My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Gara gara tepung



Tok tok tok


Alexander merasa bersalah pada Ello dan memutuskan untuk menemuinya, tidak ada jawaban dari Ello akhirnya Alexander membuka pintu kamar yang di tempati Ello


"Apa kamu sudah tidur? " Tanya Alexander melihat Ello berbaring di tutupi selimut


"Maaf jika kata kataku menyakitimu" Ucap Alexander


"Tidak perlu minta maaf tuan, lagi pula kamu memang bukan papa aku" Jawab Ello


"Aku merasa bersalah membuat kamu sedih"


"Aku tidak bersedih karena dirimu, aku bersedih mengingat papaku " Ucap Ello seraya membuka selimut yang menutup tubuhnya


"Kamu boleh memanggilku papa kalau mau.. Aku punya playstation 5 mau main? "


"Serius kamu punya playstation 5? " Ello langsung terbangun dari tidurnya


"Ya.. Aku kasih buat kamu kalau kamu mau"


"Apa hal yang tadi kamu katakan beneran? " Tanya Ello


"Yang mana? "


"Aku boleh memanggilmu papa? "


"Tentu.. Jangan sedih lagi sekarang kamu punya papa" Ucap Alexander


"Boleh aku memelukmu? " Alexander membuka tangannya langsung saja Ello memeluk Alexander


"Kamu benar benar mirip papaku, andai mama membawa foto papa pasti kamu akan percaya kalian sangat mirip"


"Aku percaya padamu, ayo kita turun main game" Alexander menggendong Ello keluar dari kamar


"Kenapa? " Tanya Alexander saat Ello berkaca-kaca


"Aku gak pernah di gendong apa, dia meninggal saat aku masih bayi" Lirih Ello seraya menghapus air matanya


Alexander diam seribu bahasa dia benar-benar merasa ikut sedih mendengar cerita Ello


"Kamu tahu? Bahkan mama Ellia tidak menyayanginya kami juga berpisah sejak dia bayi, kamu masih beruntung papa kamu pasti menyayangi kamu tidak seperti mama Ellia" Ujar Alexander


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? " Tanya Alexander seraya mencolek hidung Ello


"Jadi kamu gak punya istri? " Tanya Ello, Alexander hanya mengangguk


Keduanya menghabiskan waktu bermain PlayStation sementara Ellia melihat Allea yang sedang masak untuk makan malam bersama bibi


"Ellia"


"Ya.. Sus, kita main di rumah aja ya" Ajak suster Erika


"Gak mau aku mau lihat tante masak" Jawab Ellia


"Bibi juga sering masak Ellia gak pernah nungguin bibi" 


"Tapi aku mau liat tante masak, suster pergi aja" Usir Ellia


"Tante bisa bikinin aku cookies gak?" Tanya Ellia


"Bisa sayang.. Setelah selesai makan malam tante buatin ya" Jawab Allea


"Jangan makan yang manis malam hari nanti sakit gigi" Sergah suster


"Gak apa apa Sus.. Nanti biar dia gosok gigi sebelum tidur" Jawab Allea


"Jangan sok berkuasa disini, dan jangan menerapkan hal buruk pada Ellia" Sinisnya


"Ellia tunggu sama papa ya nanti kalo semuanya udah mateng tante panggil" Ellia mengangguk seraya berjalan menjauh dari dapur


"Kamu punya masalah sama saya? '' tanya Allea pada suster


" Aku  cuma peringatkan kamu jangan bersikap seolah olah peduli pada Ellia jika dia tau kamu cuma manfaatin dia biar bisa dekat sama papanya dia pasti terluka "


"Ohh.. Suster berpikir seperti itu? Padahal aku sedikitpun tidak tertarik dengan majikan anda yang brengsek itu" Ucap Allea


"Hei.. Perhatikan kata katamu itu, kamu hanya seorang janda tidak pantas bersama tuan kami" Hardiknya pada Allea


"Maaf nona apa kamu masih gadis? Apa kamu cemburu sama aku? Lagi pula siapa yang mau sama majikanmu? "


"Kamu pasti sedang mencarikan anakmu Seorang ayah bukan? Miris sekali pasti sulit membesarkan seorang anak sendirian" Cibirnya


Allea melemparkan pisau yang di pegangnya hingga menancap di meja tepat di samping tangan suster, saking terkejutnya suster sampai berteriak


"Jangan sembarangan bicara tentang anakku" Allea menekankan kata katanya


"Ada apa? Kenapa teriak teriak? " Tanya Alexander 


"Ahh... Maaf tuan tadi ada tikus jadi saya lempar dan pisaunya menancap disini" Ucap Allea seraya mencabut pisau tersebut, suster hanya diam dia menyembunyikan tangannya yang gemetaran


"Makan malam udah siap, saya panggil anak anak dulu" Allea berlari kecil menjauh dari dapur


"Bibi makan aja biar aku yang layani mereka" Ucap Allea ketika semuanya sudah ada di meja makan


"Tapi nona.. "


"Terimakasih nona, saya permisi"


"Siapa nama kamu? " Tanya Alexander lalu menyuap makanannya


"Allea" Singkat Allea seraya menaruh makanan di piringnya


"Uhuk.. Uhuk.. " Alexander tersedak makanannya, Allea sigap menuangkan air dan memberikannya pada Alexander


"Aku merasa tidak asing dengan nama itu" Batin Alexander


"Kenapa? Makanya pelan pelan" Ucap Allea


"Papa gak apa apa? " Tanya Ello hingga kini Allea yang tersedak, Allea spontan mengambil gelas yang ada di hadapannya padahal itu adalah gelas bekas Alexander


"Kamu udah besar jangan sembarangan panggil orang lain  papa" Ucap Allea


"Mama.. Papa bilang boleh kok, papa baik banget kasih aku ps5" Jawab Ello dengan bangga membuat Allea memijat keningnya


"Kalo kamu panggil papa aku papa, aku juga boleh dong panggil tante mama" Ucap Ellia dan kini kedua orang tua itu terbatuk bersamaan


"Kalian kenapa? " Tanya Ello dan Ellia bersamaan


"Anak anak ini benar benar kacau" gumam Allea




Selesai makan malam Allea menepati janjinya membuatkan cookies untuk anak anak, Allea berusaha meraih terigu yang berada di atas rak namun dia terlalu pendek hingga tangannya tidak sampai


Tiba tiba tubuhnya terasa melayang hingga dapat meraih terigu tersebut dan itu membuatnya terkejut dan menjatuhkan terigu yang dia pegang


" Aaakkhh..."


Brrruukk


Allea jatuh tepat di atas Alexander yang tadi mengangkat pinggangnya, kepala Alexander di penuhi tepung yang tadi di jatuhkan Allea


"Bhahahaha" Allea tidak dapat menahan tawanya, tubuh mereka yang saling menempel membuat jantung Alexander berdebar kencang dia memandangi wajah Allea yang tak berhenti tertawa


"Wooww.. Apa yang anda lakukan tuan Alexander" Pekik Allea saat Alexander menggulingkan tubuhnya menjadi berada di bawah, Alexander mengacak-acak rambutnya yang penuh tepung membuat wajah Allea kini juga di penuhi tepung


"Haiisshh... " Allea mendorong Alexander, keduanya duduk berhadapan lalu terdengar tawa keduanya dari dapur


"Lihat.. Aku gak pernah lihat tuan tertawa begitu selama kerja disini" Ucap bibi


"Itu cuma kebetulan lihat saja mereka penuh dengan tepung" Jawab suster terkesan tidak suka, mereka mengintip apa yang di lakukan tuannya dengan tersangka yang membuat anaknya sakit


"Heii.. Coba saja kalo kamu yang melakukan itu pasti kena omel dua hari dua malam" Suster mendelik mendengar ucapan pelayan tersebut


Mereka mengintip sampai Allea selesai membuat cookies tersebut, mereka juga salut dengan keberanian Allea yang menyuruh tuannya mencuci perabotan kotor


"Tolong cuci ini aku udah pegel dari pada cuma liatin doang" Titah Allea, anehnya lagi Alexander menurut saja dan mencuci semuanya


Empat toples cookies sudah Allea kemas setelah Alexander mencuci perabotan dia melihat Allea tertidur di meja makan, Alexander juga merebahkan kepalanya di lipatan tangan di atas meja makan seperti yang Allea lakukan


Dia menatap wajah teduh Allea yang sedang tertidur, di tempat tersembunyi bibi ribut dengan suster karena bibi terus saja mengatakan hal hal romantis tentang Allea dan tuan mereka hingga keduanya terjatuh dan di ketahui Alexander


"Apa yang kalian lakukan disana? " Tanya Alexander, wajahnya kembali dingin dan datar


"Ma.. Maaf tuan" Lirih keduanya


"Pergi jangan berisik" Alexander mengusir keduanya namun terlambat Allea sudah terbangun


"Astaga... Kalian kenapa gak bangunin? " Ucap Allea 


Alexander menatap keduanya dengan tatapan membunuh, padahal Alexander sudah membayangkan mengangkat tubuh Allea ke kamarnya namun  semuanya buyar karena kedua pelayannya


Allea mengambil toples di atas meja dan membawanya namun beberapa saat kemudian dia kembali


"Kenapa gak di kasih sama anak anak? " Tanya Alexander 


"Mereka udah tidur, aku mau pindahin mereka ke kamar dulu" Allea menaruh kembali toples tersebut, ketika Allea hendak mengangkat Ellia Alexander lebih dulu menggendongnyaa


"Mereka berat biar saya yang pindahkan" Alexander memindahkan kedua anak itu ke kamarnya masing masing


Malam semakin larut semua penghuni rumah sudah terlelap, ketukan di pintu kamar Allea membuat tidurnya terganggu dan terpaksa membuka pintu dengan mata setengah terpejam


"Aku mau tidur sama mama" Kedua anak itu tiba tiba masuk dan tidur di ranjang Allea


Mereka tidur bertiga dengan posisi Allea berada di tengah tengah mereka, seperti biasa setiap malam Alexander selalu mengecek kamar putrinya namun saat itu dia tidak melihatnya dan mencari ke kamar Allea


"Benar saja" Gumamnya ketika membuka kamar Allea yang lupa dia kunci


Alexander menaikkan selimut mereka ketika dia berbalik hendak pergi terdengar gumaman Allea membuatnya kembali berbalik


"Millie... Jangan ambil Millie ku.. Jangan, maaf Max aku gak bisa jaga Millie.. Jangan bawa pergi Millie " Kedua anak disampingnya sampai terbangun mendengar suara Allea yang semakin keras


Berbeda dengan Alexander dan Ellia yang hanya mentap Allea dengan bingung, Ello mengelus kepala ibunya lalu menciumnya dan memeluknya seraya membisikkan kata kata yang menenangkan ibunya


"Millie baik baik aja, bukan salah mama" Ucap Ello


Melihat Ello memeluk Allea tiba-tiba Ellia pun melakukan hal yang sama mereka berdua memeluk Allea hingga tidak terdengar lagi racauanNya, Alexander baru meninggalkan mereka setelah Allea tenang