuruh bodyguard mengikutinya kesekolah, bisa saja itu bagian dari rencananya"
"Baiklah kita akan tes ulang tapi jika Allea terbukti hamil kami dengan berat hati akan mencabut beasiswanya dan mengeluarkan Allea dari sekolah" akhirnya Allea melakukan tes kehamilan di temani gurunya
"Maafkan saya sudah salah menuduh Allea, untuk masalah ini saya yang salah saya minta maaf" guru itu sampai membungkuk di hadapan Gibran
"Tapi Allea masih harus di skors selama seminggu karena poto itu dan Max membawa rokok ke sekolah"
Bunda menatap Max setengah melotot sementara Max hanya tersenyum menampilkan deretan giginya
"Kalian harus di nikahkan" Ucap Lydia seraya menarik tangan Max keluar untuk di bawa pulang
Deg
Apa yang akan terjadi selanjutnya? apakah Allea akan benar benar di nikahkan?
Jangan lupa like komen dan vote ya