
Ririn melihat betapa mengenaskannya sang anak angkat yang terbaring lemah dengan tubuh penuh luka bahkan wajahnya sulit di kenali, mata Yuki mengerjap mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat
"Mama.. tolong aku ma" lirihnya
Ririn hanya menatapnya entah apa yang sedang di pikirkan oleh Ririn, tangan Yuki terulur namun Ririn tidak menyambut uluran tangan Yuki
"Mama benci sama aku? mama sekarang lebih sayang Allea dari pada aku? sekarang mama gak mau aku lagi? aku benci Allea dia mengambil semua yang aku sayang, dia penyebab semuanya"
"Kenapa kamu jadi seperti ini Yuki? apa mama pernah mengajarimu untuk membenci orang lain? apa mama pernah mengajari kamu untuk merebut milik orang lain? " ucap Ririn dengan tatapan dingin
"Aku gak pernah rebut milik siapapun, Max itu milik aku sejak awal Allea yang rebut Max dari aku"
"Sadar Yuki, sudah seperti ini pun kamu masih belum mau mengakui kesalahan kamu sendiri? "
"Jangan memarahi anakku" pekik Yamada yang tepat di sebelah Yuki hanya di batasi tirai
"Benar dia memang anakmu aku beruntung bukan ibu dari anak seperti dia, kalian satu spesies kalian bertiga memang cocok menjadi sebuah keluarga" jawab Ririn
"Apa maksud mama? aku anak mama kenapa mama bilang gitu? "
"Harus kamu ketahui Yuki aku bukan ibumu aku tidak melahirkanmu, kamu lahir dari seorang wanita penggoda yang tidak tahu diri menitipkan anak haramnya padaku" ucap Ririn
"Berhenti bicara atau pergi dari sini" usir Yamada
"Aku memang mau pergi, aku hanya ingin memutuskan hubungan dengan kalian, kelak jika kalian masih di beri nyawa aku harap kalian bisa berubah menjadi lebih baik dan jangan mencari aku lagi, mulai hari ini aku bukan ibumu aku tidak sanggup lagi menahan malu dengan semua kelakuanmu Yuki"
"Ma.. mama jangan pergi ma, aku akan membalas semuanya jika mama berani meninggalkan aku.. mamaaaa" teriak Yuki memanggil Ririn yang sudah menjauh
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Bagaimana sudah merasa lebih baik? " tanya Gibran ketika di mobil
"Iya.. setidaknya aku tahu bahwa dia tidak akan pernah berubah, sifat licik dari kedua orang tuanya menurun padanya aku tidak habis pikir dalam keadaan seperti ini pun dia masih ingin menyalahkan orang lain untuk kelakuan buruknya"
"Sudahlah tidak usah di pikirkan, manusia tidak akan bisa di suruh berubah terkecuali dirinya sendiri yang memang berniat merubahnya"
"Aku menyayanginya tapi aku beruntung dia tidak lahir dari rahimku, jika saja dia benar-benar anakku mungkin aku akan gila menghadapi semua sikap buruknya " ucap Ririn
"Aku percaya jika kita punya anak lagi dia akan sebaik ibunya" ucap Gibran seraya menatap Ririn
"Aku tidak yakin bisa hamil dengan usia segini" Jawab Ririn
"Jangan pesimis begitu, bagi sang Pencipta tidak ada yang tidak mungkin selagi kita berusaha dan berdoa"
"Kamu sepertinya bersemangat sekali" ucap Ririn menatap suaminya dengan ekor matanya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Papa pulang" mendengar suara ayahnya pulang Ellia dan Ello berlarian menghampiri Max berebut saling memeluk
"Apa hari ini anak papa nakal? " Max mengangkat tubuh keduanya
"Enggak.. Ello yang nakal pa tadi dia numpahin air di karpet"
"Itu gak sengaja, Ellia juga nakal pa dia tadi ngagetin mama untung mama gak jatoh" keduanya saling mengadu pada Max
"Sssttt... jangan nakal dong kasihan mama, kalo mama pusing gara gara kalian kasihan dede bayinya nanti ikutan pusing, minta maaf sana sama mama "ucap Max menurunkan keduanya
Mereka kini berlari menghampiri Allea yang sedang duduk di sofa menonton TV, Max mengikuti kedua anaknya terlihat Allea sedang memijat kakinya sendiri
" Mama maafin kita.. kita janji gak akan nakal lagi dan buat mama pusing dan marah marah" ucap keduanya bersamaan, Allea hanya tersenyum memeluk keduanya yang duduk di sampingnya
Max memeluk Allea dari belakang sofa lalu mencium pipinya membuat kedua anak kecil itu juga tidak mau kalah mencium pipi Allea, mereka tertawa terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya
Malam setelah anak anak tertidur Max memindahkan mereka ke kamar dan kembali menonton TV dengan Allea, Melihat istrinya memijat kakinya sendiri Max duduk di samping Allea dan menarik kedua kaki istrinya ke pangkuannya untuk di pijat
"Rasa capek aku hilang saat pulang ke rumah melihat kalian tertawa bahagia, Semoga keluarga kita selalu seperti ini " ucap Max penuh harap
Merasa nyaman dengan pijatan suaminya Allea sampai tertidur di sofa, Max mengangkat tubuh istrinya memindahkannya ke kamar
"Beruntung Allea mendapatkan suami seperti Max" ucap Ririn yang baru saja kembali dari dapur dia melihat Max mengangkat tubuh Allea naik ke kamarnya
"Kenapa? " tanya Gibran
"Max pria yang baik dan menyayangi keluarganya, dia bahkan memijat kaki istrinya dan memindahkannya ke kamar setelah Allea tidur"
"Mungkin itu yang membuat wanita wanita itu berusaha menggoda Max"
"Ya.. tapi untung dia bukan pria murahan yang gampang tergoda dengan rumput liar" ucap Ririn
"Aku juga sayang, aku setia gak pernah macam macam di luar"
"Kata katamu seperti anak abg aja " ledek Ririn
"Biar kita tua tapi jangan mau kalah sama anak muda"
"Terserah kamu aja" Ririn menggelengkan kepala seraya merebahkan tubuhnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sayang ini aku bawain pesenan kamu, susah loh nyarinya" Danendra mencarikan nasi goreng yang di inginkan Cindy
"Kok rasanya beda? aku mual" Cindy menutup mulutnya berlari ke kamar mandi
"Sayang ini bener kok nasi goreng yang kamu sebutin ciri cirinya tadi" Cindy sampai menyebutkan dengan detail ciri ciri gerobak dan abang abang nasi gorengnya
"Kamu makan aja lah, aku gak mau gak enak" ucap Cindy seraya keluar dari kamar mandi
"Makan dulu sedikit sayang, susah loh nyari abangnya yang keliling" keluh Danendra
"Tapi itu beda.. kamu pasti boong ya? "
"Enggak sayang ini asli dari abang abang yang kamu sebut tadi"
"Tapi itu gak enak"
"ya.. mana aku tau abang abangnya lagi galau kali jadi beda"
"Gak kamu pasti boong kan? kamu beli di tempat lain kan ayo ngaku? "
"Astaga.. kamu gak percayaan deh, aku beneran beli di abang abang gerobak biru yang pake topi Cowboy"
"Kamu makan aja lah, aku minta bi Jum aja yang buatin" Danendra menghela nafas kasar, susah susah dia mencari tukang nasi goreng yang diinginkan istrinya tapi ujung ujungnya nasi goreng bi Jum juga yang dia makan
"Kenapa sesulit ini menghadapi ngidam ibu ibu, mereka beneran ngidam apa cuma niat ngerjain suaminya sih? " pikir Danendra seraya menyuap nasi goreng ke mulutnya dengan kesal
Beberapa minggu kemudian Allea dan keluarganya sudah benar-benar pindah ke Jakarta hanya Max yang kadang bolak balik untuk masalah pekerjaan, kini dia tidak lagi menyembunyikan identitasnya
Setelah di jenguk Ririn dia hari setelahnya Yamada Yuki dan suster meninggal mengenaskan, di pemakaman Yuki dan Yamada tidak ada seorangpun keluarga yang hadir karena Ririn dan Allea sedang dalam perjalanan ke Jakarta
Mereka hanya menerima kabar saat baru sampai di rumah tentang kematian keduanya yang amat tragis, tubuh keduanya di penuhi luka dan sudah berbau karena tidak kuat menahan rasa sakit akhirnya mereka meninggal tanpa di dampingi orang orang yang mereka sayang
Hidup Allea dan Max sekarang tenang dan bahagia apa lagi setelah kelahiran anak keduanya juga di susul kelahiran anak Gita, Cindy dan Ririn yang hanya beda usia beberapa bulan
Akhir kata othor mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya untuk para readers yang sudah memberikan banyak dukungan untuk othor tanpa kalian othor tidak akan semangat menulis sampai akhir
Salam sayang dari othor, peluk cium othor buat kalian 🤗😘