My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Bagaimana keadaan Allea



"Apa dia sudah sadar? "


"Belum.. Masih dalam keadaan koma"


"Usahakan yang terbaik jangan sampai dia mati"


"Baik nona"


Yuki menelpon seseorang sambil mengawasi rumah Gibran dari ke jauhan dia tidak benar benar pergi dia selalu mengawasi Allea


"Apa yang sekarang mau lo sombongin? Gue harap lo jadi gila Allea" Gumam Yuki dengan senyum smirk nya


"Gue akan buat hidup lo benar-benar hancur, lo khianatin gue sejak awal padahal lo tahu gue suka sama Max tapi lo nikung gue, lo juga harus ngerasain gimana rasanya jadi gue" Yuki memendam kemarahan mencengkram erat kemudi saat mengingat bagaimana dulu dia meminta Allea menjodohkannya dengan Max namun malah Allea yang menjadi pacar Max


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Gimana keadaannya sekarang? " Tanya Gita


"Allea masih belum tau kalau Max meninggal" Jawab Dito


"Malang sekali Allea.. Aku mau kesana"


"Ayo kita kesana"


Gita dan Dito pergi kerumah sakit setelah menitipkan Dirga pada ibu Gita, Gita ikut sedih karena Allea harus kehilangan Max di saat saat mereka seharusnya bahagia


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


Allea baru saja bangun dia menatap satu persatu orang yang ada di ruangannya lalu menatap kosong pada langit langit kamar, air matanya mengalir deras tidak ada satu patah kata pun yang dia ucapkan


"Sayang ikhlaskan kepergian Max nak" Ucap Lydia


"Aku percaya Max masih hidup" Jawab Allea dingin


"Allea.. Mobil yang lo tumpangin terbakar, lo ada di luar mobil saat itu dan Max masih terjebak di kursi pengemudi" Ucap Bisma maju mendekati Allea


"Gak.. Gak mungkin, gue liat sendiri dia yang bawa keluar mobil itu dia gendong gue saat itu wajahnya.. Wajahnya berdarah" Allea histeris


"Allea.. Jangan buat Max tersiksa dengan keadaan lo yang seperti ini" Ucap Bisma


"Gak.. Max masih hidup, lo diem Bisma lo diem" Teriak Allea tidak memakai kata 'kak' lagi 


Semua orang diam hanya teriakan Allea yang terdengar menggema di ruangan itu, mereka tidak bisa lagi menahan air mata yang sedari tadi mereka tahan


"Gak... Dia masih hidup dia masih hidup" Teriak Allea menutupi kupingnya sambil menggeleng


Gita dan Dito baru saja sampai terdiam di ambang pintu melihat Allea yang begitu kacau, Gita menitikkan air mata sementara Dito tampak berkaca kaca


"Allea... " Lirih Gita


Keadaannya sangat kacau hingga dokter harus menyuntiknya dengan obat penenang, setelah Allea tertidur Gibran semakin tidak  bisa menahan dirinya tangis terdengar pilu mencium kening anaknya lama


"Aku takut.. Aku takut Allea tidak bisa kembali seperti dulu, aku takut Allea ku berubah, aku takut keceriaannya hilang" Ucap Gibran menangis sesenggukan saat Ririn mengusap punggungnya


"Biarkan dia meluapkan emosinya, dia hanya belum bisa menerima semuanya sekarang " Ucap Ririn 


"Kenapa anak tengil itu kembali membuat Allea ku menangis? Kenapa dia pergi" Ucap Gibran tangisnya pilu menggenggam tangan putrinya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Gimana dengan keadaan Allea setelah ini" Gita menangis di kamarnya di tenangkan Dito


"Allea itu kuat dia hanya belum bisa menerimanya saat ini, cepat atau lambat dia akan kembali seperti biasanya" 


"Apa yang bisa kita lakukan untuk bantu dia? " Lirih Gita


"Kita support aja, dia gak sendiri dia punya teman dan keluarga yang sayang sama dia percaya sama aku Allea bisa melewati masa sulitnya" Ucap Dito sambil mengelus kepala Gita


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Setelah dua minggu Allea tidak menunjukkan kemajuan dia menangis setiap saat sampai lupa pada bayi bayinya, teman serta keluarga setiap hari mengunjunginya namun tetap sama dia tidak mau bicara 


"Akhirnya sampai.. Ayo sayang" Gibran membawa Allea pulang kerumahnya 


"Sayang kamu belum menamai bayimu" Ucap Ririn, Allea bangun dari tidurnya duduk bersandar di kepala ranjang


"Millie dan Marcello " Lirihnya, Ririn tersenyum dia senang Allea mau bicara meskipun hanya sedikit


"Nama yang bagus sayang, lihat mereka merindukan mamanya" Ririn meletakkan kedua bayi kembar itu di hadapan Allea


"Asi nya tidak mau keluar" Lirih Allea saat mencoba menyusui anak anaknya


"Biarkan mereka menyusu dulu tidak apa nanti kita beri susu formula" Jawab Ririn seraya membenarkan rambut Allea yang menutupi wajahnya


Tangis Allea kembali terdengar membuat Ririn sigap mengambil kedua bayi bayi itu dan menidurkan nya di dalam box bayi


"Kenapa sayang? " Tanya Ririn mendekati Allea


"Kenapa wajah Ello mirip sekali dengan Max? " Ucapnya seraya menangis sesenggukan, Ririn hanya diam dia memeluk serta mengelus kepala Allea


"Mama tau bagaimana rasanya di tinggalkan orang yang sangat kita cintai, jangan berlarut dalam kesedihan sayang hidup harus terus berlanjut masih ada Millie dan Marcello sebagai tanggung jawab kamu"


"Bagaimana Allea bisa baik baik saja ma.. Separuh nafas Allea hilang " Lirih Allea menangis tersedu sedu


"Mama mengerti sayang, luapkan semuanya hingga tidak ada yang mengganjal di hati kamu, lambat laun semuanya akan kembali normal" Ririn mengelus Allea dalam pelukannya hingga Allea tertidur


Sebelum pergi Ririn membaringkan Allea dan menyelimutinya mencium keningnya lalu membawa kedua bayi Allea ke kamarnya, Ririn menyayangi Allea seperti anaknya sendiri terlebih sikap Allea yang lemah lembut dan menyenangkan membuat orang orang akan mudah dekat dengannya


"Bagaimana? " Tanya Gibran, Ririn menghela nafas seraya menggeleng


"Masih sama.. Dia sangat terpukul dengan kepergian suaminya"


"Wajar saja pemuda itu selalu ada di saat Allea dalam bahaya, Allea selalu bergantung padanya bukan hal yang mudah kehilangan seseorang yang sudah dia anggap rumah" Lirih Gibran mengusap sudut matanya


"Termasuk dirimu yang sulit melupakan istri pertamamu" Ucap Ririn sambil tersenyum


"Kamu juga sama" Jawab Gibran


"Kita sama" Ucapnya sambil terkekeh memberikan satu bayi pada Gibran lalu menuntunnya pergi ke kamar


"Sayang.. "


"Max.. Aku kangen sama kamu" Allea memeluk erat Max


Tiba-tiba saja Max mencengkram bahu Allea dan menjauhkan tubuhnya, Allea berusaha meraih dan mengejar Max yang perlahan menjauh


"Jaga anak anak kita, jadilah ibu yang kuat"


"Tidak.. Max jangan pergi kamu janji jaga aku dan anak anak, max aku mohon jangan pergi"


"Ada saatnya kita bersama kembali" Ucapan terakhir Max sebelum menghilang di dalam kabut


"Max.. Tunggu.. Maaaaxxx"


"Maaaaxxx... " Allea terbangun dari tidurnya


Keringat membasahi tubuhnya dengan nafas terengah engah


"Kamu bohong Max.. Kamu gak tepatin janji kamu" Allea menangis menutupi wajahnya dengan tangan


Kata kata Max terngiang di telinga Allea "jaga anak anak kita, jadilah ibu yang kuat" Allea segera mengusap air matanya mencari keberadaan kedua anaknya yang ternyata ada di kamar orang tuanya


Allea masuk ke dalam dan menatap kedua anaknya yang tertidur lelap, Ririn terbangun dari tidurnya terkejut melihat Allea berdiri di dekat box bayi


"Astaga... sayang kamu ngagetin mama" Ucap Ririn seraya turun dari tempat tidur menghampiri Allea


"Allea mau bawa mereka ke kamar" Lirih Allea


"Baik sayang bunda bantu" Ririn membantu menggendong Marcello


Allea menyusui keduanya tampaknya kali ini Allea lebih tenang membuat asinya kembali subur, Ririn tersenyum bahagia melihat Allea kini ada sedikit perubahan


"Sekarang ada asinya" Allea terlihat senang meskipun tidak tersenyum sedikitpun


"Jangan terlalu stress ya biar asinya gak seret lagi" Ucap Ririn yang hanya di angguki Allea