
"Kenapa disini ada poto papa aku? " Tanya Ellia saat melihat banyak poto Alexander yang di pajang di rumah Allea
"Ini papaku, mereka benar benar mirip kan?" Jawab Ello
"Aku berharap kita punya papa dan mama yang sama" Ucap Ellia
"Mama bilang jangan kasih tau siapapun kalo papa kamu mirip papaku nanti oma opaku jadi sedih"
"Iya aku tutup mulut" Ellia mengunci mulutnya lalu seperti membuang sesuatu
"Mau lihat lebih banyak foto? " Tanya Ello, Ellia pun mengangguk dengan antusias
"Ini kamar mama, banyak foto papa, aku dan Millie" Ellia terpaku melihat ruangan tersebut yang dindingnya di penuhi foto
"Lihat, sebelah sini foto mamaku saat sekolah, ini semua teman mama" Ello menarik tangan Ellia ke satu sudut
" Ini semua foto keluarga aku" Ellia kembali di tarik melihat banyak foto keluarga
"Ini foto mama papa aku dan ini foto aku mama dan Millie" Ello memperlihatkan semua fotonya pada Ellia
"Siapa Millie? " Tanya Ellia
"Dia kembaran aku, tapi kata mamaku dia udah gak ada, kami lahir kembar tapi gak mirip ya" Ellia tampak sedih setelah melihat semua foto di kamar Allea
"Kamu kenapa? "
"Kamu bahagia ya punya keluarga, punya om dan tante, oma opa juga" Lirih Ellia
"Kamu juga punya kan? Kenapa harus sedih"
"Aku gak punya siapa siapa selain papa, aku gak tau keluarga aku kemana yang peduli sama aku cuma papa" Ello tiba tiba memeluk Ellia
"Semua keluarga aku, om tante ku, oma opaku sekarang punya kamu juga, jangan sedih kami juga akan sayang sama kamu" Ello memeluk dan menepuk punggung Ellia
"Boleh aku minta foto yang ini? " Tanya Ellia menunjuk foto Ello dan Allea yang hanya berdua
"Ambil ini" Ello mencabut foto tersebut dari dinding
"Aku berpikir kenapa kita gak jadi keluarga beneran aja? " Cicit Ellia
"Maksudnya? "
"Kita bikin papa mama nikah dengan begitu kita juga bisa dapat dede bayi lagi" Ellia tampak bersemangat mengatakan idenya
" Emang kalo mereka nikah bisa dapat bayi? Gimana caranya? " Tanya Ello
"Aku gak tau, tapi kata temen temen aku kalo udah nikah bisa punya bayi"
"Ya udah kita bikin mama sama papa nikah aja jadi kita bisa tinggal serumah selamanya" Kedua anak itu berjingkrak jingkrak
"Yeeaaahhh kita punya adik kita punya adik" Keduanya melompat di atas ranjang
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Apa kamu gak malu? " Tanya Allea yang melihat Alexander keluar kamar mandi hanya di lilit handuk di pinggangnya
"Kenapa? Bukannya kamu sudah pernah bersuami? Apa kamu masih malu melihat tubuh pria? "
"Iisshh.. Sudah lah cepat pakai baju, lagian sama aja mau pake baju atau enggak toh badannya ketutup belang semua"
"Kamu bilang apa? " Alexander semakin mendekat ke arah Allea
"Stop.. Tetap disitu cepat pakai bajunya" Pekik Allea
"Oke.. Aku pakai disini"
"Hei jangan gila" Allea menutup matanya saat Alexander melepaskan handuknya
"Cih.. Dasar mesum" Ucap Alexander dengan senyum smirk nya
Rupanya Alexander sudah memakai celana pendek di balik handuknya, Allea mengerucutkan bibirnya dengan terus menggerutu karena di sebut mesum oleh Alexander
.
.
Beberapa saat kemudian Allea dan Alexander sudah sampai di tempat tujuan, Alexander menatap sekeliling sepertinya dia familiar dengan tempat tersebut
"Bukan gitu.. Aku merasa pernah mengalami ini" Allea terkekeh seraya memukul lengan Alexander
"Tentu saja, pasar malam banyak di jumpai di mana mana, aku rasa kamu pernah membawa seorang wanita kesini"
"Ya.. Bayangan itu, seorang wanita bersamaku tapi aku gak tahu siapa dia" Gumam Alexander
"Kamu ngomong apa? " Tanya Allea
"Ahh.. Enggak, ayo masuk" Alexander menuntun tangan Allea masuk lebih dalam
Allea dan Alexander menghabiskan malam mereka disana, Allea tampak senang senyum selalu terukir di wajahnya Alexander selalu menatap wajah Allea dengan senyum samarnya
"Kita naik itu" Allea menunjuk bianglala
"Kamu gak takut? "
"Enggak kalo sama kamu" Allea langsung menarik tangan Alexander
Mungkin perkataan Allea menurutnya hanya kata kata biasa namun Alexander menganggap hal itu menjadi sesuatu yang sangat berharga
"Kamu kenapa? Tadi bahagia kenapa sekarang murung? " Tanya Alexander saat mereka berdua sudah naik bianglala
"Aku ingat suamiku, kami menghabiskan malam disini setelah kami berantem" Ucap Allea dengan senyum mirisnya
"Jangan terlalu mengingatnya dia tidak akan suka melihat orang yang di cintainya bersedih, doa kan saja dia agar mendapatkan tempat yang layak di sana" Allea hanya mengangguk mendengar perkataan Alexander
"Gimana gak inget, orang yang mirip dia ada disini sekarang seakan mengulang kisah lama" Batin Allea
Allea menatap ke bawah pemandangan pasar malam dengan lampu lampu juga pemandangan yang dapat dia lihat dari kejauhan, sementara Alexander menatap wajah Allea tanpa dia sadari
"Cantik ya" Gumam Alexander menatap wajah Allea dari samping
"Hmm.. Iya cantik, aku suka tempat ini nanti kita ajak anak anak kesini" Jawab Allea tanpa memandang Alexander
Bayangan itu kembali melintas di benak Alexander itu kembali membuat kepalanya sakit, dia menahan rasa sakitnya agar Allea tidak mengetahuinya
"Kamu gak apa apa? Kenapa keringetan? " Tanya Allea seraya mengelap wajah Alexander yang di banjiri keringat dengan tangannya
Wajah mereka begitu dekat Allea masih mengelap keringat Alexander dengan tisu dari tasnya, sakit Alexander berkurang saat berdekatan seperti ini dengan Allea
Alexander meraih tangan Allea dan menggenggamnya wajahnya semakin mendekat mengikis jarak diantara mereka, Allea memejamkan matanya kala hangatnya benda kenyal itu menempel di bibirnya
Mereka saling memagut namun semakin lama Allea merasakan ada yang aneh dengan Alexander tangannya gemetar keringat semakin membanjiri tubuhnya, Allea mengakhiri pagutannnya menatap Alexander
"Aku gak kuat ini sakit" Alexander menjambak rambutnya sendiri
"Xander.. Xander.. Kamu kenapa? Lihat aku Xander " Alexander tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi, berciuman dengan Allea membuat bayangan itu semakin jelas namun wajah wanita itu tetap seperti asap yang menutupi wajahnya
"Xander jangan bercanda" Allea panik melihat Alexander kesakitan
Dengan bantuan orang orang Allea membawanya pulang, Allea sudah membawanya ke rumah sakit namun Alexander menolak dia ingin pulang karena obat yang biasanya sudah di berikan suster ketika mereka hendak berangkat
"Obat apa ini? Apa resepnya jelas? Kenapa kita tidak ke rumah sakit saja? " Tanya Allea ketika melihat botol obat polos tidak ada resep sama sekali
"Tidak perlu, aku meminumnya sejak sadar dari koma dan ini ampuh menghilangkan rasa sakit kepala ku"
"Tapi.. "
"Sudahlah.. Aku akan istirahat kalo kamu mau pulang pulang saja, aku titip Ellia padamu" Alexander kemudian berbaring meletakkan tangan di keningnya
"Sebelum pulang tolong buka bajuku Al, tubuhku gatal jika terkena keringat" Ucap Alexander
"Kenapa dia sama seperti Max, bahkan dia tidak betah saat berkeringat" Batin Allea
"Aku gak akan pulang, aku jaga kamu disini" Ucap Allea seraya menarik baju Alexander ke atas hingga terlepas
"Tidur disini" Alexander menepuk ranjang di sebelahnya
"Tapi.. Aku.. "
"Gak perlu takut aku tau batasanku" Allea akhirnya tidur di samping Alexander
Awalnya mereka tidur berjauhan namun lagi lagi tanpa mereka sadari mereka sudah tidur dalam keadaan berpelukan