My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Mommy pembohong yang hebat



Allea memindahkan bajunya kedalam lemari, sementara Max entah apa yang pemuda itu kerjakan di dapur


"Makan dulu nanti lanjut lagi" ucap Max menyembulkan kepalanya di pintu kamar


"Oke, tunggu bentar"


Melihat makanan di meja terlihat menggiurkan Allea mengangguk anggukan kepalanya seraya menyendok satu persatu makanannya ke piring


"Kamu belajar masak dimana? " tanya Allea


"Aku liat di youtube, gimana enak gak? "


"Enak, emmhh lumayan untuk pemula" ucap Allea


"Heh kalo enak ya enak aja pake embel embel lumayan segala" ucap Max mencebikkan bibirnya


"Gitu aja ngambek" goda Allea mencolek dagu Max


"Abis ini aku pulang, kamu berani kan tinggal sendiri? " tanya Max


"Kok pulang? kamu segitu marahnya? "


"Enggak, kalo aku tinggal disini juga nanti khilaf lagi" Jawab Max


"Ya.. ya.. stop gak usah di bahas" ucap Allea dengan wajah yang merona


Tok tok tok


Suara pintu apartemen di ketuk Allea berdiri hendak menahan pintu namun Max menahannya, Max sendiri yang membukakan pintu ternyata orang yang hendak membersihkan apartemen


"Aku pulang ya" ucap Max menyambar jaketnya ketika seseorang datang membersihkan apartemennya


"Hmm.. besok jemput ya" Max hanya menjawab dengan acungan jempol lalu melambaikan tangannya seraya tersenyum


"Mbak bersihin aja nanti kalo udah selesai tolong tutup pintunya saya mau beresin baju dikamar" ucap Allea lalu masuk ke kamarnya


.


.


"Tuan menurut anak buah saya nona Allea tinggal di apartemen tunangannya" ucap seseorang di sebrang telepon


"Mereka tinggal bersama? " tanya Gibran


"Tidak tuan, menurutnya nona Allea baru selesai makan bersama tunangannya saat dia datang lalu tunangannya pulang setelah itu"


"Apa tidak ada yang mencurigakan atau mereka bertingkah berlebihan? " tanya Gibran


"Sepertinya tidak tuan"


"Baik.. awasi setiap gerak gerik mereka pastikan Allea dalam keadaan baik"


"Siap tuan" ternyata tukang bersih bersih yang datang malam itu adalah suruhan Gibran


Max memang menelpon seseorang untuk membersihkan apartemennya namun petugas yang datang berbeda dengan yang dia telepon


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Cindy benar benar tidak tahan untuk tidak melihat amplop yang di berikan Frans, dengan segala rasa penasarannya dia membuka amplop itu dan membacanya


Kertas tersebut langsung jatuh dari tangan Cindy dengan air mata berderai dia terjatuh duduk meremas ujung dress nya


"Gak mungkin.. ini palsu kan? " gumam Cindy


Cindy menolak percaya tapi bukti di kertas itu membuat hatinya merasakan sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan, apalagi dia termasuk orang yang tidak mudah dekat dengan orang lain tapi dengan Frans dia seperti punya kecocokan dengan pria itu


"Aku harus bicara pada mommy" Cindy menyambar kertas kertas itu dan pergi ke kamar Emile


Sesampainya di kamar Emile Cindy memastikan tidak ada Gibran disana lalu mengunci pintunya, Emile menatap heran pada Cindy yang terlihat tidak seperti biasanya


"Kamu kenapa? " tanya Emile ketika melihat wajah Cindy sembab


Emile membaca isi dari kertas itu raut wajahnya menjadi berbeda namun dia berusaha menyembunyikan itu


"Jelaskan mi" Cindy berkata seraya menangis


"Surat seperti ini bisa di palsu kan sayang, jangan mudah tertipu dengan orang asing" ucap Emile


"Lalu kenapa aku bisa mirip dengan om itu, dia juga selalu bilang aku anaknya dia tidak ingin yang lain dia hanya ingin aku mengakuinya sebagai ayah"


"Mungkin orang itu berniat jahat sama kamu, jangan bodoh kamu" bentak Emile


"Lalu poto poto vulg*r yang waktu itu mommy sembunyikan bukannya poto mommy dan om itu? " tanya Cindy


"Kamu masih kecil Cindy tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, kedepannya kamu gak usah berurusan dengannya lagi"


"Tapi aku nyaman sama dia, aku merasa ada ikatan batin antara aku dan dia"


"Berhenti membicarakan omong kosong dan pergi tidur, mommy sudah pusing dengan hukuman ayah kamu juga memikirkan alasan yang pas dengan kehamilan bohongan ini jangan tambah masalah lagi"


"Tatap Cindy mi tatap Cindy, katakan kalau semua ini bohong" Cindy menatap lekat wajah Emile


Cindy bisa melihat kebohongan di mata Emile dengan semua bukti yang selalu di tunjukan oleh Frans Cindy lebih mempercayainya bukan karena hal lain namun dia sendiri tau ibunya adalah pembohong yang ulung


"Cindy udah tau jawabannya" ucap Cindy


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? kamu mau pergi sama bajingan itu? silahkan tapi jangan kembali meminta bantuan mommy kalau kamu kesusahan"


"Apa artinya itu semua benar? Cindy anak laki laki lain? " mendengar perkataan Cindy Emile diam menutup rapat rapat mulutnya


Dia menyesali kenapa dia harus bicara seperti itu seolah olah mengiyakan pertanyaan Cindy, Cindy mengambil kembali kertas itu dari tangan Emile


"Mommy pembohong yang hebat" ucap Cindy sebelum pergi menutup pintu


"Apa maksud kamu, Cindy kembali" teriak Emile ketika mendengar Cindy menutup pintu kamarnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


" Kenapa belum tidur? " tanya Dito seraya mengusap perut Gita


"Allea dia sama Max.. "


"Allea kenapa? " tanya Dito


Gita mulai menceritakan yang dia lihat tadi sore dan mengatakan kekhawatirannya, Dito memeluk Gita dan menenangkannya


"Jangan terlalu di pikirin kasihan baby kita, Allea dan Max tau apa yang mereka lakukan kita gak usah ikut campur kecuali mereka dalam kesulitan"


"Apa Max akan bertanggung jawab kalo memang mereka melakukan itu? " tanya Gita


"Sepertinya Allea adalah orang yang bertanggung jawab, dia mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya dia pasti bisa melakukan apapun yang menurutnya benar tidak seperti aku" jawab Dito


"Kamu juga hebat sayang kamu berani mengambil keputusan meskipun itu memberatkanmu"


"Benarkah? kamu mau coba kehebatanku yang lain? " goda Dito seraya menaik turunkan alisnya


"Hooaamm.. aku tiba tiba sangat mengantuk" Gita tidak mendengarkan Dito dan tidur membelakanginya


"Kamu mau pura pura tidur huh? " Dito mencondongkan tubuhnya melihat wajah Gita yang sudah memejamkan mata lalu menggelitiknya


"Hahhaha.. udah geli" mereka tertawa saling menggelitik


Sesaat kemudian setengah tubuh Dito berada di atas Gita mereka saling memandang satu sama lain, Dito mengecup bibir Gita bertubi tubi sambil mengeratkan pelukannya


Tangan Gita terulur menekan tengkuk Dito memperdalam ciumannya dan tangannya bergerak naik turun mengelus Tengkuk dan punggung Dito, bibir Dito beranjak dari bibir Gita dan merayap nakal di leher


"Pelan pelan" lirih Gita


"Aku mencintaimu" ucap Dito