
Setelah sarapan keempatnya sudah bersiap menaiki sepeda masing masing, Allea dan Gibran pergi lebih dulu sementara Max dan Danendra kembali ke villa mengganti sendal mereka dengan sepatu
Di tengah perjalanan Gibran tiba tiba menghentikan laju sepedanya Allea yang berada di belakangnya pun ikut berhenti
"Kenapa yah? " tanya Allea
"Sebentar Ayah Terima telepon dulu"
"Allea tunggu di depan aja ya"
"Jangan kemana mana, sebentar ini orang kantor telepon"
Allea merasa bosan menunggu ayahnya menerima telepon akhirnya dia melanjutkan perjalanannya sendiri pergi sambil berteriak
"Ayah Allea duluan" teriaknya namun Gibran masih sibuk dengan teleponnya
Berselang beberapa menit Max dan Danendra menyusul dan bertemu Gibran di jalan baru saja selesai menutup teleponnya
"Allea mana om? " tanya Danendra
"Tadi katanya nunggu di depan, kalian duluan"
Mereka beriringan melanjutkan perjalanan, sudah setengah perjalanan tapi Allea tidak juga di temukan Max berhenti sejenak dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling perkebunan teh tersebut
"Apa Allea udah pulang duluan? " tanya Danendra
"Gak tau juga kalo dia pulang lewat sana" jawab Gibran
"Om cari di villa aja siapa tau Allea udah pulang" ujar Danendra
"Bantu cari sekitar sini ya takutnya dia nanti nyariin saya"
"Iya om" hanya Danendra dan Gibran yang berdialog sementara Max merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya
"Kenapa lo? " tanya Danendra dengan sinis tentunya
"Mau tau aja urusan orang" hardik Max
"Gue mau cari Allea aja sekitar sini dari pada liat lo mulu sepet mata gue, dan jangan ikutin gue" ucap Danendra lalu benar benar pergi
Max merasa penasaran dengan tempat yang sedari tadi dia lihat dan akhirnya memutuskan untuk menggowes sepedanya kesana, hal mengejutkan dia lihat hingga langsung melompat dari sepedanya
Sepeda Allea teronggok di bawah pohon Teh Max kembali mengedarkan pandangannya berjalan masuk ke tengah tengah pohon pohon teh tersebut seraya berteriak memanggil nama Allea
"Allea... Allea... gak lucu ya kalo lo sembunyi" teriak Max sambil terus berjalan
Krakkk
Max menunduk melihat sesuatu yang dia injak, Max mengambil sebuah kalung dan mencoba mengingat sesuatu rasanya dia pernah melihat kalung tersebut
"Allea" gumamnya wajahnya menjadi panik dia semakin mencari sesuatu ke sekitar nya
Di lihat dengan teliti daun daun teh yang masih hijau berserakan di jalan kecil diantara pohon pohon tersebut, sepertinya daun itu di cabut sembarangan terlihat dari potongannya
Max mengikuti jejak daun meskipun putus putus sesampainya di ujung perkebunan ada pertigaan di Max kembali menemukan sebuah gelang dia juga sangat mengingat gelang tersebut yang tidak lain adalah milik Allea
"Sekarang ke jalan mana ? ini pasti petunjuk dari Allea"
Saat Max sedang bingung menentukan jalan dia menggenggam barang milik Allea dan memejamkan matanya, entah perasaannya atau mungkin ikatan mereka begitu kuat Max seperti merasa ada suara Allea memanggilnya di salah satu jalan tersebut
Max berjalan dengan mata terpejammengikuti asal suara yang samar samar seperti terbawa angin hingga dia membuka matanya jalan sekarang memasuki entah apa namanya kebun kah? atau tanah yang rimbun di tumbuh semak dan pohon pohon sepertinya jalan itu jarang di lalui orang..
"Dimana ini? " gumamnya sambil kembali menoleh ke belakang hanya terlihat ujung jalan yang sudah dia lewati
Max menyusuri jalan disana mengamati setiap jalan yang dia lalui mengambil ranting dan membuat tanda dengan melancapkannya di pinggir jalan, Max melakukan itu karena disana terlalu banyak jalan dia tidak ingin tersesat
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Yang terjadi pada Allea
Dia masih menunggu ayahnya menyusul duduk di atas sepedanya tiba tiba dua orang menariknya hingga terjatuh dari sepeda seseorang membopongnya bak karung beras yang di pukul di pundak sementara satu orang sedang menyembunyikan sepeda Allea di tengah pohon Teh
Allea berteriak dan meronta namun usahanya nihil tidak ada seorangpun disana, dia meraih daun daun sepanjang perjalanan berharap ayahnya akan menemukannya. tentang kalung dan gelang mungkin alam yang ingin memberikan tahukan petunjuk pada Max dan mereka berjatuhan dengan sendirinya
Allea meronta menangis sejadi jadinya kala dia di bawa ke sebuah gubug tua di tengah rimbunnya semak dan pohon, Allea menjerit memanggil nama Max berharap pahlawannya yang biasa menolongnya datang
Entah suara itu atau suara hati Allea yang terdengar oleh Max, Saat orang orang itu membaringkan paksa Allea satu orang memegangi tangan Allea yang meronta sejadi jadinya
"Lepas, jangan macam macam aarrghh lepas" teriak Allea memberikan perlawanan
"Tenang cantik kita cuma mau buat kamu senang, maksudnya kita senang senang hari ini" ucapnya lalu keduanya tertawa
"Max.. tolong Max gue takut" teriak Allea suaranya bergetar tubuhnya sudah lemas karena banyak melawan
"Sssttt... jangan nangis sayang" orang tersebut mengusap air mata Allea dengan ibu jarinya lalu dia jilat membuat Allea semakin gemetar ketakutan
"Maaaxxx" teriak Allea kala orang itu menarik bajunya hingga robek, terpampang jelas bagian depan tubuh Allea yang mulus di balut bra hitamnya
"Wooww... apa Max yang lo sebut sebut itu udah pernah pegang ini? " tanya nya nakal seraya mengusap bagian atas dada Allea
"Berhenti, lepasin gue brengsek" teriak Allea
Pria itu merangkak di atas tubuh Allea berusaha mencium bibir Allea namun Allea mengatupkan bibirnya dengan kepala terus menggeleng geleng
"Max apa lo gak akan nolongin gue? " batin Allea
"Maaaxxx tolong" teriak Allea seraya menendang pria di atasnya, pria itu marah besar kembali bangkit dan mendekat ke arah Allea
Bersamaan dengan itu pintu di dobrak dari luar dengan satu tendangan, rambut pria itu berhasil di jambak dan di tarik kebelakang hingga menjauh dari tujuh Allea
Max menghajar orang itu hingga ambruk lemas di tanah, pria yang sedari tadi memegangi Allea juga maju beradu tinju dengan Max keduanya terkapar dengan Nafas tersengal..
Max menatap Allea yang beringsut ke pojok gemetaran dengan memeluk kakinya sendiri penampilannya yang kacau dengan baju sobek membuat Amarahnya kembali tidak terkendali, Max meraih tangan pria yang tadi menyentuh Allea dan tanpa belas kasihan mematahkan tangannya membuat rekan yang satunya lari terbirit-birit
"Arrgghhhhh" suara kesakitannya menggema, pria itu lari dengan sisa tenaganya saat Max hendak mengejar dia berhenti dan kembali menoleh ke belakang
"Are you okay? " Max mendekati Allea yang masih ketakutan
Allea diam Max hanya mendengar isak tangisnya tangannya terulur hendak menyentuh Allea namun belum juga menyentuhnya Allea semakin beringsut menjauh
"Gak apa apa Allea, ini gue" Ucap Max dengan lembut
"Menjauh Max gue kotor, gue benci diri gue sendiri, lo bener gue sama sekali gak bisa jaga diri gue sendiri" lirihnya pilu, hati Max bagai tersayat mendengar pilunya tangisan Allea
"Lo gak kotor sama sekali Allea, lo masih utuh" ucap Max dengan maksud tertentu
"Gue merasa kotor Max, gue merasa terhina mereka seenaknya pegang pegang gue" tangis Allea semakin pecah
"Gak Allea itu gak bener, kita pulang ya kita lapor polisi" bujuk Max
"Gak jangan Max gue takut orang orang nanti tau dan mereka jijik sama gue"
"Lo cuma korban Allea, jangan pernah takut untuk meminta keadilan gue akan selalu ada buat lo meskipun seluruh dunia menjauh" mendengar penuturan Max Allea menoleh
Max merentangkan tangannya seraya mengangguk tanpa bicara Allea memeluk Max dan menangis di pelukan pemuda itu, Tangis Allea semakin kencang Max hanya memeluknya erat seraya mengusap punggung dan mengecupi pucuk kepala Allea tanpa mengatakan apapun
1 jam
2 jam
3 jam
4 jam
Sampai tengah hari mereka belum keluar dari gubug itu, Max membiarkan Allea yang kelelahan tidur duduk di pangkuannya dan dia memeluk tubuhnya tidak lama setelah itu dia juga ikut menutup matanya hingga hari semakin terik Max bangun merasakan silau kala sinar matahari menyoroti wajahnya
Max menatap wajah Allea yang matanya sembab dia mengelus kening serta wajah Allea menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya, Mata Allea mulai mengerjap merasakan sentuhan tangan Max
" pulang? " tanya Max namun Allea tidak menjawab dia menatap intens wajah Max yang ada di hadapannya
"Turun dulu" ucap Max lalu Allea perlahan turun dari pangkuan Max
"Maaf " lirihnya
"Kenapa minta maaf? lo gak salah apa apa" ucap Max melepas sweaternya lalu berdiri di hadapan Allea memakai sweaternya pada Allea
"Makasih Max " Allea memeluk pinggang Max yang masih berdiri di hadapannya
Max hanya mengusap kepala Allea lalu mengecup pucuk kepalanya, Allea benar benar merasa tenang berada di pelukan Max dia sampai enggan melepaskannya
Like komen dan vote